Seluruh siswa-siswi peserta lari maraton sudah tiba di sekolah mereka. Setelah memisahkan diri dari barisan, mereka berhamburan ke segala arah, mencari tempat istirahat.
Di depan kamar mandi, ada antrian siswa-siswi yang cukup panjang, mereka mengantri untuk buang air dan juga mandi, atau hanya sekedar ganti seragam. Ada tiga ruang kamar mandi di sekolah ini, jadi antriannya bisa kondusif serta tak perlu menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Usai menjalani hukuman, Rangga langsung tiduran di aula sekolah. Nafasnya terengah-engah, otot-otot di kakinya terasa kaku serta tenggorokannya makin kering . Rangga meletakan salah satu lengan di atas matanya yang terpejam. Dalam hati Rangga, sebenarnya dia ingin segera pergi ke kantin, tapi tubuhnya sudah telalu lelah, seakan melewati batasnya. Bagaimana tidak, setelah lari dan jalan selama hampir satu jam dengan jarak tempuh yang yang lumayan jauh, dia malah harus menjalani hukuman lari mengelilingi lapangan basket sebanyak dua puluh kali. Dia menyesal mengikuti anak laki-laki berkulit hitam yang lewat jalan pintas.
Di aula, ada banyak siswa-siswi yang juga beristirahat, sebagian sisanya ada yang sudah pergi ke kantin dan ke kelas masing-masing. Rangga tiduran di tengah-tengah aula sekolah yang luas, matanya terpejam dan tubuhnya lemas. Ia dapat mendengar siswa-siswi lain yang sedang mengobrol.
Angin sepoi-sepoi berhembus, membawa sedikit rasa sejuk, siswa-siswi berlalu-lalang di sekitar Rangga. Saat Rangga hanyut dalam suasana di aula sekolah dan hampir tertidur, tiba-tiba seseorang menempelkan kaleng miuman dingin ke pipi sebelah kiri Rangga. Hal tersebut membuatnya kaget, ia lantas membuka mata. Begitu kedua matanya terbuka, hal pertama kali yang di lihatnya adalah wajah Grace yang sedang tersenyum, yang tepat berada di atas wajahnya. Rangga memandangi Grace sejenak, dia sudah wangi. Aroma bedak dapat tercium oleh Rangga ketika Grace memandanginya.
Rangga kemudian bangkit dari rebahannya, ia menatap kearah Grace yang sedang duduk jongkok di hadapannya, cewek tomboy itu kini sudah mengenakan seragam OSIS dengan rapi, wajahnya tampak bersih serta dia juga wangi, sepertinya dia baru saja selesai mandi.
“Nih, minum dulu!” Grace memberikan sekaleng coca-cola pada Rangga yang duduk di hadapnnya. Grace membawa dua minuman kemasan kaleng, coca-cola dan fanta rasa stoberi. Grace Memberikan coca-cola-nya ke Rangga, sementara yang Fanta, untuk dirinya sendiri.
Rangga membuka penutup botol kaleng coca-cola tersebut, lalu meminumnya dengan perlahan. Tenggorokan Rangga yang kering seketika terasa sejuk setelah meminum minuman bersoda yang dingin, rasa lelahnya sedikit berkurang.
“Denger-denger lo tadi habis di hukum lari keliling lapangan basket ya? Haha...” Grace tertawa jahat saat mengatakan itu pada Rangga.
Rangga yang baru saja selesai menegak coca-cola-nya langsung menatap Grace dengan sinis.
“Emang lo kenapa sih bisa sampai di hukum? b**o’ banget hahaha...” Grace masih menertawakan Rangga, bahkan lebih keras.
“Iya, gara-gara gue ikut lewat jalan pintas bareng anak kelas 11-C.” Jawab Rangga dengan kesal.
“Siapa?”
“Enggak sempet nanya namanya gue, yang jelas dia dari kelas 11-C.” Jelas Rangga.
“Ciri-cirinya?” Grace malah tambah penasaran.
“Kulitnya item.” Jawab Rangga dengan singkat, dia tak tahu harus bagaimana mendiskibiskan anak itu, yang muncul pertama kali di kepalanya adalah anak itu berkulit hitam.
“So racist.” Canda Grace.
Rangga menatapnya datar, “Siapa yang rasis, cuman itu yang bisa gue jelaskan.”
“Makanya, jangan suka ngikut-ngikut orang yang enggak lo kenal.”
“Lagian siapa yang tahu kalau akan ada pengawas yang sembunyi di semak-semak deket halaman belakang situ.” Rangga meminum coca-cola-nya setelah mengatakan itu.
“Lo pasti tadi lewat jalan pintas di sawah yang jalurnya tembus ke bagian belakang sekolah itu ya?” Grace bertanya untuk memastikan.
“Iya. Kok lo tahu?” Rangga bingung kenapa Grace bisa tahu, padahal itu menurutnya adalah jalan rahasia yang tak banyak di ketahui orang.
“Ya taulah.” Grace mbersihkan rok abu-abunya yang terkena tetesa fanta. “Sebenernya, tadi gue juga sempet mikir mau lewat jalan pintas itu pas udah nyampe area persawahan... tapi malah pacar gue dateng ngasih tumpangan gratis, hoki banget gue hehehe...” Lanjutnya.
Grace tahu tentang jalan pintas itu karena dia memang sering datang ke halaman belakang sekolah untuk sekedar main-main dengan teman-temannya sambil menikmati pemandangan area persawahan yang menyejukan mata. Biasanya kalau Grace bolos jam pelajaran, dia akan menyelinap ke halaman belakang sekolah, melewati pagar pembatas, kemudian berjalan menyusuri jalan setapak di persawahan untuk kemudian pergi ke jalan raya. Karena dia sering memakai seragam celana panjang dan jarang mengenakan seragam rok, jadi menaiki pagar pembatas sekolah bukanlah hal yang sulit bagi Grace.
“Untung gue enggak jadi, kalau gue tadi beneran lewat jalan pintas... pasti gue juga bakal kena hukuman hehe...” Kata Grace lagi.
Jam yang menempel di dinding aula sekolah menunjukan pukul dua belas siang, dua jam sebelum waktunya pulang. Siswa-siswi yang beristirahat di sekitar aula jumlahnya sudah mulai berkurang, beberapa dari mereka ada yang sudah pergi mandi dan mengganti seragam olahraga mereka dengan seragam OSIS, serta pergi ke kantin.
Rangga dan Grace masih mengobrol di aula, mengobrol tentang apa saja yang mereka mau. Karena tiba-tiba saja perutnya kelaparan, Grace dengan sedikit memaksa, mengajak Rangga untuk pergi ke kantin, tapi Rangga menolak ajakan Grace karena ingin beristirahat di aula untuk waktu yang lebih lama lagi. Rangga pun kembali tiduran dekat Grace yang sedang duduk setelah menghabiskan coca-cola-nya. Tiduran di aula sekolah memang membuat Rangga merasa nyaman, hingga ia enggan beranjak. Kalau bisa, mungkin kapan-kapan dia akan membawa kasur lipat lengkap dengan bantal dan guling agar bisa merasakan kenyamanan yang lebih saat tiduran di aula. Pikirnya untuk beberapa saat.
“Ngomong-ngomong, pacar lo mana?” Tanya Rangga.
“Udah pulang dia, sibuk katanya.” Grace bergeser sedikit, kemudian tangan kanannya meraih kaleng minuman Rangga yang sudah kosong.
“Tumben lo nanya begitu, biasanya lo cuek dan enggak peduli sama urusan orang.” Kata Grace lagi sambil memasukan kaleng kosong milik Rangga ke dalam pelastik yang ia bawa.
“Ya... gue pikir akan lebih menyenangkan kalau kita bertiga ngobrol bareng gitu.”
“Iya sih..” Grace kemudian terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya. “Rangga, menurut lo, wajar enggak sih kalau gue menaruh perasaan curiga ke Agung?”
“Kenapa lagi?” Rangga menjawab malas-malas sambil tetap menatap ke arah langi-langit aula.
Grace menghela nafas. “Keluhan gue masih sama kayak curhatan gue di toko musik beberapa minggu yang lalu, dia masih sering ilang-ilangan, tadi aja dia langsung pulang. Padahal dulu-dulu tuh kita sering ngabisin waktu bareng. Dia kan hari ini libur, seharusnya dia bisa dong lama-lama di sekolah, duduk-duduk di sini bareng gue, ngobrol bareng kita kayak yang lo bilang tadi.”
Grace kemudian mengeluarkan handphone-nya dari saku rok OSIS, dia menelpon Agung, dan menunjukan tampilan layar handpone-nya ke Rangga agar dia tahu apa yang akan terjadi ketika Grace mencoba menghubungi Agung.
Handphone Grace sedang berusaha terhubung dengan nomor telepon Agung. Handphone milik Agung aktif namun, tak ada respon darinya, malah di tolak.
“Di tolak tuh.” Ucap Rangga sambil menatap layar handphone Grace yang di tunjukan kepadanya.
“Lo liat sendiri kan? Dia selalu nolak telepon dari gue.” Kata Grace yang masih curiga, dia sedikit kesal.
Grace kemudian ikut berbaring di aula, lebih tepatnya, ia berbaring di sebelah Rangga. Ia kemudian bingung, karena ternyata tiduran di aula sekolah benar-benar membuatnya nyaman, lantainya terasa sejuk, apalagi saat angin berhembus, rasanya benar benar menyenangkan, Grace sangat menikmati tiduran di aula. Pantas saja, Rangga betah tiduran di aula, ternyata memang nyaman.
Mereka berdua tiduran dengan posisiyang berlawanan. Kepala Grace menghadap ke utara, sementara kepala Rangga menghadap ke sebelah selatan. Kepala Grace tepat berada di sebelah kiri pinggang Rangga, dan kepala Rangga tepat berada di sebelah kanan pinggang Grace. Jadi, jika Rangga menghadap ke samping kanan, ia akan menatap pinggang Grace dan jika Grace menghadap ke samping kiri, ia akan mendatap pinggang Rangga. Sungguh pemandangan yang aneh...atau malah sedikit romantis?
Melihat Grace dan Rangga tiduran bersebelahan seperti itu, sebagian orang mungkin akan mengira kalau mereka berdua pacaran, tapi bagi mereka yang sudah mengenal Rangga dan Grace, melihat mereka sangat akrab seperti itu adalah hal yang wajar, tak ada romantis-romantinsnya, mereka tak akan berkata “Cieee~” seperti saat Agung memberi tumpangan pada Grace tadi.
Ya, karena mereka adalah Grace dan Rangga, semua orang tahu mereka bertetangga dan berteman sangat akrab. Saking akrabnya, sampai-sampai beberapa anak di kelas mereka ada yang berangkapan kalau mereka adalah saudara, kaka-beradik.
Baru saja Grace membaringkan tubuhnya di lantai aula sekolah untuk mengikuti apa yang di lakukan oleh Rangga, Rangga malah bangkit dari posisi tidurnya, kemudian menatap lurus ke arah dinding yang ada di hadapnya, ia setengah melamun. Entah apa yang di pikirkan Rangga, tiba-tiba dia melamun seperti itu, atau mungkin dia sedang mengumpulkan tenaga serta niat untuk pergi ke kantin.
“Ke kantin yuk.” Kata Rangga, kemudian berdiri tegak dan berjalan menuju kantin begitu saja, tanpa memperdulikan Grace yang masih tiduran.
Grace celingukan, bingung.
Sambil tiduran, dia menengadahkan kepalanya dengan susah payah, berusaha melihat ke arah Rangga.
“Woy, gue kan baru aja rebahan, ngikutin lo, lo nya malah maen berdiri aja.” Grace kesal.
Rangga berusaha menahan tawanya saat melangkah meninggalkan Grace.
“Cepet, katanya tadi ngajak ke kantin.” Kata Rangga, setelah ia berhenti dan menoleh ke belakang untuk memandang Grace.
“Sialan lo, baru aja mau tiduran.” Setelah mengatakan itu, Grace bangun dari rebahannya dan berlari pelan sambil membawa kantung plastik berisi sampah botol kaleng bekas mereka, menyusul Rangga yang sudah hampir meninggalkan aula sekolah.
Kira-kira seperti itulah cara Rangga dan Grace saling merekatkan hubungan, dengan candaan-candaan sederhana seperti itu ternyata bisa membuat keduanya semakin akrab dan mengerti satu sama lain.
Grace membuang sampah botol kaleng dalam plastik itu ketika menemukan tong sampah di dekat mereka berdua.
Bersambung...