46. Ancaman halus

1618 Kata

Kamalea mencoba menjalani harinya seperti biasa, seolah tidak pernah terjadi apa–apa. Ia mencoba melupakan fakta tentang pengakuan yang Revka katakan hari itu. Mengesampingkan rasa membingungkan yang terus mengusiknya, hingga kadang membuatnya malas untuk melakukan banyak hal.   “Mas Revka baru aja dateng, Mbak,” ujar Tiwi pada Kamalea yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu lantas mengedar pandang, tetapi yang dicari tidak terlihat.   “Tapi langsung pergi tadi,” kata Tiwi lagi saat sadar jika bosnya ini mencari sosok kehadiran Revka.   “Dia ngapain tadi?”   “Beli kue, yang kayak biasa,” jawab Tiwi sembari merapikan etalase yang sudah kosong untuk diisi kue yang baru.   “Nanyain aku?” tanya Kamalea penuh harap, tetapi tentu saja tidak ia tunjukkan terang-terangan. T

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN