Tepat pukul 12:00 WIB, matahari sudah merangkak naik hingga ke puncaknya, menyebarkan terik yang mulai menyengat kulit. Adrian melirik jam tangannya, lalu beralih menatap Naumi yang masih asyik menikmati suasana taman. "Naumi, ayo masuk," ajak Adrian dengan nada datar, berusaha menyembunyikan getaran di hatinya. "Sebentar lagi, Mas. Di sini udaranya enak banget!" jawab Naumi ceria. Ia memutar tubuhnya perlahan, merentangkan tangan sambil menghirup dalam-dalam aroma bunga sedap malam dan melati yang tumbuh subur di taman itu. Rambutnya yang tertiup angin membuat Naumi tampak sangat cantik di mata Adrian. "Tidak. Masuk sekarang, hari sudah mulai panas," tolak Adrian cepat. Ia berbohong. Padahal, alasan sebenarnya adalah karena ia tidak tahan melihat Naumi yang begitu memesona di bawah si

