Suara burung yang saling bersautan terdengar merdu di telinga ketika Rangga melangkah melewati jalan setapak di tepi taman sekolah lagi. Terdengar samar-samar dari kejauhan suara teriakan orang-orang yang sedang berlatih pencak silat. Kali ini, alunan alat musik tradisional jawa sudah tak terdengar lagi dari ruang ekstrakulikuler seni tari, mungkin mereka sudah selesai dengan latihannya.
Rangga belok ke arah barat setelah melewati blok jajaran kelas, ia mengambil jalan yang berbeda dari yang tadi. Jika tadi saat ia menuju ke kantor guru mengambil jalur yang mengarah ke aula sekolah dan lapangan basket, sekarang ia mengambil jalur yang mengarah ke lapangan yang letaknya ada di dekat gerbang keluar-masuk sekolah dan parkiran.
Lapangan sekolah terlihat ramai ketika Rangga berjalan di tepinya. Disana, di tanah lapang yang luas itu, ada banyak siswa-siswi yang sedang asik dengan kegiatan masing-masing. Mereka berkumpul sesuai dengan kelompok ekstrakulikuler yang di ikuti.
Memandang ke arah orang-orang yang penuh semangat itu, tiba-tiba saja membuat Rangga merasa kalau seharusnya dia juga seperti mereka, menghabiskan masa muda dengan penuh semangat, bermandikann keringat di bawah sinar matahari senja sembari berolahraga dan tertawa bersama teman. Ya, seharusnya masa muda memang seperti itu.
Mata Rangga melihat ke arah kelompok ekstrakulikuler pencak silat yang sedang berlatih gerakan tendangan sabit, mereka mengenakan seragam khas bela diri berwarna hitam, serta di pinggang mereka masing-masing melingkar sebuah sabuk berwarna kuning. Dibawah pimpinan ketua kelompok, para anggota ekstrakulikuler pencak silat berbaris rapi, saling menunggu giliran untuk mempraktekan tendangan sabit satu per satu, di awasi oleh pembimbing mereka.
Dulu, Rangga pernah berfikir untuk bergabung dengan salah satu kelompok ekstrakulikuler di sekolah. Dia sempat memiliki keinginan untuk ikut ekstrakulikuler pencak silat ketika menerima formulir dari ketuanya di suatu acara. Tentu saja bukan karena dia ingin berlatih bela diri agar dapat melindungi diri kalau sewaktu-waktu dia di hadapkan dengan situasi yang memungkinkan untuk melakukan pertarungan dengan orang lain, bukan. Alasan Rangga ingin bergabung dengan kelompok ekstrakulikuler silat cukup sederhana, dia hanya ingin mendapatkan seragamnya saja, karena menurutnya, seragam pencak silat sekolah lumayan keren untuk dijadikan pajangan di kamar.
Namun sayang, keinginannya itu tak bisa terwujud. Karena, untuk mendapatkan seragam silat sekolah, dia diwajibkan bergabung dan mengikuti serangkaian latihan bela diri sesuai jadwal yang di tentukan, serta harus mematuhi aturan-aturan yang telah di buat oleh pembimbing ekstrakulikuler pencak silat, jika tidak, maka anggota yang sudah terdaftar akan di kenai sanksi denda atau hukuman lain, salah satunya adalah pengambilan kembali seragam pencak silat yang sudah di berikan.
Sementara itu di sisi lain lapangan, kelompok ekstrakulikuler atletik terlihat sedang praktek lompat jauh setelah tadi sempat melakukan joging di jalan raya. Tak seperti kelompok pencak silat yang berbaris rapi untuk menunggu giliran praktek, kelompok ekstrakulikuler atletik terlihat lebih santai dan semaunya. Ada yang praktek melompat ke arah pasir yang di sediakan dengan sungguh-sungguh, ada yang tidur-tidauran di rumput, ada yang saling mengobrol, ada juga yang sedang berjalan ke tepi lapangan. Si atlit lokal yang tidak populer terlihat sedang duduk di tepi lapangan, di bawah pohon yang rindang, sembari sibuk dengan handphone-nya. Mungkin mereka sudah selesai latihan.
Saat Rangga hampir sampai di gerbang sekolah, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh suara bola yang mengenai jendela, lalu di susul dengan suara pecehan kaca yang jatuh ke lantai. Dia berhenti melangkah dan menengok ke arah sumber suara.
Tak hanya Rangga saja, bahkan hampir seluruh orang yang ada di lapangan mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara. Aktifitas di lapangan sebagian terhenti sejenak.
Itu adalah suara bola volley yang meluncur kencang, lalu tepat mengenai kaca jendela perpustakaan yang ada di sebelah utara lapangan. Itu adalah ulah salah satu anak anggota kelompok ekstrakulikuler bola volley yang juga sedang melakukan pemanasan di area lapangan sekolah. Karena terlalu bersemangat, ia jadi memukul bolanya terlalu keras dan secara tidak sengaja mengenai kaca jendela perpustakaan sekolah.
Seorang guru terlihat memarahi anak yang tak sengaja memecahakan kaca jendela itu, sambil mengomel, si guru menjewer pelan telinganya. Sementara siswa-siswi lain yang ada di lapangan sebagian tertawa melihat kejadian itu, beberapa ada yang tidak peduli dan melanjutkan latihan setelah mengetahui apa yang terjadi.
Rangga lanjut berjalan. Setelah melihat serangkaian kegiatan dan kejadian yang ada di lapangan sekolah, membuat Rangga semakin tidak tertarik untuk bergabung dengan kelompok ekstrakulikuler manapun. Dia lebih memilih untuk menggunakan waktu sepulang sekolahnya dengan bermain game atau melanjutkan cicilan novelnnya daripada harus melakukan kegiatan yang melelahkan.
Tibalah Rangga di dekat parkiran motor yang bersebelahan dengan kantin sekolah. Ketika hendak menaiki motornya, seseorang tiba-tiba memanggil Rangga.
“Rangga!”
Rangga menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana sumber suara berasal.
“Rangga!!” Panggil orang itu lagi, kali ini sedikit lebih keras.
Ketika Rangga menoleh ke arah kantin sekolah yang jaraknya tak jauh dari situ, ia melihat Darmin sedang duduk di teras kantin sambil melambaikan tangan ke arah Rangga, memberi isyarat agar Rangga menghampirinya.
Rangga lalu segera menghampiri Darmin dengan langkah kaki yang agak cepat.
“Sini dulu, temenin gue makan, mumpung kantinnya sepi.” Ucap Darmin ketika Rangga tiba di hadapannya.
“Homo lo” Kata Rangga, mengejek.
Di meja, sudah ada se porsi mie ayam yang tinggal sedikit, serta es teh yang tersisa separuh gelas, itu pasti pesanan Darmin dan dia pasti sudah cukup lama berada di sini.
“Sialan, gue nawarin baik-baik, malah lo katain homo.” Ujar Darmin.
“Becanda. Abis kalimat lu ambigu. Hehe...”
“Udah, duduk sini.” Rangga kemudian duduk di sebelahnya Darmin setelah di perintah. “Lo mau pesen apa? Biar gue yang bayar.” Lanjutnya.
“Gue mau langsung pulang aja.”
“Jangan pulang dulu, gue mau nepatin janji. Pas di perpus umum gue udah bilang kan kalau lo bakal gue traktir di kantin kalau lo bantuin gue dapetin nomer telponnya Erlita...” Kata Darmin.
Rangga pun hanya diam dan menerima traktiran dari Darmin.
Kantin sekolah tampak legang di saat Rangga iseng menengok ke bagian dalamnya melalui jendela bagian depan kantin, tepat di belakangnya.
Hanya ada sedikit siswa yang sedang makan di dalam, jumlahnya bisa di hitung dengan jari. Ada yang masih menggunakan seragam olahraga, ada juga yang menggunakan seragam OSIS, mereka tampak sangat menikmati hidangan di meja masing-masing.
“Gue pesen sama kayak lo deh, mie ayam sama es teh.” Kata Rangga.
“Oke.” Darmin mengacungkan ibu jarinya pada Rangga. Kemudian lanjut memanggil ibu penjaga kantin untuk memesan makanan yang Rangga minta.
Pesanan pun datang, Rangga menikmati mie ayam dan es teh teraktiran dari Darmin,
Di teras kantin yang tenang, Darmin bercerita ke Rangga perihal hubungannya dengan Erlita yang mengalami perkembangan yang signifikan.
Menurut apa yang Darmin ceritakan kepada Rangga, awalnya Darmin cukup kesulitan untuk mendekati Erlita, tapi seiring berjalannya waktu, dengan berbagai cara yang ia lakukan, Darmin akhirnya bisa meyakinkan Erlita kalau dia sebenarnya hanya ingin berteman dan tak punya maksud jahat saat membuntuti Erlita beberapa minggu yang lalu.
Beberapa kali Erlita sempat menelpon Darmin duluan agar bisa mendapatkan penjelasan yang lebih rinci darinya, namun Darmin yang pemalu tidak pernah berani mengangkat telpon dari Erlita. Alhasil, mereka hanya saling mengetik pesan saja untuk beberapa lama.
Tapi, lama-kelamaan Darmin merasa nyaman chattingan dengan Erlita, seiring berjalannya waktu rasa nyaman yang di rasakan oleh hati Darmin ketika saling chatting dengan Erlita membuat Darmin memiliki keberanian untuk berbicara melalui sambungan telepon secara langsung, hingga pada akhirnya Darmin mulai berani bicara empat mata dengan gadis pujaannya itu saat saling bertemu di sekolah.
“Ya... awalnya gue masih malu-malu gitu untuk ngangkat telpon dari dia, tapi lama-lama gue ngerasa nyaman dan mulai berani ngomong secara langsung sama dia...” Darmin mengambil gorengan yang ada di atas meja, kemudian memakannya, lalu lanjut bercerita,
“Awalnya gue sering pura-pura ke kamar mandi hanya karena gue pengen lewat depan kelasnya dia. Kan dia duduk di bangku paling depan ya, jadi gue bisa melihat dengan jelas wajah manisnya dia ketika gue lewat depan kelas 11-E. Kadang gue ngerasa aneh sendiri sih, gitu doang udah bahagia benget.” Darmin tersenyum sendiri.
“Trus?” Darmin bertanya setelah memakan mie-nya.
“Dia kan sering ke perpustakaan, gue juga sering. Di situ,kita saling ketemu, lama-lama jadi sering ngobrol...” Ucap Darmin.
Darmin terus melanjuktkan ceritanya, sementara Rangga mendengarkan dengan seksama sambil makan mie ayam. Rangga mulai berfikir kalau pada akhirnya mereka berdua saling akrab hanya karena punya satu kesamaan, yaitu, keduanya sama-sama penggemar berat komik dan anime One Piece. Ya, Erlita juga tadi sempat menyinggung tentang hal itu ketika memasang pamflet di mading bersama Rangga.
Ini hampir sama dengan saat Rangga yang bisa akrab dengan Erlita hanya karena kebetulan mereka berdua sama-sama menyukai lagu The Smiths. Karena membicarakan The smiths, Rangga dan Erlita jadi mengobrol panjang lebar saat di perpustakaan umum kala itu.
“Lo cukup beruntung sih min, menurut gue.” Kata Rangga.
“Iya, gue juga ngerasa gitu. Ternyata ada ya, cewek cantik yang gampang di deketin kayak Erlita.” Darmin tersenyum.
“Banyak sih sebenrnya, tapi lo aja yang jarang bergaul dengan mereka.” Rangga terdiam sebentar setelah berkata seperti itu, ia menyadari sesuatu
. “Sebenernya gue juga jarang bergaul sih, cewek yang gue tahu baik di sekolah ini ya cuman Nadia dan Grace... tambah satu lagi, Erlita” Ucap Rangga di dalam hati.
Keduanya melanjutkan obrolan di kantin. Hari semakin sore, siswa-siswi yang tadi sedang sibuk dengan kegiatan ekstrakulikuler mereka perlahan mulai berdatangan ke kantin untuk beristirahat, melepas penat dan lelah. Beberapa siswa yang sekelas dengan Darmin dan Rangga ada yang duduk bersama mereka berdua di teras kantin untuk saling mengobrol.
Kantin yang semula tenang dan sunyi pun mulai di penuhi suara-suara obrolan siswa-siswi yang kelelahan setelah berkegiatan.
Bersambung...