Sebuah Kemajuan

1644 Kata
Sambil berjalan, tangan kanan Grace memegang selembar kertas berisikan coretan-coretan kerangka lirik lagu, sementara tangan kirinya memegangi dagu, serta alisnya naik sampai membentuk lipatan di keningnya, dia sedang berfikir serius. “Gue juga belum nemu nada intro yang tepat sih, tapi liriknya udah gue tulis dikit-dikit” Sambil berjalan beriringan dengan Rangga di tepi lapangan sekolah, Grace mengajak Rangga berdiskusi tentang lagu buatan mereka. “Hmm... lo udah nyoba minta bantuan dari temen-temen di ekskul musik belum?” Tanya Rangga. Grace menggelengkan kepala, “Belum sih...” Grace mengeluar kan handphone dari sakunya untuk memeriksa sesuatu, lalu memasukanya ke kantong lagi. “Rencananya sih gue mau otak-atik sendiri dulu, kalau udah selesai sepenuhnya, baru deh gue diskusikan bareng mereka.” “Coba sini gue liat.” Pinta Rangga. Grace menyerahkan lembar kertas yang ia pegang kepada Rangga. Rangga melihat-lihat kertas berisi coret-coretan lirik itu. Lagu itu adalah lagu yang bagian reff-nya di karang oleh Rangga, sedangkan untuk bagian intro-nya, Grace memutuskan untuk menulisnya sendiri. Meskipun dia tidak pandai menulis, Grace tetap berusaha. Terdapat sedikit perubahan pada Reff yang Rangga tulis di kafe beberapa waktu lalu, mungkin Grace merubah kata-kata di lirik tersebut agar bisa cocok dengan nada intro buatannya. Menurut Rangga keputusan Grace untuk merubah sedikit bagian reff-nya merupakan keputusan yang tepat. Namun, Grace merasa tak enak hati telah merubah lirik lagu buatan Rangga. “Sorry ya, lirik di bagian reff-nya gue rubah dikit.” Ucap Grace. “Kalo nada intronya kayak gitu, bagusnya emang di rubah dikit sih lirik di bagian reff-nya. Pas gue nulis di kafe waktu itu juga masih asal-asalan aja, ibaratnya apa yang lo lakukan adalah menyesuaikan sesuai dengan keinginan lo aja.” Kata Rangga. Grace sangat menyukai musik. Kecintaan Grace terhadap musik sudah muncul sejak dia masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu orang tua Grace sering mengajaknya pergi ke konser musik. Saat melihat seorang vokalis yang menghibur penonton dengan bernyanyi sambil bermain gitar, Grace menganggap apa yang di lakukan oleh orang itu adalah hal yang menyenangkan dan hebat, dia ingin seperti vokalis itu. Mulai dari situlah dia termotivasi untuk bisa menjadi seorang musisi, lalu mulai minta di ajari bermain alat musik pada ayahnya yang mahir memainkan berbagai macam alat musik. Maka dari itu, ketika di sekolah ada kelompok ekstrakulikuler musik, dia langsung memutuskan untuk bergabung. Grace sudah lama tergabung dengan kelompok ekstrakulikuler musik, yaitu sedari kelas 10. Sejak awal ketua kelompok ekstrakulikuler musik membagikan formulir pendaftaran di masa orientasi siswa, Grace langsung mengisi formulir itu di tempat dan langsung datang ke ruang musik di keesokan harinya, dia benar-benar bersemangat sejak awal. Karena ketekunanan-nya bermain alat musik, Grace berhasil membuat sebuah band bersama dengan teman-temannya di kelompok ekstrakulikuler musik, sampai sekarang, band yang di bentuk Grace itu belum memiliki nama, padahal sudah sering tampil di kafe dan acara sekolah. Meskipun sudah membentuk sebuah band, Grace dan teman-temannya sama sekali belum pernah menciptakan lagu mereka sendiri. Setiap kali manggung, mereka selalu membawakan lagu milik band-band terkenal beraliran pop-punk seperti Green Day, Simple Plan, CloseHead, Pee Wee Gaskins, serta yang lainnya. Tak jarang, mereka juga membawakan lagu permintaan dari penonton atau penyelenggara acara. Namun, lama-kelamaan dia mulai berfikir, akan lebih baik jika dirinya punya lagu sendiri, pasti akan lebih keren. Selain itu dia juga bosan jika terus menerus membawakan lagu orang lain yang itu-itu saja. Oleh sebab keresahan itulah ia jadi bersemangat menulis lagu. “Oh, gue tiba-tiba nemu inspirasi lirik nih di kepala,” Grace yang daritadi berjalan di sbelah Rangga sembari berfikir, tiba-tiba saja mendapatkan inspirasi. “O ya? Gimana tuh?” Rangga penasaran. “Bentar, gue catet di HP dulu, keburu kabur nanti idenya.” Grace mengeleluarkan handphone-nya dan mulai mencatat apa yang dia dapatkan di kepalanya. Suara gesekan sapu lidi di tengah lapangan terdengar dari tempat Grace dan Rangga berjalan. Seorang tukang kebun sekolah sedang membersihkan sampah-sampah yang bertebarn di lapangan sekolah. Meskipun sinar matahari menyengat tubuhnya, si tukang kebun itu terlihat bersemangat saat mengerjakan pekerjaannya. Ketika Grace dan Rangga sedang sibuk dengan lagu yang sedang mereka kerjakan, ada seorang perempuan berseragam OSIS yang berjalan ke arah mereka berdua, dia mengenakan kacamata yang membuatnya tampak culun. Saat berada tepat di hadapan Grace dan Rangga, anak perempuan culun itu bertanya. “Grace, lo liat Agung enggak?” Perempuan culun berseragam OSIS itu memegangi kacamatanya. “Dia udah pulang.” Jawab Grace. “Emang kenapa?” Grace lanjut bertanya. “Duh, gimana sih dia, laporan lari maratonnya kan belum selesai, maen pergi-pergi aja.” Kata perempuan culun berseragam OSIS itu, dia terlihat resah. Rangga dan Grace terdiama sejenak. “Gue telpon berulang kali enggak di angkat, coba lo telpon deh Grace, siapa tahu langsung di angkat, lo kan pacarnya!” Perintah perempuan culun berseragam OSIS itu pada Grace. “Sama aja, gue tadi udah nelpon dia berulangkali enggak diangkat juga.” “Coba lo telpon lagi, ini penting soalnya..” Peremupan culun berseragam OSIS itu sedikit memaksa. “Iya deh, gue coba nelpon dia lagi.” Kata Grace, lantas mengeluarkan handpone-nya. Ia menatap layar handphone yang menampilkan nomor telpon Agung, Grace memandanginya sejenak sebelum menelpon. Ia sangat berharap Agung akan mengangkat telpon darinya. Grace meletakan handphone-nya di telinga sebelah kanan, menunggu nada sambungan telepon, sambil berharap ada respon. Beberpa detik menunggu, apa yang di lakukannya percuma. Meskipun nomor telepon Agung aktif, dia tetap tidak menjawab telepon dari pacarnya itu. Grace sedikit merasa kesal. “Enggak di angkat.” Kata Grace pada perempuan culun berseragam OSIS itu. “Sama aja ya ternyata.” “Iya, gue udah nelpon dia udah lima kali, enggak di angkat. Kalo di tambah dengan yang tadi, gue udah nelpon enam kali, dua di antaranya di reject, sisanya di biarin.” Grace memasukan handphone-nya ke dalam saku rok OSISnya lagi. “Oh, gitu ya, sorry kalo gue ngerepotin, Grace.” Kata perempuan culun berseragam OSIS itu sambil membenarkan posisi kacamatanya yang kendor. “Enggak papa kok, santai aja.” Grace tersenyum saat mengatakan itu. Rangga yang dari tadi diam mengamati, tiba-tiba berkata. “Emang laporan apa sih? Bukannya laporan lari maraton itu ada di buku catetan ya? Tinggal minjem sama pengawas yang lain kan beres, enggak perlu repot-repot nyari Agung.” Kata Rangga, seakan tahu apa yang harus di lakukan untuk mengatasi masalah ini. Grace dan perempuan culun berseragam OSIS itu sama-sama menatap Rangga dengan pandangan yang aneh. Tatapan mereka berdua kearah Rangga seakan berkata “Sok tahu banget ini orang, enggak segampang itu kali.” “Masalahnya, laporan itu harus di ketik dan di buat dengan serapi mungkin, trus di cetak dan di serahkan ke guru penjaskes.” Jelas perempuan culun berseragam OSIS itu. “OSIS saat ini juga kekurangan orang buat bantu-bantu, anggota yang lain harus belajar untuk persiapan latian ujian nanti sore, sedangkan ,Agung kan dia libur, jadi rencananya dia nanti yang ngetik laporan. Tapi dianya malah ngilang.” Lanjutnya. Sepertinya OSIS saat ini benar-benar sibuk. Rangga terdiam setelah mengetahui situasinya. Ia berfikir sejenak. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi agak sedikit ragu untuk benar-benar mengatakannya. “Gimana kalau gue bantuin bikin laporan?” Akhirnya Rangga mengatakan itu. Membantu organisasi di sekolah seperti OSIS untuk mengerjakan sesuatu adalah hal yang tak pernah ia lakukan dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya Rangga mau terlibat dengan hal yang merepotkan semacam itu. Grace memasang ekspresi bingung, bercampur sedikit bangga. Setidaknya ada sedikt kemajuan di hidup Rangga, walaupun Rangga baru menawarkan bantuan saja, belum benar-benar melakukannya. “Lo kesambet apa, ngga? Pas lari tadi lo enggak jatoh dan kepala lo kebentur aspal kan? Enggak kan?” Tanya Grace yang benar-benar bingung pada sahabatnya itu. “Apaan sih,... gue enggak papa.” “Mending lo priksa ke dokter deh, ngga!” Kata Grace lagi, bercanda. “Gue enggak papa!” Rangga meninggikan nada suarannya. Berbanding terbalik dengan Grace, perempuan culun berseragam OSIS itu tampak senang saat mendengar Rangga menawarkan bantuan, matanya seakan berbinar-binar. “Wah... serius lo mau bantuin?” Tanya perempuan culun berseragam OSIS. “Iya...” Rangga menjawab singkat. “Nama lo siapa?” “Rangga.” “Yaudah, Rangga, nanti sore lo dateng ke ruang OSIS ya, sekitar jam tiga sore nanti, OK!” Perempuan culun berseragam OSIS itu merasa lega karena akhirnya dia menemukan pengganti Agung untuk membatuk OSIS mengerjakan laporan. Perempuan culun berseragam OSIS itu lanjut berlalu meninggalkan Grace dan Rangga. Dia benar-benar terlihat seperti siswi yang paling sibuk di sekolah. Grace dan Rangga melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kantin sembari melanjutkan diskusi tentang lagu mereka. Rasa curiga pada Agung yang tadi sempat hinggap di hati Grace sedikit berkurang setelah bertemu dengan perempuan culun berseragam OSIS tadi. Berkat pembicaraan tadi, dia jadi tahu kalau Agung tidak hanya cuek pada telepon darinya saja, melainkan dari semua orng. Padahal Agung biasanya akan cepat merespon kalau sedang ada urusan dengan OSIS, tapi nyatanya kali ini Agung malah tidak mengangkat telepon dari anggota OSIS. Itu berarti, Agung benar-benar sibuk di luar sana. Memandang ke arah Rangga yang berjalan di sampingnya, otak Grace masih di penuhi banyak pertanyaan. Rangga mau ikut membantu OSIS, itu adalah suatu hal yang mustahil tapi benar-benar terjadi, Grace benar-benar tak habis pikir. Grace kemudian meletakan telapak tangannya di kening Rangga, memeriksa apakah hari ini dia sehat atau tidak. Soalnya dia baru saja melakukan hal yang tidak biasa. “Lu ngapain sih?” Rangga mengarahkan bola matanya ke atas, melirik telapak tangan Grace yang ada di keningnya. “Enggak papa, nge-check aja!” Jawab Grace singkat. Rangga sadar dengan apa yang di lakukannya, dia tidak sedang sakit. Dia sepenuhnya sadar secara lahir batin kalau dia ingin membantu anggota OSIS untuk mengerjakan laporan lari maraton. Dia melakukan itu karena akhir-akhir ini dia merasa bosan dengan kehidupannya yang monoton, dia butuh hal baru. Mungkin membantu untuk mengerjakan laporan adalah pilihan yang tepat karena tidak butuh banyak tenaga untuk melakukan itu. Hanya duduk di depan komputer, melamun, berfikir, lalu menulis. Hampir sama dengan menyicil novel, hal yang biasa dia lakukan, tidak ada salahnya untuk di coba. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN