Ini kali kedua Ambar menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Azka. Kali pertama saat lelaki itu merayakan pesta ulang tahun yang berujung duka. Saat itu Ambar tidak bisa menikmati pesta karena seluruh perhatian orang-orang hanya tertuju pada Hana. Namun, saat ini Ambar merasa akan sangat menikmati reaksi penghuni rumah itu jika dia menunjukkan sesuatu yang ada di dalam tasnya itu.
Seorang wanita paru baya membukakan pintu beberapa saat setelah dia mengetuk pintu. “Maaf, cari siapa, ya?” tanyanya.
“Ah, perkenalkan.” Ambar mengulurkan tangan yang disambung ragu oleh wanita di hadapannya. “Saya Ambar, teman sekaligus guru tempat Azka mengajar,” ucapnya.
“Oh, kamu temannya Azka, ya? Silakan masuk,” ucap Kinan memberi ruang agar Ambar ikut masuk. Ambar melangkah dengan ringan, hatinya saat ini sedang senang karena sebentar lagi dia akan menjatuhkan bom untuk keluarga Azka.
“Sepertinya kamu tidak tahu kalau Azka tidak tinggal di sini, ya? Dia hidup mandiri di apartemen,” ucap Kinan mengawali cerita.
“Ah, saya di sini tidak mencari Azka kok, Tante.”
“Lalu?”
“Sebelumnya, saya minta maaf karena ingin membahas sesuatu yang mungkin akan menyinggung perasaan Tante. Tapi, ini demi Azka.”
Kinan mengerutkan kening, tidak mengerti dengan yang dimaksud Ambar. “Bicara saja, saya sudah kebal dengan kata-kata berbisa dari orang-orang,” ucap Ambar. Dia memang sudah merasa kebal dengan gunjingan para tetangga yang masih membahas tentang Azka yang cintanya ditolak di depan umum. Dan, mendengar beberapa kata dari wanita di hadapannya ini sepertinya sama saja, dia tak akan peduli.
“Sebenarnya, saya kasihan dengan Azka karena kejadian tempo hari. Itu sebabnya saya mencari tahu alasan Hana menolak Azka. Dan akhirnya saya tahu alasan yang membuatnya mempermalukan anak Tante di depan umum.” Ambar merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop dari sana lalu meletakkannya di depan Kinan. “Tante akan menemukan kebenarannya di dalam sini.”
“Apa ini?” Kinan menatap amplop tersebut sejenak, penasaran apa isinya.
“Alasan Hana mempermalukan Tante,” jawab Ambar tenang.
Ragu, Kinan meraih amplop tersebut. Matanya melotot saat mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. “I-ini ...?”
Senyum Ambar mengembang. “Ya. Itu keluarga yang harmonis.”
***
“Nyonya, Tuan sudah pulang.”
Hana menoleh, meletakkan benang wol dan hasil rajutannya di lantai gazebo. Wanita itu buru-buru masuk ke rumah dari pintu belakang. Wajah lesu Rama kini terlihat memasuki rumah.
“Mas?” panggilnya. Hana ingin mempertanyakan ke mana perginya lelaki itu beberapa hari ini, tetapi ketika dilihatnya seraut wajah lelah pada suaminya, Hana mengurungkan niat. “Bi, tolong siapkan air panas,” perintahnya kepada Bi Asi.
Hana kemudian mengekori langkah Rama yang menuju kamar. “Mas, sepertinya kita harus bicara,” ujar Hana yang ikut duduk di samping suaminya yang tadi menghempaskan diri di sofa. Rama menatap mata Hana yang jelas-jelas menuntut jawaban, tetapi lelaki itu masih bingung harus menjawab apa.
“Tiga hari ini ... kamu ke mana?”
“Mas—“
“Jangan bilang ini urusan kantor,” potong Hana. “Kemarin aku menelpon asistenmu dan dia bilang kamu tidak masuk kantor.”
Rama bungkam, ditambah terkejut karena Hana mencari tahu keberadaannya lewat asistennya. Sejak dulu, meskipun Rama tidak pulang berhari-hari—selama masa perang dingin mereka—wanita itu tidak pernah menghubungi orang kantor. Namun, untuk sekarang, wanita di hadapannya ini berubah.
“Maaf, Hana ....” Hanya itu yang bisa Rama katakan. Mau bagaimana lagi?
Hana membuang muka, dadanya sesak. “Mas mandi lalu istirahat. Kita lanjutkan pembicaraan kita besok,” ucap Hana lalu melenggang pergi meninggalkan Rama.
Rama hanya bisa menghela napas berat. Pikirannya benar-benar kalut. “Maafkan aku, Hana ....”
***
“Mas? Kamu mau ke mana pagi-pagi buta?” Tatapan Hana lantas terpaku pada baju-baju yang tersusun di dalam koper. “Lalu, ini semua untuk apa, Mas?”
Hana bergerak bangun dari tempat tidur. Berdiri di depan suaminya yang diam membisu. Istri mana yang tak gelisah melihat suami yang baru pulang setelah beberapa hari tak ada kabar, di pagi-pagi buta sudah berniat pergi dengan membawa sekoper pakaian. “Mas! Tolong jawab aku!” desak Hana.
Rama menghempaskan dirinya ke tempat tidur, mengembuskan napas berat. Kini Hana bergerak mendekati suaminya, ikut duduk di samping lelaki itu. Kedua tangannya kini memegang wajah Rama, memaksa lelaki itu untuk menatapnya. “Tolong jelaskan padaku apa maksud semua ini, Mas! Kamu baru pulang tadi malam, aku tidak bertanya apa-apa karena aku tahu kamu butuh istrihat. Tapi ini apa? Kamu mau pergi lagi? Sehari pun kamu belum ada loh, Mas!”
“Hana,” Rama meraih kedua tangan Hana yang ada di wajahnya, lembut menggenggamnya. “Tolong jangan bertanya apa-apa sekarang. Mas belum bisa menjelaskan yang sebenarnya. Mas mau kamu menger—“
“Mengerti?” Hana menyentak tangan Rama, bangkit dan berdiri degan tegap di hadapan suaminya itu. “Apa yang harus aku mengerti? Kamu tidak menjelaskan apa-apa! Apa yang harus dimengerti!” Suara Hana tanpa sadar meninggi.
Rama buru-buru bangkit, menenangkan. “Han, kecilkan suaramu! Jangan sampai Ian mendengarnya! Kamu bisa melukai perasaannya!”
“Apa, Mas?” Hana mengibaskan tangan, memperlebar jarak antara dirinya dengan Rama. “Aku melukai perasaan Ian?” Hana mencari-cari kewarasan di mata suaminya. Tidakkah dia sadar kalau selama ini yang memupuk luka di keluarga mereka adalah dirinya? “Kamu sadar tidak sih, Mas? Yang melukai perasaan Ian itu kamu, Mas. Kamu!” d**a Hana naik turun, sesak merajam hatinya. Tanpa sadar air matanya sudah berlinang.
“Han ....”
“Cukup, Mas! Stop!” Hana mengacungkan tangan tepat di hadapan wajah Rama. “Kamu tidak pernah mengerti perasaanku. Aku sudah mengorbankan semuanya, aku belajar mencintai kamu. Memberikan seluruh hatiku untukmu. Tapi ini apa, Mas?”
“Han ....”
“Kubilang, stop!” Hana membekap mulutnya, menahan jerit yang mendesak untuk keluar, kini tubuhnya meluruh ke lantai, tenaganya seakan terkuras hingga kakinya sudah tak mampu untuk menopangnya. “Aku hanya butuh penjelasan, bukan permintaan maaf. Aku hanya butuh itu. Apa sesulit itu untuk menjelaskannya?” Hana terisak hebat, pundaknya bergetar menahan sesak di d**a. Perasaan sakit yang dia rasakan saat ini lebih hebat dari ketika Rama mencampakkannya. Mungkin karena saat itu Hana menganggapnya hanya sebatas ‘suami’, tetapi sekarang Hana sudah menganggapnya seperti kehidupan wanita itu sendiri.
Rama tidak tahan melihat wanita yang dicintainya itu menangis, tetapi dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia memang ingin menjelaskan yang sebenarnya kepada Hana, tetapi tidak untuk saat ini. Rama takut ketika Hana mengetahui semuanya, wanita itu akan berpaling darinya. Rama tidak ingin itu terjadi, dia sangat mencintai Hana dan juga Ian.
Pelan, Rama mendekati Hana. Memeluk istrinya itu dengan kuat, meski Hana memberontak, tetap tak dilepasnya. Ketika Hana sudah mulai berhenti memberontak, barulah Rama mengendurkan pelukannya. Dielusnya rambut Hana yang masih tergugu dalam pelukannya. Rama menyesal, sungguh. Dia tak menyangka kesalahan yang dia perbuat di masa lalu kini merusak kehidupannya. Rama ingin menyalahkan takdir, tetapi sadar bahwa ini semua karma karena perbuatan bodohnya.
“Maaf karena selama ini hanya bisa membuatmu menangis,” bisiknya setelah beberapa menit mereka hanya melewatinya dalam kesunyian, hanya terdengar sedikit isakan tersendat dari Hana. “Maaf karena tidak pernah mengerti perasaanmu.” Diciumnya puncak kepala istrinya itu penuh kasih sayang dan penyesalan. “Maaf karena hanya bisa meminta maaf atas semuanya.”
“Kamu breng—“
“Ya, aku memang brengsk,” potong Rama sambil mengangguk membenarkan. “Maka dari itu, kumohon beri lelaki bodoh ini satu kesempatan. Mas belum bisa menjelaskan segalanya, tapi Mas minta satu hal, tolong beri Mas waktu untuk menyelesaikan semuanya. Nanti, setelah kembali, Mas janji akan menjelaskan segalanya dan kita akan jadi keluarga yang paling bahagia.”
Tak ada tanggapan dari Hana. Matanya hanya menatap kosong d**a bidang yang kini merengkuhnya. Bertanya-tanya rahasia apa yang disembunyikan Rama darinya. “Apakah kepergianmu ini berkaitan dengan wanita yang kulihat bersamamu di rumah sakit?”
DEG!
“I-itu ....”
“Pergilah.”
Rama terbelalak. Lelaki itu mengurai pelukan dan menatap wajah Hana yang sudah sembap akibat terlalu banyak menangis. “Kamu bilang apa?”
Hana menghela napas berat. Hatinya saat ini kacau memikirkan apa yang disembunyikan rama, terlebih jika itu berkaitan dengan seorang wanita. Namun, seperti Rama yang memberinya kesempatan, dia pun juga akan memberi Rama kesempatan. Dia pun pernah berselingkuh, untuk itu Hana ingin Rama pun mengakhiri hubungannya dengan selingkuhannya itu.
“Pergilah, selesaikan hubunganmu dengan wanita itu. Tapi Mas harus berjanji, setelah menyelesaikan semuanya, ingat, tidak ada lagi wanita selain diriku. Karena kalau Mas mengingkarinya, Rihana Wulandari tak akan lagi jadi Nyonya Bagaskara. Camkan itu, Mas!”
***
“Mama?”
Azka terkejut saat mendapati ibunya sudah duduk anteng di ruang tamunya bersama Reina saat dia baru saja pulang dari sekolah. Meski ibunya itu sudah sering datang tanpa berkabar lebih dulu, tetapi Azka merasa ada yang tidak beres sekarang. Wajah ibunya suram dan kaku, seolah memendam sesuatu yang sebentar lagi akan meledak. Di samping ibunya, Reina menatap Azka dan Kinan bergantian dengan tatapan khawatir.
“Terkejut melihat mamamu datang?” tanya Kinan dingin. Azka jadi yakin seratus persen kalau ada sesuatu yang tidak beres. Dilihatnya Reina bergerak gelisah, seketika satu kesimpulan muncul di kepala lelaki itu. ‘Apa Reina memberitahukan yang sebenarnya?’
Kinan berdiri, diikuti oleh Reina. “Mama juga sangat terkejut saat tahu kalau kamu ternyata main-main dengan istri orang!”
Tepat pada sasaran, Azka terkjut bukan main. “Ma, Azka bisa menjelaskan—“
“Menjelaskan apa?” sergah Kinan. Wanita itu melempar amplop yang diberikan Ambar kemarin ke hadapan Azka. “Mama tidak habis pikir bisa-bisanya kamu mencintai istri orang. Hana memang cantik, tapi harusnya kalian tahu batas. Selingkuh itu tidak baik, Azka! Tidak hanya merusak pernikahan orang, tapi juga kehidupanmu!”
Azka mengeluarkan isi amplop tadi, matanya melebar melihat foto yang ada di dalamnya. Foto yang menunjukkan keluarga yang harmonis, yaitu foto Hana dan suaminya beserta sang anak. Azka memang tahu kalau Hana sudah menikah seperti yang dikatakan wanita itu, tetapi ini pertama kalinya dia melihat bukti bahwa Hana memang sudah berkeluarga. “Ini ...? Dari mana Mama mendapatkannya?”
“Tidak penting Mama mendapatkannya dari mana, itu bukan urusanmu. Yang paling penting, mulai sekarang, jauhi Hana! Putuskan hubungan yang ada di antara kalian! Kamu itu orang terpelajar, bagaimana mungkin bisa menjalin hubungan kotor seperti itu!” kecam Kinan.
‘Tidak penting? Bagaimana mungkin ini tidak penting?’ Mata Azka masih terpaku pada foto keluarga Hana. Bertanya-tanya siapa yang menyelidiki Hana dan membeberkannya kepada orang tuanya. Yang tahu tentang Hana hanyalah Dimas dan Reina. Dimas tidak mungkin memberi tahu orang tuanya, lelaki itu bahkan tidak ada di kota ini, sedangkan Reina .... Tatapan Azka lantas menghujam Reina. Sejak tadi wanita itu seolah mengkhawatirkan sesuatu, sebentar-sebentar melirik Kinan. Satu kesimpulan muncul di kepala Azka. “Bisa-bisanya kamu melakukan hal ini, Reina!” bentak Azka.
Suaranya menggelegar hingga mengagetkan Kinan dan juga Reina. Mata Reina lantas melotot melihat kemarahan muncul di wajah Azka. Napas gadis itu jadi tercekat. “A-apa maksudmu?” cicitnya.
“Arght!” Azka menghempaskan foto tadi dengan kasar, tepat di hadapan Reina. “Jangan coba-coba berbohong, Reina. Kamu, kan, yang menyelidiki Hana dan membeberkannya kepada ibuku?” tuduhnya.
“Apa maksudmu, Azka?” Reina menggeleng tegas, matanya memanas. Bentakan dan tuduhan Azka terasa sangat menyakitkan. “Bagaimana mungkin aku mengkhianatimu?”
“Bagaimana tidak mungkin?” Azka melontar pertanyaan balasan. “Melihatmu datang bersama ibuku sekarang sudah menjelaskan semuanya, Reina.”
“Tidak, Azka!” protes Reina. “Aku juga tidak tahu apa-apa.”
“Jangan berbohong! Aku tidak tahu kau melakukan ini untuk apa, tapi jika kau melakukannya karena masih menyukaiku itu adalah kesalahan terbodoh karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mencintaimu!”
Reina merasa seperti ada pisau yang mengiris jantungnya, rasanya sakit sampai Reina ingin mencabut jantungnya sekarang juga. “Ini sudah keterlaluan, Azka,” ucap Reina pelan. Air matanya sudah tak dapat dibendungnya. Reina terima jika Azka tidak akan pernah bisa mencintainya, ya, Reina terima itu. Namun, Reina tidak akan pernah menerima tuduhan yang dilontarkan Azka. Tuduhan atas perbuatan yang sama sekali tak pernah dilakukannya.
“Kamu yang keterlaluan, Reina! Menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkanku. Muna—“
PLAK!
Tamparan itu mendarat dengan kuat di pipi Azka, bersamaan dengan perasaan hancur yang dirasakan Reina. “Kamu jahat, Azka! Jahat!” Tanpa berkata apa-apa, Reina segera berlari keluar dari apartemen Azka.
Azka mengelus pipinya yang terkena tamparan dari Reina, tamparan itu seakan menyadarkan dirinya bahwa dia sudah sangat keterlaluan. Saat menoleh kembali, sebuah tamparan lagi-lagi mendarat di pipinya.
“Ini karena sudah bertindak bodoh dengan menuduh wanita yang tulus menyayangimu,” ucap Kinan sebelum berlalu dari sana.