31 Missed calls.
5 Unread messages.
“Haaah.” Rama menghela napas panjang sambil memijit kening. Setelah meninggalkan Hana tadi malam, dia baru mengecek ponsel sekarang. Rama yakin saat ini Hana sedang menunggu kabar darinya. Rama kemudian menghubungi ponsel Hana, tetapi saat nada sambung mulai terdengar, lelaki itu langsung memutuskan panggilan. “Apa yang harus kukatakan kepadanya?” desahnya.
Rama belum memikirkan alasan apa yang harus dia berikan kepada Hana. Tidak mungkin dia bilang pergi untuk urusan pekerjaan, kan? Rama yakin Hana seratus persen tidak akan percaya.
Dering ponsel membuat Rama tersentak sesaat. Dilihatnya ID Caller si penelepon yang ternyata adalah Hana. Rama ingin sekali mendengar suara Hana, tetapi ia menahannya. Dia masih di kamar rawat Nadine dan Dimas tertidur di sofa sebelah tempatnya juga tidur. Kalau menjawab telepon Hana, Rama takut Dimas atau bahkan Nadine bisa saja mendengarnya. Lagi pula, berbicara dengan Hana lewat telepon dalam kondisi sekarang pasti hanya akan menguras emosi.
Setelah menimbang-nimbang beberapa saat, akhirnya Rama menolak panggilan tersebut kemudian mematikan ponselnya. “Maaf, Hana.”
***
Hamparan kebun teh di bawah sana sangat indah, apalagi jika dilihat dari tempat tinggi di pagi hari yang udaranya sejuk. Namun, keindahan itu terhalangi oleh genangan air mata yang menumpuk di pelupuk mata Hana. Saat ini dia tengah memandangi pemandangan yang biasanya dapat memanjakan mata dari balkon kamar lantai dua. Dengan ditemani secangkir teh yang sudah dingin sejak tadi tanpa tersentuh sedikit pun.
“Bunda?”
Panggilan itu lantas membuat setetes cairan bening yang sejak tadi ditahan segera meluncur dengan cepat. Buru-buru Hana menghapusnya saat mendengar derap langkah Ian menuju ke arahnya. Setelah yakin sudah tak ada jejak air mata lagi, Hana segera berbalik, mengembangkan senyum menatap sang anak yang baru bangun.
“Ian sudah bangun? Ayo, kita sarapan!” ajaknya.
Mata Ian bergerak-gerak gelisah, seakan memikirkan sesuatu. “Ayah ke mana, Bunda? Kok udah gak ada di kamar?”
Pertanyaan ini membuat hati Hana merasa teriris. Wanita itu segera menyejajarkan tingginya dengan Ian, mengelus pipi putranya dengan sayang sambil tetap mempertahankan senyumnya. “Ayah sudah berangkat kerja, Sayang.”
“Pagi-pagi sekali? Kenapa Ayah tidak membangungkan Ian? Ian kan mau sarapan bareng Ayah.”
“Tadi Ian kelihatan capek dan tidurnya pulas banget. Ayah gak mau gangguin Ian.”
“Tapi, Bunda—“
“Sudah, ayo kita sarapan aja. Kalau pulang nanti Ayah janji akan mengajakmu jalan-jalan lagi, kan?”
Ian mengangguk, meski dalam hatinya masih mencari sang ayah. “Iya deh, Bunda.”
‘Maaf karena sudah membohongimu, Nak’, batin Hana.
***
Denting sendok yang beradu dengan gelas terdengar berisik, kemudian disusul dengan suara mengaduh Azka dari dapur. Reina yang sibuk menyetrika buru-buru ke dapur. Di sana Azka mengibas-kibaskan tangannya yang terkena air panas. “Kamu ngapain sih? Kok bisa kena?” ujar Reina sambil meniup-niup tangan Azka.
Azka yang ditanya hanya diam. Reina yang sadar Azka tidak merespons segera mendongak, wajah ceria yang kemarin Azka tampilkan berubah jadi sendu. Nyeri di hati Reina kembali saat sadar Azka pasti masih memikirkan Hana. Menggeleng pelan, Reina kemudian menuntun Azka untuk duduk. “Tunggu di sini,” ucapnya.
Reina kemudian menggeledah lemari TV, mengeluarkan kotak P3K dari salah satu laci dan segera duduk di samping Azka. Diraihnya tangan lelaki itu dengan lembut. Namun, Azka menarik tangannya pelan. “Tidak usah. Aku tidak apa-apa,” tolak Azka secara halus.
Reina menggeleng tegas, kali ini menarik tangan Azka lalu cepat-cepat mengolesinya dengan salep. “Kalau tidak segera diobati, takutnya melepuh,” ujar Reina.
Azka manggut-manggut. Setelah pengobatan Reina selesai, wanita itu kini berdiam diri menemani Azka yang sekarang malah melamun. Demi mengusir sepi, Reina menyalakan TV, mengganti-ganti channel mencari acara TV apa yang sekiranya bisa menghibur. Namun, Reina rasa tidak ada yang cocok.
“Han—“
“Sepertinya jalan-jalan sore menyenangkan?” potong Reina. Wanita itu melirik Azka, menunggu reaksinya karena Reina sengaja memotong ucapan Azka, tidak ingin mendengar lelaki itu membahas Hana yang hanya akan melukai hatinya dan juga hati Reina. “Bagaimana? Setuju, tidak?”
Belum sempat berpikir, Reina sudah menariknya berdiri. Mau tidak mau Azka akhirnya mengikuti langkah Reina. Dia membawa Azka menuju Monas, seperti biasa tempat itu tampak indah. Reina mengajak Azka duduk-duduk di bawah pepohonan yang tidak lama lagi akan dialokasikan ke tempat lain untuk perenovasian taman Monas.
“Meski tidak sesejuk di pedesaan, tapi tempat ini cukup segar, kan?” ujar Reina membuka pembicaraan.
“Yah.” Azka mengangguk lemah.
Raut wajah Azka yang murung jadi membuat perasaan Reina tidak enak. Reina pikir membawa Azka jalan-jalan adalah pilihan tepat, tetapi ternyata hasilnya sama saja. Padahal kemarin Azka sudah terlihat baik-baik saja, tetapi kenapa lelaki itu kembali galau?
Lain Reina, lain Azka, lelaki itu juga merasa tidak enak karena Reina terlalu memaksakan dirinya dan selalu saja direpotkan dengan segala urusan Azka.
“Maaf.”
Reina menoleh cepat mendengar ucapan Azka. “Apa?” tanyanya memastikan.
Azka menengadah, menatap langit yang memancarkan terik matahari dengan semangat meski sekarang sudah sore. Lelaki itu mengangguk sekilas, tanpa menoleh.
“Untuk apa?”
“Semuanya.”
Reina mengernyit bingung. “Maksudmu?”
Azka kini menatap Reina setelah mengalihkan pandangannya dari langit. “Semua kesalahanku kepadamu. Baik itu sengaja maupun tak disengaja. Termasuk ... menolakmu.”
Mata Reina bergerak-gerak gelisah. Tidak ingin pembicaraan ini berlanjut.
“Maaf karena selama ini selalu membuatmu sedih karena perlakuanku. Maaf karena selama ini bahkan sampai sekarang pun aku selalu merepotkanmi. Maaf atas segala rasa sakit yang kamu dapat—“
“Sudahlah, Azka,” sergah Reina. Gadis itu menggeleng tegas, lalu tersenyum kecil. “Tidak usah membahas masa lalu. Kau tahu kan, kalau Dimas dengar dia pasti akan cemburu.”
Azka seakan tersadar dengan ucapan Reina. Dia baru ingat kalau Dimas dan Reina pacaran. Harusnya Azka tidak membahas hal-hal terkait perasaan Reina dulu kepadanya. “Maaf,” ucap Azka.
“Yah, tak masalah.”
Keduanya kembali terdiam. Menikmati perasaan masing-masing. “Bagaimana dengan Gabriel?” tanya Azka memecah keheningan. Sudah lebih dari seminggu Azka absen mengajar, dia jadi rindu dengan murid-muridnya, terutama Gabriel.
“Yah, sekarang dia baik-baik saja. Setelah sidang perceraian orang tuanya selesai, Gabriel akan pindah sekolah.”
“Haah, padahal anak itu sangat baik dan menyenangkan diajak bermain,” desah Azka.
Reina mengerling. “Yah, dia anak yang baik. Aku sebenarnya menyesalkan karena perpisahan orang tua mereka. Aku berharap itu semua hanya mimpi, sayang sekali itu adalah kenyataan.”
Azka mengangguk paham. “Yah, kita hanya bisa berharap. Ngomong-ngomong, aku harus bertemu dengannya sebelum dia pindah.”
Reina manggut-manggut. “Ya, kau harus. Karena kau kan guru favorit Gabriel. Dia pasti sedih jika tidak bertemu denganmu sebelum pindah.”
“Ya, Senin nanti aku akan mulai mengajar.”
“Baguslah kalau kamu sudah baik-baik saja.”
Azka mengacak puncak kepala Reina pelan. “Itu berkatmu. Terima kasih, Reina.”
Reina merasa wajahnya jadi memerah karena perlakuan Azka. Dia menoleh ke sembarang arah, menyembunyikan semburat merah yang mungkin saja akan membuatnya tambah gugup.
“Kenapa wajahmu merah? Sakit?” tanya Azka.
Reina menggeleng sambil mengibaskan tangan. “Tidak apa-apa. Ini mungkin karena panas matahari,” ujar Reina gugup, kemudian wanita itu berdiri. “Ah, Azka, aku haus. Kau juga haus, kan? Kau tunggu saja di sini, aku mau beli minum dulu. Jangan ke mana-mana, ya!” Tanpa menunggu jawaban, Reina segera berlari meninggalkan Azka sendiri.
“Haah, capek,” desah Reina saat tiba di depan mini market. Karena gugup, dia tanpa sadar berlari sampai ke sini. Setelah menetralkan detak jantungnya, Reina mulai masuk ke mini market. Hawa dingin dari AC lantas menyapa, membuat dirinya merasa segar. Reina mengambil keranjang yang tersedia lalu mulai mengambil beberapa camilan dan minuman. Setelah membayar pesanannya di kasir, Reina segera kembali ke tempat di mana dia meninggalkan Azka.
Namun, saat tiba di sana, dia tidak menemukan Azka. Baru saja mau menelepon, dering ponsel Reina sudah berbunyi dan Azka-lah yang menelepon. “Halo? Kamu di mana? Aku cari-cari tidak ada.”
“Maaf meninggalkanmu, Reina. Maaf ....”
Perasaan Reina mendadak tidak enak. “Apa maksudmu?”
“Aku ... akan ke Puncak. Maaf.”
Reina tidak lagi mendengar apa yang dikatakan Azka, hati dan pikirannya sibuk meratapi nasib percintaannya yang menyedihkan. Harapan yang dia bangun kembali nampaknya memang tidak akan pernah ada.
***
Hawa dingin yang menusuk kulit tak membuat seseorang yang berdiri di depan sebuah pohon begerak sedikit pun. Sama seperti tubuhnya yang tak bergerak, matanya pun hanya menatap ke satu arah sejak beberapa jam yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, sudah hampir dua jam dia berdiri di sana, menatap rumah wanita yang beberapa minggu lalu masih memberinya tawa. Beberapa minggu lalu masih menatapnya penuh cinta. Namun, kini sudah tak bisa dia genggam lagi.
Ingin sekali Azka masuk ke sana, memeluk Hana dan meluapkan perasaan rindunya yang sudah membumbung tinggi. Namun, keadaan tak memungkinkan. Dia hanya bisa pasrah dan menyalurkan rasa rindunya pada keheningan malam dan hawa dinginnya yang menembus kulit.
“Aku benar-benar merindukanmu, Hana,” ucap Azka pelan.
***
“Kau butuh perhatian dari seorang lelaki? Sepertinya kau salah jika memilihku. Kau seorang guru, dan sepertinya kau tidak bodoh untuk memahami jika seseorang menolak didekati olehmu. Anak kecil yang dijuhi sekali dua kali oleh temannya sudah cukup tahu diri, kenapa kau tidak?"
Remasan pada gelas berisi alkohol itu menguat bersama dengan amarah dalam hati yang kian menggunung.
“Dan sepertinya kali ini aku perlu bicara blak-blakan karena penolakan secara halus tidak akan membuatmu mengerti. Jadi ....” Lelaki itu menggantungkan ucapannya dan memicingkan mata. “Berhenti mendekatiku! Aku muak!”
“Aku juga muak denganmu Azka sialn!” umpatnya dan melempar gelas yang tadi digenggamnya ke arah sebuah foto berukuran besar yang menggantung di atas TV. Lemparannya tepat mengenai tengah foto, pecahan kaca lantas tercipta, melompat berceceran. Album foto tersebut pun terjatuh dan menimpa TV beserta perangkat-perangkat elektronik lainnya.
Tanpa menyesali perbuatannya yang mengakibatkan kerugian besar itu, Ambar meraih satu gelas baru dan menuang kembali bir ke dalamnya lalu meneguknya tanpa sisa, begitu berulang kali sampai akhirnya dia membaringkan kepala di meja. Kata-kata Azka yang kejam beberapa hari yang lalu masih membekas di hatinya, seolah selalu segar dan terus memupuk kebencian di hati Ambar.
Sejak kecil, Ambar Clarexa tidak pernah merasa kekurangan. Baik materi ataupun kasih sayang. Terlahir dari keluarga terhormat dan punya paras yang cantik membuat Ambar merasa dirinya selalu di atas awan. Saat menempuh pendidikan, kisah asmara Ambar begitu menyenangkan. Semua laki-laki yang ditemuinya berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya, tidak hanya yang seumuran, bahkan dosen-dosen pun pernah jadi bucin karena Ambar. Kisah cintanya tak pernah menyentuh yang namanya bertepuk sebelah tangan ataupun friendzone, Ambar tidak pernah merasakan yang namanya penolakan, dia selalu jadi primadona.
Namun, bertemu dengan Azka membuat kepercayaan dirinya luluh lantak. Senyum yang selalu membuat laki-laki terpesona dan jatuh hati ternyata tidak mempan pada sepasang mata yang hanya menatapnya dengan datar. Suara manja yang bisa menggetarkan nafsu laki-laki pun tak mempan, Azka sama sekali tidak tertarik padanya. Tidak tertarik pada seraut wajah blesteran yang dipuja-puja para lelaki.
Ambar mungkin akan terima kalau seandainya orang yang disukai oleh Azka adalah wanita yang lebih cantik atau lebih kaya darinya. Namun, kenyataannya wanita yang disukai Azka tidaklah begitu cantik di mata Ambar. Kalau boleh jujur, menurut Ambar, Reina sahabat Azka malah lebih cantik daripada Hana. Akan tetapi, bisa-bisanya lelaki itu malah memilih Hana? Yang tak ada apa-apanya darinya? Ini merusak harga diri Ambar.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka wanita lain pun takkan ada yang pantas.” Senyum culas lantas terbit di wajah Ambar yang sudah memerah karena terlalu banyak minum. Ide brilian muncul di kepalanya.
“Tunggu saja, Azka. Kamu tidak akan bisa lepas dariku,” gumamnya.