Dengan langkah kaki yang cepat, Grace berjalan menuju ke tempat dimana tiga orang teman satu band-nya berada. Ia meninggalkan antrian rumah hantu yang tadi hendak ia masuki. Sedangkan Agung yang tertinggal agak jauh dari Grace mengikuti di belakangnya, melangkah dengan agak kerepotan karena sambil membawa boneka beruang besar.
Oh iya, anggota grup band yang sudah Grace buat ini berjumlah empat orang, termasuk dirinya sendiri. Mereka terdiri dari dua orang cewek dan dua orang cowok. Masing-masing dari mereka adalah Rehan sebagai bassist, Yunita penggebuk drum, Alfan yang memainkan piano dan Grace sebagai vokalis sekaligus juga gitaris di dalam band.
Tangan Yunita dan Grace saling berpegangan, mereka senang bisa saling bertemu di pasar malam, mereka tak menyangka kalau mereka akan bertemu. Ini seperti sebuah kejutan bagi mereka berdua.
“Udah lama, Grace?” Tanya Yunita setelah beberapa saat.
“Udah dari tadi kok.” Jawab Grace. Lalu ia lanjut bertanya, “Kalian udah lama?”
“Baru aja nyampe.” Jawab Yunita.
“Kalian ada disini kok enggak bilang ke gue sih.” Ucap Grace kepada Yunita sembari melepas gandengan tangan padanya. “Ngirim pesan WA atau apa kek, nelpon mungkin.” Lanjut Grace.
Rehan menyipitkan matanya, ia berdiri di antara Yunita dan Alfan yang sedang sibuk dengan handphone-nya. Sambil menatap Grace, Rehan menjawab, “Harusnya lo yang ngasih kabar, kita mana tahu kalau lo lagi ada disini juga. Kita tahunya kan lo masih belom di ijinin keluar dari rumah sama ibu lo.”
Benar juga apa yang dikatakan oleh Rehan itu, harusnya Grace yang memberi kabar duluan kepada mereka kalau dia ada di sini sejak tadi. Mungkin jika Grace tidak dalam masa hukuman, malam ini mereka bertiga akan mengajak Grace untuk pergi bersama menikmati pasar malam.
Beberapa hari yang lalu, mereka bertiga juga sempat berkunjung ke rumah Grace untuk mengerjakan PR bersama serta melepas rindu karena sudah lama tak saling bertemu di ruang musik sekolah seperti yang mereka lakukan setiap hari. Selain mengerjakan PR, saat berada di kamar Grace, mereka berempat sibuk membahas tentang kompetisi band yang akan mereka ikuti di malam tahun baru nanti.
Mereka sudah mendapatkan formulir pendaftaran kontes dari salah satu panitia acara yang kebetulan kenal dekat dengan Yunita. Namun mereka masih belum mengisi data pada formulir tersebut dikarenakan mereka belum punya nama band.
Saat itu, saat mereka berempat berunding di kamar Grace, selain mereka kerepotan memperbaiki lagu ciptaan mereka sendiri yang masih terdapat banyak kekurangan, merkea juga masih kesulitan untuk menemukan nama ban yang cocok bagi band mereka.
Grace ingin sebuah kata yang menggambarkan sesuatu yang gelap dan jantan, namun anggota yang lain justru malah merasa aneh dengan apa yang dipikirkan Grace. Soalnya band mereka lebih sering memainkan lagu-lagu dari band pop serta jazz saat manggung di acara-acara maupun di kafe, seperti lagu dari The Mocca, Peterpan, kahitna, Simple Plan dan band pop populer lain. Jadi mereka bertiga tidak setuju dengan pendapat Grace dan ingiin nama band yang terdengar ceria di telinga, yang menggambarkan lagu-lagu yang mereka bawakan. Meskipun liriknya terdengar penuh dengan kegalauan, tapi nada-nadanya penuh keceriaan, penuh dengan mayor.
Banyak nama-nama yang muncul di kepala mereka untuk di jadikan nama band, diantaranya adalah Summer fling, Summer Thriil, The matrix, kaos kaki, Langit Biru... mereka benar-benar tak pandai mengarang sebuah nama. Bahkan karena Yunita adalah ketua atau frontman dari band, mereka sempat berfikir untuk memberi nama band mereka Yunita and Friends. Namun mereka sadar kalau itu sangat tidak keren dan terlalu panjang untuk nama sebuah band.
Meskipun nama-nama yang sudah mereka pikirkan itu sepertinya tidak ada yang akan mereka pakai sama sekali untuk nama band mereka, Yunita tetap mencatatnya ke dalam buku catatanya untuk jaga-jaga, jika nanti waktu pengumpulan formulir sudah mendekati batasnya, dia terpaksa akan memilih salah satu dari nama-nama tersebut. Yunita pikir, The metrix cukup menarik meskipun terdengar seperti judul film tahun sembilan puluhan.
Suasana di sekitar terasa cukup ramai, sesekali terdengar suara tepuk tangan dari orang-orang yang sedang menonton pertunjukan atraksi di tempat yang tadi Grace dan Agung lewati sebelum mereka tiba di stan permainan lempar bola pingpong.
Mereka berempat berdiri diantara kerumunan orang-orang yang lewat, untuk mengantri memasuki wahana rumah hantu yang berada tak jauh dari situ.
“Hehe... iya, ya. Kalian kan tahunya gue di hukum sama ortu, sorry.” Grace menyeringai sembari menggaruk bagian belakang kepala, menyadari kesalahannya.
Alfan terlihat yang terlihat sudah selesai dengan kesibukannya dengan handphone, kemudian ikut bicara. “Bukannya lo lagi di skors dan dihukum enggak boleh keluar dari rumah selama sebulan ya, Grace?”
“Iya, emang.” Jawab Grace singkat.
“Terus, kenapa lo bisa dateng kesini kalau lo masih di hukum?” Alfan bertanya lagi.
Grace hanya cengengesan, seakan enggan menjawab, sementara teman-temannya yang penasaran menunggu jawaban darinya.
Agung yang tadi tertinggal di belakang kini sudah tiba tepat di belakang Grace. Ia kemudian berinisiatif untuk bergerak ke sebelah kanan Grace dengan sedikit kerepotan karena membawa barang bawaan. Ketika ia tepat berada di samping Grace, Agung menjawab pertanyaan dari Alfan meskipun pertanyaan itu bukan untuknya .
“Dia kabur dari rumah lewat rumahnya Rangga.” Kata Agung ketika berada tepat di sebelah pacarnya.
Yunita, Alfan dan Rehan mengalihkan perhatiannya kepada Agung yang membawa banyak barang bawaan.
“Wah, bonekanya lucu banget!” Mata Yunita sedikit melebar ketika melihat boneka beruang berukuran besar yang dibawa oleh Agung itu. Tanpa bertanya atau permisi terlebih dahulu, Yunita dengan cepat mengambil boneka yang sedang dibawa Agung dengan tangan kirinya.
Yunita memeluk erat boneka itu untuk beberapa saat. Baginya, wajah dari boneka beruang itu sangat menggemaskan. Selesai dengan adegan pelukannya bersama boneka beruang, Yunita kemudian menatap ke arah Grace.
“Kok lo enggak bilang sih kalau lo lagi kencan sama Agung?”
“Ya, lo enggak nanya sih.” Jawab Grace.
Ketiga orang yang ada dihadapan Grace kemudian terlihat saling memandang satu sama lain. Alfan, Yunita dan Rehan sebenarnya ingin mengajak Grace berkeliling untuk mencoba wahana-wahana dan permainan yang ada di pasar malam ini. Namun setelah tahu kalau Grace datang kesini bersama Agung, mereka bertiga jadi sedikit canggung, mereka khawatir mengganggu waktu kencan mereka.
“Kalian lagi kencan ya?” Tanya Rehan pada Agung.
“Iya sih, tapi lebih tepatnya baru selesai kencan.” Jawab Agung.
“Wah, kita jadi enggak enak nih mau ngajak maen-maen bareng.” Sambung Alfan.
Grace melihat kearah Agung, lalu mengarahkan pandangannya lagi ke arah teman-temannya.
“Kalo mau ngajak kita maen bareng enggak papa kok, kita beneran udah selesai kencannya. Udah selesai dinner, jalan-jalan dan lain-lain. Rencanannya kita mau keliling-kililing pasar malem trus pulang...” Kata Grace. Ia kemudian tersenyum ke arah mereka bertiga. “Justru kebetulan banget ada kalian, jadi makin rame.”
Usai mendengar penjelasan dari Grace, mereka bertiga kemudian saling bertukar pandang, mereka masih ada sedikit rasa sungkan terhadap Agung dan Grace.
“Oh, yaudah, baguslah kalau begitu. Yuk kita nyobain permainan-permainan yang ada di sini!” Ucap Yunita dengan penuh semangat.
Namun ia tiba-tiba terdiam sejenak sembari menatap ke arah boneka beruang yang sedang di peluknya. Kemudian ia kembali menatap ke arah Grace. ia merasa heran karena tak biasanya Grace main boneka, dia kan cewek tomboy. Bagi Yunita, ini cukup aneh.
“Ngomong-ngomong, tumben lo mau-mau aja di kasih boneka sama Agung.” Yunita menyipintkan matanya.
Grace menatap datar ke arah Yunita. “Itu hadiah dari permainan lempar bola pingpong. Enggak sengaja dapet itu.” Melihat Yunita yang dari tadi terus memeluk boneka beruang besar itu, membuat Grace kemudian berkata. “Kalo lo mau, ambil aja enggak apa-apa kok.”
“Beneran?” Yunita meyakinkan, ia terlihat senang mendengar perkataan dari Grace.
“Iya, ambil aja, gue enggak suka yang begitu-begitu. Lo udah tahu lah gue orangnya kayak gimana.” Grace tersenyum.
“Makasihh!” Yunita terlihat sangat senang dengan apa yang ia dapat.
Grace lantas menengok ke arah kantung plastik yang di bawa oleh Agung. Ia berfikir sejenak untuk menetukan apa yang akan ia lakukan terhadap barang-barang yang ada di dalam situ, ia berniat untuk memberikan sebagian barang-barang yang tadi ia dapat dari stan permainan kepada mereka bertiga.
Ia pikir sepertinnya dirinya tidak begitu memerlukan barang-barang yang ada di dalam pelastik itu. Lagipula, nanti jika sampai di rumah, dia harus menyelinap secara diam-diam untuk bisa masuk lagi ke kamarnya. Kalau sambil membawa kantung plastik berisi barang-barang itu pasti akan lebih merepotkan.
“Sayang, kesiniin pelastiknya.” Pinta Grace pada Agung.
Agung dengan wajah bingung kemudian memberikan kantung plastik berisi hadiah-hadiah itu kepada Grace. Dengan wajah tersenyum, Grace menerimanya.
“Ngomong-ngomong, ini juga masih ada hadiah-hadiah lain yang kita dapet dari stan lempar bola pingpong tadi. Mungkin aja kalian mau.”
Grace membuka lebar-lebar kantung pelastik yang dia bawa untuk menunjukan isi dari kantung pelastik tersebut kepada mereka bertiga. Yunita, Alfan dan Rehan menyulurkan kepalanya ke arah kantung pelastik tersebut. Mereka bertiga menengok ke dalam untuk mengetahui apa saja barang-barang yang ada di dalam situ.
Begitu melihat ke dalam kantung pelastik berisi hadiah-hadiah itu, mata Alfan langsung tertuju pada sepasang sepatu roda berwarna biru. Ia lalu mengangkat sepasang sepatu roda tersebut dengan tangan kanannya.
“Ada yang mau ini apa enggak?” Alfan melihat ke arah Yunita dan Rehan. Keduanya kemudian menggelengkan kepala hampir bersamaan, mereka tidak tertarik dengan sepatu roda itu.
Alfan lalu melihat ke arah Grace, “Lo beneran mau ngasih barang-barang ini ke kita?” Alfan meragukan tawaran Grace tadi. Setelah beberapa saat melihat sepatu roda yang baginya tampak lumayan mahal itu, ia jadi sedikit meragukan tawaran Grace akan barang-barang yang ada di dalam plastik itu.
“Iya, enggak apa-apa kok, gue juga enggak begitu butuh, bakal menuh-menuhin kamar gue aja nanti kalo gue bawa pulang.” Grace berhenti sejenak, melihat kearah Agung, lalu melempar pertanyaan.
“Kamu enggak mau barang-barang ini, kan?” Tanyanya pada Agung.
“Enggak, enggak kok. Ambil aja.” Jawab Agung dengan penuh keikhlasan.
Agung yang kondisi ekonomi keluarganya lumayan berkecukupan sepertinya tidak begitu peduli dengan barang-barang yang ada di dalam kantung plastik itu. Kalau dia mau, bisa saja dia membeli barang-barang yang serupa dengan hadiah-hadiah tersebut. Jadi, bagi Agung bukanlah sebuah masalah jika mereka mengambil semua barang yang ada di dalam kantong plastik tersebut.
“Kamu sendiri gimana? Yakin enggak mau ngambil salah satu?” Agung bertanya balik.
Grace menggelengkan kepalanya. “Enggak kok.”
“Tapi jangan lupa lho...” Agung teringat sesuatu. “Action figure-nya buat Rangga.”
“Oh, iya, action figure-nya jangan di ambil ya, itu buat Rangga.” Kata Grace memperingatkan Alfan dan Rehan yang kini keduanya sedang menengok ke dalam kantong plastik itu.
Tangan Rehan mengambil salah satu action figure tersebut, lalu mengangkatnya, “Yang ini?” Katanya sembari menunjukan action figure Mikasa.
“Yep.” Kata Grace.
“Kalo yang ini boleh enggak?” Alfan mengangkat action figure Eren untuk menunjukannya pada Grace apa yang ia maksud.
“Dua-duannya enggak boleh, semuanya buat Rangga, ambil yang lain aja.” Kata Grace.
Yunita, Rehan dan Alfan mendapat hadiah secara cuma-cuma dari Grace dan merasa cukup senang dengan barang-barang itu. Yunita sudah cukup senang dengan dengan boneka beruangnya, jadi ia tak mengambil barang lagi. Sementara Rehan dan Alfan membagi barang-barang itu sesuai dengan apa yang mereka inginkan, kecuali action figure karakter Eren dan Mikasa dari karakter manga Attack On Titan yang sangat populer itu. Padahal, Alfan sangat ingin mengambil action figure Mikasa, itu adalah karakter favoritnya.
Setelah pembagian barang-barang selesai, mereka lantas menitipkannya ke jasa penitipan barang yang ada di pasar malam tersebut agar tak perlu repot-repot membawa kesana-kemari. Mereka kemudian mulai melanjutkan rencana untuk bermain-main di wahana-wahana dan tempat hiburan yang ada di arena pasar malam bersama-sama.
Bersambung...