“Dor!”
“Kya! Astaga, Rama!” Nadine memekik karena Rama mengagetkannya. Dia yang sejak tadi sibuk berkencan dengan laptop lantas memanyunkan bibir, bete karena Rama mengganggu pekerjaannya. “Rese, ih! Aku kan lagi kerja!”
Tawa Rama terdengar renyah di telinga Nadine saat lelaki itu menarik kursi di sampingnya dan duduk di sana. Rama melemparkan senyum, mengulurkan tangan untuk memperbaiki anak-anak rambut Nadine yang berantakan. “Maaf. Habisnya, laptop terlihat lebih menarik daripada aku.”
“Unch, sayangku. Merasa diabaikan, ya?” Nadine menangkup wajah Rama dengan kedua tangannya. Dia tertawa pelan karena Rama menampilkan ekspresi yang membuat Nadine gemas. “Aku selesaikan tugas ini dulu, ya. Nanti kita jalan. Oke?”
Gelengan Rama berikan sebagai jawaban. “Enggak mau.”
Nadine menghela napas panjang. Pacaran sejak SMP dengan Rama sampai mereka jadi mahasiswa sekarang, sifat yang membuat Nadine kadang sedikit kesal adalah saat Rama menginginkan sesuatu, maka lelaki itu akan merecokinya terus menerus sampai Nadine mau menurutinya. Mau tidak mau, Nadine terpaksa menyimpan file tugasnya lalu mematikan laptop, kemudian mengemas barang-barangnya dan ikut ke mana pun Rama membawanya.
Tafso Barn menjadi tempat yang dituju Rama. Selama perjalanan, Nadine heran karena tidak biasanya mereka kencan di tempat seperti ini. Karena biasanya Rama lebih sering mengajaknya ke villa lelaki itu atau ke cafe dan taman dekat kampus mereka.
Setelah membayar tiket, Rama menuntun Nadine memasuki Tafso Barn. Cafe yang memiliki konsep outdoor itu menarik perhatian Nadine, sekilas terlihat seperti konsep ala cafe di Eropa. Cafe yang terletak di dataran tinggi ini menyuguhkan view landscape puncak Ciumbuleut. Rama mengajak Nadine menuju area spot foto, pemandangan alam yang indah membuat Nadine melupakan kekesalannya pada Rama. Gadis itu berulang kali meminta difoto dengan background sumur buatan lengkap dengan pagar kayu dan berlanjut pada spot foto lainnya. Tidak terasa matahari sudah hampir terbenam, Rama mengajak Nadine ke cafe yang berbentuk sangkar burung, interior yang cantik dengan view indahnya sunset menggelitik Nadine untuk kembali berfoto sambil menunggu pesanan mereka datang.
“Sepertinya pilihan yang salah mengajakmu ke sini,” ucap Rama.
Gerakan jari Nadine di ponsel terhenti, gadis itu mengangkat wajah, dia bisa melihat wajah Rama yang seolah sedih, Nadine tidak bisa menahan tawanya. “Duh, pacarku yang malang. Kenapa sesedih itu, sih? Kamu sudah ambil keputusan bagus untuk membawaku ke sini.”
Satu tangan Rama menopang wajahnya. “Yah, itu karena kamu tidak memperhatikanku,” keluh Rama.
Nadine menjulurkan tangan, mengusap pipi Rama gemas. “Sayangku yang manis, jangan marah, ya? Pacarmu ini sedang bahagia sekali!”
“Belum kok,” ucap Rama.
Nadine menarik tangannya kembali, satu alisnya terangkat. “Belum apa?”
“Aku belum mengeluarkan ini.” Rama merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam sana. Nadine menebak Rama membelikannya sebuah kalung, seperti kebiasaan lelaki itu. Namun, saat Rama membuka kotak itu, mata Nadine melebar, terlebih dengan apa yang diucapkan Rama.
“Will you marry me?”
“Astaga!” Nadine menutup mulutnya, syok.
“Hei, aku sedang menunggu jawaban, loh. Kuharap jawabannya ‘iya’.”
Nadine belum bisa menjawab, dia masih terkejut karena Rama baru saja melamarnya. Perasaan bahagia yang dia rasakan sangat sulit untuk diungkapkan, Nadine bahkan tidak sadar air matanya terjatuh.
Sigap, Rama mengusap air mata Nadine. “Dilamar kok malah nangis, senang dong,” ledeknya.
“Ih, Rama!” Nadine menghujani Rama dengan cubitan gemas hingga mereka tertawa terpingkal-pingkal. Lelah, Rama merangkul Nadine yang dibalas pelukan oleh kekasihnya itu. “Ayo, jawab ‘iya’. Tanganku pegal loh, pegang ini.”
Dalam pelukan Rama, Nadine mendongak. “Kok maksa?”
“Trus bagaimana? Aku menunggu jawaban, loh.”
Nadine melepas pelukannya. Mendekatkan wajahnya pada cincin di hadapannya, satu tangannya mengusap dagu, seolah meneliti. “Coba kita lihat, apakah ini pas untukku atau tidak?”
“Hei, itu jawaban apa coba!” protes Rama.
“Ini kode loh, Ramaaa!”
“Ooh, kode.” Rama manggut-manggut, sedetik kemudian dia menatap Nadine dengan mata melebar. “Jadi diterima nih?”
Nadine memasang ekspresi seolah berpikir. “Hm, kayaknya iy-kyak!”
Rama langsung memeluk Nadine dengan gemas, menciumi puncak kepala kekasihnya itu bertubi-tubi. Keduanya dipenuhi kebahagiaan dengan latar sinar jingga dari sunset. Pacaran hampir delapan tahun ternyata tidak sia-sia, mereka akhirnya akan segera bersatu.
“I love you, Nadine,” ucap Rama sebelum menempelkan bibirnya dengan bibir Nadine.
“I love you too, Rama,” balas Nadine.
***
“Kamu baru melamarku kemarin dan sekarang kamu mengajakku bertemu orang tuamu?” Wajah Nadine berubah pucat. Bertemu dengan keluarga Bagaskara adalah sesuatu yang sangat berat baginya. Mengapa tidak? Ayah Rama adalah presiden direktur di Bagaskara Corp, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti terbesar di Indonesia. Bertemu dengan beliau adalah suatu kehormatan bagi Nadine yang hanya mahasiswa biasa.
Namun, mendengar desas-desus dari sana-sini, ayah Rama terkenal galak dan menyeramkan. Membayangkan bertemu dengan beliau saja Nadine ketar-ketir, apalagi jika harus makan malam bersama.
“Ayolah, Sayang. Jangan takut, ada aku kok.”
Nadine memasang ekspresi memelas. “Sayang, bisakah kita menikah tanpa harus bertemu orang tuamu terlebih dahulu?”
“Mana mungkin!” Rama menoyor jidat Nadine dengan gemas. “Salah satu syarat orang tuaku mengizinkanku menikah adalah memperkenalkan dirimu dulu.”
“Apa tidak ada cara lain?” Nadine masih berusaha.
“Tidak ada, Sayang. Pokoknya, malam ini kamu dandan yang cantik, nanti aku jemput. Oke?”
Mau tidak mau, suka tidak suka, terpaksa Nadine setuju. Gadis itu menganggukkan kepala dengan lemah, pasrah.
***
Sesuai janji, Rama datang menjemput Nadine. Meski ini hanya makan malam biasa untuk bertemu calon mertua, tetapi Nadine berdandan maksimal untuk memberikan kesan baik bagi calon mertuanya. Lagi-lagi Rama terpana dengan kecantikan Nadine, wajah polos gadis itu sudah cantik, apalagi ditambah dengan polesan make up, membuatnya tambah menawan. Rama yakin seratus persen ayahnya akan setuju dengan pernikahannya.
“Aku gugup,” ucap Nadine pelan setelah tiba di kediaman Bagaskara. Rumah Rama begitu besar bergaya eropa klasik yang megah, layaknya istana. Dicat dengan warna putih dan gold membuatnya tampak elegan. Di sekeliling rumah menjulang pagar tinggi besar dengan warna senada. Nadine terpukau pada rumah megah di hadapannya, terlebih pada kolam air mancur yang di dalamnya berdiri sebuah patung wanita memegang kendi dan dari sanalah airnya menyembur. Di dalam kolam terdapat banyak ikan mahal yang membuat Nadine meradang.
Astaga, bagaimana mungkin mereka menaruh ikan Koi Kohaku di luar rumah? Apa tidak takut ada yang mencurinya, ya?
“Hei, jangan melamun,” tegur Rama saat Nadine diam terpaku menatap puluhan ekor ikan berharga milyaran itu.
“Oh, maaf.”
Jika tadi di luar Nadine dibuat terpukau dengan kolam berisi ikan Koi Kohaku, di dalam sana dia malah menganga. Lorong menuju ruang tamu sangat panjang, dan di sisi kanan dan kirinya terdapat akuarium besar berisikan ikan arwana berbagai jenis. Ya Tuhan, mereka benar-benar menyia-nyiakan uang! Jerit Nadine dalam hati.
Awalnya Nadine sangat takjub dengan rumah Rama beserta isinya, tetapi semakin lama dia berada di rumah itu, semakin muncul perasaan takut dalam diri Nadine. Perbedaan mereka begitu besar sampai-sampai Nadine bisa mengerti jika nantinya keluarga Rama tidak setuju dengan hubungan mereka.
“Kenapa?” bisik Rama.
Nadine hanya menggeleng dan sedikit mengulas senyum. Keduanya kini memasuki ruang makan yang kembali membuat Nadine terpana. Dan lagi-lagi perasaan gugup menderanya, apalagi ketika melihat keluarga Rama sudah duduk di kursi masing-masing, menunggu kedatangannya dan juga Rama. Handaru Bagaskara duduk di kursi kepala keluarga, di sampingnya sepertinya adalah sang istri, yang meski sudah berumur, wajahnya masih nampak cantik. Di kursi berikutnya duduk dua orang gadis dengan gaya begitu elegan. Mendadak Nadine merasa insecure.
“Silakan duduk,” ucap Rama sambil menarik kursi untuk Nadine.
Nadine mengangguk kikuk, bahkan untuk sekadar menelan saliva saja dia merasa tidak sanggup. Nadine bisa merasakan punggungnya berkeringat. Berbagai makanan di depannya begitu menggiurkan, tetapi Nadine merasa dia bahkan tidak mungkin bisa menelannya.
“Ayah, Ibu. Ini Nadine, kekasihku.” Rama mengawali perkenalan setelah beberapa saat mereka ikut bergabung.
Nadine menganggukkan kepala sedikit. “Nama saya Nadi—“
“Apa pekerjaanmu?” sela gadis berambut pendek di samping ibu Rama.
Nadine memutar otak, mencari kalimat yang pas. Dia hanya mahasiswa yang bekerja part time dengan gaji yang hanya cukup untuk makan dan biaya kostan. Jika menjawab seperti itu, apakah keluarga Rama akan menghinanya? Mengingat perbedaan mereka sangat jauh.
“Ekhm. Sepertinya dia hanya mahasiswa?” ujar gadis yang satunya.
“Anu ....”
“Dia part time di restaurant, Ayah,” jelas Rama, memotong kalimat Nadine. Lelaki itu menoleh pada Nadine dan mengangguk kecil, mengisyaratkan bahwa Nadine tidak perlu khawatir karena dia ada bersamanya. Diam-diam Nadine memperhatikan ekspresi wajah dari keluarga Rama setelah lelaki itu menjelaskan pekerjaannya. Seperti yang Nadine duga, ekspresi tidak mengenakkan muncul di wajah kedua kakak Rama. Nadine tambah insecure dibuatnya.
“Nadine ini mahasiswa terbaik di kampus. Sebentar lagi dia akan mengikuti program credit learning di luar negeri. Dan beberapa tahun kemudian pasti dia akan jadi wajah cerah untuk perusahaan kita.”
Ayah Rama terlihat berpikir, lelaki itu kemudian kembali bertanya, “Apa pekerjaan orang tuamu?”
DEG!
Nadine tidak tahan untuk tidak menunduk. Kedua tangannya dia remas di bawah meja. Selama dua puluh dua tahun hidupnya, tidak ada yang pernah menyinggung tentang orang tuanya. Sejak lahir dia sudah jadi yatim piatu, ayahnya meninggal akibat kecelakaan saat dia masih dalam kandungan, sedangkan ibunya meninggal setelah melahirkan dirinya. Dia hanya dibesarkan oleh tante dan omnya yang tak lain adalah orang tua Dimas.
Rama bisa melihat getaran halus di pundak Nadine. Dia tahu kalau Nadine adalah anak yatim piatu, dan dia melupakan fakta itu. “Ayah, Nadin—“
“Kedua orang tua saya sudah meninggal, Pak,” ujar Nadine menyela ucapan Rama. Handaru Bagaskara terdiam, menatap Rama dan Nadine secara bergantian dengan tatapan tajam.
“Sudah berapa lama kalian pacaran?”
“Tu—“
“Ayah tidak bertanya padamu, Pramana,” sergah Handaru membuat Rama bungkam.
Takut, Nadine menjawab, “Sejak SMP, Pak. Sekitar tujuh tahunan.”
Mata Handaru menyipit. “Kalau sudah selama itu, berarti kau tahu kan kalau Pramana bukan dari kalangan biasa?”
Nadine mengangguk pelan. “Iya, Pak.”
“Meski begitu, kau tetap menempel dengannya?”
“Ayah!” tegur Rama. “Kata-kata Ayah keterlaluan!”
“Pramana Bagaskara, di mana sopan santunmu terhadap ayahmu?!” Nayanika, ibu Rama, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan akhirnya angkat suara.
“Tapi, Ibu. Ayah sudah keterlaluan!” protes Rama.
“Apa yang dilakukan ayahmu adalah demi kebaikanmu sendiri. Jadi, jaga sikapmu!”
“ARGHT!” Brak! Rama menggebrak meja, membuat semua orang terkejut termasuk Nadine, gadis itu kini menunduk dalam-dalam, menahan air matanya keluar. Rama menentang orang tuanya karena dirinya, harusnya sejak awal Nadine tidak mengambil keputusan untuk bersama Rama. Seharusnya Nadine tidak pernah membayangkan kisah cintanya akan berakhir bahagia seperti dalam novel-novel romansa kebanyakan, yang meski berbeda kasta tetapi tetap akan bersatu di akhir. Harusnya Nadine bangun dari mimpinya untuk menikah dengan orang seperti Rama, perbedaan mereka sangat jauh.
“Lihat yang gadis itu lakukan terhadap Pramana, Ayah. Pramana sudah melupakan tata krama yang dia pelajari sejak kecil demi gadis seperti dia,” ujar gadis yang tadi duduk di dekat ibunya.
“Arunika!” bentak Rama. “Yang tidak punya tata krama itu kamu!”
“Gadis itu benar-benar merusakmu, Pramana,” imbuh gadis yang satunya, dia bernama Swastamita.
“Kalia—“
“DIAM!” bentak Handaru Bagaskara dengan suara tajam yang langsung membuat semua yang ada di sana bungkam. Dia lalu menatap Rama, tatapannya seolah mampu menghunus jantung Rama. “Sebelum kau memperbaiki tata kramamu, kau dilarang berkeliaran di sini.”
“Apa, Ayah? Maksud Ayah apa?” Kembali Rama protes.
Handaru meraih lonceng yang selalu diletakkan di sampingnya. Bersamaan dengan bunyinya, beberapa lelaki berpakaian serba hitam langsung masuk ke ruang makan. Secara teratur mereka membungkuk memberi hormat pada Handaru.
“Kurung dia ke kamarnya,” titah Handaru.
Rama melotot, tetapi sebelum bersuara, tubuhnya sudah disergap oleh para bodyguard sang ayah. Lelaki itu sempat memberontak sebelum dilumpuhkan oleh salah satu dari mereka hingga dia pingsan. Sepeninggal Rama, Nadine sudah tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang panas ini. Yang pasti, semua orang yang ada di sini tidak ada yang berpihak kepadanya. Rama yang merupakan anak lelaki satu-satunya saja diperlakukan kejam oleh ayahnya sendiri, apalagi dirinya yang bukan siapa-siapa.
Gadis bernama Swastamita itu berdiri, memberi hormat kepada sang ayah dan ibu dan pamit undur diri, begitu pula dengan Arunika. Kini hanya tinggal mereka bertiga. Nadine merasa tenggorokannya kering kerontang, bahkan untuk menelan saliva saja dia takut.
“Nak Nadine?” Suara lembut tetapi tegas dari ibu Rama membuat Nadine mendongak pelan. Tatapannya bertubrukan dengan mata elang milik Handaru, Nadine langsung menunduk takut. “I-iya, Bu?” cicitnya.
“Kami tidak ingin bertele-tele, kami hanya minta agar kamu segera menjauhi Pramana. Perbedaan status sosial kalian sangat jauh, bagai langit dan bumi. Putra kami, Pramana, adalah pewaris Bagaskara Corp, sedangkan kamu hanya pekerja part time. Maaf, meskipun kamu cukup berprestasi, kami tidak bisa menyetujui hubungan kalian. Ini demi nama baik keluarga Bagaskara. Katakan berapa uang yang kamu inginkan, kami akan memberikannya, berapa pun jumlahnya, asal kamu menjauhi Pramana.”