"Sudah sampai?" Kutarik telunjuk ke bibir sebagai isyarat agar Sam membungkam mulut. Usai begitu aku berjalan menjauhinya. "Seria?" "Ini masih di jalan pulang." "Bersama supir kan?" "Iya." Maaf, Ian. Aku masih tidak dapat jujur. Apalagi saat ini kamu gencar-gencarnya memastikan aku hanya milik kamu saja. Ketika aku mengatakan ada tali antara aku dan Sam, aku yakin kamu pasti akan langsung meledak hebat. Jadi jangan salahkan jika aku menahan kebohongan ini lebih lama, toh kamu semakin membuat situasi sulit bagiku. "Kalau begitu hati-hati. Nanti aku akan meneleponmu lagi." Nafasku kembali berjalan lancar setelah panggilan berakhir. Kesesakan ini mulai terjadi semenjak kepergian Nyonya Hirataga, tepatnya setelah Ian meminta aku berjanji untuk tidak meninggalkannya. Dia menjadi sosok

