Bolos Pelajaran Olahraga

1156 Kata
Rangga menopang dagu, menatap datar kearah buku komik yang terbuka di tangan kirinya. Di seberang meja, tepat di hadapan Rangga, ada Erlita juga sibuk membaca buku pelajaran biologi untuk kelas 2 SMA yang ia letakan di atas meja, bukunya tebal. Sudah lima belas menit berlalu sejak merek masuk ke perpustakaan dan duduk dengan posisi seperti ini. Dari tadi, mereka tak saling bicara, sibuk dengan buku bacaan masing-masing. Suasana di perpustakaan sekolah saat ini hening sekali, hanya ada Rangga, Erlita dan wanita parubaya penjaga perpustakaan yang juga sibuk dengan pekerjaanya. Perpustakaan sepi bukan karena minat baca siswa di sini rendah, tapi karena saat ini jam pelajaran kedua sedang berlangsung, jadi wajar saja perpustakaannya sepi. Rangga dan Erlita memang sedang bolos pelajaran kedua lalu menyelinap ke perpustakaan. Rangga memilih untuk membolos karena saat ini di kelasnya sedang ada pelajaran olahraga, dia tidak suka olahraga. Sementara Erlita… entahlah Rangga tidak tahu kenapa dia membolos, mereka beda kelas. Padahal, Erlita tahun lalu meraih peringkat pertama dalam hal akademik, bisa di bilang dia itu anak baik-baik. Jarang sekali ada siswa pintar yang bolos. “Rangga?” Erlita tiba-tiba memanggil Rangga, memecah keheningan. “Hmm?” Rangga menjawab singkat, sambil membalik lembar komik. “Lo kenapa bolos, lagi pelajaran Kimia ya?” Tanya Erlita. Rangga melirik ke arahnya. “Enggak sih, tapi olahraga. Lo tau kan, gue enggak suka olahraga.” Erlita’ kira, Rangga hanya tidak suka pelajaran kimia, tapi dia salah. Menurut Rangga, yang paling mengerikan adalah pelajaran olahraga. “Oh..” Gumam Erlita sambil mengangguk. “Kalo di kelas gue lagi jam kosong…” “Nggak ada yang nanya.” Kata Rangga dalam hati. “Pak Nurdin lagi rapat. Di kelas anak-anak cowok pada ribut, jadigue kesini deh.” Lanjutnya. “Udah dibilang nggak ada yang nanya!” kata Rangga lagi dalam hati. Rangga dan Erlita sudah berteman cukup lama, jadi mereka mulai lebih akrab sekarang. Setahun lalu, saat masih kelas 10 Rangga selalu bersama Grace karena sedikit kesulitan untuk mendapatkan teman akrab. Pada dasarnya Rangga sedikit pemalu dan tidak begitu peduli dengan orang-orang disekitar, tapi sebenarnya itu tidak bisa di jadikan alasan kenapa Rangga jarang mengobrol di kelas sih, mungkin alasan yang tepat mengapa Rangga sedikit kesulitan membangun pertemanan dengan teman- teman di kelasnya adalah, karena aku tidak begitu mengerti topik pembicaraan mereka, jadi lebih baik diam daripada sok tau. Lagipula, Rangga juga tipe orang yang tidak terlalu peduli dengan orang lain. “Tapi, kenapa lo malah bolos, bukanya…” Belum sempat Erlita selesai bicara, Rangga memotong. “Gue udah bilang kan, Gue enggak suka olahraga!” Erlita terlihat cemberut. “Apaan sih, main motong aja.” Katanya, kemudian melanjutkan. “Bukanya kelas 11-A lagi penilaian lompat jauh ya, tuh!” Erlita kemudian menunjuk keluar jendela yang ada di samping kiri mereka, mata Rangga pun mengikuti arah telunjuk Erlita yang menuju ke arah lapangan olahraga. Terlihat anak-anak dari kelas 11-A sedang melakukan lompat jauh secara bergantian di bimbing oleh pak Ridwan, guru olahraga untuk kelas 11. Beliau terlihat mencatat sesuatu sembari memperhatikan lompatan murid-muridnya. Mereka sepertinya terbakar semangat. “Kalo lo enggak naik kelas gimana, nggak takut?” Erlita menatap tajam kearah Rangga, bertanya dengan tegas. Rangga menelan ludah karena khawatir. Karena Rangga jarang masuk pelajaran olahraga, dia jadi tidak tahu agenda kegiatanya sama sekali. Padahal, semalam setelah sholat isya’ Rangga sudah berdoa, meminta kepada Tuhan dengan sepenuh hati, meminta agar hari ini turun hujan dan pelajaran olahraga di tiadakan agar dirinya tidak perlu bolos. Tapi, hari ini malah cerah sekali, mataharinya terasa hangat. Rangga merasa banyak dosa karena doanya tidak terkabul. Rangga menutup buku komik dan berkata. “Gini Er, tadi setelah pelajaran pertama awanya keliatan mendung, mau hujan. Ya biasanya kan kalo ujan pelajaran olahraga di tiadakan, jadi gue kesini deh, eh nggak taunya malah cerah gini.” “Boong.” Erlita membalas cepat. “Dari tadi pagi awannya cerah-cerah aja kok.” Lanjutnya. Terdengar cuitan burung-burung, mendandakan kalau hari ini benar-benar cerah. “Hari ini tu cerah tau’. Hari yang menenangkan, dimana kehidupan berjalan seperti biasa, anak-anak pergi sekolah dan bermain, orang-orang dewasa sibuk bekerja, berangkat ke kantor dengan wajah tersenyum, ibu-ibu rumah tangga mengurus rumah dengan sepenuh hati. Mataharinya juga hangat, burung-burung nggak berhenti bercuit, merdu. Lo harus bersyukur.” Tiba-tiba Erlita menasehati Rangga. Sungguh nasehat yang berguna. Tapi entah kenapa hati Rangga malah berkata “Lebay.” Bodohnya Rangga berharap dengan beralasan seperti itu akan membuat Erlita berkata. “Oh gitu ya. Lanjutin baca komiknya gih.” Tapi kenyataanya dia malah menasehati Rangga. Walaupun rasa keingintahuan Erlita kadang membuatnya terlihat polos, tapi sebenarnya dia punya sifat yang dewasa. Dia benar, seharusnya Rangga lebih bersyukur, bukanya merasa kecewa hanya karena hari ini tak turun hujan. Bisa saja kalau hari ini hujan lebat, Rangga mungkin akan pulang dengan keadaan basah dan jatuh sakit karena hari ini dia tidak bawa payung. Seharusnya Rangga bersyukur, hari ini cerah. Tak lama kemudian, masuklah seorang laki-laki berkaca mata usianya sekitar 50 tahunan. Rangga yang menyadari kehadiranya, langsung mengarahkan pandangan ke arah pintu perpustakaan. Si penjaga perpustakaan menyambutnya dengan tersenyum, kemudian mereka besalaman. Pria itu adalah guru kimia di kelasnya, namanya pak Hasim. Pak Hasim kemudian melihat sekeliling. Pandangan Rangga dan pak Hasim saling bertemu, bukanya memarahi Rangga karena bolos jam pelajaran, tapi beliau malah tersenyum. Tak seperti biasanya, diamana beliau akan menjewer Rangga dan membawanya ke ruang BK saat menemukan Rangga bolos di kantin atau di perpustakaan seperti ini. Aneh. Sedangkan Erlita terlihat menundukan kepalanya sembari berpura-pura membaca buku, takut ketahuan bolos, karena pak Hasim juga kebetulan mengajar pelajaran kimia di kelasnya. Sesekali pak Hasim mengusap matanya yang tampak sedikit memerah. Melepas kacamata, mengusap mata, dan memakai kacamatanya kembali, gerakan itu beberapa kali diulangi oleh pak Hasim. Matanya mudah sekali kemasukan debu. “Rangga, ada pak Hasim tuh!” Bisik Erlita kepada Rangga. “Hmm…” Jawab Rangga singkat. “Lo kok kayak nggak takut gitu sih?” “Justru ngerasa aneh, kenapa dia nggak marah, padahal biasanya dia bakalan marah kalau liat gue lagi bolos jam pelajaran begini.” Ujar Rangga sambil memperhatikan pak Hasim yang saat ini terlihat sedang asik mengobrol dengan petugas perpustakaan. Tiba-tiba, Rangga teringat sesuatu. Dia masih ada remidial mata pelajaran kimia dari ulangan harian seminggu yang lalu, dan pak Hasim memberinya kebebasan untuk melakukan remidial kapan saja, yang jelas kalau Rangga tidak ikut remidial, nilai pelajaran kimia-nya akan sangat buruk dan terancam tidak naik kelas. Di sisi lain, selain teringat tentang tanggungan remidial pelajaran kimia-nya, Rangga juga ingat percakapannya dengan Grace di kantin beberapa waktu lalu. Saat itu Grace bilang kepada Rangga kalau dalam waktu dekat ini, pak Hasim akan pensiun, meninggalkan sekolah ini. Dan Rangga, sampai sekarang masih bingung harus memberikan apa sebagai hadiah kenangan perpisahan saat upacara perpisahan tiba. Sedangkan mungkin teman-teman di kelasnya yang lain sudah tahu tentang hadiah apa yang akan mereka berikan kepada guru kimia mereka yang tersayang itu. Namun, setelah melihat pak Hasim beberapa saat, Rangga jadi dapat ide. Dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN