“Hari ini gue harus bisa menyelesaikan satu bab...” Ujarnya pada diri sendiri.
Di suatu siang sepulang sekolah, Rangga menyibukan diri dengan menulis cicilan novelnya. Ia memiliki tekad kalau hari ini dirinya harus menulis seseuatu, setidaknya satu bab.
Rangga mencoba berkonsentrasi dan hanya fokus pada naskah novelnya, ia berharap semoga hari ini menjadi hari yang produktif baginya setelah beberapa hari belakangan ia mengisi waktu luang untuk bermalas-malasan, hanya bermain game dan asik di sosial media.
Ia sudah bertekad dalam hati, berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubah kebiasaan buruk menjadi lebih produktif. Janji untuk tidak bermalas-malasan, tidak mengandalkan mood saat menulis, serta tidak menunda-nunda ide yang sudah menumpuk di dalam kepalanya.
“Mulai hari ini, gue akan menulis semuanya.” Rangga menyemangati diri sendiri.
Duduk dengan santai di tempat belajarnya, kedua telapak tangan Rangga sudah berada di atas keyboard laptop. Matanya fokus menatap lembar kosong Microsoft Word di layar, serta otaknya sudah membayangkan adegan per adegan dari apa yang hendak di tulisnya. Dengan satu tarikan nafas penuh keseriusan, dengan mantap, Rangga mulai menulis.
Baru saja ia menulis beberapa kata, tiba-tiba Handphone-nya berdering. Seseorang menelpon Rangga, membuat konsentrasinya terpecah.
Dengan kecepatan tinggi, tangannya segera meraih Handphone yang terletak di atas meja belajar, tepat di samping tangan kirinya.
“Halo.” Rangga menjawab telepon dengan cepat.
“Rangga, lo sibuk enggak? Kita nongkrong yuk! Di tempat biasa.” itu adalah suara Grace. Ia menelpon Rangga untuk mengajaknya pergi nongkrong di tempat biasa.
“Oke.” Tanpa basa-basi dan banyak tanya, Rangga langsung menerima ajakan dari Grace.
Setelah mengganti baju, Rangga langsung berangkat.
Dan disinilah Grace dan Rangga duduk, di sebuah kedai kopi sederhana langganan mereka. Rangga dan Grace duduk saling berhadapan menikmati pesanan masing-masing. Rangga memesan es kopi s**u, sementara Grace memesan es cappucino late. Siang-siang begini, di tengah udara yang panas, memang cocok jika digunakan untuk bersantai sembari menikmati minuman dingin.
“Gilak, hari ini panas banget ya, enggak kayak biasanya.” Keluh Grace, ia masih mengenakan seragam SMA, dan lagi-lagi ia tidak mengenakan rok, tapi malah mengenakan celana panjang yang harusnya di pakai oleh anak cowok.
Sebuah tas gitar menempel di punggungnya. Begitu selesai latihan bersama anggota ekstrakulikuler musik, Grace langsung menuju ke kafe tanpa pulang dan ganti baju terlebih dahulu.
Rangga menatap pendingin ruangan yang menempel di dinding, tepat di atas barista yang sedang sibuk bekerja meracik kopi. Lampu indikator pada alat itu menyala, warnanya hijau, tanda kalau alat pendingin ruangannya masih berfungsi dengan baik.
“Iya, padahal AC-nya nyala, tapi masih berasa panas banget.” Ucap Rangga.
Tujuan Grace mengajak Rangga ke kafe Melon sebenarnya bukan untuk sekedar menemaninya bersantai mengisi waktu luang saja, tapi Grace punya maksud lain.
Beberapa hari belakangan ini Grace sedang kebingungan, ia bosan membawakan lagu orang lain setiap kali mengisi acara musik bersama grup band nya. Grace ingin punya lagunya sendiri.
Tadi saat di ruang musik, ia sudah mencoba merangkai nada-nada untuk di jadikan sebuah lagu. Berkat bantuan salah satu temannya, ia pun berhasil. Tapi sayangnya, Grace tak bisa menulis lirik, karena itulah dia butuh bantuan Rangga untuk memenuhi tujuannya itu.
“Gimana? Bagus enggak nada-nya?” Usai bersenandung di depan Rangga, Grace bertanya demikian.
“Bagus kok, udah enak di dengar, lumayan merdu.” Rangga, mengangguk. Nada-nada yang disusun Grace memang sudah enak di dengar, ia merasa kagum dengan Grace dan temannya.
“Ya kan? Tapi sayang banget belum ada liriknya.” Keluh Grace. “Bantuin gue ya, lo kan bisa nulis.” Lanjutnya.
“Lo mau lirik yang kayak gimana?” Rangga bertanya, berniat untuk membantu.
Grace terlihat kebingungan, ia menatap langit-langit kafe sambil memikirkan apa yang ingin dia ungkapkan dalam lagu tersebut.
“Hmm... gimana ya?” Grace berfikir keras.
Cewek tomboy itu sedang memikirkan tentang apa yang ingin dia sampaikan di dalam lagu itu. Awalnya saat memiliki ide untuk membuat lagu, Grace menginginkan sebuah lagu yang galau, yang bercerita tentang perpisahan. Tapi nada-nada yang ia susun bersama temannya itu terdengar seperti lagu tentang kebahagiaan, terdengar ceria di telinga. Tantu saja itu tidak cocok jika liriknya berisikan tentang kesedihan.
“Gue sih awalnya mikir mau nulis lagu galau, orang-orang pada suka lagu yang kayak gitu.” Tutur Grace, mengungkapkan ide,
“Lagu galau ya? Hmm...” Rangga terdiam, ia mulai memikirkan sesuatu.
“Tapi nadanya begini, ceria banget. Enggak cocok kalau jadi lagu galau...” Grace terlihat cemberut, ia pesimis.
“Kalau belum di coba, mana tau.” Potong Rangga. “Gue minta kertas sama pinjem pulpen!” Pintanya pada Grace.
Grace mengambil buku tulis dan pulpen dari tas gitarnya, ya dari tas gitarnya, ia menaruh peratatan sekolah satu wadah dengan gitar kesayangannya. Dia sama sekali tidak membawa ransel atau tas jinjing , dia hanya membawa gitar dan satu buah buku tulis ke sekolah, tiap hari juga begitu. Menurutnya, ekstrakulikuler musik itu lebih penting ketimbang mata pelajaran.
Setelah menerima kertas dan pulpen dari Grace, Rangga bersiap untuk menulis, wajahnya terlihat serus. Melihat Rangga yang seperti itu membuat Grace senyum-senyum sendiri sembari menopang dagu dengan kedua telapak tangannya, dia merasa senang sekaligus penasaran dengan apa yang akan di tulis oleh sahabatnya itu. Kira-kira akan seperti apa liriknya? Apakah akan sesuai dengan yang dia harapkan? Grace benar-benar penasaran.
Rangga mencoba memikirkan hal-hal yang menyedihkan dalam hidupnya, entah itu dalam hal kesialannya dalam percintaan atau nasib sial dalam hal lainnya.
Semakin dia berkonsentrasi, semakin Rangga mendapatkan cahaya inspirasi. Rangga pernah mendengar sebuah pepatah dari penulis terkenal melalui sebuah video di Youtube. Dalam video tersebut, si penulis hebat itu berkata “Karya yang bagus datang dari keresahan diri sendiri.” Mengingat kalimat itu membuat Rangga berusaha untuk mencurahkan keresahaanya.
Sosok Nadia tiba-tiba muncul di kepalanya lagi saat ia berusaha berfikir. Sebenarnya, dalam lubuk hatinya yang terdalam, Rangga masih berharap dia bisa menghubungi Nadia yang sedang berada jauh disana. Tapi sayangnya Rangga sudah terlanjur menghapus nomor telpon Nadia.
Sebenarnya kalau mau, Rangga bisa minta nomor telepon Nadia lagi lewat f*******:, tapi kalau di pikir-pikir, itu akan menjadi hal yang memalukan.
Rangga ingin bisa menyambung komunikasi lagi dengan mantanya bukan karena dia ingin memperbaiki hubungan mereka atau semacamnya, lagipula itu tak akan bisa di lakukan karena Nadia tidak akan mungkin kembali lagi ke kota ini untuk menemuinya. Rangga hanya ingin mereka bisa saling berkomunikasi layaknya teman, sekedar itu saja, tidak lebih.
Setelah merenung beberapa saat sambil memikirkan Nadia, Rangga tiba-tiba tersenyum kemudian ia segera menuliskan sesuatu di atas lembar kosong di buku yang tadi di berikan oleh Grace.
“Wah udah mulai dapet sesuatu ya?” Ucap Grace ketika melihat Rangga yang mulai menulis, bibirnya perlahan mengukir sebuah senyuman.
“Yep. Tapi cuman dikit, ini bagian reff-nya aja.”
Tangan Rangga menggoreskan tinta dari pulpen itu dengan serius, tanganya bergerak seiring dengan perasaannya yang mengalir lembut. Ia menulis sambil tersenyum. Sesekali Rangga bersenandung saat menulis, untuk mencocokan lirik dan nadanya.
Beberapa menit menulis, akhirnya lirik buatan Rangga selesai juga. Ia langsung menunjukan kertas berisi lirik buatannya itu pada Grace.
“Coba lo nyanyiin pake nada yang tadi lo buat, pasti cocok.” Kata Rangga, ia merasa yakin.
“Oke deh.”
Dengan satu tarikan nafas, Grace mencoba untuk menyanyikannya sambil memainkan gitar.
“Seharusnya kita masih bisa menjadi teman,
Yang takkan pernah bisa saling cinta.
Dan biarkan saja kisah kita menjadi kenangan,
Yang takkan pernah bisa ku lupakan.”
Rangga mengarang kata-katanya dengan baik dan sesuai dengan nada yang di susun oleh Grace.
Beberapa pengunjung kafe yang ada di situ terlihat tersenyum menikmati suara Grace yang sedang bernyanyi, mereka merasa sedikit terhibur dengan nyanyian cewek tomboy itu.
Di meja kerjanya yang berjarak sekitar dua meter dari tempat duduk Grace dan Rangga, si barista terlihat mengacungkan jempol kearah Grace sambil tersenyum, tanda kalau lagunya memang bagus. Grace pun membalas dengan berkata pada si barista, “Dia yang ngarang liriknya!!” Dia berbicara dengan suara yang agak keras agar si barista bisa mendengar suaranya. Grace berbicara sambil menunjuk Rangga. Si barista hanya merespon dengan mengacungkan jempolnya lagi dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Lirik yang di tulis oleh Rangga itu hanya untuk bagian reff-nya saja, untuk sementara mereka belum menemukan lirik untuk bagian intro dan autro nya. Namun itu tidak masalah bagi Grace, setidaknya lagu buatannya sudah memiliki lirik, walaupun hanya bagian reff saja setidaknya ia tahu gambaran tentang akan jadi seperti apa lagu karangannya tersebut.
“Makasih banget lho, ngga. Akhirnya nemu liriknya juga walaupun cuman bagian reff aja, nanti sisanya gue lanjutin sendiri.” Grace merasa senang, ia berterimakasih pada Rangga sambil memegang salah satu tangan Rangga dengan kedua telapak tanyannya.
“Enggak sia-sia gue ngajak lo kesini.” Lanjutnya.
Rangga tersenyum tipis sambil berucap singkat, “Iya.”
Rangga hanya menatap Grace dengan ekspresi datar saat salah satu tangannya di ayun-ayun oleh kedua telapak tangan Grace.
Rangga dapat merasakan telapak tangan sahabatnya itu terasa kasar, beda dengan kebanyakan cewek lain yang biasanya memiliki telapak tangan halus. Dia merasa kalau Grace benar-benar berusaha keras di bidang musik.
Selesai dengan urusan lagu, mereka lanjut mengobrol santai seperti biasa sambil menikmati minuman masing-masing.
Kening Grace di basahi keringat, ia sesekali mengipasi dirinya sendiri dengan buku tulis. Begitu juga dengan Rangga, ia merasa kepanasan sampai-sampai harus membungkuk, meletakankan kepalanya di atas meja sambil menempelkan sedikit bagian wajahnya ke gelas dingin berisi es kopi s**u pesananya. Hari ini benar-benar panas.
Di tengah obrolan mereka, tiba-tiba Grace bertingka seperti orang penting setelah ia melihat jam tangannya.
“Waduh, udah jam segini nih, gue ada janji nemenin ibu gue belanja.” Katanya sambil memasukan gitar ke dalam tasnya.
Rangga yang sedang asik meminum es kopi s**u terlihat bingung.
“...?”
Selesai memasukan gitarnya ke dalam tas, Grace lalu beranjak dari tempat duduk dan berkata singkat pada Rangga. “Bye.” Kemudian meminum sedikit es coppucino late miliknya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rangga.
Rangga yang masih menyedot es kopi s**u miliknya dengan santai kemudian berhenti, dia menatap Grace yang sudah tiba di pintu keluar-masuk kafe itu, sebelum akhirnya benar-benar pergi.
“Dia belum bayar pesenannya.” Katanya dalam hati.
Bersambung...