Rasa Tak Enak Hati

1173 Kata
Seorang petugas yang mengatur bianglala terlihat sibuk mengendalikan mesin diesel dengan dua buah tuas. Salah satu tuas berfungsi untuk menambah kecepatan dan yang satunya lagi untuk menghentikan lajunya, biang lala itu memutar searah jarum jam dan sudah di penuhi pengunjug yang sedang mengantri menunggu giliran untuk menaiki wahana yang tak pernah lekang oleh jaman itu. Petugas yang berjaga di depan bianglala terlihat sibuk menari karcis, lalu mempersilahkan penumpang untuk masuk ke dalam kurungan. Satu per satu penumpang berjalan masuk ke sangkar bianglala, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa semua antusias menaiki wahana yang menyenangkan itu. Dengan memanfaatkan lapangan sepak bola kecil-kecilan yang ada di perkotaan, kelompok panitia pasar malam mencoba menarik antusiasme warga kota yang saat ini mulai berdatangan mengunjungi pasar malam itu. Lapangan kecil ini memang biasanya di pakai sebagai area bermain untuk anak-anak, atau tempat bersantai juga selain taman kota. Kadang, lapangan ini juga di gunakan sebagai tempat parkir sementara untuk kendaraan truk yang melintasi jalur utama. Namun, sejak sekitar beberapa hari yang lalu, untuk sementara waktu, lapangan ini dipakai untuk menggelar pasar malam. Grace mematikan sambungan video call-nya dengan Rangga, dia melamun sejenak memikirkan ibunya. Hatinya menjadi sedikit cemas kareana apa yang dia lakukan malam ini adalah hasil dari ia yang berbohong kepada ibunya.  Ada sesuatu yang berat, yang menggantung di hati Grace. Sebelumnya,dia tak pernah berbohong kepada ibunya sampai seperti, itu bukan berarti dia tak pernah berbohong, akan tetapi biasanya Grace hanya berbohong hanya sekedar untuk bercanda saja, tidak dengan hal seperti ini. Grace kemudian menengok kembali ke arah kursi panjang tempat dan Agung duduk tadi. Ketika Grace menatap ke arah situ, Agung sudah tak ada di bangku panjang itu lagi, dengan cepat langkah kaki Grace bergerak ke arah situ. Dia duduk di bangku itu, sembari mengarahkan padangannya ke sekeliling.  “Agung kemana, sih?” Grace tolah-toleh ke kanan dan kiri. “Tadi pas aku nengok masih di sini.” Gumamnya lagi. Setelah beberapa detik, akhirnya ia berhasil menemukan Agung yang ternyata sedang membeli arum manis di dekat situ.Grace pun tersenyum tenang setelah mengetahui dimana Agung berada, lega. Agung tampak berdiri menunggu si penjual arum manis yang terlihat menyiapkan arum manis pesanannya. Si penjual itu tampak sibuk dengan kegiatanya, dia menaruh sebuah batang bambu kecil di tenga-tengah mesin yang sedang berputar kencang. Kemudian gumpalan gula manis yang berbentuk seperti gumpalan rambut bermunjulan dari tepian lingkaran mesin yang berbentuk bulat seperti cetakan kue bolu berukuran besar. Segera setelah gumpalan gula berbentuk rambut berwarna merah muda itu menempel di batang bambu yang di peganginya, si penjual langsung memutar-mutar bambu itu dengan cepat, hingga membentuk gumpalan arum manis seperti yang biasa dilihat di pinggir jalan. Grace menunggu dengan sabar kedatangan Agung yang masih berdiri di depan penjual arum manis. Rancanannya, ia akan mengajak Agung pulang saat Agung kembali ke bangku panjang nanti. Ia benar-benar ingin pulang, ia tak bisa lebih lama lagi bersenang-senang di balik sebuah kebohongan yang ia buat, ia tak bisa melawan nuraninya.  Menatap ke arah Agung yang sedang menuju ke arahnya, Grace tampak mengiigit bibirnya, wajahnya tampak bingung, menyiapkan kata-kata untuk mengajak pacarnya itu pulang meskipun Grace tahu Agung akan menyetujui permintaannya dengan mudah.  Tapi disisi lain, Grace juga berharap bisa lebih lama menikmati momen mereka berdua di pasar malam ini, ia ingin menjelajahi pasar malam, mencoba aneka permainan, menonton banyak pertunjukan,membeli makanan-makanan di stan-stan, atau sekedar jalan-jalan berdua di area pasar malam sembari mengobrol santai dengan Agung, menikmati suasana sekitar dan hal lain lainnya yang sekiranya bisa mereka lakukan bersama di pasar malam ini. Intinya, Grace ingin lebih lama bersama dengan Agung malam ini. “Nih, aku beliin arum manis buat kamu.” Agung yang sudah duduk di sebelah Grace memberikan salah satu arum manis yang ia bawa. “Makasih.” Grace tersenyum, menerima arum manis dari Agung. Semakin malam suasana di pasar malam makin ramai, lebih ramai ketimbang beberapa belas menit yang lalu saat Grace dan Agung baru tiba di sini. Wahana-wahana permainan di sekitar pun mulai banyak orang yang antusias untuk memainkannya. “Sebenernya aku tadi mau beliin es krim sih, karena kamu sukanya itu. Tapi, malem ini dingin banget, mending enggak usah deh ya, takunya kamu nanti malah sakit.” Ucap agung pada Grace. “hehe... enggak papa kok, lagian aku di rumah tadi udah makan es krim, kalo kamu beliin es krim lagi nanti aku bosen pasti.” Jawab Grace. “Bagus deh kalau kamu suka.” Kata Agung lagi. Setelah menggigit arum manisnya beberapa kali, Grace berbicara, “Abis makan arum manis ini, kita langsung pulang aja, yuk!” Agung terlihat bingung, ia memiringkan kepalanya sembari mengerenyitkan dahi. Padahal kan saat keluar dari restoran tadi Grace sempat bilang ingin berlama-lama di pasar malam bersamanya. “Loh, kenapa?” Agung memakan arum manisnya, “Bukannya kamu tadi kamu ngajakin di sini lama-lama ya?” Tanya Agung. Grace melihat ke arah Agung dengan tak enak hati.  “Iya sih, tapi aku pengen pulang, takut ketahuan ibuku.” Katanya. Ia makin tak enak hati setelah mengatakan itu. Dengan Grace berkata seperti itu, ia merasa akan membuat Agung merasa bersalah karena membuatnya berbohong dan pergi dari rumah. Agung merasa sedikit kecewa pada Grace setelah mendengar pernyataan itu. Seperti yang ada di pikiran Grace, ia juga ingin lebih lama lagi menghabiskan waktu berdua bersama sang pacar, ia tak ingin saat-saat seperti ini cepat berlalu, karena akhir-akhir ini mereka kesulitan untuk mendapatkan kesempatan semacam ini lagi, keduanya sadar akan hal itu. “Aku minta maaf sebelum bilang ini...” Agung berhenti sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. “Aku pengennya kita ngabisin waktu berdua kayak gini lebih lama lagi. Kamu tahu kan kita udah lama enggak kayak gini.” “Aku juga maunnya gitu, tapi aku ngerasa enggak enak hati sama ibu, karena boong.” Agung terdiam, kemudian meletakan arum manis yang ia pegang di sampingnya. “Yaudah, kamu sekarang telepon ibu kamu aja, terus bilang kalau kamu lagi sama aku di pasar malem.” Agung menyarankan. “Kalau aku bilang, yang ada ibu pasti nanti bakal lebih kecewa lagi karena aku bohong ke dia, dia pasti bakal panik enggak karuan karena aku boong begini.” Grace menggaruk-garuk ringan bangku yang ia duduki. “Kalau aku pulang, jam segini lewat pintu samping, dan bilang dari rumahnya Rangga, pasti bakal percaya-percaya aja. Tapi kalau terlalu larut, pasti bakal susah bikin alesan.” “...” Agung terdiam. “Kalau pulang malem pasti bakal susah masuk rumahnya.” Kata Grace lagi. “Emang kamu tadi pas kabur lewat mana?” Agung bertanya. “Lewat pintu dapur rumah Rangga. Kalau terlalu larut pasti rumah Rangga nanti udah di kunci semua pintu-pintunya, termasuk pintu belakang.” Jawab Grace. “Kenapa enggak minta bantuan Rangga aja buat bantuin kamu masuk.” Agung memberikan ide. “Yaelah, dia mah jam sembilan nanti pasti udah molor.” Kata Grace meremehkan Rangga. “Ya suruh dia untuk tidur agak malem lah, nanti kita bawain apa gitu pas pulang, martabak kek, apa kek yang dia suka.” Grace terbengong-bengong setelah mendengar perkataan Agung. “Iya juga ya... Dia kan gampang di sogok.” Grace tersenyum lebar setelah mengatakan itu. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN