Keesokan harinya, di dalam ruangan kantor yang luas, Adrian berdiri terpaku menghadap jendela kaca raksasa yang menyuguhkan panorama hutan beton. Di luar sana, gedung-gedung pencakar langit seolah saling berlomba menyentuh awan, sementara kendaraan di bawah sana tampak seperti barisan semut yang tak kenal lelah. Adrian mengembuskan napas panjang dan kasar. Sorot matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan gurat keletihan yang mendalam. Rentetan kejadian belakangan ini benar-benar menguras kewarasan dan energinya—mulai dari konflik keluarga yang semakin memanas, pengkhianatan Arka yang menikam dari belakang, hingga tragedi berdarah yang menimpa Bu Ratna, ibu mertuanya. Tomi, yang duduk di seberang meja kerja Adrian, hanya bisa terdiam mengamati. Sebagai sahabat sekaligus orang kepercayaa

