Instastory Darmin

1587 Kata
Suasana sore hari di sekolah terasa hangat dan tentram. Pemandangan di lapangan sekolah terlihat ramai di penuhi oleh siswa-siswi yang penuh semangat di terpa cahaya matahari senja. Mereka sibuk melakukan kegiatan ekstrakulikuler masing-masing, ada kelompok kegiatan ekstrakulikuler fisik seperti, basket, sepak bola, badminton, atletik dan volly serta yang lainnya. Ada juga yang non-fisik seperti, kelompok debat bahasa inggris, matematika, musik dan ekstrakulikuler menjahit. Karena lapangan sekolah sangat luas, mereka semua yang tergambung dengan kelompok ekstrakulikuler fisik bebas melakukan kegiatan di bagian lapangan manapun, asal tak mengganggu kelompok yang lain. Sedangkan untuk kegiatan ekstrakulikuler non-fisik, mereka memiliki ruangannya masing masing. Setiap kegiatan ekstrakulikuler membentuk kelompoknya masing-masing dan memiliki pembimbing kegiatan untuk setiap kelompok ekstrakulikuler. Pembimbingnya tidak hanya dari kalangan guru di sekolah saja, tapi juga ada orang yang berasal dari luar sekolah yang kebetulan sudah ahli dalam bidang tersebut. Misal, untuk kegiatan eksktrakulikuler atletik, sekolah menyewa seorang atlet lokal yang kurang populer untuk membagi ilmunya pada siswa-siswi di sekolah itu, anggap saja memberi lowongan bagi atlet yang kurang populer tersebut. Begitu juga dengan kegiatan ekstrakulikuler yang lain, pihak sekolah juga menyewa seorang yang ahli dalam bidang tersebut, tentu saja orang itu pasti tidak begitu populer di bidangnya supaya menghemat biaya. Namun tidak semuanya seperti itu. Ada beberapa kelompok ekstrakulikuler yang berada di bawah bimbingan guru dari sekolah seperti, kelompok debat bahasa inggris, matematika, dan seni musik. Sementara itu, di ruang kelas 11-A, di bangku yang letaknya tepat di sebelah jendela kelas, Rangga sedang duduk saling berhadapan dengan Grace, mereka sedang membicarakan sesuatu. “Tumben banget lo lupa ngerjain PR, biasanya lo rajin banget.” Grace memandangi Rangga yang terlihat sibuk mengerjakan PR. “Lagi sial aja, semalem gue nonton series di Netflix, karena ceritanya bagus, jadi kebablasan deh...” Kata Rangga sambil terus menulis di atas bukunya. “Kan abis nonton masih ada waktu buat ngerjain.” “Abis nonton, begitu gue liat kearah jam dinding, ternyata udah jam setengah satu malem, dan gue ngantuk banget. Terus ketiduran di kasur.” “...” Setelah mendengar jawaban dari Rangga, Grace terdiam sambil memasang ekspresi datar. “Itu sih bukan ketiduran tapi lo emang sengaja tidur. Ketiduran kok di kasur.” Kata Grace. Rangga sedikit tertawa. Merasa lucu dengan kelakuannya sendiri. Seharusnya Rangga sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu, tapi karena dia lupa mengerjakan PR matematikannya, dia harus bersusah payah untuk mengerjakan soal-soal di buku paket matematika sebagai hukuman yang di berikan oleh bu Indri, guru matematika di kelas 11-A. Karena tak mau repot, Rangga menyalin jawaban soal-soal tersebut dari buku paket matematika milik Grace, dan Grace pun sama sekali tak keberatan akan hal itu, ia menganggapnya sebagai balasan karena Rangga sudah membantunya menulis lagu. Seharusnya saat ini Grace juga sudah harus mengikuti kegiatan ekstrakulikuler musik, tapi karena bukunya masih dibutuhkan oleh Rangga, ia memilih untuk menemani Rangga dan tak masalah jika sedikit telat datang ke ruang musik. Rangga sempat menyuruh Grace untuk pergi ke ruang musik duluan, nanti saat pekerjaannya selesai, dia akan mengantarkan bukunya ke ruang musik. Tapi Grace tidak mau karena Rangga itu sedikit pelupa, Grace khawatir kalau dia akan menginggalkan buku paket