Satu minggu sudah berlalu sejak malam mengerikan itu. Satu minggu pula Naumi seolah melupakan dunia di luar dinding putih rumah sakit. Baginya, setiap detik sangat berharga untuk menemani sang Bunda yang masih terbaring lemah, terjebak dalam tidur panjang yang menyakitkan. Mungkin bisa dibilang, rumah sakit itu telah menjadi rumah kedua bagi Naumi. Aroma antiseptik yang tajam di dalam ruangan itu, yang awalnya membuat mual, kini seolah menjadi oksigen sehari-harinya. Wajah Naumi tampak kuyu, lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong bahwa ia nyaris tidak tidur demi menunggu kelopak mata sang Bunda terbuka. "Bunda... ini Naumi. Bangun, Bun... Naumi kangen masakan Bunda, kangen senyum Bunda," bisik Naumi sambil menggenggam tangan Bu Ratna yang terasa kaku dan dingin. Tiba-t

