Enam Puluh

1285 Kata

Aula manison Hananta telah ramai ketika kami sampai. Kebosanan melanda segera karena papa dikerumuni oleh rekan kerjanya. Aku dan Aera jelas terciprat sedikit akan pembicaraan bisnis yang meribetkan. Untungnya papa memang tidak pernah menuntut banyak soal bisnis, jadi aku dapat santai meski menerima banyak keterkejutan rekan papa. "Aku kira kau akan mewarisi perusahaan pada kedua putrimu." Begitu kata salah satu rekan kerja papa. "Ternyata mereka berdua bahkan tidak belajar bisnis sama sekali." "Memang sulit menjatuhkan perusahaan pada perempuan," sela teman papa yang lain. "Jadi ada bagusnya juga kamu tidak memberikan kedua putrimu kekuasaan tersebut." "Bukan putri-putriku tidak mampu. Hanya saja aku tidak dapat memaksa pada bidang yang tidak mereka suka." Sontak aku dan Aera saling

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN