Lari Maraton

2148 Kata
Dibawah sinar matahari pagi yang menyehatkan, hampir seluruh siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 berlari dengan santai di tepi jalan raya utama. Dengan mengenakan seragam olahraga sekolah yang sudah di basahi keringat, mereka berlari sambil meniikmati pemandangan yang ada di sekeliling dan saling mengobrol. Hari ini sekolah sedang mengadakan acara olahraga kecil-kecilan untuk mengisi waktu senggang. Kebetulan para guru hari ini banyak yang tidak bisa mengajar di kelas-kelas karena sedang ada rapat besar-besaran di sekolah. Sebagai gantinya, kepala sekolah memutuskan untuk mengadakan acara lari marathon, yang diikuti oleh kelas 10 dan kelas 11. Sedangkan untuk kelas 12, mereka masih sibuk dengan latihan ujian (try out), jadi mereka tidak diikutsertakan dalam acara. Pengumuman tentang acara olahraga kecil-kecilan ini sudah di beritahukan kemarin sore. Setelah kegiatan belajar megajar selesai, seorang dari anggota OSIS menyampaikan pengumuman tersebut melalui toak yang biasa di gunakan untuk menyampaikan informasi penting di sekolah. “Pengumuman. Penguman. Di beritahukan kepada seluruh siswa kelas 10 dan kelas 11, besok akan ada rapat guru dan sebagian besar dari mereka mungkin tidak bisa hadir di kelas-kelas untuk mengajar, oleh sebab itu, sebagai gantinya, sekolah akan mengadakan acara lari marathon mengelilingi area sekitar sekolah. Diharapkan siswa-siswi yang tidak berhalangan atau tidak sedang sakit di wajibkan untuk ikut karena akan berpengaruh pada nilai penjaskes kalian. Jangan lupa untuk bawa seragam olahraga kalian ya!! Sekian...” Kira-kira begitu isi pengumumannya. Ada sekitar seratusan lebih siswa yang mengikuti kegiatan lari marathon ini, mereka membentuk barisan yang berantakan di tepi jalan raya. Kelompok anak laki-laki berbaris di bagian paling depan, sementara yang perempuan berbaris di belakang. Urutan barisannya juga di tentukan sesuai dengan kelas dan huruf abjad kelasnya. Mulai dari depan ke belakang, barisannya berurutan dari kelas 10-A sampai kelas 11E. Dari ratusan siswa-siswi yang berlari itu diantara mereka pasti ada yang mengikutinya dengan berat hati, malas karena tidak suka olahraga, namun ada juga yang berlari dengan penuh semangat yang berapi-api. Disaat semua siswa-siswi berlari santai dengan irama langkah kaki yang hampir sama, Rangga malah berjalan kaki karena sudah merasa cukup kelelahan. Diantara gerombolan siswa-siswi yang lain, Rangga terlihat tampil beda. Semua orang yang mengikuti lari marathon hari ini memakai seragam olahraga sekolah yang berwarna hijau, namun tidak dengan Rangga, hari ini dia malah memakai baju kaos warna hitam yang biasa ia pakai di rumah, di padukan dengan celana sepak bola berwarna putih polos merk Nike. Ibunya lupa mencuci seragam olahraga sekolah miliknya, jadi dia terpaksa memakai baju biasa. Karena tidak mengikuti aturan, Rangga jadi kena hukuman push up dua puluh kali sebelum acara lari marathonnya di mulai. Rangga yang berjalan santai perlahan di susul oleh peserta yang ada di belakangnya. Ia tidak begitu peduli dengan hal itu,lagipula ini bukanlah sebuah perlombaan untuk mencari pemenang, ini hanya kegiatan olahraga biasa yang diadakan sekolah untuk mengisi waktu kosong di hari biasa, selama tak ada pengawas kegiatan di sekitarnya, Rangga akan terus berjalan dengan santai hingga ia tiba di garis finish. Jalan raya di samping kanan barisan siswa-siswi yang sedang berlari tampak ramai oleh kendaraan yang lewat, sementara di sisi kiri mereka berjajar toko-toko dan rumah orang-orang yang tinggal di