Gosip

2681 Kata
Setibanya di kantin, Rangga dan Grace duduk berseblahan di bangku yang tersisa, di dekat jendela depan. Karena sudah sangat lapar, Grace segera memesan nasi pecel lele ketika salah satu ibu-ibu yang biasa berjualan di kantin lewat di dekat mereka. Begitu juga dengan Rangga, dia memesan menu yang sama dengan yang di pesan oleh Grace. Kantin sekolah kini tampak lebih ramai dari biasanya. Suasananya sangat riuh, di dalam kantin yang berbentuk persegi panjang ini terdapat puluhan siswa-siswi yang butuh asupan nutrisi setelah berolahraga setengah hari. Semua tempat-tempat penjual makanan yang berjejer di sebelah kanan dan kiri di penuhi dengan siswa-siswi yang berdesakan ingin memesan makan. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Rangga dan Grace melanjutkan diskusi mereka tentang lagu yang sedang mereka kerajakan. Grace menemukan beberapa susunan nada yang tepat, dan mulai ber-humming di depan Rangga. Sambil menganggukan kepala, Rangga mendengarkan nada-nada yang di humming kan Grace, sesekali dia juga memberi saran jika ada nada yang terlalu tinggi, atau terlalu rendah. Ya, setidaknya walaupun Rangga tidak begitu paham tentang musik, tapi dia tidak buta nada dan bisa sedikit membantu Grace. Saat ia berusaha menulis lirik untuk bagian intro, Grace tak bisa berkonsentrasi sepenuhnya. Susasana di kantin cukup berisik saat ini, jadi akan kesulitan jika ingin berkonsentrasi. Rangga mencoba membantu dengan mengambil kertasnya dari Grace dan mencoba merangkai kata di dalam otaknya, tapi sama saja, nihil. Tak ada satu kata pun yang bisa ia tulis. Karena tak bisa menambah kekurangan dalam lagu tersebut, keduanya kemudian memilih untuk berhenti memikirkannya, lanjut nanti sampai datangnya inspirasi. Grace memasukan kertas catatan lirknya ke dalam saku rok OSIS-nya lagi, dan duduk dengan tenang. Mereka memilih untuk lanjut mengobrol untuk mengisi waktu, sambil menunggu pesanan yang mereka pesan datang, Sambil mengobrol dengan Rangga, Grace sesekali mengambil gorengan yang tersedia di meja sebagai pengganjal perutnya yang lapar. Rangga juga demikian. Ada banyak jenis jajanan ala-ala kaki lima yang di jual di kantin sekolah ini, mulai dari aneka gorengan sampai makanan yang lain seperti, somay, batagor, aneka jajanan snack, sosis, bakso bakar, cilok, mie ayam, bubur kacang hijau, bubur ketan, ayam geprek, seblak, nasi uduk, nasi rames, pecel lele, dan masih banyak lagi. Dengan menu yang sangat banyak serta beragam itu, tentu saja di butuhkan tempat yang luas untuk menampung para penjualnya. Kantin di sekolah ini memang lumayan luas, kira-kira tiga kali ukuran ruang kelas yang di jadikan satu, itu sudah termasuk dengan tempat meja-meja dan bangku-bangku untuk siswa-siswi menyantap makanannya, luas memang. Tujuan sekolah membuat kantin mereka seluas itu agar siswa dan siswi di sekolah tidak jajan sembarangan di luar area sekolah, yang mungkin saja tidak higienis dan tidak sehat, atau yang lebih mengkhawatirkan lagi, bisa-bisa ada yang keracunan karena jajan sembarangan. Para penjual yang berjualan di kantin sekolah sudah melewati teruji oleh pihak sekolah, dan sudah memiliki izin sepenuhnya untuk berjualan di kantin, jadi sudah dapat di pastikan kalau makanan mereka pasti aman. Sambil menikmati gorengan di meja, Grace dan Rangga masih mengobrol santai, melihat-lihat orang-orang yang ada di sekeliling. Topik yang mereka bahas saat mengobrol berganti-ganti