Kamalea yang biasanya cerewet kini hanya diam. Bukan diam dalam arti sebenarnya yang tidak melakukan apa pun. Namun, wanita itu lebih ke fokus pada laki-laki di depannya. Bahkan secara terang-terangan, wanita itu memindai wajah Riko yang kini tengah menikmati bubur ayam tidak jauh dari pasar tradisional tempat mereka berbelanja bahan kue. “Ini bener Riko yang waktu itu nemuin geu? Jangan-jangan, dia punya kembaran lagi.” Kamalea terus membentuk berbagai macam dugaan di kepalanya. Bagaimana dia tidak bingung? Sosok Riko yang kini ada di hadapannya, sungguh berbeda dengan Riko yang menemuinya di kafe tempo hari. Sejak tadi laki-laki ini bersikap wajar. Mengobrolkan hal yang wajar, dan bahkan tidak terlihat risi saat ia ajak ke pasar tadi. Dari segi fisik tidak ada yang berubah. Mesk

