Membawa Pulang Cemilan Manis

1277 Kata
Rangga mengangkat kakinya kembali yang sudah ia letakan di atas papan. Ia berkacak pinggang, wajahnya terlihat masam. Rangga mundur beberapa langkah dari jendelanya, kemudian mengatur nafas. “Sumpah ini ngeri banget sih.” Katanya setelah itu. Namun, Rangga tak mau berhenti sampai di situ, ia memejamkan matanya, mengumpulkan keberanian. Ia heran, bagaimana Grace bisa melewati jembatan papan kayu ini, padahal baru berdiri di tepiannya saja rasanya sudah mengerikan, apalagi berjalan di atasnya. Kalau Grace saja bisa, pasti dia juga bisa. Rangga kemudian mulai melangkahkan kaki sebelah kananya lagi menapaki papan kayu di datas jendela.  Kedua tangannya memegangi kedua sisi jendela, pandangannya melihat ke bawah. Jarak antara dirinya dan rerumputan di bawahnya memang tinggi, tapi di pandangan Rangga yang sedang menengok ke bawah terasa lebih tinggi dari yang sesungguhnya, mungkin itu hanya imajinasinya saja karena sedang panik. Perlahan-lahan Rangga mulai menggerakan kakinya. Ia menghadap ke depan, fokus pada jendela kamar Grace yang terbuka, tak berani menengok menengok ke bawah lagi. Karena kakinya gemetar, Rangga menggunakan tangannya untuk membantunya menjaga keseimbangan. Sedikit demi sedikit ia bergerak ke depan menuju jendela kamar Grace. Sambil melangkah, hatinya berharap agar ia segera tiba di ujung sana. Karena terlalu fokus melihat ke arah depan, Rangga jadi tak sadar kalau dia ternyata sudah berada di tengah perjalananya, ia tepat berada di jembatan papan kayu itu. Ia menengok ke belakang, ke arah jendela kamarnya, jaraknya terasa sangat jauh, padahal tak sejauh itu. Ia ingin kembali lagi ke situ namun sepertinya itu akan terasa percuma jika ia melakukannya. Rangga sudah berada di tengah jalan, tak ada jalan untuk kembali. Angin berhembus lagi, gemerlap kilatan cahaya muncul dengan cara yang singkat di antara gelapnya langit malam, membuat Rangga merasa sedikit ketakutan. Langkah kakinya menjadi sedikit cepat, terdorong oleh rasa takutnya. Entahlah, ia mungkin takut hujan akan turun secara tiba-tiba sedangkan ia masih berada di atas situ.  Pada akhirnya, kaki kiri Rangga berhasil melangkah ke bagian tepian jendela kamar Grace, dia berhasil menyeberang, Dadanya masih berdegup kencang, ia menghembuskan nafasnya, “Hufft...” Perasaan lega mengalir ke sekujur tubuhnya, memenuhi hatinya yang tadi sempat merasakan ketakutan. Usai mengatur nafas sambil membungkuk, Rangga menegakkan badannya kembali. Kamar Grace sangatlah gelap karena lampunya belum di nyalakan. Kemudian Rangga lanjut melangkahkan kakinya dengan hati-hati, menuju ke arah pintu kamar untuk mencari saklar lampu yang menempel di dinding di sekitaran pintu kamar Grace. Grace sering menyuruh Rangga untuk datang ke kamarnya sewaktu-sewaktu Grace sedang butuh teman bicara. Kadang juga Rangga yang datang dengan sendirinya tanpa di suruh oleh Grace. Keduanya memang sedekat itu, mungkin apa yang di lakukan Rangga memang terkesan tidak sopan, namun Grace selaku pemilik kamar tidak merasa keberatan pada Rangga yang sering keluar masuk ke kamarnya, jadi tidak masalah.  Begitu juga sebaliknya. Grace juga sering berkunjung ke kamar Rangga seenaknya, seperti yang di lakukannya tadi siang saat berpura-pura meminjam buku di kamar Rangga. Mereka saling kunjung-mengunjungi kamar. Oleh sebab itulah, Rangga sudah tak asing lagi dengan tata letak kamar Grace dengan sangat detail, karena hal itulah Rangga tak kesulitan menemukan saklar lampu di ruangan kamar Grace. Saklar lampu berhasil di temukan oleh Rangga. Ruangan kamar Grace pun menjadi terang benderang setelah Rangga menekan tombol saklarnya. Rangga mengarahkan pengelihatanya ke sekeliling ruangan, dia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat kamar Grace yang berantakan. Beberapa baju masih tergeletak di sana-sini, seprai kasurnya tidak rapi. Di atas kasur, ada sebuah cemilan keripik kentang yang bungkusnya dibiarkan terbuka, sehingga mengundang pasukan semut untuk datang mengerubuti, masuk ke dalam bungkus keripik kentang tersebut. Di sampingnya ada satu buah cup es krim yang sudah mencair, yang juga di serbu kawanan semut hitam di atas kasur Grace. Meja belajar yang berada tepat di samping kasur juga tampak berantakan, buku-buku berserakan di atasnya. Beberapa ada yang masih dalam keadaan terbuka dan ada pula yang berceceran di kolong meja. Ada juga beberapa bungkus makanan sisa semalam yang berserakan di kolong mejanya. Tas ransel, dasi, seragam OSIS, kaos kaki, mendarat di mana-mana. Sarang laba-laba tampak menghiasi sudut-sudut ruangan dan beberapa celana jins menggantung di bagian belakang pintu. Benar-benar tak karuan situasi di dalam kamar Grace. Benar-benar berbanding terbalik dengan kamar Rangga yang sangat rapi. Sebenarnya, Rangga sudah terbiasa melihat kamar Grace yang seperti kapal pecah ini, dan entah kenapa untuk kali ini Rangga merasa risih, sangat mengganggu pandangan mata. “Harusnya, gue tadi kesini bawa sapu.” Rangga berkacak pinggang melihat keadaan di sekeliling. Karena merasa sangat risih, benar-benar atas dasar dari kerisihannya itu Rangga kemudian memutuskan untuk membersihkan kamar sahabatnya itu. Rangga mulai bertindak, dengan menata buku-buku yang ada di atas meja belajar dan di sekitarnya, kemudian lanjut memunguti baju-baju Grace yang berceceran di lantai kamar lalu meletakan baju-baju itu di keranjang kotor. Kemudian lanjut dengan merapikan seprai yang di kerubungi semut dengan mengibas-ngibaskannya keluar jendela dan membuang bungkus-bungkus makan ke tempat sampah yang tersedia d i situ. Rangga membersikan, menata kamar tidur Grace dengan sangat rapi tanpa ada satupun yang terlewatkan, begitu ada yang terlewatkan meski hanya sedikit, Rangga langsung dengan cepat merapikannya. Sekitar lima belas menit lamanya melakukan kegiatan bersih-bersih di kamar Grace, Rangga akhirnya selesai dengan kegiatannya, ia kemudian meletakan kedua telaapak tangannya di pinggang, melihat sekeliling sembari merasa bangga atas apa yang telah di lakukannya. Kamar Grace kini jauh, amat sangat jauh lebih rapi dari sebelumnya setelah di bersihkan oleh Rangga. Beberapa detik mengagumi hasilnya bersih-bersih, Rangga lanjut fokus pada tujuannya, yaitu mengambil cemilan manis yang ada di depan pintu kamar Grace dan membawanya kembali ke kamarnya. Memandang ke arah pintu, Rangga mendapati kunci pintu kamar Grace yang masih menempel pada lubang kuncinya. Ia kemudian langsung berjalan ke arah pintu dan memutar kuncinya untuk membuka pintu. Ia menekan lalu menarik gagang pintu sehingga membuat pintu kamar Grace terbuka. Segera setelah pintunya terbuka, Rangga langsung menatap ke arah cemilan manis yang ternyata masih ada di situ dan membawanya masuk ke dalam kamar Grace, tak lupa untuk menutup dan mengunci pintunya kembali. Rangga tak langsung serta merta membawa cemilan-cemilan itu beserta nampannya, ia meletakannya di atas meja belajar untuk di pilah-pilah mana yang harus ia bawa, mana yang tak seharusnya dibawa. Ia memindahkan cokelat hangat dari atas nampan ke meja belajar Grace, dia pikir pasti akan merepotkan jika harus membawa secangkir coklat cair hangat di atas nampan sambil berjalan meniti jembatan papan kayu yang tebal itu. Jadi, Rangga memindahkannya ke meja belajar untuk Grace nanti kalau dia sudah pulang. Selain itu dia juga memindahkan buah-buahan serta beberapa cemilan manis lainnya, kecuali roti brownies berukuran medium, Rangga membiarkannya tetap berada di atas nampan beserta beberapa cemilan lain. Setelah selesai memilah-milah cemilan yang akan di bawanya pulang Rangga tersenyum puas, dan kembali keluar lewat jendela, meniti jembatan kayu papan yang tebal itu lagi sembari membawa nampan beserta brownies dan cemilan lainnya di atasnya. Apa yang ia rencanakan berhasil di laksanakan. Sementara itu, ibunya Grace yang selesai menyiapkan makan malam lanjut pergi naik ke kamar Grace untuk memeriksa keadaan putrinya yang ia pikir sedang sakit itu, sekaligus menyuruhnya untuk pergi makan kalau dia mau. Setibanya di depan pintu kamar Grace, ibunya Grace tersenyum setelah mengetahui kalau makanan-makanan yang tadi ia letakan di depan pintu kamar Grace sudah tidak ada. Ia senang setidaknya Grace mau memakan makanan yang dia sediakan di atas nampan. Padahal sebenarnya, yang mengambil makanan itu adalah Rangga. Ibunya Grace mengetuk kamar Grace dan memanggil nama Grace berulang kali serta menyuruhnya turun kebawah untuk makan malam, tapi tak ada jawaban sama sekali dari dalam kamar. Ia pun memutuskan untuk turun lagi ke bawah. Setidaknya perasaanya sedikit lega karena ia pikir Grace sudah mau mengambil cemilan di depan pintu kamarnya. Yang berarti, kecurigaanya terhadap Grace saat lalu, tentang Grace yang tidak ada dirumah itu salah. Nyantanya, Grace mengambil cemilan yang dia sediakan. Kira-kira begitu yang ibunya Grace pikirkan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN