Udara terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, karena tadi beberapa daerah di kota ini sempat di guyur hujan yang lumayan deras, termasuk di daerah tempat Rangga tinggal.
Rangga mengenakan jaket yang tebal untuk menghalau dinginnya malam, ia berjalan dengan santai sambil memakan cemilan keripik kentang berukuran jumbo. Malam ini dia sedang menuju ke rumah Grace yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari rumahnya.
Setelah tiba di sana, Ia masuk lewat pintu samping dan langsung bertemu ruang dapur yang berada dalam satu area dengan ruang keluarga serta ruang makan, dia langsung disambut oleh suara berisik dari mixer yang berputar ketika membuka pintu.
Di ruang dapur itu, ada ibunya Grace sedang mengaduk sebuah adonan tepung terigu yang mungkin juga sudah di campur dengan bahan lainnya dan di aduk menggunakan mixer, agak berisik memang.
Ruang dapur di rumah Grace cukup sederhana namun tampak elegan, tidak begitu luas, kira-kira ukurannya hampir sama dengan tempat barista meracik kopi di kafe. Hanya ada sedikit perlengkapan dapur saja yang tersedia di situ.
“Eh, ada Rangga, masuk-masuk!” Sambil sibuk mengaduk adonan dengan mixer, ibunya Grace mempersilahkan Rangga untuk masuk ke dalam.
“Tante lagi bikin apa?” Tanya Rangga, kemudian memakan keripik kentangnya.
“Biasa, lagi nyoba-nyoba resep di internet, pasti hasilnya bakalan enak.” Jawabnya dengan penuh percaya diri.
Rangga memasang ekspresi aneh sambil melihat ibunya Grace yang terlihat bersemangat saat mengaduk adonan.
“Yakin bakalan enak?” Rangga terlihat ragu-ragu.
Ibunya Grace mematikan mesin mixer-nya sebentar, lalu memiringkan kepala sambil berfikir. Sepertinya ia mencoba mengingat-ingat kembali bahan-bahan yang tadi sudah ia campurkan ke dalam adonan di baskom yang di pegangnya. “Kayaknya sih bakal enak, tante udah bener kok ngikutin tutorialnya.” Kemudian ibunya Grace menyalakan mesin mixer-nya lagi, lanjut mengaduk.
“Semoga enak beneran deh.” Kata Rangga dengan perasaan ragu.
Rangga kemudian menengok ke arah ruang keluarga. Disitu, ada Grace yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatan, dengan posisi tengkurap di lantai, di belakang sofa. Sementara televisi yang ada di depan sofa itu dibiarkan menyala, menayangkan siaran berita langsung.
“Dia lagi ngapain tante? Dingin-dingin begini malah tiduran di lantai.” Rangga sedikit berbisik-bisik pada ibunya Grace, matanya sambil melirik ke arah Grace.
“Enggak tau, padahal tadi udah tante suruh pindah ke sofa biar enggak masuk angin, tapi dianya ngeyel. Katanya sih, lagi nyari inspirasi.” Jawab ibunya Grace sambil lanjut mengaduk adonan.
Rangga lalu melangkah menuju ke ruang keluarga sembari asik memakan keripik kentangnya.
Ia berjalan melewati Grace yang tengkurap di lantai ruangan itu, lalu duduk di sofa yang berada tepat di samping Grace, di depan televisi yang masih menyala. Grace sepertinya tidak sadar kalau Rangga baru saja melewatinya, ia tampak masih sibuk menulis di buku catatannya.Sesekali Grace berhenti menulis untuk berfikir, lalu menulis lagi. Wajahnya terlihat sangat serius.
Rangga meletakan kepalanya di bagian atas sandaran sofa untuk memperhatikan kesibukan Grace, dia penasaran dengan apa yang sedang Grace kerjakan.
“Lagi ngerjain apa?” Tanya Rangga pada Grace.
“Ssstt... diem, jangan gangguin gue.” Grace terus menulis sambil menjawab.
“Yaudah.” Rangga kemudian, memalingkan pandangannya dari Grace dan memilih untuk menonton televisi.
Rangga menonton televisi dengan santai di ruang keluarga milik keluarga Grace. Sementara tuan rumahnya sibuk dengan urusan masing-masing. Suasana semacam ini sudah biasa terjadi. Saking dekatnya hubungan antara Rangga dan keluarga Grace, ia bisa sampai sesantai itu saat berkunjung. Begitu pun sebaliknya, Grace juga sering berkunjung ke rumah Rangga dan bersikap sangat santai seperti di rumah sendiri.
Kadang, Grace datang ke rumah Rangga hanya untuk meminjam barang, entah itu perlengkapan sekolah dan barang-barang lain seperti komik, charger handphone, hair dryer milik ibunya Rangga atau yang lain.
Bahkan saking santainya hubungan antara mereka, kadang Rangga dan ibunya sengaja membiarkan barang-barang yang di pinjam oleh Grace maupun ibunya Grace tetap berada di rumah keluarga Grace.
Contohnya konsol PS4 yang ada di kolong meja tempat dimana televisi di letakan. Ya, disitu ada konsol PS4 lengkap dengan kedua stick-nya, dan itu adalah milik Rangga yang di pinjam oleh Grace sejak beberapa bulan yang lalu.
PS4 milik Rangga masih ada di situ bukan karena Grace tidak mau mengembalikannya, tapi karena Rangga terlalu malas untuk mencabuti kabel-kabel yang masih tersambung ke televisi, dia juga malas untuk membawanya pulang, karena dia yakin kalau Grace pasti akan pinjam lagi. Daripada harus repot-repot mondar-mandir, sebaiknya dia membiarkan konsol PS4 miliknya tetap berada di rumah Grace.
“Ibukk...!!!, bisa enggak kalau suara mixer-nya di kecilin sedikit?!! ganggu banget deh, aku enggak bisa konsentrasi nih!!” Grace sedikit berteriak kepada ibunya, karena suara mixer yang mengganggu.
Dapur dan ruang keluarga di rumah ini berada dalam satu ruangan, tanpa di pisahkan oleh dinding atau apapun, jadi suara mixer yang sedang digunakan oleh ibunya Grace dapat terdengar jelas di ruang keluarga.
“Kamu itu aneh-aneh aja, suara mixer mana bisa di kecilin,” Sahut ibunya Grace.
“Yaudah kalau gitu muter mixer-nya pelan-pelan aja!” Perintah Grace.
“Nanti enggak rata, nak adonannya!!”
“....” Grace terdiam, sambil memasang ekspresi kesal di wajahnya.
“Lagian kamu dari tadi ibu suruh ngerjain di kamar nggak mau, salah sendiri lah.” Lanjut Ibunya Grace.
Rangga masih dengan santainya menonton televisi, seakan tak peduli dengan perdebatan ibu dan anak yang sedang berlangsung di belakangnya, sudah biasa. Kini saluran televisinya sudah di pindah oleh Rangga, yang semula siaran langsung berita, di pindah menjadi acara komedi. Dia menyempatkan diri mencari inspirasi untuk novelnya.
Sedang asik-asiknya menonton televisi sambil bersandar di sofa, tiba-tiba saja kepala Grace muncul tepat di sebelah kiri kepala Rangga, Grace meletakan dagunya di bagian atas sandaran sofa.
“Sst..., Rangga.” Grace memanggil Rangga dengan setengah berbisik.
“Apa?” Tanya Rangga.
“Tolong dong, suruh ibuku berenti!” Grace memohon, masih dengan suara yang pelan, khawatir kalau suaranya di dengar oleh sang ibu.
“Alah.. emang kenapa sih? Biarin aja, entar juga suara mixer-nya berenti kalau dia udah selesai ngaduk adonan.” Rangga menoleh ke arah wajah Grace yang menatap ke depan, ke arah televisi. Wajah mereka saling berdekatan sekarang, namun keduanya tampak biasa saja, tak ada getaran apapun di hati masing-masing, seakan keduanya adalah saudara kandung.
“Lagian, lo kan bisa pindah ke kamar.” Rangga melanjutkan
Grace menepuk pundak Rangga sedikit lebih keras.
“Enggak bisa, ini ruang inspirasi gue!” Tegas Grace.
“Ngerjain apa sih? PR tuh enggak perlu nyari-nyari inspirasi segala, tapi harus baca buku.” Rangga mengusap-usap pundaknya yang tadi di tepuk oleh Grace.
“Gue enggak lagi ngerjain PR, tapi lagi nyari kata-kata yang pas untuk gue jadiin lirik di bagian intro dari lagu lo kemaren!” Kata Grace.
Setelah mengatakan itu dia lantas berdiri, kemudian berjalan ke samping sofa, lalu duduk di sebelah Rangga.
“Bukan masalah suara mixer-nya, tapi apa yang dia bikin.” Grace memandang ibunya yang masih sibuk dengan adon, lalu melihat ke arah Rangga lagi dan berkata, “Lo masih inget enggak, ibu dulu pernah bawa kue bolu ke rumah lo?” Grace bertanya sambil berbisik pelan.
Tiba-tiba pikiran Rangga melayang ke suatu malam.
Malam itu saat Rangga dan ibunya sedang bersantai di ruang tamu, tiba-tiba saja ibunya Grace datang membawa sepiring roti bolu dengan ukuran yang lumayan besar. Tanpa sepengetahuan ibunya Grace, ternyata dia di ikuti dua orang secara diam-diam. Dua orang itu adalah Grace dan ayahnya.
Awalnya mereka berdua hanya sekedar mengawasi dari jauh, namun kemudian ikut masuk ke dalam rumah. Berdiri di belakang ibunya Grace, Grace dan ayahnya berusaha memberi sebuah isyarat dengan mengacungkan ibu jari mereka pada Rangga dan ibunya tanpa sepengetahuan ibunya Grace. Mereka berdua mengacungkan jempol sembari menggerakan bibir mereka, seakan sedang berusaha memberitahu seseuatu yang tak boleh di ketahui oleh ibunya Grace.
Rangga dan ibunya sempat merasa aneh dengan kelakuan Grace dan Ayahnya. Kenapa mereka bertingkah seperti itu? Kira-kira begitu yang mereka pikirkan saat melihat Grace dan Ayahnya bertingkah aneh membelakangi ibunya Grace.
Namun, Rangga dan ibunya akhirnya memahami maksud dari isyarat Grace dan ayahnya tersebut setelah mencicipi roti bolu yang di bawa oleh ibunya Grace. Roti bolu itu benar-benar tidak enak, rasanya mengerikan, sampai-sampai Rangga dan ibunya ingin muntah di tempat. Tapi mereka terpaksa berbohong.
Rangga dan ibunya sepakat bilang kalau roti bolu itu enak saat si pembawa roti bolu mengerikan itu bertanya tentang pendapat mereka. Rangga dan ibunya melakukan itu karena mulai mengerti isyarat dari Grace dan Ayahnya.
Ternyata alasan Grace dan Ayahnya menyuruh mereka berbohong tentang rasa dari roti bolu tersebut karena roti bolu itu buatan ibunya Grace sendiri. Jika Rangga dan Ibunya sampai bilang kalau roti bolu buatan ibunya Grace tidak enak, maka yang akan terjadi adalah, ibunya Grace akan membuat ulang roti bolu yang resepnya dia ambil dari internet itu. Lalu menyuruh orang-orang untuk mencicipinya lagi, dan sudah di pastikan rasa dari roti bolunya akan tidak beda jauh dari sebelumnya yaitu, mengerikan, hingga tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Hari itu, ibunya Grace sudah beberapa kali membuat ulang roti bolunya karena Grace dan ayahnya bilang tidak enak, dan baru berhenti mencoba membuat lagi setelah Grace dan ayahnya berbohong dengan mengatakan kalau roti bolunya sudah enak. Tapi sialnya, ibunya Grace malah pergi ke rumah Rangga untuk menawarkan roti bolu buatanya dengan penuh percaya diri. Itulah sebabnya Grace dan ayahnya ikut ke rumah Rangga untuk memberi peringatan. Bisa di bilang, mereka berdua sedikit trauma mencicipi roti bolu buatan ibunya Grace yang mengerikan itu.
Rangga kembali dengan kesadarannya setelah berkhayal, ia menelan ludah setelah mendengar pertanyaan dari Grace. Ia mengangguk ketakutan sambil berkata, “Iya, gue inget.”
“Lo nggak mau kan makan roti bolu buatan ibu gue lagi?” Grace menakut-nakuti.
Rangga hanya menggelangkan kepala. Dia benar-benar tidak mau mencicipi roti bolu buatan ibunya Grace lagi, membayangkannya saja sudah membuat perutnya mual.
“Nah, makanya, lo coba mikir sesuatu deh, ngga. Lo bilang apa kek gitu, biar ibu gue berhenti bikin bolu.” Grace memohon sekali lagi.
Rangga berfikir sejenak. Tentu saja dia tak mungkin blak-blakan menyuruh ibunya Grace untuk berhenti dari kesibukanya begitu saja. Meskipun dia tahu kalau dia tak akan kena marah karena ibunya Grace adalah orang baik, tapi tetap saja dia masih ada perasaan tak enak hati untuk menyuruh ibunya Grace berhenti. Apalagi, sebenarnya niat dari ibunya Grace itu baik, dia hanya ingin membuat roti bolu yang enak untuk keluarganya, tapi sayangnya ia gagal berulang kali.
“Satu-satunya jalan adalah, nungguin ibu gue dateng kesini. Dia pasti akan bantuin ibu lo, ibu gue kan jago masak, pasti kalo bikin bolunya di bantuin ibu gue hasilnya bakalan enak.” Rangga sambil memegangi dagunya saat mengatakan itu.
“Iya, ibu lo emang pinter bikin makanan. Gue udah sering makan brownis buatan ibu lo, sumpah enak banget,” Kata Grace.
Dengan penuh semangat, Grace beranjak dari sofa. “Bentar, gue mau ke rumah lo dan nyuruh ibu lo buat dateng ke sini. Gue tahu lo pasti mager kalo gue suruh.”
Grace kemudian berjalan menuju pintu samping yang ada di dapur.
“Mau kemana Grace?” Tanya ibunya ketika Grace melewati dapur.
“Ke rumah Rangga bentar.” Jawab Grace sambil membuka pintu.
“Rangga ada di sini kok, kamu malah mau maen kerumahnya, mau tukeran rumah apa gimana?” Ibunya Grace mencoba bercanda.
“Ngambil pensil aku, ketinggalan.” Grace menjawab sambil berjalan melewati jalan setapak yang mengarah langsung ke rumah Rangga.
Bersambung...