Kalung Liontin

1097 Kata
Sepertinya tak ada salahnya untuk mencoba saran dari Agung. Dengan menyogok Rangga, membawakanya sesuatu dari pasar malam, mungkin akan membuat Rangga bersedia membantunya untuk masuk ke dalam rumah saat dia pulang lebih larut nanti.  Grace sudah tahu apa makanan kesukaan Rangga jadi dia tak usah repot-repot untuk memikirkannya atau menanyakannya terlebih dahulu kepada Rangga. Grace melihat sekeliling, mencari penjual makanan kesukaan Rangga, yaitu roti brownies. Namun sepertinya ia tak menemukannya di sekitar situ. “Rangga sukanya roti brownies.” Kata Grace pada Agung. “Roti brownies?” Agung mengerenyitkan dahi, lalu melihat sekeliling. Setelah beberapa detik melihat ke segala penjuru, ia berkata “Kayaknya di sekitar sini enggak ada yang jual deh.” “Iya nih...” Grace yang juga masih mencari-cari di sekitar. Setelah mereka berdua menghabiskan arum manis masing-masing, Agung berkata “Kita jalan-jalan keliling dulu aja yuk, siapa tahu nemu.” Agung menggandeng tangan kanan Grace sembari tersenyum. “Iya, aku juga pengen liat-liat sekitar nih, mumpung lagi ada di sini, kita puas-puasin aja. Lagian pasar malem kayak gini cuman diadaiinya setaun sekali.” Ucap Grace. Mereka kemudian beranjak dari bangku panjang tersebut dan mulai melangkah, bermaksud untuk berkeliling seluruh arena pasar malam. Agung berjalan lebih cepat dari Grace, ia memegang erat tangan kanan Grace yang berjalan membelakanginya. Mereka berniat untuk pergi ke stan-stan aneka permainan sederhana untuk mendapatkan hadiah. Di pasar malam ini ada berbagai macam gerai dan stan yang menjual barang dan makanan, mulai dari aneka jajanan, makanan ringan, makanan tradisional ringan, buah-buahan, sepatu, cinderamata, pernak-pernik dan ornamen yang dijual dengan harga relatif murah. Disini juga ada baberapa penjual CD bajakan, yang menyalakan televisi dan dvd-nya untuk memamerkan kaset-kaset bajakan mereka. Bisa dibilang Grace dan Agung merasa sedang berada di sebuah festival. Suasananya makin malam meriah. Bahkan sepertinya pasar malam tahun ini lebih ramai dari biasanya, antusiasme warga di sini jauh lebih ramai dari biasanya, mungkin karena adanya wahana-wahana permainan baru seperti ombak banyu dan kora-karo. Tahun sebelumnya saat Grace berkunjung ke pasar malam bersama ayahnya dan Rangga, belum ada dua wahana tersebut dan pengunjung hanya di manjakan dengan bianglala, tong setan, dan rumah hantu saja serta stan-stan barang dan makanan saja serta pertunjukan tunggal seperti penari ular, pesulap, pantonim, badut juggling, dan lain-lain. Tapi kali ini berbeda, dengan dua wahana tambahan tersebut, ternyata mampum menarik lebih banyak pengunjug. Benar-benar seperti festival, sungguh ramai sekali. Agung mengajak Grace untuk bermain lempar bola pimpong di salah satu stan permainan. Cara memainkannya seperti ini, di hadapan Grace dan Agung terdapat puluhan gelas yang berjajar rapi di atas sebuah tempat khusus berbentuk persegi panjang yang terbuat dari papan kayu yang di beri pembatas di tiap bagian tepinya. Di gelas-gelas itu di tempeli kertas yang sudah di beri angka-angka secara acak. Nanti, peserta akan melempar pelan bola pimpong yang di sediakan ke arah jajaran gelas berangka yang ada di atas meja tersebut, dengan begitu bola pimpong yang di lemparkan di antara gelas-gelas tersebut akan masuk ke dalam salah satu diantaranya secara acak dan peserta akan mendapatkan hadiah tergantung gelas nomor berapa bola pimpong yang di lemparkan itu masuk. Sepertinya, semakin besar angka yang berhasil dimasuki bola, maka semakin menarik pula hadiah yang di dapat. Hadiah yang ada pada permainan itu tidak di perlihatkan terlebih dahulu, si penjaga stan sengaja menyembunyikannya di balik sebuah ruangan kecil di sebelah si penjaga, ruangan itu tertutup oleh tirai berwana merah, agar peserta penasaran dengan apa yang mereka dapat setelah melempar bola. Usai membayar uang beberapa rupiah, seorang yang berjaga di permainan itu memberikan sekitar sepuluh bola pimpong kepada Agung. Penjaga itu berbada gendut, berkumis tebal. Sepertinya dia orang yang baik hati. “Terimakasih pak,” Kata Agung pada si penjaga. Si penjaga itu bergeser sedikit, mendekat ke samping Agung. “Lagi sama pacarnya, ya dek?” Tanya si penjaga stan. “Iya pak, hehe...” Jawab Agung malu-malu. “Bapak saranin, kamu dapetin nomor empat puluh lima.” Kata si penjaga sambil sedikit berbisik. “Emang kenapa pak?” Tanya Agung. Si penjaga stan permainan lempar bola lantas bergeser lagi, mendekat ke ruang hadiah yang ada di dekat situ. Ia membuka sedikit tirainya menunjukan hadiah-hadiah yang ada di dalam situ. Ternyata, setelah dilihat, stan ini memang berbeda dengan stan permainan lempar bola pimpong yang lain, kalau biasanya di stan lain punya pola semakin besar angka yang di dapat akan semakin menarik pula hadiah yang di dapat, maka stan ini tak menerapkan pola yang demikian.  Di stan ini ternyata sistemnya benar-benar acak, peserta benar-benar tak tahu hadiah seperti apa yang akan mereka dapat, tanpa mempertimbangkan angka yang di masuki bola yang mereka lempar. Bisa saja meskipun bola pimpong yang di lempar masuk ke dalam gelas yang angkanya besar hadiahnya akan mengecewakan karena polanya yang acak. Namun, entah kenapa si bapak penjaga stan permainan sedikit menunjukan isi dari ruang hadiah, mungin karena Agung datang bersama pacarnya, jadi diberi sedikit perlakuan spesial. “Liat, keren kan dek. Nomor empat puluh lima.” Si bapak menunjukan hadiah nomor 45, yang ternyata itu adalah dua buah kalung liontin berbentuk hati yang berwarna perak, sepertinya itu adalah perak asli. Agung menatap ke arah kalung liontin itu dengan seksama, tanpa memperdulikan hadiah yang lain, yang sebenarnya juga tak jauh lebih menarik dari kalung liontin itu, seperti boneka beruang, jam dinding, magic jar, mainan mobil tamia, dan yang lainnya. Agung kemudian mengalihan pandangnya ke arah Grace yang masih berdiri di depan puluhan gelas-gelas berangka itu, menunggu Agung. Kalo dilihat-lihat, menurut Agung, kalung liontin itu pasti akan terlihat sangat cocok saat melingkar di leher Grace nanti jika memang ia berhasil mendapatkannya. “Makasih, pak. Nanti saya coba incer kalung itu.” Kata Agung, percaya diri. “Pasti bakalan keliatan cocok itu kalung kalo di pake dia.” Lanjutnya. “Iya, dia cantik.” Kata si bapak penjaga sembari tersenyum. “Iya, cantik banget.” Pungkas Agung. Agung kemudian melangkah ke arah Grace, sembari menatap ke gelas nomor empat puluh lima yang letaknya berada di ujung kanan atas papan yang lumayan luas itu. Kalau dilihat-lihat sepertinya akan sulit untuk bisa memasukan bola pimpong itu ke dalam gelas nomor empat puluh lima. “Udah dapet bolanya?” Tanya Grace saat Rangga tiba di dekatnya. Agung tersenyum lalu menjawab, “Udah...” Agung memberikan lima buah bola pimpong kepada Grace, dan lima sisanya untuk dirinya sendiri. “Aku duluan apa kamu duluan nih yang mulai?” Grace bertanya, ia siap melempar bola. “Aku aja dulu ya.” Jawab Agung dengan cepat, ia ingin mengincar gelas nomor empat puluh lima, jangan sampai Grace yang justru memasukan bolanya ke dalam gelas itu dan surprise nya gagal. Agung berkonsentrasi penuh, bersiap untuk melempar. Bersambung... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN