Seakan telah melepas beban yang membelenggu di tubuhnya, Rangga merasa lega setelah keluar dari kantor guru. Penilaiannya terhadap bu Indri sekarang sedikit berubah, Ia tak menyangka kalau bu Indri adalah orang yang ramah dan bisa di ajak mengobrol santai saat berada di kantor guru. Padahal biasanya saat mengajar di kelas, bu Indri itu lumayan tegas serta galak di mata murid-muridnya, terutama bagi mereka yang tak begitu pandai pelajaran matematika, bu Indri itu seperti monster bagi mereka.
Rangga melihat ke arah jam tangan, ini sudah hampir jam tiga sore. Karena dirinya tak mengikuti satu pun kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, maka rencananya Rangga akan langsung pulang saja.
Mengikuti kegiatan ekstrakulikuler bukanlah sebuah kewajiban bagi para siswa-siswi di sekolah ini, kecuali pramuka. Kalau pramuka, semua murid kelas 10 wajib ikut kegiatan, dan saat sudah naik kelas 11, siswa boleh memilih untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler sesuai minat mereka, namun jika memilih untuk tidak ikut sama sekali pun tidak masalah.
Bagi Rangga semua kegiatan ekstrakulikuler di sekolah ini tidak ada yang menarik, karena rata-rata semua kegiatannya berkaitan dengan kegiatan fisik, dia terlalu malas untuk hal-hal semacam itu. Tapi, mungkin jika ada kegiatan ekstrakulikuler bermain game dan ekstrakulikuler menulis, dia akan bergabung dengan senang hati.
Di tengah semangat para anggota ekstrakulikuler yang sibuk berkegiatan, Rangga lanjut melangkah untuk pulang. Sesampainya di depan ruang BK, Rangga menghentikan langkah kakinya karena melihat sosok Erlita. Cewek berponi itu terlihat sibuk menempel kertas-kertas di papan mading (Majalah dinding).
Rangga terdiam sejenak, ia berencana untuk mengajak Erlita mengobrol namun ia tak tahu bagaimana dia harus memulai pembicaraan. Lagipula Rangga juga tak tahu harus membicarakan tentang apa. Terlintas di benak Rangga untuk melemparkan sedikit berbasa-basi pada Erlita kemudian langsung pergi.
Namun semenjak pertemuan mereka di perpustakaan beberapa waktu lalu, Rangga merasa sudah lumayan akrab dengan Erlita, rasanya akan tidak enak hati kalau dia hanya melempar sedikit berbasa-basi pada Erlita dan berlalu begitu saja. Apalagi Erlita sudah mau berbaik hati meminjamkan buku referensi tugas biologi kepadanya, agak sulit bagi Rangga untuk tidak mengajak Erlita mengobrol saat berada di dekatnya.
Akhirnya setelah mempertimbangkan semua, ia berjalan santai dan mulai menyapa Erlita saat melewati papan mading.
“Hey Er, lagi ngapain?” Tanya Rangga secara tiba-tiba, ketika berada tepat di belakang Erlita.
Erlita yang merasa sedikit terkejut pun latah, kedua bahunya reflek sedikt terangkat.
“Ih Rangga, jail banget ngagetin gue lo.” Ucap Erlita setelah menoleh ke arah Rangga, kemudian menepuk pelan pundanya.
Rangga merasa sedikit bingung, padahal ia tak bermaksud untuk bercanda dengan mengageti Erlita dari belakang, tapi Erlita malah menganggapnya demikian.
“Lo lagi sibuk apa?” Rangga bertanya dengan pertanyaan yang sama.
“Oh, ini gue lagi nempel-nempelin pamflet sama karya-karya siswa.” Jawab Erlita.
Rangga memandangi Erlita, cewek berponi itu tampak tersenyum sambil membawa lembaran-lembaran kertas HVS yang ia dekap di d**a menggunakan kedua lengannya. Di lantai, dekat kaki Erlita, terlihat sebuah kardus yang juga berisi kertas-kertas. Sepertinya Erlita benar-benar sibuk.
“Emang biasanya, yang suka bikin karya di mading ini tuh siapa sih?” Rangga bertanya lagi. Karena dia sama sekali tidak mengikuti kelompok organisasi apapun di sekolah, ia jadi tak tahu menahu tentang hal itu.
“Kebanyakan sih hasil gambar dari kelompok ekskul seni rupa, puisi dari anak-anak ekskul teater juga ada”
“Oh.. gitu...” Rangga mengangguk, “Terus, kalo pamflet-pamflet gitu lo dapet dari mana?” Tanya Rangga lagi.
“Dari ruang OSIS.”
“Gue boleh bantuin enggak?” Rangga menawarkan bantuan.
“Selama lo enggak merasa keberatan, boleh-boleh aja kok.” Erlita tersenyum.
Rangga menggeser sedikit kadrus berisikan lembaran kertas-kertas yang ada di dekat kaki Erlita, kemudain dia membungkuk untuk mengambil beberapa lembar kertas dari dalam situ.
“Lo nempel-nempel beginian yang nyuruh siapa?” Rangga mulai menempel-nempelkan kertas ke papan mading yang ada di hadapan mereka.
Erlita pun mengikuti, sambil menjawab, “Enggak ada yang nyuruh sih, gue inisiatif aja. Biasanya yang masang-masang kayak gini tuh tugas anggota OSIS yang lain atau siswa-siswi yang lagi piket.”
“Lo rajin banget, ya.” Rangga memuji.
“Enggak juga kok, kebetulan gue lagi kurang kerjaan aja. Daripada gue lontang-lantung enggak jelas di ruang OSIS, mending gue masang-masang beginian.”
“Emang lo enggak ada kegiatan ekskul?” Rangga berbicara sembari terus menempelkan kertas-kertas pamflet dan puisi ke mading, Erlita pun demikian.
“Enggak, ekskul gue lagi libur minggu ini.”
“Emang lo ikut ekskul apa?”
“Menjahit.”
Kertas-kertas pamflet yang mereka tempelkan sebagian besar berisi promosi produk dan jasa yang di tawarkan oleh siswa-siswi di sekolah yang sudah punya usaha kecil-kecilan sendiri. Pihak sekolah memang mengizinkan mereka untuk hal itu. Bahkan mendukung mereka, asalkan mengikuti peraturan-peraturan mading yang telah di buat.
Peraturan-peraturan itu antara lain adalah, tidak boleh memasang pamflet promosi produk yang sama lebih dari lima lembar, tidak boleh menyertakan gambar-gambar yang tidak baik, tidak boleh menuliskan kalimat-kalimat yang buruk, sara atau mengandung kalimat kebencian, tidak boleh mengandung p********i, menyakiti kelompok dan perseorangan, serta harus mendisain pamfletnya se kreatif dan semenarik mungkin.
Produk dan jasa yang di tawarkan oleh mereka pun beragam, mulai dari produk makanan sampai perlengkapan sekolah serta yang lainnya.
Tidak hanya itu saja, beberapa pamflet juga ada yang memuat informasi tentang hal-hal di luar sekolah, yaitu beberapa tempat nongkrong yang baru buka atau tempat nongkrong rekomendasi dari anak-anak yang lain.
Selain itu majalah dinding di sekolah ini juga memajang beberapa jadwal acara apa saja yang akan berlangsung di kota, seperti, konser musik, festival budaya, pertunjukan teater, acara nonton bareng pertandingan sepak bola, serta informasi tentang hal- hal lain yang ada di sekitar kota. Siswa-siswi di sini benar-benar dipenuhi semangat dan suka membagi informasi ya.
Selain itu, mading sekolah yang lumayan lebar itu juga memuat puisi dan gambar-gambar hasil dari kreatifitas para anggota ekstrakulikuler seni rupa dan teater. Seperti yang sedang di tempelkan oleh Rangga dan Erlita saat ini. Sambil menmpel kertas-kertas menggunakan lem, Rangga sesekali membaca beberapa untaian kata dari puisi yang menurutnya memiliki judul yang bagus.
“Er...?” Sambil sibuk menempelkan kertas ke mading, Rangga mencoba mengambil perhatian Erlita.
“Apa?” Ucap Erlita sambil memberikan lem di sudut kertas bergambar kucing hasil karya seseorang.
“Lo follow i********: Darmin, enggak?” Tanya Rangga.
“Gue follow kok, walaupun sempet gue unfollow, tapi gue follow lagi.” Jawab Erlita.
“Lo udah liat instastory Darmin belum?”
Rangga tiba-tiba saja penasaran dengan hal itu. Setahu Rangga, Erlita itu tidak begitu menyukai Damin, tapi kenapa tiba-tiba saja Erlita bisa berfoto bersama Darmin, dengan pose yang terlihat akrab pula, aneh.
Apalagi Darmin dengan sengaja mengunggah foto itu di instastory-nya,pasti dia sepenuhnya sadar kalau foto itu akan di lihat oleh banyak orang yang nantinya juga akan jadi bahan pembicaraan diantara mereka, khususnya bagi mereka yang dekat dengan Erlita dan mengetahui prihal Darmin yang selalu menjadi pengutit Erlita beberapa hari yang lalu.
“Udah kok, kenapa?” Kata Erlita dengan santainya.
Rangga mengalihkan pandangannya dari mading, ke arah Erlita.
“Reaksi lo kok santai gitu sih?” Rangga mengerenyitkan dahi, ia merasa bingung. “Bukanya lo agak enggak suka sama Darmin gara-gara kemaren-kemaren dia suka ngikutin lo diem-diem?”
Erlita tersenyum sambil menempelkan gambar kucing itu ke mading.
“Iya sih...” Erlita melihat ke arah Rangga, kemudian lanjut berkata. “Lo pasti enggak follow i********: gue ya?”
“....” Rangga hanya diam. Dia memang belum follow akun i********: Erlita. Entah kenapa dia tidak pernah kepikiran untuk mem-follow akun i********: Erlita
“Kalo lo follow i********: gue, yang lo tanyain pasti Instastory gue bukan Darmin.” Jelas Erlita.
“Emang kenapa dengan Instastory lo?” Tanya Rangga.
“Gue juga posting foto-foto itu di Instastory gue kok...” Erlita tersenyum.
Tanpa di suruh, Rangga segera mengambil handphone miliknya yang dia taruh di saku celana. Kemudian membuka aplikasi Instragram. Di kolom pencarian, ia menulis nama Erlita.
Ketika rekomendasi akun-akun dengan nama Erlita muncul secara acak di bawah kolom tersebut, Rangga kemudian mencari akun yang menurutnya adalah akun i********: Erlita.
Menggeser layar beberapa kali, akun i********: asli milik Erlita yang ada di hadapannya saat ini pun berhasil ia temukan, ia segera menyentuh akun i********: dengan nama pengguna @Erlitalestarii_19. Akun itu menggunakan foto selfie Erlita yang sedang bergaya duck face.
“Ini akun i********: lo kan?” Rangga menunjukan tampilan akun i********: @Erlitalestarii_19 dari layar handphone-nya pada Erlita untuk memastikan.
“Yep. Di follow ya!” Kata Erlita.
Instagram memang biasanya sering memberi rekomendasi akun orang-orang terdekat, atau yang sering di hubungi melalui sosial media lain seperti f*******: dan WhatsApps, jadi mudah saja bagi Rangga untuk menemukan akun i********: milik Erlita.
Setelah mengikuti akun i********: milik Erlita, Rangga kemudian membuka Instastory-nya. Memang benar apa yang Erlita katakan, dia benar-benar mengunggah foto-fotonya bersama Darmin di Instastory. Foto-foto itu sama persis dengan foto yang di unggah oleh Darmin. Rangga pun bingung setelah mengetahui hal itu.
Usai membuka sebuah gulungan kertas HVS, Erlita berkata. “Setelah beberapa hari chattingan di WA sama Darmin, gue akhirnya tau, ternyata dia orangnya baik, ngga. Nggak seperti yang gue pikirkan...”
“He’em, dia emang baik.” Rangga memberikan lem kertas yang saat ini di bawanya kepada Erlita, kemudian lanjut menempelkan lembaran puisi ke mading. “Makanya, gue sempet agak enggak percaya ketika lo bilang si pengutit itu adalah Darmin.” Lanjut Rangga.
“Darmin bilang dia terlalu pemalu aja untuk ngedeketin gue, jadi ya dia diem-diem ngikutin gue gitu. Gue juga bingung, ternyata ada ya orang yang sepemalu itu di dunia ini, padahal cuman mau ngajak temenan sama gue aja, sampai jadi pengutit segala, coba aja dia dari awal ngajak gue ngobrol baik-baik, pasti gue dulu enggak akan se parno itu ke dia.” Erlita bercerita.
“Ya, setidaknya itu membuat gue lega, karena lo udah mulai mengenal Darmin.” Rangga tersenyum.
“Hehe... iya, pas telponan sama dia gue juga sempet minta maaf karena pernah memandang salah atas dirinya. Dia juga minta maaf karena sempet jadi stalker gue”
“Hah?! Kalian sempet telponan?” Rangga sedikit terkejut.
“Iya, emang kenapa sih?”
“Enggak apa-apa kok. Ngobrolin apa? Atau cuman saling minta maaf doang?” Tanya Rangga, penasaran.
“Enggak kok, kita juga ngomongin Komik dan anime One Piece. Ternyata dia fans One Piece juga, sama kayak gue.” Erlita terlihat bersemangat saat mengatakan itu.
“Oh..., bagus deh.” Rangga mengangguk.
Rangga merasa senang setelah mendengar pernyataan Erlita. Setidaknya apa yang tadi ia perkirakan memang benar adanya, jadi ia tak perlu mengira-ngira lagi soal hubungan antara Erlita dan Darmin, keduanya memang sudah berteman baik sekarang.
Disisi lain, dia juga heran pada Erlita, kenapa dia bisa semudah itu menerima seseorang yang sempat membuatnya tak nyaman. Padahal biasanya, setelah mendapat ketidaknyamanan dari seseorang, cewek akan lebih menjaga jarak dengan orang tersebut. Tapi tidak dengan Erlita, ternyata dia memang mudah di dekati. Mungkin sama halnya dengan waktu itu, saat dia bertemu dengan Erlita di perpustakaan. Awalnya Rangga juga sedikit malu-malu dengan Erlita, namun setelah mengetahui kalau Erlita menyukai band The Smiths sama seperti dirinya, Rangga jadi mengobrol panjang lebar dengan Erlita dan mereka berdua langsung akrab.
“Ngomong-ngomong... sorry ya.” Kata Rangga dengan sangat hati-hati.
“Soal apa?” Erlita bingung.
“Gue udah ngasih nomor lo ke Darmin tanpa izin.”
“Enggak papa kok,ngga. Gue juga udah tahu dari Darmin.” Erlita tersenyum menatap Rangga yang terlihat sedang menempel selebaran terakhir yang di bawanya.
Bersambung...