Usaha Untuk Keluar Dari Rumah

1248 Kata
Ibunya Grace masih sibuk menonton televisi di ruang keluarga, ia menyaksikan dengan seksama acara gosip yang sedang memberitakan kabar tentang seorang aktris cantik yang mengajak rujuk mantan suaminya. Tampak di layar kaca, cameraman menyorot jelas wajah si aktris yang sedang menangis pilu tersebut, sembari mengucapkan permohonan rujuk di depan media. “Nah... nyesel kan sekarang, dulu sok-sok an minta cerai cuman gara-gara transferan kurang, sekarang giliran mantan suaminya udah kaya aja langsung ngajak balikan...” Ibunya Grace bergumam sambil menonton, seakan sedang bicara kepada sang aktris itu secara langsung. “Makanya, jadi orang jangan sok kecantikan, baru jadi artis FTV aja gayanya udah selangit, huh!” Lanjut ibunya Grace, berkomunikasi dengan layar. Sementara itu, beberapa meter di belakang sofa tempat dimana ibunya Grace duduk, Grace masih menelpon Agung, sambil mengamati kedaan sekitar dari tangga. “Kayaknya aku bisa keluar rumah secara diem-diem deh.” Kata Grace pada Agung setelah mengamati ruang keluarga. “Hah?” Di seberang sana Agung sepertinya heran, sedikit tak percaya kalau Grace akan menyelinap keluar dari rumahnya sendiri. “Kamu mau diem-diem keluar rumah, gitu?” “Iya, biar kita bisa ketemu.” Grace tersenyum. “Lagian udah lama kamu enggak ngajak aku jalan, aku sampai kangen momen-momen itu.” Ucapnya lagi. “Iya sih... tapi kalau kamu emang enggak di ijinin keluar rumah sama ibu kamu ya, aku kesana aja, kita di rumah kamu aja enggak papa kok, enggak usah jalan-jalan keluar.” Grace menghela nafas, ia membayangkan kalau seandainya Agung datang ke rumahnya dan mereka kencan di rumah, pasti itu akan sangat membosankan. Di tambah, ibunya pasti akan memasak banyak makanan dan sedikit berlebihan dalam meladeni tamunya kalau Grace bilang Agung akan datang ke rumah. Apalagi, Agung adalah salah satu orang yang sering ibunya Grace harapkan datang ke rumah, akhir-akhir ini beliau sering bertanya pada Grace, “SI Agung pacar kamu itu kemana ya? Kok jarang maen ke rumah lagi, padahal ibu mau masakin sesuatu.” Biasanya kalau sang ibu bertanya seperti itu, Grace akan bilang kalau Agung sedang sibuk, mengikuti kegiatan sekolah yang harus di ikuti anak kelas 12. Memang sih, kalau misal nanti Agung datang ke rumah Grace semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada masalah, Grace juga bisa melepas rindu pada Agung dalam waktu yang cukup lama, namun bagi Grace yang sudah amat sangat bosan di rumah itu adalah sebuah masalah. Dia ingin keluar rumah, ia ingin bebas dari hukuman yang sudah dijalaninya selama dua minggu ini, dan ini adalah momen yang tepat untuk itu. “Ih... kamu mah enggak tahu rasanya di kurung di rumah dua minggun lebih, bosen tahu, liat ruangan yang itu-itu aja, ketemu orang yang itu-itu aja...” Kaluh Grace pada Agung. Grace kemudian melangkah menuju ke atas lagi, ke kamarnya sambil lanjut mengobrol dengan Agung lewat sambungan telepon. “Kita udah lama enggak kencan karena kamu sibuk terus, dan sekarang kamu punya waktu luang dan tiba-tiba ngajakin aku jalan, itu bikin aku seneng banget, tau.” “Yaudah deh kalau kamu maunya gitu, aku nurut.” Agung menjawab, pasrah. “Oke kalau gitu, tungguin aku di parkiran sekolah.” Kata Grace sembari memikirkan rencana. “Siap,” Kata agung di seberang sana. “Semoga kamu enggak ketahuan ibu kamu deh, hehe...” Kata Agung. “Beres!” Grace kemudian mematikan sambungan teleponnya. Grace masuk ke dalam kamarnya lagi, menutup dan mengunci pintu dengan sigap. Memegangi dagu dengan wajah serius, Grace mulai memikir kan cara bagaimana ia bisa keluar rumah tanpa sepengetahuan dari ibunya. Satu-satunya cara untuk keluar dari rumah ini adalah lewat pintu samping, dan pintu depan. Untuk bisa sampai di ke dua pintu itu, ia harus lewat ruang keluarga, tempat dimana ibunya menonton televisi. Berati, yang harus dia pikirkan adalah bagaimana caranya supaya dia bisa melewati ruang tengah tanpa sepengetahuan dari ibunya. “Hemm... berati, harus mikir gimana caranya bisa lewat ruang keluarga tanpa sepengetahuan ibu. Atau nunggu ibu pindah dari situ.” Pikirnya. Grace berjalan mondar-mandi di dalam kamarnya, di dekat lemari baju. “Kalau nungguin ibu pindah dari situ, pasti bakalan lama banget, dia kan betah banget nonton acara gosip, pasti bisa berjam-jam.” Grace bicara pada dirinya sendiri. Ia kemudian melihat k arah jam dinding, detiknya masih terus berjalan. Waktu terus berlalu. Grace sempat berfikir untuk menunggu ibunya pindah dari ruang keluarga, ia tak mau repot-repot berusaha menyelinap keluar rumah, namun ia berubah pikiran “Mana udah jam segini lagi, kalo nungguin ibu pasti Agung kelamaan nunggu, dia pasti keburu pulang. Mau enggak mau emang harus menyelinap keluar diem-diem sih.” Pungkasnya, kemudian mulai bertindak. Grace kemudian mengganti bajunya dengan yang baju yang lebih bagus namun tetap dengan gaya tomboy-nya. Grace menggunakan kemeja kotak-kotak dan celana jins, lengkap dengan sepasang sepatu sneakers di kaki Lalu, menyemprotkan wangi-wangian ke seluruh tubuhnya, dan membrikan sedikit bedak di wajah. Ia tak pandai merias wajah seperti kebanyakan anak-anak perempuan di kelasnya, jadi dia hanya bisa merias wajah ala kadarnya. Itu tidak masalah, karena wajah Grace yang terlihat seperti gadis cina setengah jawa sudah terlihat cantik, tak perlu memakai make up yang berlebihan pun sudah mampu membuat cowok-cowok terpesona. Selesai dengan urursan merias diri, Grace keluar dari kamar dan menuruni tangga. Ketika sampai di ujung anak tangga, ia berjalan mindik-mindik, melangkahkan kakinya dengan penuh kehati-hatian. Berusaha agar tidak menimbukan suara yang bisa di dengar oleh ibunya yang masih asik menonton televisi di ruang keluarga. Ia menuju ke arah dapur, berharap sampai di pintu samping. Grace berfikir untuk mencoba lewat pintu samping dulu, karena itu yang jaraknya paling dekat dari tangga kamarnya. Perlahan-lahan tapi pasti, ia melangkah dengan amat pelan. Saat melangkah, ia mengangkat kakinya lebih tinggi dan menurunkan kakinya dengan sangat perlahan. Sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara ketika kakinya menyentuh lantai. Sesekali Grace berhenti, melihat ke arah belakang, untuk mengawasi pergerakan ibunya yang tetap fokus menonton televisi. Setelah di rasa aman, ia lanjut melangkah diam-diam. Akhirnya, ia berhasi mencapai pintu samping. Dengan perasaan setengah lega, ia dengan amat sangat hati-hati, menekan gagang pintunnya dengan sangat hati-hati. Namun... “Mau kemana kamu?” Ibunya Grace tiba-tiba sudah ada di belakangnya, ia berkacak pinggang sambil menatap lurus ke arah Grace yang hendak membuka pintu samping. Grace yang terkejut lantas menengok ke belakang secara perlahan. “Eh, ibu...” Grace meringis, malu-malu. “Mau kemana kamu?” Tanya ibunya lagi. “Anu... eng... aku mau ke supermarket, mau beli cemilan.” Grace berbohong, ini pertama kalinya dia berbohong kepada ibunya dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Padahal, saat menerima hukuman skorsing saja dia berani berkata jujur akan hal itu. Hanya karena ingin pergi kencan dengan pacarnya, Grace berbohong kepada ibunya. “Mau beli cemilan apa? Biar ibu beliin.” Kata ibunya yang percaya sepenuhnya pada perkataan Grace. “Bagus, dengan begini kan ibu nanti keluar rumah, padahal rencananya enggak gini, tapi syukurlah kalo ibu keluar rumah, bisa leluasa pergi diem-diem, hehe...” Ucap Grace dalam hati. Sepertinya semua berjalan di luar rencananya, dan justru itu bagus untuknya. “Es krim, roti isi cokelat, sama keripik kentang rasa kaldu.” Grace menyebutkan cemilan favoritnya. “Oke, bentar ibu telepon Doni dulu, ibu mau nyuruh dia beliin cemilan ke supermarket!” Jawab ibunya sambil mengeluarkan handphone dari saku celananya. Grace memasang wajahh cemberut, karena ternyata dugaannya salah. Ibunya ternyata tidak akan berangkat ke supermarket untuk membelikannya cemilan, melainkan dia malah menyuruh Doni, anak tetangga depan rumah untuk membelikan Grace cemilan. Dengan begitu, Grace tidak perlu keluar rumah dan dia juga bisa tetap di dia juga tetap bisa mengawasi Grace. Dengan penuh rasa kecewa, Grace kembali naik ke kamarnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN