Banyak Hadiah

1259 Kata
Langit sesekali mengeluarkan semburat cahaya terang sekejap seakan hendak turun hujan. Di lapangan tempat dimana pasar malam di adakan, para pengunjung masih menyesaki tempat-tempat segala macam hiburan yang tersedia di sana. Meskipun sudah cukup larut malam, para pengunjung yang baru datang masih terus bertambah, padahal ini bukanlah malam minggu, besok mungkin diantara mereka masih ada yang harus bekerja, sekolah, atau pergi kuliah. Hal itu mungkin di sebabkan oleh adanya wahana baru stan-stan baru yang tersedia di pasar malam, yang membuat mereka penasaran ingin mencobanya, dan mungkin mereka tidak begitu peduli jika besok harus berangkat kerja dan sekolah dengan rasa kantuk yang berat. Masih di stan permainan lempar bola pimpong. Agung masih di rundung rasa kecewa sebab ia tak berhasil mendapatkan kalung liontin incarannya karena gagal memasukan bola pimpongnya ke gelas nomor empat puluh lima. Meskipun sudah mendapat action figure karakter Mikasa dan sebuah jam waker, Agung tetap saja murung. Karena kelima bola pimpong miliknya sudah ia gunakan semuanya, Agung bergeser ke samping, memberi sedikit jarak pada Grace yang akan memulai gilirannya untuk melempar bola ke arah jajaran gelas-gelas berhadiah itu. Grace tersenyum menatap ke arah Agung yang masih merasa gagal dalam permainan. Matanya lalu berali menatap gelas-gelas di hadapannya. Grace menganalisa ketiga puluh gelas yang bertuliskan angka-anga secara acak tersebut, ia berkonsentrasi penuh, bersiap mengadu nasib. Angin berhembus di sekitar, mencipatakan hawa dingin. Rambut Grace yang panjang teruarai, melambai ke arah kiri ketika diterpa angin dari sebelah kanan. Grace terlihat cantik dalam keadaan seperti itu, rambutnya yang anggun terlihat indah di terpa angin, di tambah lagi dia punya wajah yang oriental, tipikal cina-indo, siapapun laki-laki yang melihat Grace dalam keadaan di terpa angin seperti tadi, pasti ia akan terpesona. Mungkin, jika Grace berpakaian seperti cewek normal, pakai rok atau gaun, pasti akan lebih cantik lagi.  Namun sayangnya saat momen saat Grace terkena terpaan angin itu berlangsung, Agung sedang sibuk dengan handphone-nya, meminta izin ke orangtuannya untuk pulang agak malam dari biasanya.  Grace merapikan rambutnya, menyeka rambut yang menutupi telinganya, begitu angin berhenti, ia mulai melambungkan bola pimpong pertamanya dengan tangan kanan. Karena memparkannya terlalu pelan, bola itu tidak memantu-mantul terlebih dahulu dan justru langsung masuk kedalam gelas yang ada angkanya. “Yess! Langsung dapet!” Ucap Grace penuh kegembiraan. “Hah? Serius langsung masuk?” Agung yang baru saja selesai mengabari orangtuanya dari handphone, kembali mengalihkan perhatiannya pada Grace. Sayangnya, ia tak melihat saat Grace berhasil memasukan bola pertamanya ke dalam gelas. “Dapet nomer sembilan.” Jawba Grace sembari tersenyum ke arah Agung. SI penjaga stan yang daritadi memperhatikan Grace, segera membuka tirai tempat hadiah ketika tahu bahwa Grace berhasil memasukan bola pingpongnya ke dalam gelas. Ia kemudian mengeluarkan sebuah boneka beruang berukuran besar, yang pas untuk di peluk.  Agung melongo saat melihat boneka itu berlaih tangan dari si penjaga, ke Grace. “Makasih pak.” Kata Grace. “Kamu beruntung banget lho dek, boneka itu harganya ratusan ribu!” Kata si bapak penjaga. “Hehe... keliatan, ukurannya segede ini, pasti mahal lah.”  “Beruntung benget kamu...” Agung merasa iri. Sambil memeluk boneka beruangnya, Grace menegakan tubuhnya, menyipitkan matanya saat melihat ke arah Agung, seakan terlihat seperti orang yang sedang menyombongkan dirinya. “Ini baru bola pertama lho, masih sisa empat bola lagi.” Grace setengah senyum. “Nih, tolong bawain bonekanya!” Grace memberikan boneka itu kepada Agung, karena ia akan memulai lemparan keduanya. Grace mengambil bola pingpong yang ia taruh di saku celananya, kemudian brkonsentrasi untuk melmparkannya. Ia mengulangi pola lemparan yang sama. Tangan kananya mengayun dari bawah ke atas, namun dengan sedikit dorongan tenaga, sehingga bola yang di lemparkannya itu tak melambung terlalu tinggi. Bola itu mulai di lemparnya dan melambung pelan seperti yang Grace harapkan, dan benar saja, lagi-lagi bola itu masuk ke salah satu gelas yang ada angkanya lagi. Kali ini, masuk ke gelas nomor dua belas. “Yess, masuk lagi!” Grace mengungkapkan rasa senangnya. “Nomer dua belas.” Lanjutnya. Agung heran melihat Grace yang berhasil memasukan bola ke dalam gelas berangka dua kali berturut-turut. “idih, beruntung lagi dia.”  “Aku emang jago kali hehe...”  Si penjaga stan kemudian mengeluarkan hadiah yang di dapatkan oleh Grace karena berhasil memasukan bola ke dalam gelas yang ada angkanya lagi. Kali ini si penjaga mengeluarkan sebuah topi santa claus berwarna merah putih, berbentuk kerucut, dari dalam tirai. “Wah dapet topi santa, bagus. Pas banget bentar lagi mau natal.” Grace langsung memakai topi tersebut setelah menerimanya. Ia lalu bersiap-siap lagi untuk melakukan lemparan bola pingpong ketiganya. Lagi-lagi Grace melemparkan bolanya dengan pola lemparan yang sama, dan lagi-lagi ia berhasil mendapatkan hadiah untuk yang ketiga kalinya. Begitu pula dengan lemparan bola ke empat dan lemparan bola kelima. Keduanya masuk ke dalam gelas yang ada angkanya. Jika sendainya Grace dan Agung berkompetisi dalam permainan lempar bola pingpong ini, sudah dipastikan kalau Grace menang telak dari Agung. Sepertinya ini adalah malam keberuntungnan Grace, semua lemparannya masuk ke dalam gelas berhadiah, tanpa zonk atau pun keluar dari papan gelasnya, ia benar-benar ahli dalam hal ini. Dengan begitu, Grace berhasil membawa pulang lima buah hadiah, yaitu boneka beruang besar, topi santa, sepasang sepatu roda, jam tangan dan sebuah action figure berbentuk karakter Eren dari komik Attack On Titan, yang mana itu adalah sepasang dari action figure Mikasa yang tadi berhasil di dapatkan oleh Agung. Karena Grace dan Agung tidak begitu mengerti tentang komik ataupun manga, jadi mereka memutuskan untuk memberika sepasang action figure itu kepada Rangga, sebagai pendamping brownies yang nanti akan mereka beli untuk menyogok Rangga supaya dia mau membantu Grace untuk masuk ke dalam rumahnya saat pulang ke rumah nanti. Selesai dengan bermain di stan lempar bola pingpong, keduanya lanjut berjalan untuk melihat-lihat pasar pasar malam yang semakin riuh. Agung berjalan sambil membawa boneka beruang besar milik Grace dengan lengan tangan kirinya, sementara tangan kananya menjinjing sebuah kantung pelastik yang berisi hadiah-hadiah yang ia dan Grace dapatkan saat bermain di stan permainan lempar bola pingpong tadi. Topi santa kini tampak menempel di atas kepala Grace sekarang, membuatnya tampak lebih imut dari penampilannya yang tadi, Agung pun berfikir demikian. Ia tersenyum-senyum sendiri melihat pacarnya yang terlihat lebih imut dengan topi santanya. “Kita mau kemana lagi?” Tanya Agung yang berjalan di belakan Grace sambil membawa barang bawaan. “Aku mau liat tong setan, masuk ke rumah hantu, atau naik bianglala.” Jawab Grace. Agung dan Grace akhirnya sampai di sebuah kerumumanan yang ada di dekat pintu masuk untuk melihat pertunjukan atraksi motor, atau biasa di sebut dengan tong setan. Namun tiba-tiba, terdengar seseorang orang yang sedang memanggil-manggil nama Grace. “Grace!” Orang itu memanggil Grace berulang kali, kadang juga ada suara dari orang lain yang juga memanggil nama Grace. sepertinya yang memanggil Grace lebih dari satu seorang. Grace lantas menoleh ke kanan dan ke kiri ketika sadar kalau ada orang yang memanggil-manggil namanya beberapa kali. DI antara kerumunan salah satu teman yang berada dalam satu kelompok band yang di buat Grace terliahat sedang melambaikan tangan ke arahnya diantara kerumunan orang-orang.  Setelah Grace sepenuhnya memperhatikan, ternyata dia juga bersama dengan anggota band yang lain. Grace tampak sumeringah melihat semua anggota bandnya ternyata juga datang ke pasar malam. Ia pun segera mengajak Agung untuk menghampiri mereka yang jaraknya tak begitu jauh. “Ada temen-temenku, kita samperin mereka yuk!” Ajaknya pada Agung, Agung mengikuti Grace sembari membawa-bawa boneka beruang besar dan kantung pelastik berisi hadiah lainnya, Kalau dilihat-lihat Agung tampak seperti babu. Lagi-lagi, Agung tak bisa mendapatkan moment berdua dengan pacarnya. Tadi saat di restoran di ganggu oleh Putri, sekarang malah ada teman-teman Grace yang lain, yang hadir diantara kebersamaan mereka. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN