Jalan Pintas

1707 Kata
Kelompok siswa-siswi kelas 10 dan kelas 11 berbaris memanjang di tepi jalan raya. Mereka berlari di dalam garis putih yang di khususkan untuk pejalan kaki. Para siswa-siswi yang jumlahnya hampir seratusan itu berlari dengan tertib sesuai komando dari salah satu pengawas kegiatan lari maraton dari anggota OSIS. Beberapa meter di depan mereka, terlihat empat orang siswa yang juga mengenakan seragam OSIS, membawa sebuah kardus air mineral, di dekat mereka juga masih ada beberapa kardus lagi. mereka berdiri di depan sebuah pertigaan jalan, dimana salah satu dari jalur di pertigaan itu jalannya tidak begitu lebar dan mengarah ke area persawahan. Empat siswa pengawas berseragam OSIS itu membagikan air mineral kemasan botol kepada setiap siswa-siswi yang melintas di hadapan mereka, beberapa juga ada yang mengambil air mineralnya sendiri-sendiri. Karena jumlah mereka sangat banyak, barisannya jadi sedikit kacau ketika ada beberapa anak yang tidak sabaran saling berebut giliran mengambil jatah air mineral mereka. Salah satu pengawas segera meniup peluit yang ia bawa, di bantu oleh dua orang temannya, si pengawas yang bertugas di situ berusaha menertibkan antrian. Dari pertigaan itu, barisan para peserta lari marathon di arahkan untuk menuju ke jalur yang yang jalanannya tidak begitu lebar, yaitu jalur yang mengarah ke area persawahan. Mereka berbelok dengan rapi setelah mengantri air mineral. Sebuah gunung tampak membiru, terlihat samar-samar di ujung pandangan mata. Di sebelah kanan dan kiri dari jalanan beraspal tempat barisan siswa-siswi berlari, terbentang petak-petak sawah yang berwarna hijau, sebagian sudah menguning, terasa sejuk serta menentramkan hati ketika di pandang. Beberapa petani terlihat sibuk menanam padi. Ada juga yang sedang mengusir burung pipit pemakan padi dengan menggunakan alat buatan sendiri, yang terbuat dari seutas tali, bambu, serta beberapa kaleng. Alat pengusir burung pipit itu membentang di satu petak. Alat itu akan berbunyi jika talinya di goyang-goyangkan, mirip seperti lonceng. Fungsinya, untuk menakut-nakuti burung pipit yang hendak memakan padi-padi. Ada juga yang sedang beristirahat di sebuah gubuk di tengah sawah. Seorang anak kecil terlihat berlari di pematang sawah, mengejar seekor belalang, bajunya tampak kotor terkena lumpur. Ada juga seorang wanita yang datang membawa bekal makan siang untuk suaminya yang sedang memacul sawah. Di sekitar situ banyak aktifitas pertanian seperti biasa yang terasa menyenagkan. Karena banyak pepohonan dan tanaman padi di sebelah kanan dan kiri, maka angin yang berhembus terasa lebih sejuk, setidaknya dapat mengurangi rasa gerah di tubuh meski hanya sedikit. Siswa-siswi terlihat sangat menikmati pemandangan yang ada di sebelah kanan dan kiri mereka. Beberapa ada yang saling mengobrol tentang pertanian, tentang hewan, tentang proses memanen, dan masih banyak lagi. Sambil berlari santai, mereka saling bertukar informasi. Siswa yang tidak tahu bertanya pada temanya yang paham tentang apa yang membuat mereka bertanya-tanya terkait hal-hal mengenai pertanian. Secara tidak langsung, selain berolahraga, mereka juga belajar tentang ilmu pertanian melalui diskusi sederhana. Rangga yang masih berada di barisan kelompok anak perempuan kelas 11-A masih enggan mempercepat langkahnya, ia berjalan santai sambil menikmati pemandangan di sekeliling, membiarkan dirinya di terpa angin segar area persawahan. Berkat air mineral yang ia dapat dari para pengawas kegiatan di pertigaan jalan, tenaganya kini sedikit pulih, tenggorokannya sudah tak kering lagi, lega. Sambil berjalan, Rangga menundukan kepalanya, kemudian mengguyurnya dengan air mineral kemasan botol yang ia bawa, bajunya sedikit basah di beberapa bagian. Mataharinya terasa lebih panas sekarang, karena sudah berada di tepat di atas kepala. Berolahraga saat matahari sedang panas-panasnya bukanlah hal yang menyenangkan bagi semua orang. Apalagi, jarak untuk kembali ke sekolah masih lumayan jauh, rasanya benar-benar menyiksa diri, pikir Rangga. Setelah beberapa meter berlari di area persawahan, ada dua-tiga warung sederhana yang berjajar di samping kanan dan kiri jalan, tepat di sebelah sawah yang lebar, di tepi jalan. Di depan warung itu ada beberapa petani yang sedang duduk-duduk di bangku panjang yang di sediakan, mengobrol sembari menikmati kopi. ada juga yang sedang makan, serta ada juga yang merokok. Beberpa siswa-siswi kemudian menepi, saling berdesakan untuk datang ke warung-warung itu, membeli minuman dingin atau jajanan yang di jual di situ, sampai-sampai penjualnya terlihat kerepotan. Sebenarnya, mereka tidak diijinkan untuk berhenti seenaknya, harusnya mereka tetap berlari di barisan masing-masing agar tak memakan waktu lebih lama lagi dan bisa tiba di sekolah dengan tepat waktu. Tapi mau bagaimana lagi, air mineral yang di bagikan oleh para pengawas di pertigan jalan tadi tak cukup mampu untuk meredakan kehausan mereka, jadi ya wajar saja kalau mereka lebih memilih untuk jajan di warung. Namun, jika di bandigkan dengan mereka yang jajan di warung, jumlah siswa-siswi yang tertib masih lebih banyak, mereka ingin segera sampai di sekolah lagi, dan mengahiri kegiatan lari maraton yang melelahkan ini. Rangga adalah salah satu dari mereka yang tertib dan tidak menepi untuk jajan. Itu bukan karena Rangga siswa yang baik, yang berusaha mengikuti aturan kegiatan. Dia tidak menepi ke warung karena uang sakunya ketinggalan di kelas. Kalau saja dia tidak lupa membawa uang saku, mungkin dia juga akan menepi dan membeli jajan di warung-warung itu. Rangga lanjut berlari dengan pelan, perlahan ia menjauh dari warung-warung tersebut, hatinya sedikit menyesal karena meninggalkan uang sakunya di tas. Beberapa meter tak jauh dari warung-warung itu, ada sebuah jalan setapak yang lebih lebar dari jalan setapak yang lain. Beberapa anak laki-laki yang sepertinya sudah sangat paham dengan area persawahan terlihat berbelok, memisahkan diri dari barisan, menuju ke jalan setapak tersebut. “Mending kita lewat sini aja, jalan pintas. Biar cepet sampai ke sekolah.” Kata seorang anak laki-laki berkulit hitam, dia bicara kepada teman perempuannya yang ada di barisan. Sepertinya mereka tinggal di daerah sini, sampai-sampai mereka tahu kalau ada jalan pintas. “Heh, enggak boleh curang ya! Nanti kalau ketahuan pengawas kalian bisa kena hukuman.” Jawab anak perempuan yang di ajak bicara. “Iya, lebih parahnya lagi bisa-bisa nilai penjaskes kalian nanti di kurangi.” Sahut salah satu temannya. “Alah... enggak bakal ketahuan...” Anak laki-laki berkulit hitam itu kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekitar, apakah ada pengawas atau tidak. Setelah dirasa cukup aman dia lanjut berkata, “Lagian, enggak ada pengawasnya.” Anak laki-laki berkulit hitam itu lanjut berlari menyusuri jalan setapak lebar yang menurutnya adalah jalan pintas agar cepat sampai ke garis finish, yaitu sekolah mereka. Kawan-kawannnya pun kemudian mengikuti dari belakang. Barisan kelompok anak perempuan yang tadi sempat bicara dengan anak laki-laki yang lewat jalan pintas itu kemudian lanjut berlari dengan tertib. Melihat dan mendengar obrolan merek dari jauh, membuat Rangga tertarik untuk ikut lewat jalan pintas seperti yang di lakukan anak laki-laki berkulit hitam dan kawan-kawannya. Rangga menengok ke arah kiri dan kanan untuk memastikan situasi, lalu berbelok menuju ke jalan setapak, mengikuti kawanan anak berkulit hitam tersbut. Rangga tak mengenal siapa anak laki-laki yang tahu jalan pintas itu. Sepertinya Rangga sudah ketinggalan jauh dari kelompok kelasnya, dan dia tercampur dengan barisan kelas lain. Karena dia mulai melihat wajah-wajah asing di sekitarnya. Rangga kemudian menyapa anak laki-laki berkulit hitam beserta kawananya. Ternyata mereka adalah murid-murid dari kelas 11-C. Rangga memasang