Gagal Mendapatkan Hadiah Yang Diinginkan

1184 Kata
Agung bersiap-siap melempar bola pimpong yang ia pengang dengan tangan kananya, mengincar gelas nomor empat puluh lima, sembari membayangkan apa yang akan terjadi jika dia berhasil memasukan bola pimpongnya ke dalam gelas dengan angka empat puluh lima dan berhasil mendapatkan kalung lontin incarannya. Agung membayangkan dirinya berdiri di belakang Grace untuk membantu Grace memakai kalung tersebut, dan itu mungkin akan jadi salah satu momen romantis di malam ini. Setelah Grare mempersilahkan Agung untuk mengambil giliran pertama, Agung bergeser sedikit dari sebelah Grace. Ia mencari posisi terbaik untuk memasukan bola pimpong gelas yang ada posisinya cukup jauh, yaitu di ujung sudut kanan. “Aku lempar nih,” Gumamnya sebelum akhirnya memulai lemparan bola pertama. Agung mengayunkan tangannya dengan pasti, melambungkan bola di atas gelas-gelas undian tersebut. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi disini, pertama bola pimpong itu akan jatuh, masuk ke dalam gelas yang ada angkanya, atau justru masuk ke dalam gelas yang tidak ada angkanya. Jika bola tersebut masuk kedalam gelas yang tidak ada angkanya, maka itu artinya “ZONK” atau tidak mendapatkan satu pun hadiah. Namun jika bola tersebut masuk ke dalam gelas yang ada angkanya maka akan mendapat hadiah yang di sediakan oleh si penjaga sesuai angka yang di dapatkan. Setelah melambung di udara sepersekian detik, bola pimpong itu jatuh di tepian gelas dan memantul kesana-kemari beberpa kali. “Nomor empat lima, please, nomor empat lima please!” Ucap Agung dalam hati ketika melihat bola tersebut memantul. Grace terlihat tersenyum geregetan melihat bola pimpong yang memantul-mantul itu, penasaran akan masuk ke gelas yang mana. Bola itu pun akhirnya berhenti memantul dan masuk ke gelas yang tidak ada angkanya. Agung sedikit kecewa, ia memukul pelan jidatnya dengan telapak tangan. “Yah... enggak dapet.” Keluhnya. “Payah kamu, hehe...” Ejek Grace. “Oke, aku coba lagi. Kali ini pasti masuk!” Agung melempar satu lagi bola pimpong yang tersisa di genggaman tangan kirinya, ia mencoba peruntungannya. “Nomor empat lima, please, nomor empat lima please!” Agung lagi-lagi mengucapkan kata-kata itu dalam hatinya sebelum memulai lemparan. Bola di lempar dan memantul-mantul di antara gelas-gelas itu lagi, namun kali ini bola tersebut berhasil masuk ke gelas yang ada angkanya. Bola itu masuk ke gelas nomor dua. “Yeee... dapet nomer dua!” Grace tersenyum senang, ia bertepuk tangan ringan. “Kira-kira nomor dua dapet apa ya?” Ia lanjut bertanya-tanya, penasaran. Agung dan Grace melihat ke arah si penjaga stan permainan yang sedang beridiri di dekat tempat penyimpanan hadiah yang masih tertutup oleh tirai. Si penjaga kemudian tersenyum dan mulai mengambil hadiah untuk gelas nomor dua yang berhasil di dapatkan oleh Agung. Dari balik tirai itu, si penjaga stan mengeluarkan sebuah jam waker kecil, “Ini hadiahnya.” Kata si penjaga sembari memberikan jam tersebut kepada Agung. “Wah, hadiahnya jam waker, pas banget buat kamu yang bangunya telat terus. Hehe...” Ucap Grace yang beridiri di sebelah Agung. Wajah Agung merasa kurang senang dengan hadiah yang dia dapatkan, jam waker itu bukanlah hadiah incarannya. Sementara Grace justru sebaliknya, ia terlihat senang melihat Agung yang berhasil dapat hadiah. Si bapak penjaga itu sedikit lebih mendekat ke sebelah Agung, lalu membisikan sesuatu ke telinganya.  “Jangan lupa, liontinnya ada di nomor empat lima.” Bisiknya pelan. Grace memiringkan kepalanya, merasa bingung melihat mereka berdua. “Iya, pak. Aku tadi udah ngincer itu tapi malah masuk ke nomor dua.” Jawab Agung yang juga dengan suara pelan. Si bapak penjaga stan menepuk pundak Agung sebelum kembali ke tempatnya lagi, “Coba lagi!” Katanya. Agung kembali melihat ke arah gelas-gelas yang berjajar di atas papan persegi panjang yang lumayan luas itu lagi. Kira-kira seukuran dengan meja yang biasa di gunakan untuk tennis meja. Ia kembali berkonsentrasi untuk lemparan ketiganya. “Nomor empat lima, please, nomor empat lima please!” Lagi-lagi Agung berkata seperti itu lagi di dalam hatinya, ia benar-benar ingin mendapatkan hadiah kalung liontin yang ada di nomor empat puluh lima agar dapat menciptakan moment yang romantis malam ini. Bola ketiga sudah Agung lempar, memantu-mantul dan masuk ke dalam salah satu gelas yang ada angkanya lagi, kali ini bola masuk ke gelas bernomor lima. “Ih, dapet lagi, jago banget kamu.” Grace memuji Agung setelah melihat bola tersebut masuk ke gelas nomor lima. Lagi-lagi wajah Agung tampak tak senang meski bola yang ia lempar berhasil masuk ke dalam gelas yang ada angkanya. Itu bukan angka yang dia inginkan, sayang sekali. Si penjaga mengeluarkan hadiah dari dalam tirai itu lagi. Kali ini, Agung mendapat hadiah berupa sebuah action figure berbentuk salah satu karakter dari serial komik Attack On Titan yang bernama Mikasa. Meskipun action figure tersebut tampak detail dan benar-benar bentuknya benar-benar mirip dengan karakter Mikasa, tapi itu hanyalah action figure imitasi yang terbuat dari pelastik dengan ukuran yang tidak terlalu besar. “Dapet maenan Mikasa tuh, karakter di komik AOT, komik favoritnya Rangga.” Kata Grace, melihat ke arah action figure yang di sedang di pegangi Agung itu. Agung tidak begitu mengikuti dunia perkomikan. Dia sama sekali tidak tahu tentang anime dan manga, juga tak tahu banyak tentang komik-komik dan film amerika, padahal keduanya saat ini sedang sangat populer di kalangan remaja. Agung menatap bingung ke arah action figure Mikasa itu, ia pikir barang semacam itu tidaklah berguna. “Nih, nanti kasih aja buat Rangga.” Agung menyerahkan mainan berbentuk mikasa yang ia dapat kepada Grace. “Iya nih, kebetulan banget kamu berhasil dapetin ini, dia pasti suka.” Kata Grace dengan senyuman. Tak mau buang-buang waktu, Agung kembali memfokuskan perhatiannya kepada gelas-gelas yang ada di hadapannya, terutama di pada nomor empat puluh lima. Di tangannya tersisa dua buah bola pimpong lagi, yang berarti dia punya dua kali kesempatan melempar lagi untuk bisa mendapatkan liontin yang akan ia berikan pada Grace itu. Dan lagi, hatinya kembali mengatakan, “Nomor empat lima, please, nomor empat lima please!” Sebelum ia melemparkan bola ke empatnya. Setelah di lempar, bola itu gagal masuk ke dalam gelas yang ia harapkan, padahal ia sudah melemparnya ke arah nomor empat lima, tapi sayangnya bola keempatnya tersebut mengenai bagian tepi lubang gelas nomor empat lima, nyaris masuk. Bola itu melambung pendek dan memantul menjahui gelas incaranya. Setelah memantul dua kali, bola tersebut akhirnya masuk ke gelas yang tidak ada angkanya. Lagi-lagi Agung gagal memasukan bolannya ke gelas nomor empat puluh lima. Tersisa bola pimpong terkhir, Agung berkonsentrasi penuh, mengumpulkan segala rasa percaya diri, fokus dan berkonsentrasi. “Kali ini pasti bisa.” Ucapnya sebelum melempar bola terkhir. Bola tersebut akhirnya di lempar. Waktu seakan bergerak lambat di sekitar, saat bola itu memantul-mantul di atas gelas-gelas. Si penjaga stan pun ikut terlihat tegang menyaksikan bola terakhir Agung yang memantul kesana-kemari. Agung menggigit bibir bawahnya, penuh harap menata bola pimpong terakhirnya. Namun, sayang seribu sayang, bola itu justru malah masuk ke gelas yang tidak ada ankanya, zonk. Lagi-lagi Agung Gagal memasukan bola pimpongnya ke gelas nomor empat lima. Agung menundukan kepalanya, merasa kecewa kepada dirinya sendiri. “Enggak usah sampe murung gitu kali, kan udah dapet dua hadiah.” Grace menepuk pundak Agung setelah melihat Agung yang kecewa. “Itu bukan hadiah inceranku.” Agung tampak cemberut, menatap kearah Grace. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN