Sepanjang perjalanan pulang hanya ada hening. Mobil melaju tenang membelah kemacetan Kota Jakarta. Revka yang tengah fokus pada kemudinya, sesekali melirik ke arah samping, di mana Kamalea kini terlihat menyandarkan kepala pada jok mobil, dengan arah pandang yang terus terlempar ke luar jendela. Seolah pemadangan yang ada di luar sana lebih menarik ketimbang menatap wajah laki-laki yang mulai terasa asing di matanya. “Mau makan apa?” Revka tentu saja tidak tahan dengan keheningan ini. Ia jujur mengungkapkan perasaan yang selama ini tersimpan, bukan untuk mendapatkan sikap seperti ini. Jujur hatinya lega karena apa yang sudah mengendap lama, kini tidak lagi ada yang tersisa. Perasaan yang terus menjadi beban karena tidak terungkap, kini sudah terlepas sebagaimana mestinya. Namun, d

