“Hei, kenapa kamu malah menangis?” Dimas menyentuh puncak kepala Reina, membuat gadis itu tersadar. Buru-buru Reina mengusap matanya yang tanpa sadar mengeluarkan cairan bening dari sana. “Kenapa menangis?” ulang Dimas. Reina menggeleng pelan. “Aku sedih dengan kisah cinta mereka,” ucap Reina sendu. Dimas mengangguk, lelaki itu kemudian bersandar pada jok mobil. “Ya, aku juga sedih. Andai saja saat itu aku lebih tegas pada Nadine, mungkin saja hubungannya dengan Rama hanya memakan waktu beberapa bulan. Ini salahku karena tidak bisa menjaga Nadine,” keluh Dimas. Reina menepuk pundak Dimas pelan. “Ini bukan kesalahanmu, ini bukan salah siapa-siapa. Ini takdir dari Yang Kuasa.” Seutas senyum tipis terbit di wajah Dimas. “Terima kasih, Reina.” “Sama-sama ... ah, ya, kalau mereka berpisah,

