Pergi Ke Pasar Malam

1281 Kata
Agung menghentikan laju motor kawasaki ninja-nya ketika tiba di sebuah tempat parkir yang ada di area pasar malam, lalu Grace segera turun dengan senang hati setelah tiba disitu. Grace merasa senang karena Agung mengabulkan permintaanya yang ingin pergi ke pasar malam tadi siang.  Setelah melepas helm dan memberikannya kepada Agung, Grace menatap kearah bianglala yang tampak bersinar terang dengan lampu yang warna-warni. Bianglala tersebut berada di antara kerumunan orang dan para perjual di situ. Mata Grace terlihat berbinar-binar menatap menatap kearah situ, menunjukan kalau dia sangat senang, seakan pasar malam itu adalah tempat impian Grace. Tak heran jika Grace terlihat sangat senang seakan tak pernah pergi berkunjung ke pasar malam sebelumnya, karena dia memang hampir tak pernah pergi mengunjunginya, ibunya sering melarang Grace untuk pergi main keluar saat larut malam, paling-paling Grace hanya diperbolehkan keluar malam sampai jam sembilan saja. Tapi malam ini berbeda, karena ia keluar tanpa ijin pada ibunya terlebih dahulu, jadi tak ada aturan khusus baginya untuk pulang ke rumah pada jam tertentu, Grace bisa memilih untuk pulang ke rumah kapan saja asalkan tak ketahuan oleh ibunya. Agung memberikan uang senilai dua ribu rupiah kepada tukang parkir yang sedang bertugas di situ, kemudian menggandeng erat tangan Grace dan mulai melangkah beriringan menuju ke pasar malam tersebut. Usai Grace dan Agung berjalan di jalanan yang gelap untuk beberapa saat. Cahaya gemerlap menerpa mereka ketika mereka memasuki area pasar malam. Grace tersenyum sembari memandangi stan-stan yang berjajar di sekitarnya. Ruih macam-macam suara yang ada di pasar malam terdengar secara acak di telinga, di mana-mana. Orang-orang saling mengobrol, berteriak, menggoreng sesuatu, memainkan sesuatu, suara decitan anak-anak ayam yang warna-warni, suara mendesis dari seekor ular yang ada di dalam kandang kecil, suara burung dan suara sesuatu yang meletus serta hal-hal menyenangkan lainnya membaur menjadi satu menciptakan sesuatu yang meriah, menyemarakan malam. Grace yang sudah dua minggu lamanya tidak boleh keluar rumah karena dihukum seakan merasa terlahir kembali saat berada di pasar malam yang di penuhi kegembiraan ini. Entah kenapa, semua ini terasa baru baginya, padahal hampir tiap tahun saat pasar malam di selenggarakan di kota ini, Grace sering berkunjung bersama ayahnya. Keduanya kemudian melangkah ke area yang lain dari pasar malam. Disitu, Grace mendapati suasana yang berbeda dari yang tadi, keduanya melihat berbagai macam pertunjukan kecil-kecilan di sekeliling. Ada seseorang yang mampu memainkan banyak alat musik di waktu yang bersamaan. Ada para badut yang melakukan atraksi juggling bola ditanggannya sembari menaiki sepeda roda satu. Ada orang yang bertelanjang d**a, hanya memakai celana jins pendek dan menyemburkan api dari mulutnya, orang-orang di sekitar bertepuk tangan setelah melihat hal itu. Seorang pria memasukan sebuah pedang kecil yang panjang kedalam mulutnya, lurus, masuk ke tonggorokan. Orang-orang bingung dan terkagum-kagum bagaimana ia bisa melakukan hal mustahil semacam itu, Grace pun demikian. Semetara di sebelah orang yang menelan pedang itu ada seorang wanita bepakaian serba hitam terlihat melakukan atraksi mengerikan dengan memakan pecahan kaca, seorang anak kecil yang berada di antara penonton terlihat menutupi kedua matanya dengan telapak tangan, namun juga kadang mengintip. Ia takut namun penasaran dengan apa yang akan terjadi. Melangkah ke arah depan lagi, Grace dan Agung melihat seorang pesulap sedang menggosok-gosokan tanganya dengan bubuk abu, kemudian dari tangannya itu muncul lembaran kertas, dan kertas-kertas itu berubah menjadi rangkaian bunga mawar setelah kertasnya di bakar. Pesulap itu kemudian mengeluarkan sebuah cincin sesaat setelah tepuk tangan dari penonton berhenti, ia lanjut mengeluarkan cincin emas ajaib yang bisa melayang di antara kedua telapak tangannya. Pertunjkan itu membuat semua penonton bertepuk tangan lebih keras lagi. Sebenarnya masih ada banyak lagi hal-hal unik yang bisa di jumpai di pasar malam itu, namun pastinya Grace dan Agung tak punya banyak waktu untuk melihat-lihat semuanya. Grace dan Agung kemudian lanjut melangkah lagi, kali ini mereka berada di suasana yang cukup tenang ketimbang yang tadi.  “Kita istirahat bentar, ya. Punggung aku rasanya pegel banget nih, dari tadi naik motor.” Keluh Agung. “Iya deh.” Grace sedikit kecewa karena dia sebenarnya ingin lanjut jalan. Mereka kemudian duduk di sebuah bangku panjang untuk beristirahat karena Agung merasa kelelahan setelah mengendarai motor dengan jarak yang cukup jauh. “Akhinya, kita bener-bener punya waktu berdua ya.” Kata Agung. “Maaf ya kalau akhir-akhir ini aku enggak selalu ada buat kamu.” Kata Agung, menderkan punggungnya kebagian belakang kursi. Akhirnya mereka punya momen “Hanya berdua.” Yang mana, seharusnya itu sudah terjadi saat di restoran mewah tadi. Agung juga sudah mempersiapkan tempat dan hal romantis lainnya, namun sayangnya malah ada Putri diantara mereka, jadi mereka gagal mendapatkan momen romantis itu. “Kamu sih, sibuk terus. Aku kadang ngerasa kesel sama kesibukan kamu. Seakan aku ngerasa kalau kamu berubah.” Grace sedikit kesal, ia menatap Agung. “Padahal dulu kita sering banget ngabisin waktu bareng kayak gini.” Lanjutnya, sedikit rindu masa lalu. “Ya, mau gimana lagi, dulu kan aku masih kelas dua, masih belum banyak kegiatan, jadi ya dulu masih punya banyak waktu luang buat main-main sama kamu. Sekarang udah kelas tiga, dan kamu kelas dua. Aku punya banyak banget kegiatan, lomba, persiapan ujian kelulusan, semua itu bikin aku harus sering belajar di rumah. Belum lagi kegiatan OSIS. Wajarlah kalau aku sibuk, aku tahu kamu pasti bisa paham.” “Iya sih... tapi jujur aja aku kadang kangen masa-masa awal- awal kita pacaran dulu.” Kata Grace sambil menundukan kepalanya. Grace merenung sebentar, kemudian menatap kearah Agung yang juga sedang melihat ke arahnya. Grace tiba-tiba sadar akan sesuatu, ia tahu kalau sebentar lagi Agung akan menghadapi ujian kelulusan, dan akan lulus dari masa SMA-nya sebentar lagi.  Ada ketakutan yang hinggap di dalam hatinya saat memikirkan hal itu. Grace tak tahu apa yang akan di lakukan Agung setelah lulus dari SMA. Agung adalah anak yang pintar di sekolah, tentu saja dia akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Orang tuanya sudah pasti sanggup untuk membiayainya masuk kuliah, atau bisa saja Agung mendapatkan biasiswa yang sangat amat mungkin dia dapatkan setelah nanti.  Grace pikir, beasiswa adalah hal yang sangat mungkin bagi Agung, dia pintar, yang saat ini mengganggu pikirannya adalah, di kota tempat mereka tinggal, tidak ada universitas, hanya ada sekolah, dari SD sampai SMA saja. Jadi, jika ada orang yang ingin melanjutkan kuliah, mereka pasti akan pergi keluar kota untuk mendaftar ke kampus. Itu juga akan terjadi pada Agung jika dia ingin lanjut kuliah. Dengan kata lain, cepat atau lambat, Agung pasti akan pindah keluar kota dan meninggalkan Grace untuk lanjut kuliah. “Kalau kamu lulus nanti...” Kata Grace. “Ya?” Agung penasaran karena Grace menghentikan perkataannya. “Kamu bakal lanjut kuliah deh pasti, terus ninggalin aku.” Grace menatap Agung dalam-dalam. Agung terdiam sejenak kemudian berkata. “Iya, aku udah punya rencana mau lanjut kuliah, ortu aku udah punya rekomendasi tempat kuliah.” “...” Grace hanya terdiam kaku, tak tahu harus berkata apa, yang dia tahu pasti hanyalah, Agung yang sudah pasti akan pergi meninggalkannya. “Dan... mungkin aku bakal pindah keluar kota, ke tempat dimana aku kuliah.” Lanjut Agung. Dengan sedikit berat hati, Grace bertanya. “Terus? Hubungan kita mau dibawa kemana?” “Kita pikirin aja nanti.” Jawab Agung. Agung dan Grace saling melihat ke bola mata masing-masing. Keduanya tak tahu dengan perasaan masing – masing, antara bahagia karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama dan sedih karena tahu kalau cepat atau lambat, mereka pasti akan terpisah. Saling menatap dalam waktu yang cukup lama, wajah Agung dan Grace pun saling mendekat secara perlahan, mendekat dan mendekat. Mata Grace kemudian terpejam ketika bibir mereka semakin dekat. Namun, tiba-tiba saja Handphone milik Grace berbunyi, mengagetkan mereka berdua. Keduanya kemudian salah tingkah dan segera menjauhan wajah mereka lagi. “Rangga video call.” Ucap Grace pada Agung setelah memeriksa handphone-nya. “Bersambung...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN