Malam ini, bulan terlihat terang, suara serangga malam terdengar merdu di teling, anak-anak terlihat berlarian di depan jalan, bermain di bawah indahnya sinar rembulan.
Ibunya Grace terlihat sedang memotong-motong buah semangka di dapur yang ada di area ruang keluarga. Semangka itu terlihat segar berwarna merah merona, bulir-bulir air masih mengalir di kulit semangka, baru di ambil dari dalam kulkas.
Kemarin, nenek dan kakeknya Grace datang berkunjung ke rumah, membawa banyak buah semangka berukuran besar hasil panen dari kebun di halaman belakang rumah mereka. Kemudian, semangka-semangka itu di bagi-bagikan ke tetangga-tetangga terdekat, termasuk ke rumah Rangga, itu sudah pasti. Malahan, Ibunya Grace memberikan sepuluh buah semangka yang besar kepada Rangga dan ibunya, sampai-sampai Ibunya Rangga bingung, semangka-semangka itu mau di apakan, dari kemarin juga Rangga dan ibunya rutin mengonsumsi semangka. Awalnya sih, mereka pikir akan terasa menyenangkan bisa mengonsumsi semangka setiap saat, tapi lama kelamaan, mereka jadi bosan. Dari kemarin, Rangga dan ibunya sudah mencoba berbagai cara mengonsumsi semangka agar tidak bosan. Mencampurnya dengan coklat, mendinginkannya di freezer hingga beku baru di makan, membuat jus semangka, membuat rujak semangka dan lain sebagainya Bisa-bisa mereka overhidrasi.
Selain untuk sekedar bekunjung, nenek dan kakeknya Grace datang untuk mempersiapkan acara natal yang tinggal beberapa minggu lagi. Rencananya, akan ada banyak sanak saudara yang akan datang ke rumah Grace untuk merayakan natal bersama. Natal tahun ini suasana di rumah keluarga Grace pasti akan lebih ramai dari biasanya.
Sembari membawa buku tulis dan buku paket matematika, Grace melangkah turun dari kamarnya yang ada di lantai dua. Langkah kakinya yang bebentur dengan anak tangga yang terbuat dari kayu terdengar nyaring di telinga.
Grace mengambil sepotong semangka yang baru saja selesai di tata rapi oleh ibunya di atas nampan ketika ia tiba di dapur dan berdiri di dekat Ibunya.
“Temen kamu itu jadi dateng, nak?” Tanya Ibunya Grace.
“Jadi, udah otw kemari kok dia, makanya aku turun.” Jawab Grace.
Ibunya Grace mengangguk, lalu lanjut bertanya. “Berapa orang?”
“Satu orang buk, kan tadi udah aku bilang.”
“Selesai motong-motong ini, ibu mau ke supermarket beli cemilan buat temen kamu, sekalian beli hiasan natal, semoga aja keburu ya.” Ibunya Grace, masih memotong bagian terakhir dari semangka tersebut.
Sambil menatap datar ke arah ibunya, Grace menjelaskan, “Enggak usah terlalu berlebihan, buk, udah ada semangka gitu kok. Kayaknya udah cukup kok, lagian dia cuman sendirian.”
“Ah, enggak papa...” Ibunya Grace kemudian membersihkan tangannya, meletakan pisau yang selesai ia gunakan di tempat cucuian piring. Setelah mengelap tanganya yang basah, Ibunya Grace melangkah mengambil jaket yang tergantung di dekat situ, “Lagian, pasti temen kamu enggak cuman satu kok yang dateng.” Lanjutnya.
Grace terlihat bingung.
“Rangga juga entar pasti dateng ke sini.”
“Yaelah, Rangga mah pasti tiap hari kesini buk, dia enggak usah diitung,” Grace menatap datar Ibunya.
Seakan seperti seorang cenayang, baru saja Ibunya Grace menebak, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu samping yang ada di bagian dapur, dan sudah di pastikan kalau itu pasti Rangga, atau ibunya Rangga. Karena memang hanya mereka berdualah yang sering lewat pintu samping saat datang ke rumah keluarga Grace.
Tak lama kemudian, terbukalah pintu samping meskipun si pemilik rumah belum mempersilahkan untuk masuk. Terlihat sosok Rangga yang sedang memakai baju main seperti biasa. Grace dan ibunya sama-sama menatap Rangga sambil tersenyum dalam beberapa detik.
“Kenapa?” Rangga kebingungan melihat tatapan Grace dan ibunya.
“Baru aja di omongin.”
“Baru aja di omongin.”
Ucap Grace dan ibunya secara bersamaan.
Ibunya Grace kemudian melangkah mengambil kunci mobil yang ada di dekat televisi. Lalu berdiri di dekat situ sembari mengetik sesuatu di handphone-nya dan menelpon seseorang.
Selesai dengan panggilan teleponnya, dia lantas berpesan pada Grace dan Rangga untuk jaga rumah.
“Kalian jaga rumah, ya!” Katanya sambil melangkah pergi.
“Iya tante.” Kata Rangga.
“Iya buk, ati-ati ya!” Sambung Grace sebelum ibunya benar-benar pergi lewat pintu depan.
Rangga melepas alas kakinya, kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil biskuit kelapa yang ada di dalam toples di atas meja dapur.
“Ih, main comot aja lo, itu buat Darmin, nanti.” Grace memukul pelan kepala Rangga dengan buku paket matemtika yang ia pegang.
“Cuman satu!” Rangga membela diri.
Nanti, rencananya Darmin akan datang ke rumah Grace untuk membantu Grace mengerjakan PR matematika. Sebenarnya, jarak antara rumah Darmin dengan daerah tempat Rangga dan Grace tinggal itu lumayan jauh, butuh waktu sektitar satu jam menggunakan sepeda motor untuk bisa sampai di rumah Grace. Namun meskipun demikian, Darmin pasti akan tetap datang. Darmin mau jauh-jauh datang kemari bukan karena mereka ada tugas kelompok, melainkan karena Darmin ingin melakukan sesuatu untuk Grace yang sudah mau menghajar Andre yang memukulnya di kantin hingga pingasan, bahkan sampai membuat Grace di skors dari sekolah selama sebulan, tentu saja hal itu membuat Darmin tak enak hati.
Awalnya Darmin memberikan tawaran pada Grace teraktiran di kantin selama satu bulan, namun Grace menolaknya. Bahkan Grace tak mengharap balas budi apapun dari Darmin, tapi Darmin yang merasa tak enak hati tetap bersikeras ingin melakukan sesuatu untuk Grace. Alhasil ya, Grace memilih untuk meminta bantuan pada Darmin untuk mengerjakan PR jika ada materi yang sulit dipahaminya, dan Darmin menyetujui hal itu.
“Ngomong-ngomong, mulut lo kok cepet banget sembuhnya?” Rangga bertanya sembari tanganya merayap diam-diam, hendak mengambil biskuit di dalam toples lagi.
“Lo tau kan, ibu gue orangnya gimana, overprotective banget...” Grace memukul tangan Rangga dengan buku tulisnya. “Hampir tiap hari dia ngundang dokter ke rumah, padahal gue cuman memar doang.”
Seperti yang di katakan Grace, ibunya Grace terlalu khawatir secara berlebihan terhadap dirinya. Saat melihat Grace pulang sekolah dengan keadaan wajah yang memar, ibunya langsung buru-buru menghubungi dokter sambil memaksa si dokter untuk segera datang ke rumah. Itu dia lakukan karena dia sangat menyayangi anak perempuannya.
“Aduh...” Ucap Rangga, ketika tangannya di pukul Grace. “Terus, ortu lo udah tahu belum kalo lo di skors sebulan?” Rangga lanjut bertanya.
“Udah, mereka ngomel abis-abisan. Gue enggak boleh keluar rumah, uang saku gue juga di potong setengah.”
Sementara itu tak jauh dari kediaman Rangga dan Grace, Darmin mengurangi kecepatan laju motornya, kemudian menepi dan memarkirkan motornya di halaman depan rumah Grace.
Darmin melepas helm yang ia pakai, lalu berkacak pinggang sambil menatap Rumah Grace dan Rangga yang saling berdekatan. Setelah meluruskan tulang belakangnya, ia lanjut melangkah ke menuju ke beranda rumah.
Alangkah herannya Darmin saat melihat sebuah pohon cemara berukuran lumayan besar tergeletak di situ. Ia melihat sekeliling dan mengira kalau di sekitar sini baru saja terjadi badai.
“Assalamuaikum.” Darmin mengucap salam sembari mengetuk pintu.
“Walaikum salam.” Sahut Rangga dari dalam rumah.
“Darmin dateng tuh, gue buka pintu dulu ya!” Kata Grace pada Rangga. Kemudian Grace segera bergegas berjalan ke arah pintu depan untuk membuka pintu.
Grace tersenyum manis saat membukakan pintu untuk Darmin.
“Masuk, min. Rangga udah di dalem tuh.” Grace mempersilahkan.
“Makasih.” Darmin kemudian melangkah masuk.
Grace berjalan memandu Darmin menuju ke ruang keluarga, tempat dimana nanti mereka akan mengerjakan PR.
Sembari berjalan di belakang Grace, Darmin menyempatkan diri untuk bertanya tentang apa yang di lihatnya di depan rumah.
“Di depan rumah lo ada pohon tumbang tuh, tadi abis ada badai ya disini, perasaan di tempat gue cuacanya baik-baik aja.”
Grace tersenyum. “Bukan, itu bukan pohon tumbang. Ayah gue yang bawa, rencanannya nanti itu mau di pake buat bikin pohon natal.”
“Sebesar itu?” Tanya Darmin lagi, ia tak begitu paham karena dia beragama Islam.
“Enggak tahu, seharusnya sih enggak sebesar itu, ayah gue emang gitu, anti-maenstream hehe...” Jawab Grace.
Malam itu, Grace dan Darmin belajar bersama di meja bundar yang ada di belakan sofa. Sementara Rangga sibuk bermain PS di sofa. Sering kali Grace mengomeli Rangga karena suara gamenya yang terlalu keras.
Malam itu, di bawah sinar rembulan, hewan-hewan malam bersuara dengan riang. Suasananya juga tenang, begitu juga dengan di dalam rumah Grace.
Bersambung....