sesuka hati mereka. Kadang mereka membicarakan proses pembuatan gorengan yang sedang mereka makan, kadang membicarakan tentang pelajaran lalu beralih membicarakan orang-orang yang mereka lihat di sekeliling, jika salah satu di antara Grace dan Rangga ada yang mengenalnya, maka mereka akan mulai bergosip tentang orang yang di lihatnya tersebut. Sebenarnya, Rangga tidak terlalu suka membicarakan orang lain sih, tapi Grace selalu saja menyeret pembicaraan ke arah sana, bergosip. Jadi ya, Rangga juga ikut terhanyut dalam obrolan. Dari apa yang di ceritakan Grace, tanpa harus berkenalan dengan orang-orang-orang yang di maksud, Rangga bisa tahu kalau di sekolah ini ada anak orang kaya yang suka pamer, ada anak orang miskin yang berlagak kaya, ada anak yang punya hobi memeras uang saku dari siswa lain, ada pula yang kabur dari rumah dan tak pulang-pulang dan sebagainya. Tak cuman gosip tentang siswa-siswi saja, Grace juga tahu gosip tentang guru. Grace bercerita, kalau sekitar dua atau tiga minggu ke depan akan ada salah satu guru kelas 11-A yang akan pensiun, pergi meninggalkan sekolah ini setelah belasan tahun lamanya mengajar di sini. “Masa’ sih? Pak Hasim bentar lagi pensiun?” Tanya Rangga. Pak hasim yang di maksud Rangga adalah seorang guru kimia yang mengajar di kelasnya. “Iya, gue denger gosip dari orang-orang sih gitu...” Grace mengambil satu gorengan, lalu memakannya, kemudian lanjut berkata. “Malahan, anak-anak di kelas kita beberapa udah ada yang mau nyiapin kado perpisahan.” Lanjutnya. “Lo enggak nyiapin kado perpisahan?” Tanya Rangga. “Belum, enggak tahu gue mau ngasih apa. Mungkin nanti gue bakal tanya-tanya ke Putri soal itu.” Jawab Grace. Rangga terdiam. Dia bingung, apakah dia juga harus membuat kado perpisahan untuk pak Hasim, atau tidak. Kalau iya, apa yang harus dia berikan kepada guru Kimia tersebut? “Lo sendiri gimana? Mau ngasih apa buat kenang-kenangan?” Tanya Grace. “Enggak tau, bingung.” Ucap Rangga. Rangga sangat tidak menyukai pelajaran kimia. Rumus-rumus dan segala hal yang ada dalam mata pelajaran tersebut benar-benar membuatnya pusing. Dia sering kali mengikuti remidi, dan selalu mendapat nilai jelek saat ulangan. Rangga juga sering bolos saat pelajaran kimia, lalu masuk ke kelas lagi ketika pelajaran kimia selesai. Padahal, dia sering belajar saat ulangan kimia tiba, Rangga akan lebih sering membaca tabel unsur-unsur kimia ketimbang membaca komik. Tapi, tetap saja ia tak paham dengan mata pelajaran tersebut, dia tak pernah dapat nilai bagus. Saking seringnya Rangga ikut remidi pelajaran kimia, dia sampai-sampai beberapa kali kabur dari remidian. Sampai sekarang, dia masih punya tanggungan remidian pelajaran kimia, nilai kimia Rangga di buku catatan milik pak Hasim mungkin ada beberapa yang masih kosong. Saat mengetahui kalau pak Hasim akan pensiun dalam waktu dekat, membuat hati Rangga sedikit di bebani rasa bersalah. “Gue jadi ngerasa bersalah sering bolos pelajaran kimia.” Sesalnya. “Mungkin itu yang bikin lo bingung mau ngasih apa ke bilau buat kenang-kenangan.” Ujar Grace. “Yep.” Rangga menatap Grace dalam-dalam. “Gue ngikut lo aja deh, lo mau ngasih apa, nanti gue juga akan ngasih barang yang sama.” “Gue juga belum tahu sih mau bawain apa, tergantung Putri nanti ngasih sarannya gimana.” Ucap Grace. Tak lama kemudian, ibu-ibu kantin pun datang ke arah meja mereka sambil membawa sebuah nampan yang di atasnya terdapat dua piring nasi pecel lele, menu yang tadi mereka pesan pun akhirnya datang juga. Ibu-ibu kantin lantas pergi melanjutkan pekerjaannya setelah menerima ucapan trimakasih dari Grace dan Rangga. Di saat mereka sedang menikmati makan siang, pendengaran Grace yang tajam menangkap pembicaraan dua orang siswi yang sedang bergosip. Kedua siswi itu duduk di bangku yang ada di belakang Rangga dan Grace. Telinga Grace bisa secara reflek langsung fokus pada pembicaraan mereka berdua karena sedang bergosip tentang Agung. “Iya, gue kemaren liat dia kok sama si Tania, jalan bareng di toko kue di deket mall.” Kata salah satu dari mereka. “Si Agung, anak kelas 12-C itu?” Lawan bicaranya agak terkejut. “Iya, gue juga sempet nyapa mereka di sana.” “Bukannya Agung udah punya pacar ya, kok dia malah jalan sama Tania sih?” Grace melirik ke belakang, sedikit curi-curi pandang ke arah siswi-siswi yang sedang bergosip itu. Ia mencoba menyimak dengan lebih seksama lagi. “Enggak tau, mungkin Agung udah putus dari pacarnya kali.” Lanjutnya. “Bisa jadi...” siswi itu berhenti sejenak, kemudian melanjutkan, “Lagian, Tania cantik banget, mungkin lebih cantik dari pacarnya sendiri, wajar sih kalau Agung mau di ajak jalan bareng...” Grace terus mendengarkan obrolan mereka sambil makan, berusaha menyimak perkataan-perkataan mereka yang berbaur dengan suara-suara lain yang ada di kantin. Makin lama mendengar gosip-gosip tentang Agung dari mereka, makin membuat hatinya terasa berat. Selain nama Agung, Tania adalah nama yang di sebut-sebut dalam kegiatan bergosip mereka. Grace baru pertama kali mendengar nama itu, ia tak kenal Tania siapa, mungkin anak kelas 12, atau mungkin kenalan Agung yang tak ia ketahui. Seiring dengan masuknya gosip tentang Agung dan Tania ke dalam telinganya, perlahan membuat Grace mulai beranggapan kalau Agung selingkuh dengan Tania, tapi dia tak ingin cepat mengambil sebuah kesimpulan dari apa yang belum pasti benar atau salahnya. Grace sedikit merasa resah, dia ingin tahu tentang identitas Tania yang sebenarnya. Dengan membawa rasa penasaran di dalam hatinya, Grace memberanikan diri untuk melangkah menghampiri dua siswi yang bergosip tepat di bangku yang ada di belakangnya itu. Dia tahu seharusnya dia tak perlu buru-buru untuk menghampiri mereka, bersabar agar mendapatkan lebih informasi itu lebih baik. Namun, dia sudah tak tahan lagi. “Grace, mau kemana?” Tanya Rangga ketika melihat Grace berdiri dan meninggalkan tempat duduknya. Rangga berhenti menyantap pecel lelenya, pandangan matanya mengikuti kemana Grace pergi. Ketika tiba di dekat dua siswi itu, Grace langsung meletakan kedua telapak tangannya di atas meja makan mereka, lalu berkata dengan tegas, “Tania siapa?” Kedua siswi itu menatap Grace dengan bingung, meskipun mereka tahu kalau Agung sudah punya pacar, tapi mereka tak tahu siapa pacar Agung. “Apaan sih lo?” Kata salah satu dari mereka ketika Grace, orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba muncul di hadapan mereka dan nimbrung ke dalam obrolan mereka. “Gue pacarnya Agung!” Jawab Grace dengan tegas. Kedua siswi itu terdiam. Menatap Grace dengan sedikit malu-malu. “Tania siapa?” Tanya Grace lagi. “Anak kelas 12-C, sekelas sama kita.” Jawab salah satu dari mereka. “Apa bener lo ngeliat dia jalan bareng Agung?” Tanya Grace pada siswi yang tadi mengaku melihat Agung dan Tania di toko kue. Grace memandang tajam ke arah mata siswi itu, sehingga membuatnya grogi. Siswi itu menyedot es tehnya, lalu menjawab takut-takut,“Iya, gue ngeliat mereka jalan bareng di toko kue deket alun-alun, keliatanya sih mesra gitu.” “Di sana mereka ngapain aja?” Grace mengintrogasi. Teman siswi yang diintrogasi Grace itu hanya bisa terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Grace terlihat sangat tegas jika sedang marah, auranya sedikit menakutkan bagi orang yang melihatnya. Padahal yang sedang dia introgasi adalah siswi yang tingkatan kelasnya lebih tinggi dari dia, tapi Grace tidak peduli. Siswi itu hanya menggelengkan kepalanya, kemudian lanjut berkata, “Gue cuman nyapa mereka aja, abis itu gue pergi, karena gue juga sibuk nyari kue ulang tahun buat saudara gue.” “Kapan?” “Sekitar tiga hari yang lalu.” Jawab siswi itu. Grace berhenti sejenak, ia meletakan tangan kananya di dagu, berfikir bagaimana caranya supaya dia tahu tentang identitas Tania yang di duga selingkuhan Agung. “Emang kalian belum putus, ya?” Tiba-tiba siswi yang satunya lagi bertanya seperti itu. Temannya yang duduk di sebelah kirinya menatap dengan mata yang tajam, seakan berkata, “Lo kenapa nanyain itu sih?” “Belum, mungkin sebentar lagi.” Jawab Grace dengan singkat, sambil terus berfikir. Setelah berfikir sejenak, akhinrya Grace bertanya kepada mereka. “Diantara kalian ada yang punya nomernya si Tania ini, enggak?” “Gue ada nomernya.” Jawab salah satu dari mereka. “Bagi ke gue!” Setelah kedua siswi itu saling memandang satu sama lain, akhirnya salah satu dari mereka kemudian memberikan nomer telepon Tania kepada Grace. Rangga yang dari tadi memandangi rentetan kejadian itu dari tempat dudukya hanya bisa terdiam melihat dan mendengar apa yang terjadi di meja bangku belakang. Grace kembali ke tempat duduknya, ia masih tertegun menatap layar handphone-nya yang menampilkan nomor WhatsApps dari Tania yang baru saja ia dapatkan. Meskipun sudah mendapatkan nomor telepon dari Tania, dia masih ragu-ragu untuk menelponnya atau sekedar mengirim pesan pada Tania, dia bingung harus menulis pesan apa pada Tania. Grace kemudian melirik ke arah Rangga yang sedang makan, dia tahu kalau tadi Rangga sempat memperhatikan percakapan antara dirinya dan kedua siswi yang bergosip tentang Agung tadi. Dia pikir, dia akan meminta pendapat Rangga tentang apa yang harus dia lakukan dalam situasi ini, Grace masih tak tahu harus berbuat apa. “Rangga?” Ucap Grace. Rangga yang sedang makan, menjawab setelah menelan makananya yang ia kunyah. “Apa?” “Gue yakin lo dari tadi memperhatikan apa yang gue omongin sama dua orang siswi kelas 12 di belakang situ, dan gue juga tahu kalau lo mungkin paham dengan situasi yang sedang gue hadapi saat ini.” Kata Grace. “Trus?” Tanya Rangga dengan singkat, karena memang kenyataannya demikian, dia menguping dan mengerti situasinya. Grace bergeser mendekati Rangga, matanya memelas penuh harap, tangan kananya memegangi kaos yang di pakai Rangga. Dalam posisi seperti itu Grace memohon, “Pliss... bantuin gue dong!” “Enggak ah, itu kan urusan percintaan lo, kalo ada gue ikut campur malah akan jadi tambah repot lagi.” Rangga meneruskan makan siangnya yang sudah hampir habis. Grace terlihat cemberut. “Yah, kok gitu sih, enggak asik.” Grace memandangi Rangga dalam-dalam sambil terus memohon, “Pliss lah, ngga bantuin gue...” “Enggak!” Rangga menjawab tegas. “Nanti gue beliin game deh!” kata Grace. Otak Rangga langsung berputar tiga ratus enam puluh derajat, mempertimbangkan tawaran Grace tersebut. Rangga segera menghabiskan makananya, setelah meminum es tehnya sampai habis, dia berkata. “Beneran nih?” Grace ragu-ragu untuk menjawab. Sebenarnya dia menyesal dengan apa yang tadi ia ucapkan. Dia tahu harga game saat ini mahal-mahal dan dia tak punya uang untuk membelikan Rangga game. Tapi mau bagaimana lagi, dia benar-benar butuh bantuan Rangga untuk mencari tahu siapa sebenarnya Tania, dia juga butuh pendapat Rangga tentang apa yang harus dia lakukan. “I...Iya, beneran, nanti gue beliin Game.” Dengan sangat berat hati, Grace akhirnya berkata demikian. “Oke, gue bakal bantuin lo, tapi...” Rangga berhenti bicara. “Apa lagi?” Grace memasang wajah datar. “Lo berhenti mikirin tentang Agung dan Tania dulu, trus makan pecel lele lo, udah mulai di lalerin tuh, mubazir.” “Oke deh.” Grace tersenyum lebar, mulai menyantap pecel lelenya yang sudah mulai dingin. “Kita pikirin nanti aja, dan lo jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan dari apa yang lo denger, jangan langsung mikir kalau Agung itu selingkuh. Cari tahu dulu pelan-pelan.” Rangga mencoba menenangkan Grace yang menurutnya sedang gusar, terlalu memikirkan Agung. Grace benar-benar takut kehilangan, Rangga paham akan hal itu. Sambil makan, dua sisi bibir grace tertarik ke samping kanan dan kiri, ia seakan tak bisa menahan senyumnya. Saat ini, Grace lebih percaya pada Rangga ketimbang pada pacarnya sendiri, Agung. Selama ini, sebagai sahabat, Rangga tak pernah membuat dirinya kecewa. Sambil membawa menu pesanannya di atas nampan, Darmin yang baru saja selesai mengantri makanan barjalan dengan penuh percaya diri menuju ke tempat duduk Grace dan Rangga. Darmin meletakan nampannya, lalu duduk di hadapan Rangga dan Grace. “Hey, Guys...” Darmin menyapa Grace dan Rangga yang sibuk dengan makanan masing-masing. Rangga dan Grace yang baru menyadari kehadiran Darmin langsung menatap kearah Darmin secara bersamaan. “Eh lo, min.” Kata Grace. “Gue boleh makan disini kan? Enggak ganggu kalian kan?” Darmin berbasa-basi. Rangga hanya diam sambil melanjutkan makannya, karena memang Darmin tidak mengganggu. “Enggak kok, santai aja.” Jawab Grace. Darmin kemudian menata peralatan makannya, bersiap untuk menyantap menu pesanannya yaitu nasi rames. “Kalian makin mesra aja, gue jadi iri... kapan mau jadian?” Darmin mencoba bercanda. “Enggak akan!” “Enggak bakalan!” Grace dan Rangga menjawab hampir bersamaan. “Hehe... Becanda, becanda... “ Darmin menggeser gelas minumannya yang berada di tepi meja, ia menggesernya agar berisi sirup strawberi itu tidak jatuh. “Lagian, Grace udah punya pacar.” Lanjutnya. “Mending kalian berdua jadian aja deh, sama-sama jomblo kan?” Canda Grace. “...” Rangga hanya terdiam, menatap Grace dengan datar. “Bentar lagi gue juga bakalan punya pacar kok.” Darmin berkata dengan bangga. “Bagus deh kalau gitu.” Kata Rangga. “Lo bilang ‘bakalan,’ berati lo belum pacaran dong?” Kata Grace. “Atau jangan-jangan lo mau nembak orang?” Darmin tersenyum lebih lebar, “Iya, lo bener, gue mau nembak seseorang...” Darmin sengaja berhenti bicara agar Rangga dan Grace penasaran. “Siapa? Rangga, ya?” Kata Grace. Rangga kemudian menjitak kepala Grace. Lalu dia bertanya pada Darmin, “Siapa?” “Erlita anak kelas 11-E.” Jawab Darmin dengan penuh percaya diri. Grace dan Rangga terdiam kaku setelah mendengar jawaban Darmin, mereka berdua tidak tahu harus berkata apa. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN