Ririn melipat kedua tangannya di d**a, dagunya terangkat tinggi menantang sorot mata tajam Tomi. Senyum tipis yang penuh kemenangan tersungging di bibirnya. "Gila? Oh, mungkin saja. Tapi di pasar ini, orang asing dengan pakaian perlente sepertimu itu sasaran empuk, Mas. Sekali saya teriak 'Jambret!', dalam hitungan detik kamu bakal dikepung bapak-bapak tukang ojek dan pedagang daging yang lagi pegang golok. Mau coba?" ancam Ririn, suaranya tenang tapi mematikan. Tomi mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia menoleh ke sekeliling. Benar saja, beberapa orang sudah mulai melirik ke arah mereka dengan tatapan curiga karena suara keributan itu. Tomi bisa saja melawan, tapi reputasinya sebagai pengusaha muda yang disegani akan hancur jika besok muncul di berita dengan tajuk: “Seorang Pria Berjas