sekitar situ. Beberapa orang yang sedang bersantai di teras rumah kadang menyapa para siswa-siswi yang lewat di hadapan mereka, beberapa juga menyempatkan diri untuk bertanya tentang kegiatan lari marathon itu. “Lagi ada acara apa nih? Kok tumben olahraga rame banget?” Tanya seseorang yang sedang menyapu di halaman rumahnya. “Enggak ada acara apa-apa kok...” “Cuman lari maraton biasa aja, gurunya lagi rapat" Jawab dua orang siswa secara bergantian. Beberapa warga yang tinggal di tepi jalan raya itu ada yang antusias menyaksikan barisan ratusan siswa-siswi SMA yang sedang lari maraton, ada juga yang biasa saja. Mereka yang antusias, sebagian merekam dengan handphone untuk dijadikan status di WhatApps atau di posting di sosial media lainnya, yang jelas, melihat ratusan siswa SMA yang sedang lari adalah salah satu hal yang menarik bagi mereka. Bisa dibilang, kegiatan lari maraton ini hampir mirip seperti parade hari kemerdekaan, tapi seluruh pesertanya hanya memakai kostum seragam olahraga sekolah. Melihat ke depan, mata Rangga dapat menangkap jelas sebuah tanjakan jalan beraspal yang berjarak sekitar seratus meter dari tempat ia berjalan. Baru melihatnya saja sudah membuat Rangga kelelahan, seakan dia menyesal pagi ini berangkat sekolah. Inginya sih, saat masih di rumah tadi dia pura-pura sakit agar dia bisa bolos sekolah, tapi Rangga sudah tahu kalau ibunya tidak akan percaya begitu saja. Jadi, kalaupun Rangga berpura-pura sakit, itu akan sia-sia karena akan langsung ketahuan, ujung-ujunya dia pasti akan disuruh berangkat ke sekolah. Rangga merasakan rasa nyeri di bagian pergelangan kakinya, otot-ototnya juga kram karena tadi dia malas melakukan pemanasan sebelum mulai berlari. Padahal sekolah sempat mengadakan pemanasan bersama di lapangan, tapi Rangga malah pergi ke kantin dan langsung ikut barisan kelasnya saat barisan itu berlari melewati gerbang sekolah. Langkah Rangga semakin pelan ketika ia menaiki tanjakan yang tadi dilihatnya dari jauh. Tak lama kemudian seorang perempuan melewatinya sambil berlari, kemudian di susul dengan gerombolan Perempuan yang lain. Wajah Rangga terlihat bingung saat dilewati oleh gerombolan anak perempuan secara beruntun. Karena terlalu santai saat berjalan, ia akhirnya ketinggalan barisan kelompok anak laki-laki, Rangga malah kini berada di barisan anak perempuan kelas11-A. “Rangga, lari! Kamu udah ketinggalan barisan anak cowok lho!” Kata seorang anak perempuan yang mengenakan hijab, ia sambil berlari dengan temannya. “Enggak bisa lari, kaki gue kram, tadi lupa enggak ikut pemanasan.” Jawab Rangga. “Oh, yaudah. Kamu ada di barisan cewek-cewek lho, kamu cowok sendiri.” kata anak perempuan berhijab itu lagi. “....” Rangga terdiam mendengar perkataan itu. Rangga mulai merasa kalau dia berada dalam situasi yang lumayan memalukan. Tiba-tiba Grace ikut masuk dalam pembicaraan Rangga dan anak perempuan berhijab itu. “Sukurin, yang lain pada pemanasan, lo malah enak-enakan makan di kantin. Kram kan lo jadinya, sukurin” Kata Grace yang saat ini sedang berlari di belakang Rangga. “Berisik.” Kata Rangga Rangga bisa bernafas agak lega setelah tiba di bagian atas tanjakan jalan beraspal. Grace sedikit mempercepat larinya, dan berjalan bersama Rangga. Grace terlihat sangat berkeringat, jika di bandingkan dengan peserta lari maraton yang lain, mungkin dia adalah yang paling berkeringat dan paling kelelahan. Grace meletakan lengan sebelah kananya di salah satu pundak Rangga. “Hufftt...Hufff... Capek!” Ucap Grace yang kelelahan. Rangga memandangi sahabatnya itu dengan ekspresi datar. Kening