wajah datar saat mengetahui hal itu, Ia tertinggal lumayan jauh dari berisan kelasnya sendiri. Anak laki-laki berkulit hitam sepertinya memang tinggal di area dekat sini. Dia menjelaskan kepada teman-temanya, termasuk kepada Rangga tentang jalan-jalan setapak yang ada di situ. Ternyata jalan-jalan itu terhubung dengan tempat-tempat area perkotaan. Dia tahu mana jalan pintas untuk menuju supermarket, mana jalan pintas yang mengarah ke taman kota, dan lain-lain termasuk jalan yang terhubung ke sekolah mereka. “Nah, kalau jalan setapak yang ukurannya paling besar ini nanti tembus nya ke belakang sekolah. Tempat pak somat biasa buang sampah.” Jelas anak laki-laki berkulit hitam itu. “Oh... gitu~” Ucap Rangga dan yang lain secara bersamaan. “Lo yakin kan, kita enggak bakal ketahuan?” Tanya salah satu dari mereka. Sepertinya dia masih ragu dengan ide jalan pintas ini, dia takut ketahuan. “Tenang aja, enggak bakal ketahuan kok, kalo ada pengawas yang liat kita, pasti dari tadi dia udah niup peluit!” “Iya juga sih...” Katanya, agak tenang. Mengikuti arahan dari anak laki-laki berkulit hitam, Rangga dan yang lainya berjalan lurus sambil menikmati pemandangan di sekitar mereka. Jalan pintas yang sedang mereka lalui ini memang akan membuat perjalannan lari maraton mereka terasa lebih cepat dan ringan. Jika Rangga dan yang lainnya tetap tertib dan lari mengikuti barisan, maka mereka akan lari cukup jauh untuk memutar setelah lewat area persawahan ini. Mereka juga harus lewat area perumahan lagi, butuh waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit untuk sampai di sekolah jika mereka mengikuti jalur yang di tetapkan oleh panitia. Tapi jika lewat jalan pintas maka mereka hanya perlu berjalan lurus mengikuti jalan setapak dan akan tiba di sekolah hanya dalam waktu sekitar lima belas menit saja. Bagian halaman belakang sekolah mulai terlihat di pandangan Rangga setelah lima belas menit berjalan menapaki jalan setapak. Senyuman kemenangan terukir di wajah Rangga dan yang lainya, mereka hampir sampai di garis akhir. Mereka kemudian berlari bahagia, mempercepat langkah, agar segera sampai di tujuan mereka. Di kepala Rangga, sudah terbayang segarnya Es teh manis buatan ibu-ibu kantin. Rencanannya dia akan segera menuju ke kantin sekolah setelah tiba di sekolah. Dia juga akan langsung tiduran di kelas, tubuhnya sudah sangat kelelahan, rasa haus juga mulai menyerang kembali. “Priittt....Priiittt...priitt...” Tiba-tiba terdengar suara peluit dari arah depan. Rangga, anak laki-laki berkulit hitam beserta kawan-kawannya berhenti dari larinya. Di dekat semak-semak di halaman belakang sekolah, seorang laki-laki yang mengenakan seragam OSIS tiba-tiba muncul dari persembunyaiannya, mereka ketahuan oleh pengawas. Dengan tatapan tegas si pengawas menatap Rangga dan yang lainya, sementara Rangga dan yang lainnya terkejut bukan main. “Haha... ketahuan kalian!” Kata si pengawas itu. “Gawatt, kita ketahuan!!” Seru Rangga. Karena ketahuan olah pengawas, Rangga, anak laki-laki berkulit hitam dan kawananya harus menerima hukuman berlari mengelilingi lapangan basket dua puluh kali. Bayangan tentang segarnya Es teh manis seketika hancur dari imajinasi di kepala Rangga. Kesenangan itu harus tertunda terlebih dahulu karena perbuatan curangnya. Padahal, dia berniat untuk mengahiri penderitaan lari marathonnya, tapi malah harus ketambahan beban karena dia harus lari mengelilingi lapangan basket sebanyak dua puluh kali. Panas matahari semakin menyengat, suara kicauan burung terdengar merdu di telinga, para peserta lari maraton pun akhirnya tiba di sekolah dengan barisan yang masih rapi, kemudian berhamburan setelah tiba di gerbang sekolah, mereka langsung berlarian ke kelas-kelas dan pergi ke kantin, sementara Rangga dan anak laki-laki berkulit hitam beserta kawan-kawannya masih harus berlari mengelilingi lapangan basket. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN