Menemukan Ide

1286 Kata
Grace duduk di atas tempat tidurnya lagi, menghadap ke cermin yang menempel pada lemari yang ada di hadapannya, melihat pantulan dirinya sendiri yang sedang kesal karena usahanya untuk pergi keluar dari rumah gagal. Tadi itu kurang sedikit lagi, sayangnya tiba-tiba saja ibu sadar kalau Grace sudah sampai di pintu dapur. Untung saja beliau tidak tak tahu tentang rencana Grace yang akan pergi ke sekolah untuk kencan dengan Agung, dia justru percaya dengan alasan Grace yang ingin pergi ke supermarket untuk membeli cemilan. Kalau saja sang ibu tadi tahu tujuan Grace yang sebenarnya, pasti ibunya sudah marah. Sembari menatap ke arah poster bergambar grup band Ungu yang menempel di dinding kamar, Grace memikirkan suatu cara untuk keluar dari rumah lagi, ia tidak ingin menyerah begitu saja. Agung pasti sudah menunggunya di sana, ia tak ingin buang-buang waktu terlalu lama. Ia lalu segera beranjak lagi dari tempat tidurnya, lanjut membuka pintu dan turun ke bawah. Dari ujung anak tangga yang paling bawah, Grace lagi-lagi mengamati situasi di ruang tamu. Ibunya masih menonton televisi, kali ini acaranya sudah berganti menjadi tayangan FTV drama romantis. Sambil memangku sekotak tisu, ibunya Grace mengusap-usap matanya yang sedikit berair akibat terlalu menghayati apa yang ia saksikan. Ia terharu, seakan benar-benar merasakan apa yang di rasakan oleh pemeran utama dalam drama. Dalam adegan yang sedang ibunya Grace saksikan di layar kaca, si karakter utama wanita dalam drama itu sedang di tinggalkan oleh suaminya dengan semena-mena. Sungguh drama yang penuh haru hingga mampu membawa perasaan penontonnya. Beberapa saat kemudian, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu samping yang ada di dapur. Grace segera berlari ke atas lagi ketika ibunya mulai beranjak dari bangku sofa untuk membuka pintu samping. Grace mengintip dari sela-sela tangga di bagian atas, masih mengawasi pergerakan ibunya. Orang yang mengetuk pintu tersebut ternyata Doni, anak tetangga depan rumah yang tadi di suruh oleh ibunya Grace untuk membeli cemilan di supermarket. “Makasih ya, Don, udah bantuin tante beliin cemilan buat kak Grace.” Ibunya Grace sambil mengelus kepala Doni setelah mengambil bungkusan kantong pelastik yang di bawa oleh Doni. “Sama-sama tante.” Jawab Doni sambil tersenyum ramah. Ibunya Grace mengambil beberapa coklat dan jajanan lainnya dari dalam kantung plastik yang ia bawa. “Nih, Don, buat kamu.” “Makasih tante.” Doni menerimanya dengan senang hati. Anak itu tersenyum ramah, sedikit malu-malu. Ketika Doni hendak pergi meninggalkan kediaman keluarga Grace, Ibunya Grace menghentikannya untuk sejenak. “Eh, Don, tunggu sebentar...” Ibunya Grace merogoh saku celananya untuk mengambil sesuatu dari dalam situ, “Nih, Don, buat jajan.” Kata Ibunya Grace sembari mengulurkan sejumlah uang kepada Doni. “Wah, makasih ya tante!” Doni sumeringah mendapat bonus tambahan, kemudian bocah itu berlalu begitu saja. Ibunya Grace tersenyum seiring Doni yang menjauh pergi. Ibunya Grace menutup pintu, kemudian kembali duduk di sofa. Menyaksikan tayangan FTV kesayangannya lagi. Grace yang tadi mengawasi dari celah-celah pegangan tangga bagian atas hanya bisa tersenyum bangga melihat perlakuan baik yang di lakukan ibunya terhadap Doni anak tetangga depan rumah. Dia senang punya ibu yang baik hati. Di sofa, ibunya Grace membuka bungkusan plastik berwarna putih yang berisi cemilan itu. Ia lalu memanggil Grace karena cemilan pesanannya ada di dalam kantong plastik tersebut. “Grace... nak, es krim pesenan kamu udah dateng nih.” Ibunya Grace setengah berteriak, “Buruan turun, nanti keburu cair lho!” Terdengar suara langkah kaki yang menuruni tangga, Grace menghampiri ibunya dengan langkah kaki yang cepat. “Ibu beli apa aja, kok bisa sampe sebanyak itu? Aku kan cuman pesen es krim, roti coklat sama keripik kentang.” Tanya Grace sembari berjalan ke arah sofa. Ia kemudian duduk di sebelah ibunya dan ikut memeriksa isi dari kantong plastik yang di luar dugaannya itu. Ibu sudah tahu betul es krim favorit Grace. Tanpa di beri perintah, dia sudah membeli es krim cup rasa coklat dan rasa vanila. Grace segera mengambil kedua cup es krim favoritnya itu, lalu mengambil keripik kentang rasa kaldu. Kemudian meletakan cemilan-cemilan pilihannya itu di sebelah kiri tempat dia duduk. Grace lanjut mengamati macam-macam cemilan yang ada di dalam plastik tersebut. “Ibu beli cemilan segini banyak...” Gumam Grace. “Hehe... kayaknya lebih enak kalau nonton FTV sambil makan cemilan.” Kata Ibunya sambil membuka sebungkus roti. “Katanya mau diet?” Tanya Grace. Ya, ibunya Grace sempat mendeklarasikan diri kalau dia akan menjalani program diet yang ia dapat dari Youtube selama satu bulan, dan sepertinya dia gagal diet. “Ah, enggak papa lah, ibu masih kurus kok.” Ibunya Grace memegangi perutnya. “Nanti kalo ibu melar, baju-bajunnya ibu yang enggak muat buat aku aja ya!” “...” Ibunya Grace hanya terdiam. Grace lantas beranjak dari sofa sambil membawa cemilan-cemilan pilihannya, ia hendak naik ke kamarnya lagi. Berjalan menuju ke arah tangga, ia menyempatkan diri untuk menganalisa keadaan sekitar sembari memikirkan cara untuk keluar rumah tanpa di ketahui oleh ibunya. Sayangnya, ia tak menemukan celah. Selama ibunya masih duduk-duduk di sofa ruang keluarga, ia tak akan bisa kemana-mana, karena sofa adalah tempat paling strategis di ruangan itu. Suara berderit dari anak tangga yang di injak oleh kakinya Grace mengiringi proses berfikir otak Grace, sembari menaiki tangga, ia mencari cara untuk keluar dari rumah. “Ibu?” Grace menghentikan langkahnya, ia berhenti di tengah anak tangga. “Apa?” Tanya ibunya Grace sambil menatap layar televisi. “Aku boleh kelu...” “Enggak boleh!” Belum sempat Grece selesai dengan kalimatnya, Ibunya sudah memotong. “Cuman sebentar kok.” Grace memohon walaupun tahu itu akan sia-sia. “Enggak boleh ya enggak boleh. Tunggu sampe masa skorsing kamu selesai.” Ibunya mempertegas. “Kamu boleh keluar rumah cuman kerumah Rangga aja, selain itu enggak boleh.” Lanjutnya. Grace memasang wajah datar. “Kerumah Rangga mah sama aja bo’ong, buk.” “Pokoknya aturannnya gitu. Titik, siapa suruh bandel di sekolah.” Grace melanjutkan langkahnya, ia berpasrah hati. “Ibu pelit!” Kata Grace dengan kecewa. Sampai di kamar, Grace memutar lagu pop-punk dari sound system bluetooth yang sudah ia hubungkan dengan handphone-nya. Volume suara dari sound system itu di buat lumayan keras, supaya memenuhi ruangan kamarnya, hatinya lumayan kesal. Mungkin suara lagu yang di putar Grace bisa terdengar dari ruang keluarga, atau bahkan mungkin bisa di dengar oleh ibunya Rangga yang ada di rumah sebelah. Grace menikmati es krim vanila sambil memakan keripik kentangnya. Sesekali kepalanya sedikit mengangguk-angguk menikmati alunan lagu. Ketika cewek tomboy itu memakan es krimya dengan keadaan setengah melamun, ia mengamati dalam-dalam sendok es krim kecil yang terbuat dari kayu, yang ia pakai untu memakan es krim cup-nya. Tangan kanannya memegang erat sendok kayu tersebut sambil matanya menatap sendok itu dalam-dalam. Lalu Grace mengarahkan padangannya ke luar jendela yang ada di sebelah kanan. Pandanganya langsung tertuju pada jendela kamar Rangga yang ada di seberang sana. Grace berjalan menuju ke jendela kamarnya sambil memegangi es krim cup-nya. Berdiri di dekat jendela kamarnya, Grace membuka jendela tersebut dan menatap jendela kamar Rangga dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, memperhatikan sendok es krim kayunya lagi. Grace tersenyum setelahnya. Sepertinya, di dalam kepalanya baru saja muncul sebuah ide untuk keluar dari rumah. Tangan kananya merogoh saku celana jins-nya untuk mengambil handphone. Beberapa detik menyentuh layar handphone, Grace kemudian menelpon Rangga. “Halo, ada apa Grace?” Tanya Rangga dari sambungan telepon. Ia cepat mengangkatnya, karena ini sudah jam istirahat. “Kamar lo terkunci apa enggak pintunya?” Grace bertanya dengan cepat. “Enggak, emang kenapa?” “Oke sip!” Kata Grace singkat dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Grace senyum-senyum sendri sambil menatap jendela kamar Rangga yang berhadapan dengan jendela kamarnya. Entah apa yang di rencanakan Grace, yang jelas setelah menatap sendok kayu yang di gunakan untuk memakan es krimnya, Grace jadi dapat ide untuk menyusun rencana keluar dari rumah. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN