“DIMAAAS!” Nadine menghambur ke dalam pelukan Dimas saat lelaki itu masuk ke kamar kostannya. Dimas tidak mengerti kenapa sepupu kesayangannya itu menangis hebat seperti ini. Untuk beberapa saat Dimas menepuk-nepuk punggung Nadine, memberikan ketenangan, kemudian menuntun gadis itu untuk duduk di tikar, satu-satunya alas yang tedapat di kostan sederhana tersebut. “Kenapa? Kamu putus dengan Rama?” tanya Dimas hati-hati. Nadine menggeleng, membuat kerutan di kening Dimas tambah jelas. “Kalau tidak putus, kenapa kamu menangis seperti ini? Apa dia main tangan? Katakan padaku, biar kuhajar dia.” Saat Dimas berdiri hendak merealisasikan ucapannya, Nadine segera menahannya. Dengan sesenggukan parah, Nadine menceritakan apa yang didapatkannya saat dia datang ke rumah Rama. Selama Nadine berceri