matematika miliknnya di kelas. Beberapa hari yang lalu saat Grace sedang ada waktu luang, ia mengisinya dengan melakukan kegiatan yang produktif yaitu, mengerjakan soal-soal yang ada di buku paket matematika. Kebetulan sekali soal-soal matematika yang di kerjakan Grace di kala luang itu adalah soal-soal yang di diminta oleh bu Indri untuk di kerjakan Rangga sebagai bentuk hukuman karena dia tak mengerjakan PR. Walaupun Grace sering bolos dan seenaknya saat mengenakan seragam sekolah, tapi sebenarnya dia itu lumayan pintar dan rajin. Di dalam kelas 11-A saat ini hanya tersisa beberapa orang saja, jadi suasanya cukup sunyi. Beberapa siswa dan siswi yang memilih untuk tetap ada di kelas adalah mereka yang sedang bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, ada juga yang sibuk mengobrol tentang sesuatu, entah itu tentang pelajaran ataupun tentang tempat nongkrong yang ingin mereka kunjungi sepulang sekolah. “Eh, ngomong-ngomong lo udah liat instastory-ya si Darmin belum?” Grace tiba-tiba merubah topik pembicaraan. “Iya, gue udah liat kok.” Rangga sibuk menulis sambil terus mengerjakan pekerjaannya. “Mereka kok keliatan akrab banget ya, sampe foto-foto bareng dan di jadiin instastor?.” Grace merasa heran. “Enggak tau, mereka udah jadian mungkin?” Rangga menjawab santai, seenaknya. Grace terlihat sedikit terkejut sambil berkata. “Seriuss!?” Pupil matanya seolah melebar. Rangga menghentikan pekerjaannya. “Kan gue bilang ‘Enggak tau’ dan ‘Mungkin.’ Kenapa lo malah nganggep itu beneran?” “Hehe... iya juga ya...” Grace cengengesan. “Sorry,” lanjutnya. Grace kemudian mengeluarkan Handphone-nya. Kemudian membuka aplikasi i********: untuk melihat instastory milik Darmin untuk yang ke sekian kalinya. “Kalau diliat-liat dari pose mereka berdua sih, kayaknya mereka enggak pacaran deh, soalnya si Darmin masih keliatan kaku gitu.” Karena rasa penasannya, Grace jadi terlihat seperti menganalisis foto di Instastory milik Darmin, layaknya seorang detektif. “Ya... semoga aja mereka beneran pacaran?” Kata Rangga sambil melanjutkan mengerjakan hukumannya. Grace meletakan Handphone-nya di meja, lalu menatap serius ke arah Rangga. “Berati lo sangat mendukung kalo mereka beneran pacaran?” Grace bertanya tegas. “Kalau emang itu yang terbaik bagi mereka berdua, kenapa enggak?” Kata Rangga, kemudian ia melihat keluar jendela yang ada di sebelahnya. “Sebenernya gue juga heran sih, kok bisa secepat itu ya?” Rangga memasang ekspresi bingung di wajahnya sambil terus menatap keluar jendela.. Mereka berdua sedang membicarakan tentang isi instastory Darmin yang menurut mereka apa yang di posting oleh Darmin itu sukses membuat keduanya penasaran dan menimbulkan sejuta pertanyaan di kepala masing-masing, namun dengan perspektif yang berbeda. Bagaimana tidak, di dalam instastory tersebut, Darmin mengunggah beberapa foto dirinya bersama dengan Erlita yang sedang berada di sebuah cafe. Di dalam foto itu, keduanya terlihat sangat akrab, bahkan sedikit mesra, karena di salah satu foto tampak mereka yang duduk saling berdempetan. Padahal, saat Rangga bertemu dengan Erlita di perpustakaan beberapa hari yang lalu, Erlita sempat curhat ke Rangga tentang dirinya yang merasa terganggu dengan Darmin karena di duga Darmin selalu mengikuti dan menjadi pengutit dirinya dalam beberapa hari, Erlita juga bilang kalau ia sampai merasa tak nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Darmin. Tak hanya itu, bahkan Erlita sampai meminta bantuan Rangga untuk bilang ke Darmin agar berhenti melakukan hal itu lagi. Setelah melihat instastory milik Darmin semalam, Rangga jadi merasa lega karena Darmin berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Bagaimanapun juga, jika memang benar Erlita dan Darmin telah menjalin hubungan yang baik, entah itu pacaran atau hanya sekedar berteman, setidaknya semua itu berkat Rangga yang tanpa se izin Erlita dengan sengaja memberikan nomor Erlita pada Darmin saat di perpustakaan. Rangga merasa telah memperbaiki hubungan mereka. Walaupun dia tidak tahu pasti apa yang telah terjadi dengan mereka berdua, yang jelas, melihat foto Erlita dan Darmin yang mulai terlihat akrab itu sudah cukup baginya. Setidaknya dia tak perlu repot-repot meminta Darmin untuk menjauhi Erlita. Karena bagi Rangga akan cukup merepotkan kalau seandainya ia harus menuruti permohonan Erlita untuk membuat Darmin menjauh darinya. Dia pasti bingung harus berkata apa pada Darmin, tak enak hati. Tapi syukurlah sekarang hubungan mereka terlihat baik-baik saja. “Secepat itu gimana maksudnya?” Tanya Grace, ia bingung dengan apa yang di katakan Rangga. Jelas Grace bingung karena dia tak tahu-menahun soal Darmin yang sempat jadi pengutit Erlita selama beberapa hari, Rangga belum pernah bercerita tentang hal itu pada Grace dan mungkin ia tak akan pernah menceritakannya. “Ya cepet aja gitu.” Rangga menatap kearah Grace lagi. “Coba lo inget-inget, pernah enggak lo ngeliat Darmin ngedeketin Erlita? Atau lo pernah enggak ngeliat Darmin ngedekitin cewek di sekolah?” Kata Rangga, mencoba membuat alibi. Grace hanya menggelengkan kepalanya, “Sama sekali enggak pernah.” Ucapnya. “Enggak pernah kan, tapi tiba-tiba aja dia deket sama anak kelas 11 E...” “Namanya Erlita, tau’.” Potong Grace. “Iya gue tau, gue kenal kok sama dia, dia sempet satu regu sama gue pas acara pramuka.” Ujar Rangga. “Kalo dipikir-pikir iya juga ya? Kok Darmin bisa secepat itu deket sama Erlita, padahal enggak pernah ada gosip di antara mereka, eh tau-tau upload foto bareng.” Grace kembali menatap layar handphone-nya lagi, kali ini dia memandang foto Darmin dan Erlita dengan serius, masih menganalisa. Rangga hampir selesai menyalin jawaban soal-soal dari buku paket milik Grace. Rencananya, setelah dia menyelesaikan hukumanya, Rangga harus turun ke kantor guru untuk menyerahkan pekerjaanya pada bu Indri. Di tengah tengah pekerjaannya, Rangga menguap, ia merasa sedikit bosan. Kemudian menghadap ke samping lagi untuk melihat keluar jendela. Ia menatap ke arah jalan raya yang di padati oleh kendaraan, dari jendela kelasnya yang berada di lantai dua. Di tepi jalan raya itu, terlihat barisan kelompok ekstrakulikuler atletik berbaris rapi. Dengan mengenakan seragam olahraga sekolah, mereka terlihat sedang melakukan pemanasan dengan berlari-lari santai, di pimpin oleh seorang atlet lokal yang tidak populer. Semunya terlihat terbakar semangat. Terutama si atlet, ia yang terlihat paling semangat di antara semuanya, meskipun dia adalah atlet yang (lagi-lagi) tidak populer. Sesekali si Atlet lokal yang tidak populer itu berteriak kepada para siswa dan siswi yang berlari dengan barisan rapi di belakangnya. “SEMANGATT!!” Teriak si Atlet yang tidak populer. Kemudian para siswa-siswi yang yang berlari santai di belakangnya membalas serentak dengan berteriak “SEMANGAT, TERUS SEMANGAT!!” Mungkin itu adalah semacam yel-yel dari kelompok ekstrakulikuler atletik untuk membakar semangat mereka. Rangga menatap barisan kelompok ekstrakulikuler itu dari jendela kelasnya sambil menopang dagu. Karena teriakan yel-yel mereka lumayan keras, Rangga dapat mendengar teriakan mereka dengan samar-samar. “Yel-yel yang membosankan” Kata Rangga dalam hati. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN