Bel pulang sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, tetapi Ambar masih setia duduk di meja kerjanya sembari mengamati rekan-rekannya yang mulai pulang satu per satu. Setelah ruang guru sepi, Ambar kemudian menuju ruang kepala sekolah, mengetuk pintu beberapa kali sampai terdengar suara Pak Bambang yang mempersilakannya masuk.
Wanita itu memasang senyum yang selalu mampu membuat lelaki bertekuk lutut, menarik kursi kemudian duduk di depan kepala sekolahnya.
“Ada apa, Bu Ambar? Tumben menyapa saya?” Mimik wajah Pak Bambang kemudian berubah jadi seolah terkejut. “Wah, jangan-jangan Bu Ambar mau mengajak saya selingkuh, nih?” guraunya.
Ambar berdecak pelan, kesal karena digoda oleh si tua bangka itu. Namun, senyumnya tidak pernah dia lepas. “Maaf mengganggu waktunya, Pak,” ujar Ambar memulai.
Pak Bambang mengangguk. “Tidak apa-apa. Memangnya apa yang ingin Bu Ambar bicarakan? Apakah ini tentang Pak Azka?” tebak Pak Bambang.
Ambar terdiam sebentar, heran karena Pak Bambang bisa menebaknya tepat sasaran. “Wah, tebakan Bapak sempurna. Saya salut. Tapi ... bagaimana Bapak tahu kalau ini tentang Azka?”
Pak Bambang melirik jam tangannya sebentar, jam pulang sudah lewat lima belas menit ternyata. Karena keasyikan memeriksa berkas-berkas, dia jadi lupa waktu. “Sebenarnya, sederhana saja.” Pria tua itu kemudian meraih tasnya kemudian memasukkan laptop ke dalamnya. “Saya dan mungkin seluruh guru di sekolah ini tahu kalau Bu Ambar naksir sama Pak Azka. Benar, kan?”
Ambar mengangguk, tetapi tidak menjawab. Pak Bambang pun kemudian melanjutkan perkataannya. “Apa yang menimpa Pak Azka tempo hari, yaitu penolakan dari Hana, jelas membuat Pak Azka dalam kondisi tidak baik. Buktinya sudah beberapa hari dia absen.” Pak Bambang mulai memeriksa barang-barang yang akan dibawanya pulang. “Lalu, kemarin saya dengar Pak Azka membentak Bu Ambar, benar?”
‘Dasar gosip sialn!’ maki Ambar dalam hati. Namun, senyumnya tak luput ditata. “Yah, memang benar kemarin Pak Azka membentak saya.” Ambar mengubah suaranya sedikit sendu, berharap Pak Bambang sedikit iba dengan kondisinya. “Bapak kan tahu saya suka sama Pak Azka, saya hanya ingin menghiburnya. Tapi dia malah membentak saya.”
“Bu Ambar menghiburnya di waktu yang tidak tepat,” imbuh Pak Bambang.
“Apa?” Tanpa sadar Ambar jadi sewot. “Pak, saya itu niatnya baik, loh. Saya kasihan dengan dia yang dipermalukan di depan umum. Tapi apa? Dia sama sekali tidak mengerti.”
Pak Bambang menjentikkan jari. “Nah, itu masalahnya. Mood-nya sedang tidak baik. Seharusnya Ibu pilih waktu lain, kan?”
‘Sialn! Sabar, Ambar, sabar. Jangan emosi.’ Ambar memijit kening, menghela napas berulang kali. Pak Bambang sendiri seolah tidak peduli dengan perubahan mood Ambar. “Jadi, apa pembicaraan kita sudah selesai?” tanya Pak Bambang kemudian.
“Belum.” Ambar menggeleng. “Saya belum bicara apa yang saya inginkan.”
“Lalu, kenapa tidak langsung saja?”
“Baik, Pak. Jadi, seperti yang Bapak tahu, saya sangat suka dengan Pak Azka. Kita semua juga tahu kalau saat ini Pak Azka masih terguncang. Terlepas dari perasaan saya terhadap dia, saya ingin membantu dia, Pak. Saya ingin melihat dia tidak murung lagi. Maka dari itu, saya ingin minta bantuan Pak Bambang.”
“Kalau itu tidak melanggar aturan, akan saya bantu. Jadi, bantuan apa yang kau mau?”
“Baik, Pak. Bantu saya untuk ....”
***
“Leukimia itu apa, Papa?”
Bola mata Rama terkejut mendengar pertanyaan polos dari Nara. Dia yang tadinya sedang menatap pemandangan dari balik kaca jendela lantas berbalik, menghadap sang buah hati yang menunggu dengan wajah lugunya.
“Siapa yang berani-beraninya memberi tahu Nara?” gumam Rama.
Rama menuntun putrinya itu untuk duduk di sofa. Kedua tangan mungil Nara digenggam sang ayah dengan sayang. “Nara dengar kata itu dari mana?”
Nara memiringkan kepala sedikit, matanya melirik ke sang ibu yang masih terbaring sakit. “Nara dengar dari Dokter waktu periksa Mama. Dokter bilang, Mama sakit Leukimia. Leukimia itu apa, Papa? Apa sakitnya parah? Mama bisa sembuh kan, Pa?”
Untuk sesaat, Rama terdiam. Bingung harus jujur atau tidak pada putrinya itu.
“Papa? Kenapa tidak jawab?”
Pertanyaan Nara membuat Rama tersadar. Lelaki itu mengulas senyum menenangkan untuk sang buah hati. Dielusnya pipi Nara dengan lembut. “Tenang saja, Sayang. Mama pasti sembuh.”
“Papa tidak bohong, kan?” tanya Nara memastikan.
Rama mengangguk mantap, meraih Nara dan memangku gadis kecil itu. “Papa janji.”
“Dokter, ini sudah tiga hari, kenapa istri saya belum siuman?”
“Terjadi peningkatan produksi sel darah putih yang menyebabkan penekanan pada sel darah merah dan trombosit di sumsung tulang. Akibatnya, Bu Nadine sering mengalami anemia. Dan sepertinya pasien tidak memedulikan kondisinya sehingga mengalami drop seperti saat ini. Kami sudah memberikan penanganan yang terbaik, Bapak tenang saja. Kondisi Bu Nadine sudah membaik dan saya yakin beliau akan sadar secepatnya. Berikan dia istirahat total terlebih dahulu, agar kondisi fisiknya membaik,” jelas dokter.
“Baik, Dokter.”
“Ah, satu lagi, Pak Pramana.”
“Apa itu, Dokter?”
“Sepertinya Bu Nadine harus melakukan kemoterapi ketika beliau siuman.”
Rahang Rama mengeras mengingat ucapan dokter beberapa jam yang lalu. ‘Nadine ... bangunlah!
***
Hawa dingin itu langsung menusuk kulit Ambar ketika tiba di Puncak Bogor. Tepat di depan rumah bergaya eropa yang ada di depan kebun teh tempatnya study tour tempo hari. “Pantas saja Azka memilih ke tempat ini. Ternyata dia memang ingin bertemu wanita itu.”
Jari-jarinya mengetuk-ketuk setir mobil, mengamati rumah yang ada di depan sana. Rumah itu tampak sepi, sepertinya sang penghuni sedang tidak di rumah. Ambar melirik jam tangannya, sudah hampir satu jam dia di sana, tetapi tak ada hal menarik. Saat dirinya berniat untuk pulang, sebuah mobil hitam tiba-tiba muncul dan masuk ke halaman rumah Hana. Ambar lantas mematikan mesin, diam mengamati.
Ambar bisa melihat Hana keluar dari mobil disusul oleh pembantunya. Kemudian mereka berdua membuka bagasi mobil dan menurunkan belanjaan.
“Bunda!”
Suara panggilan seorang anak kecil lantas menyita perhatian Ambar. Mata wanita itu melotot saat Hana membukakan pintu untuk anak kecil yang langsung memeluk Hana.
“Dia punya anak?” gumam Ambar, tetapi masih tidak percaya. Ambar berpikir kalau mungkin saja anak itu adalah keponakannya dan memang suka memanggil Hana dengan sebutan bunda. Namun, kalau benar anak itu adalah anak si Hana ini ... senyum Ambar mengembang sempurna. “Ini pasti menarik.”
Tanpa ragu Ambar melangkah mendekati Hana yang sudah berniat masuk ke dalam rumah.
“Permisi!” serunya.
Hana dan Ian lantas berbalik. Kerutan di kening Hana tampak jelas, seolah sedang memikirkan sesuatu. Hana merasa pernah melihat wanita di depannya itu, tetapi tidak ingat di mana. “Ya, ada apa? Cari siapa ya, Mbak?”
Mendengar pertanyaan Hana, Ambar yakin kalau Hana tidak mengenalnya. Yah, mereka memang tidak pernah bertemu dan bertatapan muka secara langsung karena saat pesta ulang tahun Azka, Ambar selalu menarik diri dari tempat yang ada Hana di sana, hanya mengamatinya dalam kejauhan. Ide Ambar yang semula ingin memperingati Hana secara blak-blakan untuk menjauhi Azka kini berubah saat melihat apa yang ada di hadapannya itu. Seraut wajah lugu yang menatapnya dengan polos.
“Mbak?”
Ambar tersadar dari lamunan. Wanita itu mengulas senyum. “Ah, maaf, Mbak. Saya di sini hanya ingin menikmati pemandangan kebun teh di sini, tapi saya takut untuk pergi sendiri, takut nyasar. Jadi, saat saya melihat ada orang di sini, saya jadi kepikiran untuk meminta tolong karena sepertinya Mbak tahu daerah sini. Bagaimana, Mbak? Mau tidak menemani saya?”
Hana merasa aneh dengan tujuan Ambar. Selain karena meminta ditemani oleh orang asing, Hana merasa pernah melihat wanita itu entah di mana.
“Eh? Mbak tidak usah berpikir macam-macam. Saya tidak berniat jahat, kok,” ucap Ambar saat melihat raut wajah curiga dari Hana. “Kalau Mbak keberatan, tidak mau juga tidak apa-apa kok.”
“Ehm ... bagaimana ya, Mbak. Bukannya keberatan, hanya saja—“
“Bunda anterin aja Tante ini. Kasihan, nanti tersesat,” celetuk Ian yang sejak tadi diam.
Ambar dan Hana lantas menatap Ian. “Duh, anak ganteng, baik banget, ya,” puji Ambar. Dalam hati senang karena sepertinya rencananya akan berhasil.
Merasa tidak enak, Hana akhirnya setuju menemani Ambar. Sebelum menemani Ambar, Hana meminta Ian untuk segera ke dalam. Dalam hati Ambar bersorak karena Hana menerima permintaannya. ‘Mengenal musuhmu adalah senjata paling ampuh!’ batin Ambar.
“Oh, ya, Mbak. Tadi itu anaknya Mbak, ya?” tanya Ambar.
Hana tersenyum. “Iya, Mbak. Anak saya.”
“Oh? Anak Mbak ganteng, ya? Pasti ayahnya juga ganteng, kan?” pancing Ambar.
“Iya, Mbak. Ayahnya cukup tampan.”
“Wah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sempurnanya keluarga Mbak. Suami yang ganteng, anak yang juga ganteng, Mbak pun sebagai istri sangat cantik. Hidup Mbak bahagia banget ya pastinya?”
“Ah ... anu ... Mbak terlalu berlebihan,” ucap Hana pelan.
Kebungkaman Hana berikutnya membuat Ambar yakin kalau keluarga Hana cukup menyedihkan, kalau tidak, untuk apa Hana bermain api dengan Azka? Dalam hati wanita itu tertawa meremehkan. ‘Dasar menyedihkan!’
***
“Kemoterapi?”
Rama mengangguk. Dia memang memutuskan untuk membicarakan hal ini terhadap Dimas lebih dahulu sebelum mengatakannya nanti kepada Nadine ketika wanita itu sudah siuman. Pendapat Dimas sangat penting menurut Rama.
“Kau tahu itu menyakitkan jika terus-terusan dilakukan, bukan?”
“Aku tahu, tapi dokter menyarankan agar Nadine melakukan kemo.”
Secepat kilat kerah baju Rama sudah berada dalam genggaman Dimas, meta lelaki itu melotot tajam. “Kau ingin menyakitinya lagi, hah?”
Rama membalas tatapan tajam Dimas. “Aku hanya ingin Nadine sembuh!”
“Tapi kemoterapi hanya akan mempercepat kematiannya!” bentak Dimas lalu menyentak kerah Rama.
Rama memperbaiki kerah bajunya yang kusut lalu menggeleng tegas kepada Dimas. “Ini cara terbaik untuk penyembuhannya.”
“Bukan. Kau hanya ingin membunuhnya!”
Helaan napas kasar keluar dari mulut Rama. Berbicara dengan Dimas ternyata cukup melelahkan. “Baiklah, sepertinya kita tidak bisa memutuskannya sekarang. Tapi yang perlu kau tahu, lebih baik berusaha menyembuhkannya daripada diam menanti takdir.”
“Kau—“
Dering ponsel Rama menginterupsi pembicaraan mereka. Rama mengeluarkan ponsel dan menatap nama si penelepon. Tenggorokannya terasa kering saat tahu Hana yang menghubunginya. Lelaki itu melirik Dimas sekilas, menimbang apakah harus mengangkat telepon tersebut ataukah mengabaikannya.
“Hana?” tanya Dimas.
Rama mengangguk pelan, dia tahu Dimas pasti akan kesal. “Angkat saja,” ujar Dimas yang kontan membuat Rama mengangkat wajah, tidak percaya.
“Kau serius?”
“Ya. Tapi ... apa pun yang terjadi, saat ini jangan tinggalkan Nadine.”
“Baiklah.”
Rama kemudian keluar dari ruangan Nadine dan menuju koridor yang cukup sepi. Setelah beberapa saat barulah dia menelepon balik Hana. Tidak butuh waktu lama untuk Hana mengangkat telepon tersebut. Berondongan pertanyaan tentang keberadaannya keluar dari mulut Hana, jelas dari suaranya Hana sangat mengkhawatirkan Rama. Ada sedikit kelegaan yang Rama rasakan karena Hana mengkhawatirkan dirinya.
“Maafkan aku, Hana,” gumam Rama setelah mematikan telepon, sama sekali tidak memberi tahu keberadaannya kepada Hana. Rama kembali ke ruangan Nadine dengan lesu. Pikirannya saat ini bercabang. Di sini Nadine membutuhkan kehadirannya, di sisi lain ada Hana yang terus mengkhawatirkannya.
Dimas melirik Rama yang masuk dengan wajah tak bertenaga. Sedikitnya dia tahu pasti lelaki itu sedang bimbang berat. Hubungannya dengan Hana baru membaik, tetapi malah terhambat karena Nadine. Lelaki itu menggenggam tangan sepupunya dengan lembut, menatap wajah pucat yang sudah tiga hari tak sadarkan diri. Kasihan. Hanya kata itu yang bisa mewakili kondisi Nadine. Yatim piatu di usia dini, hamil di luar nikah, mertua tak menyukainya, dia pun harus jadi istri siri yang tak tahu bahwa dia bukanlah istri pertama. Terlebih penyakit yang semakin hari terus menggerogotinya.
Dimas memang merasa bersalah pada Rama karena memaksakan kehendaknya untuk menikahi Nadine, tetapi Rama memang pantas untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, bukan?
“Dimas.”
“Ya?”
“Bisa kita bicara sebentar?”
Dimas menoleh, melihat raut wajah Rama yang kelam membuatnya mau tidak mau mengikuti permintaannya itu. Kedua lelaki itu kemudian keluar dari ruangan Nadine, mereka berdua menuju koridor sepi tempat Rama tadi menelepon. Tiba di sana Dimas bersandar pada dinding, menyilangkan kedua lengan di depan d**a sembari menunggu apa yang akan dibicarakan Rama.
Kesunyian menemani mereka selama lima menit. Dimas menunggu dengan setia, sedangkan Rama menyusun kata agar tak membuat Dimas tambah marah.
“Aku harus pulang,” ucap Rama yang langsung membuat Dimas melotot.
“Apa kau bilang?”
“Kau tahu, aku sudah meninggalkan Hana tanpa penjelasan apa-apa. Dia pasti khawatir. Kau tahu kan, hubungan kami baru membaik?”
Kini Dimas menegakkan punggung demi mendengar penuturan Rama yang mengusik telinganya. “Kau mau pulang ke pelukan istri sahmu dengan nyaman?” sindir Dimas.
“Tidak.” Rama menggeleng tegas. “Aku ... akan pamit kepada Hana dan akan fokus mengurus Nadine. Setidaknya, Hana tidak perlu mencemaskanku.”
Dimas heran. “Kau mau memberi tahu Hana kalau kau punya istri lain? Apa kau sudah tak waras?”
“Tidak. Aku tak akan memberi tahunya sampai kapan pun. Aku hanya akan menyuruhnya menungguku.”
“Sampai kapan?” desak Dimas. “Apa kau berpikir Hana akan menunggumu selamanya? Apa kau tidak pernah berpikir kalau dia mungkin saja lelah dan akan berpaling darimu? Apa kau pernah memikirkan hal itu?”
Rama membeku. Ucapan Dimas menyentak hatinya. Dia ... sama sekali tidak pernah memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu.
“Pergilah, beri tahu Hana yang sebenarnya. Beri tahu bahwa kau akan menyelesaikan urusanmu dengan Nadine.” Dimas berbalik, pelan meninggalkan Rama. “Lagi pula, hidup Nadine tidak akan lama. Pergilah, Rama.”