Mita meremas bahu Kamalea saat keduanya berjalan untuk kembali ke kantor selepas makan siang. Ada rasa tidak nyaman yang kini bergelayut di dalam hati Kamalea. Entah tadi Deon melihatnya atau tidak, tetapi laki-laki itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya atau pun menyapanya. Ingin memulai dulu, tetapi Kamalea takut mengganggu karena sepertinya orang-orang yang bersama dengan Deon bukanlah orang biasa seperti dirinya. “Mungkin Pak Deon lagi sibuk,” ujar Mita yang merasa prihatin pada Kamalea yang terus diam dengan wajah kecewa sejak melihat Deon tadi. Kamalea mencoba untuk tersenyum seceria biasa, tetapi sepertinya tidak berhasil karena sorot iba yang kini Mita berikan belum berkurang. “Gue nggak papa, mungkin memang—“ Kamalea menggeleng, enggan menduga-duga apa yang terjadi.

