Seseorang Yang Menawarkan Tumpangan Gratis

1769 Kata
Rangga mempercepat sedikit langkah kaki supaya tidak ketinggalan barisan. Dia sekarang sudah berada di bagian paling belakang dari barisan kelompok anak perempuan di kelasnya, kalau dia berjalan terlalu santai, bisa-bisa nanti tertinggal lagi dan malah tercampur dengan kelas 11-B. Maka dari itu Rangga berusaha menyeimbangkan kecepatan jalannya dengan teman-teman kelas 11-A yang lain. Kini barisan peserta lari maraton yang terdiri dari hampir semua siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 sudah sampai di area taman. Menurut jalur yang sudah di tentukan oleh panitia, setelah melewati taman, mereka akan diarahkan oleh orang – orang dari anggota OSIS yang di tugaskan di beberapa titik jalur. Sebuah mobil truck pengangkut pesir melintas di dekat barisan, anak-anak yang semula berlari semaunya, segera merapat ke barisan untuk menepi agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Barisan yang tadi sempat berantakan kini tertib lagi. Karena sudah memasuki area taman kota, jalanannya jadi semakin ramai. Di bandingkan area di sekitar sekolah tadi, di sini lebih banyak kendaraan besar yang melintas. Mereka sudah tiba di area pusat kota, dimana aktifitas pekerja labih padat. Banyak kendaraan umum yang melintas, beberapa pekerja yang memakai helm proyek berwarna kuning juga terlihat berjalan menuju tempat kerja mereka atau mungkin mereka pergi ke tempat makan karena ini sudah jam istirahat. Tak ada banyak orang yang telihat di taman di dekat situ,hanya ada tiga orang dewasa saja disana, duduk di bangku sambil bersua foto ria. Taman kota terlihat cukup asri di pandang mata, ada banyak bunga dengan berbagai macam warna yang mengelilingi bagian tepi taman. Di tengahnya, di tanami rumput hias serta beberapa pohon berukuran lumayan besar tumbuh di antara rerumputan. Di hari libur biasanya akan ada orang yang piknik di bawah naungan pohon-pohon itu. Rangga juga sering bersantai di situ bersama teman-temannya jika sedang luang. Selain itu, kalau Rangga sedang banyak pikiran, entah itu karena tugas sekolah atau karena hal yang lain, ia biasanya akan tiduran di bawah pohon yang rindang di taman itu sendirian, memejamkan mata menikmati suasana yang tenang. Kadang juga, dia datang bersama Grace untuk sekedar main-main. Berjarak beberapa meter dari taman, ada sebuah sumur dekat masjid, dua orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan dari kelas 10 ada yang penasaran dengan sumur itu. Mereka berempat pergi meninggalkan barisan untuk menengok ke dalam sumur tersebut sebentar. “Katanya, dulu pernah ada orang yang bunuh diri disini lho!” Ucap salah satu anak perempuan dari kelas 10 saat menengok ke dalam sumur. Ketiga temannya kemudian ikut-ikutan menengok ke dalam sumur misterius itu. “Iya, aku juga pernah denger gosip itu dari kakak kelas.” Sahut seorang anak laki-laki diantara mereka berempat. “Dia bunuh diri kenapa?” Tanya salah satu anak perempuan yang lain. Teman yang ada di sebelahnya menggelengkan kepala, sambil melihat ke dalam sumur yang gelap itu “Enggak tahu, mungkin gantung diri.” Lanjutnya, menjawab asal. “Rumornya sih dia gagal lulus ujian nasional, trus sengaja lompat ke dalem sumur karena malu dan stress!” Ucap salah satu anak laki-laki diantara mereka. “Jadii, dia masih anak SMA?!!” Ketiga temannya bertanya secara bersamaan, hampir tak percaya dengan apa yang mereka dengar. “Ya, begitu lah rumor yang aku denger.” Kata anak yang tadi, sambil mengangkat kedua bahunya. Tak lama kemudian, seorang laki-laki berseragam OSIS meniup sebuah peluit dari atas sepedanya. Dia adalah pengawas kegiatan lari maraton dari anggota OSIS yang sedang bertugas. Sama seperti Agung yang tadi sudah melintas. Sepertinya semua pengawas kegiatan ini di haruskan untuk naik sepeda agar bisa melakukan pekerjaannya dengan lebih baik. Tugas mereka adalah mencatat peserta yang sekiranya melakukan pelanggaran, atau melakukan laporan kepada pihak sekolah jika mungkin ada siswa yang sakit atau mengalami kecelakaan di tengah-tengah kegiatan lari marton. “Hey!!! Kalian berempat!!” Teriak si pengawas pada keempat siswa kelas 10 yang ada di dekat sumur sebelah masjid. Keempat anak itu kemudian memandang kearah siswa berseragam OSIS itu. “Lagi ngapain disitu? Cepet balik ke barisan kalian!!” Perintah si pengawas berseragam OSIS, ia sok-sok an menggertak. Keempat siswa-siswi dari kelas 10 itu kemudian pergi meninggalkan sumur yang membuat mereka penasaran dan kembali ke barisan mereka sesuai dengan perintah si pengawas. Sementara itu, di belakang, tepatnya di barisan kelompok perempuan kelas 11-A, Rangga terlihat sudah mulai berlari santai. Tapi mungkin belum bisa di sebut lari, karena langkah kakinya tidak terlalu lebar meskipun gerakannya seperti orang yang sedang berlari. Ia tak punya keinginan untuk lari lebih cepat lagi agar bisa sampai ke barisan anak laki-laki, dia terlalu malas untuk melakukan itu, apalagi mataharinya sudah naik lebih tinggi dari sebelumnya, hawa panasnya makin terasa. Suara belalang dan kicauan burung saling bersahutan merdu, mengiringi siswa-siswi yang sedang berlari dengan santai. Sebenarnya, Rangga iri pada Grace yang beruntung bisa nendapatkan tumpangan gratis dari pacarnya. Disaat yang lain harus berlari dengan jarak yang cukup jauh, Grace malah bisa dengan santainya menikmati pemandangan sekitar sembari duduk di boncengan sepeda pacarnya, sungguh beruntung. Kalau misal ada orang yang dengan suka rela menawarkan tumpangan gratis kepada Rangga, dia pasti akan sangat senang. Sambil berlari ditengah barisan anak-anak perempuan di kelasnya, Rangga berharap akan ada seseorang, entah siapapun itu yang mau menawarkan tumpangan kepadanya. Meskipun pergelangan kaki Rangga kini sudah tidak nyeri lagi, setidaknya jika ada yang memberi tumpangan gratis, ia bisa menghemat tenaga dan tidak kelelahan. Saat ini saja Rangga rasanya sudah mau pingsan, badannya lelah, tenggorokannya kering. kring...kring...kring.... Terdengar suara lonceng sepeda dari arah sebelah kiri jalan. Suara lonceng sepeda itu terdengar berulang kali, dan semakin lama suaranya semakin jelas, seakan suara itu mendekat ke arah Rangga atau hanya sekedar terbawa angin. kring...kring...kring... Suara lonceng sepeda itu kini terdengar lebih kencang dari sebelumnya. Awalnya Rangga tidak begitu peduli dengan suara lonceng sepeda yang cukup mengganggu tersebut, dia mengira kalau suara lonceng sepeda itu berasal dari orang yang kebetulan sedang lewat di jalan raya di sebelah kiri barisan. Namun, akhirnya ia memberikan perhatiannya pada suara lonceng setelah si pemilik sepeda memanggil namanya. "Rangga!" Rangga pun menoleh ke arah sumber suara karena merasa terpanggil. “Eh lo, Er, kirain siapa.” Kata Rangga sambil tersenyum. Terlihat sosok cewek berambut poni sedang menggowes sepeda kumbang berwarna pink pelan-pelan. Rambutnya yang panjang tergerai indah ke arah belakang, tertiup angin tipis-tipis. Mengenakan seragam OSIS lengkap dengan sangat rapi, Erlita tampak anggun di pandang mata. Dia juga sangat wangi. Bahkan semerbak wanginya dapat tercium oleh Rangga yang sedang berlari santai di tengah-tengah barisan kelompok anak perempuan kelas 11-A, padahal jarak antara Erlita yang sedang bersepeda dengan Rangga yang sedang berlari santai, itu sekitar dua meter lebih. Tak hanya Rangga saja yang terpaku melihat Erlita, teman-teman sekelasnya pun terkagum-kagum melihat sosok anggun yang sedang bersepeda di samping kiri barisan mereka. Hampir setiap pasang mata di barisan itu tertuju pada Erlita, padahal mereka semua perempuan. Erlita memang kharismatik. "Lo kok ada di barisan cewek sih, ngga?" Tanya Erlita, sambil tertawa lemah. Ia berusaha menyeimbangkan laju sepedanya dengan tempo lari di barisan tersebut. "Hehe... Iya nih, tadi kaki gue sempet kram. Jadi gue tadi jalan untuk beberapa lama. Karena jalan terlalu santai, akhirnya gue jadi ketinggalan barisan..." Rangga berhenti bicara sejenak untuk mengatur nafas. "Dan, disini lah gue berada, lari maraton di barisan cewek-cewek." Pungkasnya. "Haha..." Erlita tertawa, karena menurutnya Rangga lumayan lucu. "Ada-ada aja... Baju lo juga beda sendiri, pasti lo lupa bawa seragam olahraga ya?" Katanya lagi. "Ya, begitulah" Seharusnya, Erlita saat ini juga ikut berlari bersama barisan kelas 11 E dan merasakan kelelahan sama seperti yang lainnya. Tapi karena dia juga salah satu anggota OSIS, maka ia tak harus ikut. Sebagai gantinya Erlita hari ini harus ikut membantu mengawasi jalannya kegiatan lari maraton bersama dengan anggota OSIS yang lain. Di saku Erlita terlihat sebuah buku catatan kecil, serta sebuah kertas yang terlipat. Kertas dan buku catatan itu mungkin berisi daftar nama peserta lari marathon yang sedang ia awasi. Kalau dilihat-lihat, dari tadi ada beberapa pengawas dari anggota OSIS yang mondar-mandir mengawasi para peserta, mungkin setiap dari mereka masing-masing di tugaskan untuk mengawasi satu sampai dua kelompok barisan. Mulai dari kelas 10 A-E dan kelas 11 A-E masing-masing barisan di beri satu pengawas dari anggota OSIS. “Ini masih jauh enggak Er, jaraknya?” Rangga yang sudah bosan berlari bertanya demikian. “Masih, ini nanti kan ada belokan ke area persawahan. Nah nanti muter lewat situ...” Erlita berbicara sambil menyeimbangkan laju sepedanya. “Kenapa? Lo udah capek ya?” “Banget.” kata Rangga. “Lo mau enggak gue boncengin?” Erlita menghentikan kayuhan pedalnya. “...” Pertanyaan yang keluar dari mulut Erlita itu langsung membuat Rangga berhenti melangkah. Rangga memandangi tempat boncengan yang berada tepat di belakang sadel. Ia sedang membayangkan apa yang akan terjadi jika dia menerima tawaran Erlita. Jika ia duduk di tempat boncengan sepeda itu, pasti sepanjang perjalanan dia akan merasa canggung. Rangga malu jika harus duduk di belakang Erlita. Lalu, Rangga mencoba membayangkan kalau dia yang berada di depan, memegang kendali sepeda, dan Erlita yang duduk di tempat boncengan itu. Karena Erlita saat ini memakai rok OSIS, pasti dia akan menghadap samping ketika duduk di tempat boncengan, jika ia memaksa menghadap ke depan, pasti rok yang dia pakai akan robek. Kalau Erlita membonceng menghadap samping, dia akan sedikit kesulitan menjaga keseimbangan dan akan jatuh saat Rangga menggowes sepedanya terlalu kencang, mau tidak mau, pasti Erlita akan merangkul pinggang Rangga untuk menjaga keseimbangan agar tidak terjatuh. Rangga menyetir sepeda kumbang dan Erlita duduk di belakang sambil melingkarkan kedua lengannyal di pinggang Rangga... baru membayangknnya saja sudah membuat Rangga malu, pipinya sedikit memerah. “Enggak usah Er, gue masih kuat jalan kok.” Rangga dengan terpaksa menolak tawaran Erlita. “Katanya tadi capek?” Kata Erlita. Rangga masih berdiri di tengah barisan, membiarkan siswa-siswi yang lain melewatinya. “Iya sih...” Rangga menggaruk-garuk rambut. “Yaudah, ayuk gue boncengin.” Erlita melirik tempat boncengan di sepedanya. “Enggak usah, enggak papa Er.” Rangga masih menolak. “Lo malu ya di boncengin anak cewek?” Erlita tersenyum, seakan mengejek. “Eng... enggak kok, biasa aja...” “Kalo lo malu, lo yang nyetir, gue yang ngebonceng di belakang, gimana?” Tawar Erlita lagi. Justru itu yang Rangga hindari, tapi Erlita malah menawarkannya. “Gue hargai, niat baik lo, tapi enggak usah Er, beneran.” Rangga tersenyum saat menjawab. “Yaudah kalo enggak mau...” Erlita mengangkat bahunya, pasrah. “Semangat ya,... perjalanan masih jauh hehe... gue duluan ya.” Setelah mengatakan itu, dia melaju dengan sepedanya ke arah depan mengikuti jalur di tepi barisan. Rangga terdiam sejenak. Dia pikir, menolak tawaran Erlita adalah pilihan yang tepat. Memang, dia tadi sempat berharap akan ada yang menawarinya tumpangan gratis, tapi kalau yang menawarkan tumpangan adalah Erlita yang sangat berkharisma, maka akan lebih baik jika ia menolaknya saja, canggung. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN