Situasi di koridor lantai 22 itu mendadak mencekam. Tawa sinis Arka pecah saat lengannya dengan kasar mengunci leher Ririn, sementara tangan satunya menodongkan pisau lipat kecil ke arah nadi gadis itu. "Mundur, Adrian! Atau si mulut berisik ini tidak akan pernah bisa bicara lagi!" teriak Arka dengan mata yang memerah penuh kegilaan. Ririn meronta, wajahnya pucat pasi, namun ia tetap berusaha berteriak, "Tom! Adrian! Jangan biarkan mereka lolos! Dokumennya lebih penting dari gue!" Adrian berhenti melangkah. Rahangnya mengeras. Ia menatap Arka dengan tatapan yang bisa membunuh. Di belakangnya, Tomi tampak sangat emosional; melihat Ririn dalam bahaya membuat amarahnya meluap, namun ia tak bisa gegabah. "Lepaskan dia, Arka," suara Adrian terdengar sangat rendah dan dingin. "Kamu sudah kal

