Kembali ke atmosfer terminal yang pengap dan mencekam. Adrian mencengkeram kerah jaket pria bertopi itu dengan tatapan yang sanggup membekukan darah. Pria itu gemetar, tangannya masih memeluk tas kecil itu seolah-olah itu adalah nyawanya. "Buka tasnya," perintah Adrian, suaranya rendah namun penuh penekanan. Tomi merebut tas tersebut dengan kasar dan menyobek ritsletingnya. Namun, bukannya dokumen penting atau bukti kejahatan yang mereka temukan, wajah Tomi seketika berubah pucat. Di dalam tas itu hanya ada tumpukan kertas kosong dan sebuah ponsel murahan yang tiba-tiba berdering nyaring. Drttt... Drttt... Adrian menyambar ponsel itu, firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. Ia menekan tombol jawab tanpa suara. "Bagaimana, Adrian? Melelahkan bukan, mengejar bayangan di tempat sepada

