Keesokan paginya, cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar asrama. Satu per satu suara alarm terdengar dari beberapa sudut ruangan. Arka menjadi orang pertama yang bergerak. Dengan mata masih terpejam, tangannya meraba-raba sisi tempat tidur untuk mencari ponsel yang terus bergetar. Setelah berhasil menemukannya, ia mematikan alarm lalu menarik selimut kembali hingga menutupi sebagian wajahnya. Beberapa detik kemudian, Nathan mulai bangun. Ia duduk di tepi ranjang sambil mengusap wajah, masih terlihat setengah sadar. Alden juga sudah membuka mata. Namun, baru beberapa saat mereka bertiga mulai bergerak, suara Arka tiba-tiba terdengar. “Anjir!” Nathan yang masih mengantuk langsung menoleh. “Apa?” Arka mengucek kedua matanya beberapa kali, lalu menatap ke arah meja belaj

