Skorsing, atau suspensasi adalah sebuah hukuman yang di berikan oleh sekolah kepada siswa yang melakukan pelanggaran berat, yang mana si pelanggar aturan tak di perbolehkan untuk mengikuti pembelajaran di sekolah, atau pemberhentian sementara seorang siswa dari segala kegiatannya di sekolah.
Siswa yang di kenai hukuman skorsing diharuskan untuk belajar di rumah sampai batas waktu yang di tentukan oleh pihak sekolah.
Sialnya, saat ini pihak sekolah telah memberikan hukuman skorsing kepada Grace selama tiga puluh hari karena ia memukuli seorang siswa berulang kali di kantin. Saat mengingat kejadian itu, entah kenapa Grace sama sekali tidak merasa menyesal. Dia merasa telah mengambil tindakan yang tepat. Menurutnya, Andre memang pantas untuk menerima pukulan darinya karena sudah memukul Darmin sampai pingsan hanya karena Darmin menyatakan cinta pada Erlita, padahal kan Darmin juga tidak tahu kalau Erlita sudah punya pacar. Seharusnya, Andre bisa membicarakan hal itu secara baik-baik dan tak harus mendaratkan pukulan ke arah Darmin secara tiba-tiba.
Setelah Grace pikir-pikir lagi, Andre memang pantas di pukul.
Di dalam kamarnya sendiri yang berada di lantai dua rumahnya, Grace duduk di atas tempat tidur sembari memetik gitar, mengalunkan nada-nada merdu. Sudah dua minggu lamanya ia menjalani hukuman skorsing dari sekolah, itu artinya masih tersisa dua minggu lagi sampai masa hukumannya berakhir.
Kamar Grace terlihat sederhana namun tak menghilangkan kesan elegan. Di bagian atas dinding-dindignnya tertempel gambar-gambar poster grup band favorit-nya. Sebuah kipas angin yang menyala tergantung di langit-langitnya.
Barang-barang yang ada di ruang kamar prbadi Grace cukup beragam, diantaranya adalah, gitar listrik beserta sound system-nya, gitar akustik, rak buku, meja belajar, laptop dan alat-alat make up. Semuanya tertata cukup rapi meskipun ada beberapa baju kemeja dan kaos yang di biarkan berada di lantai.
Di sbelah kanan ruangan, tepat di samping kasur, ada sebuah jendela yang langusng mengarah ke jendela kamar Rangga, mereka berdua biasanya akan saling mengobrol lewat jendela kamar masing-masing
Sesekali dia mencoret-coret di atas buku catatannya, merangkai kunci-kunci gitar yang cocok untuk lagu karangannya. Sebelumnya, Grace sempat bingung menentukan nada untuk bagian penutup dari lagu tersebut, namun karena sering melamun sendiri di kamar, ia jadi mendapatkan inspirasi dan menemukan kekurangan dari lagu yang sedang ia buat. Akhirnya, ia berhasil menemukan nada yang tepat untuk bagian penutup dari lagu tersebut.
Akibat di larang oleh ibunya untuk keluar rumah selama sebulan, Grace jadi sering sendirian di dalam kamar. Dalam seminggu belakangan ini, di saat jam sekolah, dia menghabiskan waktunya untuk bermain gitar, melamun, membuat coretan-coretan di kertas atau memainkan konsol PS4 milik Rangga di ruang keluarga. Padahal biasanya dia menghabiskan waktu pagi sampai sorenya di sekolah bersama teman-teman. Hatinya terasa hampa saat harus melewati hari-hari sendirian.
Tapi saat malam tiba, rasa kesepian itu menghilang karena Rangga yang datang berkunjung ke rumahnya seperti biasa. Rangga kadang meminjami catatan materi mata pelajaran yang dia dapatkan di hari itu juga, meskipun kadang catatan yang di buat Rangga kurang lengkap, Grace bisa mencari kekurangannya dari teman-teman lain lewat grup WhatsApps kelas 11-A.
Di disaat-saat seperti itu, di kala Rangga datang berkunjung setelah ia merasa kesepian sepanjang hari, Grace merasa sangat amat beruntung. Terkadang, hidup memang bukan tentang apa yang kita miliki, namun juga tentang siapa yang kita miliki. Grace merasa beruntung memiliki seorang sahabat yang super baik, dia beruntung karena Rangga hadir dalam hidupnya.
Jam menunjukan pukul 13.30.
Grace terus mencoret-coret di atas buku tulisnya sembari menyalakan lagu dari band simple plan dari handphone-nya, namun ia tak kunjung menemukan kata-kata yang tepat untuk di jadikan lirik bagian akhir dari lagunya. Otaknya tak cukup mampu untuk merangkai kata-kata yang bagus dan menarik. Ia berulang kali menulis, menghapus, menulis ulang. Tanpa sadar waktu sudah menglir selama berjam-jam. Bagi Grace, menulis lirik bukanlah hal yang mudah.
Lelah dengan kegiatan menulisnya, Grace menyenderkan gitar akustik merk Yamaha berwarna putih kesayangannya di sebelah kasur, kemudian dia tiduran menghadap langit-langit sembari bernyanyi beriringan dengan lagu berjudul Welcome to my life yang sedang di putar di handphone-nya.
To feel hurt, to feel lost
To be left out in the dark
To be kicked when you’re down
To feel like you’ve been pushed around
To be on the edge of breaking down
And no one there to save you
No you don’t know what it’s like
Welcome to my life...
Grace bernyanyi sambil memandang datar ke arah langit-langit kamarnya. Seakan ia bernyanyi untuk melampiaskan kekesalan, karena lirik lagu tersebut memang sedikit mewakili suasana hatinya sekarang.
Ia kemudian mengambil handphone yang ada di samping kiri, mencoba menghubungi nomor telepon Agung. Grace berniat mengajak pacarnya itu mengobrol, berbicara tentang apapun juga tidak masalah, yang penting bisa menghilangkan bosan, menyingkrkan kesepian di hati.
Di layar handphone Grace terlihat rentetan daftar panggilan yang di abaikan oleh Agung. Grace dari tadi sudah mencoba berulang kali menghubungi Agung, tapi tak ada satu pun panggilan telepon darinya yang di respon oleh pacarnya itu.
Saat ini di seberang sana mungkin Agung sedang sibuk mengikuti latihan ujian nasional, karena hari ini memang sudah jadwalnya. Wajar kalau dia mengabaikan panggilan dari Grace. Tapi meskipun tahu kalau Agung sedang ada latihan ujian, Grace tetap berusaha melakukan sambungan telepon agar meninggalkan puluhan catatan missed call, supaya Agung tahu kalau Grace sangat rindu.
Beberapa saat kemudian, ketika Grace hendak melakukan panggilan ke nomor telepon Agung yang ke lima puluh satu kalinya, tiba-tiba saja Agung menelpon balik. Jantung Grace berdetak cepat, udara di sekitarnya seakan terasa lebih ringan sampai-sampai hampir membuatnya melayang.
Grace langsung bangkit dari rebahannya dengan wajah sumeringah dan hati berbunga-bunga. Sambil duduk di atas kasur, ia memandangi layar handphone-nya sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon dari Agung.
“Halo...” Grace tersenyum bahagia mengangkat telepon.
“Ada apa, nelpon-nelpon terus? Baru buka handphone, langsung ada lima puluh tiga missed call-an dari nomor kamu...” Di seberang sana, Agung terdengar seperti berjalan di antara orang-orang. “Kangen ya pasti?”
“Enggak!” Grace menjawab cepat, seakan sedang membentak namun wajahnya tersenyum.
“Oh, yaudah aku tutup aja kalo gitu teleponnya.” Goda Agung.
Grace cemberut “Jangan!!”
“Tut...tut...tut...” Agung menirukan suara telepon yang sedang di tutup.
Grace tersenyum lebih lebar, dia hampir tertawa. Kemudian Grace memeluk guling yang ada di dekat, lalu tiduran menghadap ke samping kiri sambil memeluk guling berwarna hitam itu.
“Tau enggak, becandaan kamu itu jelek haha...” Grace tertawa, suaranya di buat-buat. “Masih lucuan Rangga kalo becanda.” Lanjutnya.
“Hehe... maaf kalo becandaanku jelek.” Agung meminta maaf. Di seberang sana, Agung terdengar berbicara dengan orang yang ada di dekatnya, sekedar menyapa. Lalu melanjutkan teleponnya dengan Grace. “Lain kali mungkin aku harus belajar sama Rangga gimana caranya becanda sama kamu.” Lanjutnya.
“Sana, gih!” Kata Grace.
Mereka berdua terus mengobrol melalui sambungan telepon.
Ini adalah pertama kalinya Agung mengangkat telepon dari Grace dalam kurun waktu tiga hari terakhir. Pasalnya, beberapa hari yang lalu nomor telepon Agung sama sekali tidak aktif, ia bilang pada Grace mau fokus belajar untuk pada latihan ujian nasional. Selama beberapa hari itu pula mereka tak saling mengobrol lewat telpon saat Grace menjalani hukuman skors-nya. Padahal di tiga hari pertama masa hukuman Grace, mereka berdua tiap hari saling menelpon. Kadang, Agung yang menelpon duluan dan kadang Grace duluan. Mereka seakan seperti pasangan LDR, padahal tinggal di kota yang sama. Namun setelah hampir seminggu Agung menonakftifkan handphone-nya, membuat Grace merasa kesepian lagi.
Sebenarnya, perasaan curiga dalam hati Grace terhadap Agung belum terlegakan. Ia masih belum tahu pasti tentang identitas cewek yang bernama Tania, yang di gosipkan pernah jalan berdua dengan Agung di toko kue.
Meskipun Grace sudah punya nomor telepon Tania, dia belum berani menelponnya. Awalnya memang Grace berencana untuk segera melakukan tindakan, menelpon nomor Tania, menanyakan apakah ada hubungan spesial antara dirinya dan Agung. Kalau mereka memang ada hubungan spesial dan melakukan perselingkuhan tanpa sepengetahuan dirinya, maka Grace akan memukul Agung, lalu mengakhiri hubungan mereka berdua dan semuanya selesai.
Rangga memberi saran untuk tidak buru-buru, ia menyuruh Grace untuk bertindak jika waktunya sudah tepat, dan tentu saja dia akan membantu Grace saat waktunya tiba. Karena Grace meminta bantuan Rangga dalam masalah ini, maka mau tidak mau dia harus mengikuti saran Rangga.
Lagipula, Grace pikir Rangga ada benarnya juga. Bisa saja Tania bukan selingkuhannya, melainkan teman satu kelompok dalam mengerjakan tugas sekolah, atau bisa saja mereka sama-sama anggota OSIS atau yang lainnya. Dia pasti akan malu sendiri kalau bertindak sembarangan dan main asal tuduh saja. Bisa-bisa, malah Agung yang marah duluan dan mengajaknya putus karena kesal pada dirinya. Jadi, sebaiknya memang menunggu waktu yang tepat saja seperti yang di katakan Rangga. Di samping itu juga, mungkin hati Grace masih belum siap jika harus bertengkar dan mengakhiri hubungannya dengan Agung.
“Halo...? Halo...?” Di seberang sana, Agung sedang berusaha mengambil perhatian Grace yang tiba-tiba terdiam, Grace melamun.
“Eh... iya, sorry aku ngelamun, kamu tadi ngomong apa?” Grace yang baru saja tersadar dari lamunannya bertanya.
“Hari ini aku mau ngajak kamu jalan, kamu mau enggak?” Agung mengulangi pertanyaannya yang sempat tak di perhatikan oleh Grace.
Grace berfikir sejenak sebelum menjawab, “Mau ngajak aku kemana?”
“Ya, kemana aja, terserah kamu...” Agung terdengar bersemangat. “Mumpung aku ada waktu luang, udah selesai lomba, udah selesai latihan ujian juga.”
Grace sangat ingin pergi kencan dengan Agung, namun sayangnya dia masih dalam masa hukuman. Ibunya pasti akan melarangnya pergi keluar dengan Agung, pun kalau Agung datang berkunjung ke rumah, mereka berdua pasti tak di perbolehkan oleh ibunya Grace untuk pergi kemana-mana. Agung pasti tak akan di beri izin untuk mengajak Grace pergi kencan.
“Sebenernya aku pengen banget sih pergi jalan sama kamu, pengeeen buanget...” Grace mempertegas keinginannya.
“Yaudah, pulang sekolah, abis ganti baju aku langsung ke rumah kamu ya!”
“Hmm...” Grace terdengar pasrah, lalu berkata “Kayaknya bakal percuma deh, kalaupun kamu main ke rumah aku, kita pasti enggak di bolehin untuk keluar rumah sama ibu. Selama aku masih di skors, aku enggak di bolehin keluar rumah, percuma dong.” Jelasnya.
Sungguh di sayangkan, padahal bisa dibilang ini kesempatan yang bagus bagi Grace untuk menghabiskan waktu berdua bersama pacarnya setelah berminggu-minggu mereka jarang bertemu dalam waktu yang lama.
Dalam sambungan teleponya, Agung tak berkata apa-apa, ia sedang berfikir.
“Gimana kalau kamu keluar rumahnya diem-diem, jangan sampe ketahuan sama ibu kamu?” Agung mencoba memberi saran. “Bisa enggak kira-kira?”
Sembari tetap tersambung dengan Agung dalam sambungan telepon, Grace kemudian beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka pintu dan melangkah menuruni tangga untuk menuju ke ruang keluarga, memeriksa keadaan, apakah ibunya masih menonton televisi di situ, atau sudah pergi.
Ketika sampai di ujung anak tangga paling bawah, Grace melihat ke arah sofa, di situ masih ada ibunya yang sedang bersantai sambil menonton acara gosip di televisi, Grace memandanginya dari belakang, di ujung anak tangga.
Usai memeriksa keadaan untuk beberapa menit, Grace berkata pada Agung lewat handphone yang masih ia tempelkan di telinga sebelah kanannya. “Kayaknya, aku bisa diem-diem keluar rumah deh.” Katanya sambil tersenyum yakin.
Bersambung...