Cahaya matahari senja menembus kaca jendela, menerpa wajah Rangga yang saat ini sedang melihat kearah jalan raya melalui jendela kelas 11-A yang berada di lantai dua. Rangga sibuk melihat ke arah kelompok ekstrakulikuler atletik yang sedang melakukan pemanasan di tepi jalan raya, di depan sekolah.
Setelah barisan kelompok ekstrakulikuler atletik menjauh dari pandangan mata, Rangga kembali mengerjakan tugas hukumannya yang hampir selesai.
Grace yang saat ini duduk tepat di hadapanya kini masih sibuk menatap layar Handphone. Ia sudah tak lagi menjelajah i********: untuk melihat instastory Darmin atau postingan lainnya, melainkan sedang asik bermain game Harvest Moon yang ia jalankan menggunakan emulator Pizza boy (semacam aplikasi yang digunakan untuk memainkan game yang ada di Gameboy Advance, sebuah konsol game portable keluaran nintendo.)
Karena Rangga butuh waktu yang lumayan lama untuk menyelesaikan salinan jawaban dari soal-soal di buku paket tersebut, Grace lama-lama juga merasa bosan dan memilih untuk mengisi waktu dengan bermain game.
Sekitar lima menit kemudian, Rangga akhirnya selesai dengan pekerjaannya. Ia menata lembaran kertas-kertas serta buku-buku yang ada di atas mejanya dengan rapi, lalu menghela nafas lega. Dia merasa bersyukur telah menyelesaikan hukuman yang di berikan bu Indri.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga...hufft...” Kata Rangga, lalu lanjut merengganggkan punggung dan kedua lengannya.
“Capek?” Tanya Grace sambil terus fokus bermain game di handphone.
“Yep.”
“Gitu doang capek.” Kata Grace lagi.
Rangga menguap sambil membereskan buku-bukunya, dia mulai mengantuk. Grace menghentikan game Harvest Moon yang ia mainkan, kemudian memasukan handphone-nya kedalam saku rok abu-abu yang ia kenakan. Hari ini dia tertib, dia tak mengenakan celana panjang abu-abu lagi seperti sebelum-sebelumnya.
“Gue pergi dulu ke ruang musik ya, udah telat banget nih, anak-anak pasti udah pada nungguin...” Kata Grace sembari mengambil buku paket matematikanya yang ada di atas meja, lalu beranjak dari tempat duduk dan langsung pergi meninggalkan ruang kelas. Rangga hanya melambaikan tangan kanannya, memberikan salam perpisahaan saat Grace pergi meninggalkannya di ruang kelas 11-A.
Sekarang hanya Rangga seorang yang ada di dalam kelas 11-A, bermandikan cahaya matahari senja. Rangga memasukan beberapa buku catatan ke dalam tas ranselnya, sementara buku yang lainnya ia masukan ke dalam laci meja. Rangga kemudian memeriksa handphone-nya yang baru saja menerima pesan WhatApps dari bu Indri, guru matematika itu menyuruh Rangga untuk segera menyerahkan tugas hukumannya ke kantor kantor guru.
Rangga berjalan melewati deretan kelas yang ada di lantai dua. Mulai dari kelas A, kelas B dan kelas C. Lalu menuruni tangga setelah sampai di ujung koridor dan tiba di aula sekolah yang ada di dasar. Ia melanjutkan perjalanya, mengambil jalur kanan.
Suasana di lapangan basket terlihat cukup ramai saat Rangga lewat di tepian. Ada beberapa anak yang duduk di bangku penonton, menyaksikan sepuluh orang siswa yang sedang melakukan latih tanding. Mereka yang ada bangku penonton di d******i oleh anak-anak perempuan.
Mungkin tujuan para anak perempuan datang ke lapangan basket tak hanya sekedar menyaksikan pertandingan, tapi juga cuci mata memandang cowok-cowok ganteng di sekolah.
Bangku penonton menjadi riuh di penuhi suara tepuk tangan dan sedikit teriakan setelah salah satu pemain berhasil mencetak point.
“Kyaaa!! Semangat Rehan!” Teriak salah satu penonton dengan heboh serta sedikit gemulai, padahal dia adalah laki-laki.
Setelah melewati lapangan basket, sampailah Rangga di koridor kelas berikutnya. Suara langkah kaki Rangga terdengar nyaring di tengah sepi.Pintu dari tiap-tiap ruang kelas yang saat ini di lewati Rangga masih terbuka semua, sesekali ia melihat-lihat ke dalam.
Setelah beberapa langkah ke depan, terdengar samar-samar suara orang-orang yang sepertinya sedang mengobrol atau semacamnya.
Ada satu-dua siswa yang masih berada di dalam kelas, mereka terlihat saling mengobrol. Di ruang kelas yang lain, ada dua orang siswa yang saling berhadapan memperagakan gerakan pencak silat yang mereka pelajari, seakan sedang melakukan pemanasan sebelum benar-benar pergi ke lapangan untuk menghadiri latihan ekstrakulikuler bela diri. Di kelas lainnya juga terlihat lima anak perempuan sedang memasang hiasan-hiasan natal di dinding kelas, namun tak begitu berlebihan.
“Eh tolong bantuin aku masang lampu-lampu kecil ini dong.” Kata salah satu dari mereka, dia meminta bantuan kepada temannya untuk memasang hiasan berupa lampu natal tumblr yang panjangnya sekitar satu sampai dua meter.
Mereka seakan bersiap untuk menyebar semangat natal.
Sekolah ini sangat menjunjung tinggi toleransi. Jika tiba hari raya natal, maka murid-murid yang beragama kristen akan menghias kelas mereka dengan tema natal. Jika tiba hari raya idul fitri, murid-murid yang beragama islam juga akan menghiasi kelas-kelas dengan tema idul fitri. Begitu pula dengan hari raya imlek, nyepi dan yang lainnya. Mereka di beri kebebasan. Siswa-siswi di sekolah ini juga memiliki rasa saling menghargai perbedaan yang tinggi. Mereka sudah terbiasa dengan hal itu.
“Gue sampe lupa kalau ini udah bulan Desember.” Kata Rangga dalam hati saat melihat kesibukan anak-anak perempuan di dalam salah satu ruang kelas itu.
Beberapa hari ini dia jarang memeriksa kalendar karena terlalu sering menghabiskan waktunya untuk menonton film dan bermain game.
Rangga juga jarang mengatur jadwal pelajarannya setiap hari. Dia membawa semua buku pelajaran setiap berangkat ke sekolah, Rangga juga meninggalkan beberapa bukunya di laci mejanya agar tak perlu repot-repot menyimpan banyak buku ke dalam tas ransel. Ngomong-ngomong, Rangga melakukan itu atas saran dari Grace. “Mending lo bawa semua buku lo aja ke sekolah, sisanya tinggal aja di laci meja. Jadi lo enggak usah repot-repot nge jadwal tiap hari.” Begitu kira-kira saran Grace kepada Rangga.
Terdengar lantunan suara musik tradisional jawa saat Rangga melewati taman sekolah. Suara itu bersumber dari sebuah bangunan yang jaraknya beberapa meter dari tempat Rangga berjalan, bangunan tersebut adalah ruang ekstrakulikuler seni tari. Rangga melangkah menyurusuri jalan setapak yang ada di tepi taman sambil sedikit menikmati suara gamelan yang terdengar merdu di telinga.
Beberapa menit berjalan kaki, akhirnya sampai juga Rangga di kantor guru.
Pintu kantor guru di biarkan terbuka, terlihat beberapa guru dan staf karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, namun juga beberapa dari mereka ada yang saling mengobrol sambil memakan cemilan, kadang juga terlihat tertawa.
Beberapa detik bersiap-siap, Rangga memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
“Iya, ada apa, mas?” Tanya seorang guru laki-laki yang berbadan gendut setelah menyadari ada orang yang mengetuk pintu kantor guru, kebetulan ia sedang berdiri di dekat situ.
“Permisi pak, meja bu Indri sebelah mana ya?” Ini pertama kalinya Rangga datang ke ruang guru setelah hampir dua tahun sekolah, jadi wajar kalau dia bertanya seperti itu.
“Oh, itu mas, mejanya di paling ujung.” Ucap guru gendut itu sambil menunjuk ke arah meja bu Indri yang berada di sudut ruangan.
Rangga maju dua langkah, sedikit masuk ke dalam ruangan, lalu menoleh mengikuti arah telunjuk dari guru gendut itu.
Di meja yang berada di paling ujung ruangan kantor guru itu, terlihat bu Indri sedang sibuk mengerjakan sesuatu, ia tampak serius mencatat di atas buku tebal.
“Makasih, pak.” Ucap Rangga, kemudian melangkah sopan menghampiri bu Indri.
Rangga sedikit malu-malu ketika berjalan melewati jajaran meja para guru di ruangan itu. Bagaimanapun juga, ini adalah tempat yang cukup asing bagi Rangga.
Sambil terus mencatat sesuatu di sebuah buku, bu Indri mempersilahkan Rangga untuk duduk di kursi yang ada di hadapan beliau, Rangga pun duduk dengan sopan.
“Ini bu, soal-soal di buku paket yang ada di halaman empat puluh sampai empat puluh dua sudah saya selesaikan semua.” Rangga berbicara dengan hati-hati sambil menyerahkan kertas pekerjaannya.
Bu Indri lantas menghentikan kegiatan mencatatnya, lalu menerima kertas yang di serahkan Rangga sambil menatapnya tajam. Tatapan bu Indir itu membuat Rangga menelan ludahnya sendiri, dia merasa gugup.
Dengan mengenakan hijab warna pink dan setelan baju batik, bu Indri terlihat cantik seperti biasa. Tapi matanya yang sedikit tajam saat menatap seseorang membuatnya sedikit menyeramkan meskipun wajahnya cantik.
Setelah beberapa saat memeriksa kertas-kertas hasil pekerjaan Rangga, bu Indri berkata.
“Bagus, ini udah benar semua, kamu di ajarin siapa?” Tanya bu Indri. “Padahal, materi ini belum ibu ajarkan di kelas lho, kamu nyari di internet ya?” Lanjut bu Indri sambil menatap Rangga.
“Enggak kok bu, tapi saya belajar sama Grace bu...” Jawab Rangga, gugup.
“Oh... pantes, dia emang pinter.” Kata bu Indri.
Saat menatap ke arah tumpukan kertas yang ada di sekitar meja kerja bu Indri, tak sengaja Rangga melihat kertas ulangan matematika dengan nilai seratus. Di atas kolom pengisian nama, tertulis jelas di situ, “Grace Anastasia” Itu adalah kertas ujian milik Grace.
Ya, seperti yang baru saja di katakan bu Indri, Grace memang pintar.
“Iya bu, makanya saya belajar sama dia, hehe...” Rangga sedikit tertawa untuk mencairkan suasana yang sedikit membeku.
“Tapi sayang banget ya...” Ucap bu Indri. “Grace sering bolos. Kata guru-guru yang lain dia juga sering masuk ruang BK gara-gara enggak mau pake rok...” Lanjutnya.
“Iya bu, dia emang gitu, tomboy.” Kata Rangga.
“Denger-denger, rumah kalian sebelahan ya?” Tanya bu Indri, penasaran.
“Iya bu, rumah dia tepat di sebelah rumah saya.”
“O... kalian udah saling kenal dari kecil dong berarti?” Bu Indri terus mengintrogasi.
“Enggak kok bu, saya baru pindah ke sini pas lulus SMP, kebetulan rumah kita sebelahan. Jadi kalo diitung-itung ya kita baru setahun lebih tetanggaan.”
“Oh, gitu ya...” Bu Indri mengangguk, mulai mengerti. “Ngomong-ngomong, bilangin ke Grace ya, suruh dia tertib di sekolah, suruh dia pake rok, biar enggak jadi langganan guru BK terus!”
“Hari ini dia pake rok kok bu.” Jawab Rangga.
“Oh, iya kah? Bagus deh kalau gitu.”
Seperti yang ia ceritakan kepada bu Indri, Rangga memang baru pindah ke kota ini sekitar setahun setengah yang lalu. Setelah Rangga lulus SMP, dia dan keluarganya pindah ke kota ini di karenakan pekerjaan ayah Rangga yang memang sering pindah tempat.
Dan kebebtulan, keluarga Rangga membeli rumah yang letaknya tepat di sebelah keluarga Grace. Seiring berjalannya waktu, keluarga mereka pun menjadi sangat akrab seperti saudara dekat. Bisa di bilang itu adalah hal yang cukup wajar, karena dulunya ibu Rangga pernah berkuliah di tempat yang sama dengan kedua orang tua Grace.
Mungkin saat itu sebelum keluarga Rangga pindah ke kota ini, ibunya Rangga dan orangtua Grace sudah membuat rencana agar mereka bisa tinggal bersebelahan.
Bersambung....