Grace yang di basahi keringat tampak mengkilap saat terkena sinar matahari, beberapa helai rambutnya menempel di keningnya yang basah. “Lo kenapa bisa keringetan sebanyak itu sih? Baru juga mulai.” Tanya Rangga Grace tidak menjawab, ia masih terengah-engah mencoba mengatur nafas. Setelah nafasnya stabil lagi, ia baru menjawab “Gue lari terlalu cepat.” Ia berhenti bicara untuk mengatur nafas lagi. “Gue lagi balapan sama Lidya, yang kalah harus nraktir di kantin, gue sama Lidya udah lari kenceng dari depan gerbang sekolah. Gue udah sampe sini, dia udah enggak keliatan. Dia pasti tepar, dan gue pemenangnya.” Rangga heran dengan Grace, bisa-bisanya dia malah balapan lari disaat matahari sedang terik begini. Udaranya juga sangat panas, pasti akan sangat menyiksa diri jika harus berlari sekuat tenaga. Berlari santai saja sudah cukup melelahkan, apalagi berlari cepat. “Tenggorokan gue kering banget!! Pengen minum, mana warung masih jauh lagi.” Grace menggerutu kepada Rangga sambil memegangi tenggorokannya. “Sukurin, orang-orang pada lari santai, lo malah lomba lari, sukurin.” Kata Rangga, seolah sedang membalas ejekan Grace yang tadi. “...” Grace terdiam, menyadari kebodohannya. “Coba lo liat sekeliling lo, yang keringetnya banyak cuman lo doang,” Rangga sambil melihat ke sekeliling. Grace juga melihat ke sekeliling, lalu membalas "Coba lo liat ke sekeliling, yang cowok cuman lo doang" “...” Sekarang giliran Rangga yang terdiam. “Idih, enggak punya malu, cowok tu harusnya di barisan depan.” Lanjut Grace. Rangga lalu menjitak pelan kepala Grace sekali dan Grace pun membalasnya dengan menjitak kepala Rangga, tapi ia melakukannya dua kali. Kemudian mereka lanjut berdebat serta saling ejek sambil berjalan menuruni tanjakan. Setelah melewati jalan yang menanjak, Rangga merasa sangat lega. Bagaimanapun juga, hal yang baginya sangat merepotkan telah berhasil ia lewati. Grace terlihat berlari pelan mendahului Rangga, namun ia berhenti karena kehabisan tenaga. Ia kembali merangkul Rangga ketika tiba di dekatnya lagi. “Capek gue, enggak kuat lari, lagi, Nyesel gue balap lari sama Lidya” Sesal Grace. Beberapa saat kemudian, terdengar suara ban sepeda yang bergesekan dengan aspal. Suaranya makin terdengar jelas, lalu di susul dengan suara rantai sepeda dari sebelah kiri barisan. “Sayang!?” Kata seseorang dari sebelah kiri barisan. Grace dan Rangga, serta beberapa siswa-siswi yang ada di sekitar situ pun langsung menoleh ke arah sumber suara karena penasaran dengan sosok pemilik suara itu. Ketika menoleh ke arah sumber suara Grace langsung tersenyum sumringah, termyata orang itu adalah Agung, pacar Grace yang saat ini terlihat berseragam OSIS dan menunggangi sepeda gunung dengan penuh gaya. “Eh, ternyata kamu...” ucap Grace malu-malu. Melihat pemandangan yang sedikit romantis itu, membuat beberapa peserta lari maraton di di barisan dekat situ merasa iri, sisanya dengan kompak berkata “Ciieee~... “ Hampir secara bersamaan. Hal itu membuat Grace makin malu-malu, pipinya seakan me merah. Suasana di sekitar situ cukup riuh untuk beberapa saat. “Mampus, malu kan lo sekarang hehe...” Bisik Rangga kepada Grace, seakan merasa puas. “Apaan sih...” Agung mengayuh sepeda gunungnya secara perlahan, menyesuaikan tempo langkah kaki Grace dan Rangga. Terlihat sebuah buku catatan kecil di saku baju OSIS-nya, mungkin buku kecil itu berisi catatan nama orang yang curang dalam lomba lari ini beserta kelasnya. “Kamu enggak try out apa? Kok tiba-tiba disini?” Tanya Grace pada Agung. “Jadwalku besok...” Agung bicara sambil mengayuh pelan ssepedanya “Harusnya aku hari ini libur sih, tapi berhubung ada acara lari maraton, aku masuk aja untuk bantu-bantuin anggota OSIS yang lain, daripada bosen di rumah, ya kan?” “Oh, gitu" Grace tersenyum manis “Ngomong-ngomong, Rangga, kenapa lo ada di barisan anak-anak perempuan.” Tanya Agung pada Rangga dengan wajah bingung. Rangga terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Agung. Tapi Grace malah menjawab. “Dia kan aslinya cewek, cuman tampilan luarnya aja cowok. Kamu kalau liat dia kencing pasti bakalan tahu identitas Rangga yang sebenarnya, Rangga pipisnya jongkok.” Canda Grace pada Rangga dan Agung, membuat beberapa siswa-siswi di sekitar tertawa. “Sialan lo.” Ucap Rangga sambil mendaratkan sebuah jitakan di bagian atas kepala Grace. Agung adalah senior di OSIS, dia dulu pernah menjabat sebagai ketua OSIS, tapi karena makin sibuk dengan kegiatan lomba dan latian ujian nasional, ia terpaksa mengundurkan diri agar lebih fokus dengan hal-hal akademik di sekolah, lagipula sebentar lagi dia akan lulus, jadi memang sudah waktunya berhenti menjadi ketua OSIS. “Mau aku boncengin enggak?” Agung tiba-tiba menawarkan tumpangan pada Grace. “Enggak papa nih?” Tanya Grace. “Enggak papa, kamu duduk di depan sini" Kata Agung sembari memegangi bagian top tube (bagian atas dari frame sepeda, tepat di depan sedel) sepedanya. “Yaudah deh, kebetulan, aku lagi capek banget" Kata Grace pada Agung. Sebelum pergi bersama pacarnya, Grace berpesan kepada Rangga. Kalau dia ketemu Lidya, dia harus bilang pada Lidya kalau Grace berlari sangat kencang hingga di barisan paling depan. Grace berjanji akan membagi dua hasil teraktiran Lidya jika ia menuruti perkataan Grace. Rangga pun setuju. Setelah berpesan, Grace kemudian mengangkat tangannya dari bahu Rangga dan berjalan ke arah pacarnya. Agung berhenti mengayuh sepeda, bersiap memberi tumpangan pada Grace. Setelah Grace naik di atas top tube dari sepeda yang di tunggangi Agung, keduanya melakukan persiapan sebelum sepeda mulai bergerak. “Udah siap?” Kata Agung. Grace hanya menggangguk dan Agung mulai mengayuh. Melajunya Grace dan Agung di atas sepeda diiringi dengan teriakan “Cieee~” dari barisan siswa-siswi yang mereka lewati Tak lama setelah Grace dan Agung pergi, Lidya yang jadi saingan balap lari Grace pun akhinya sampai di barisan kelompok anak perempuan kelas 11-A, dimana Rangga berjalan di antara mereka. Karena Rangga tampil beda dan lebih mencolok dari yang siswa-siswi yang lain, maka orang akan lebih cepat mengenalinya. Begitu juga dengan Lidya, saat melihat anak laki-laki yang mengenakan kaos warna hitam, dia langsung tahu kalau itu adalah Rangga. “Heh, Rangga, lo kok ada di barisan cewek sih?” Tanya Lidya setelah menepuk pundak Rangga. “Gue terlalu santai jalannya, eh malah ketinggalan barisan cowok. Mau ngejar lagi, males.” “Cupu lo" Kata Lidya setelah mendengar jawaban Rangga “Ngomong-ngomong, lo liat Grace enggak?” Lidya lanjut bertanya sembari melihat sekeliling, mencari rivalnya. “Dia lari kenceng banget tadi, kayaknya udah nyampe sekolah lagi deh.” Rangga bicara sesuai perintah dari Grace, dia berbohong. “Mustahil sih, kalau dia udah sampai di sekolah lagi, jaraknya kan jauh banget, masa' dia bisa lari secepat itu sih?” Lidya merasa tersaingi oleh Grace Rangga menggerakan bahunya keatas sedikit. “Thanks ya!” Setelah mengatakan itu, Lidya lantas berlari kencang, sekuat tenaga melewati barisan yang ada di depannya, berharap bisa menyusul Grace. Sepertinya, Lidya benar-benar mempercayai perkataan Rangga. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN