Aku tertawa melihat Sam yang baru datang dengan dua kaleng minuman dingin. Lagi dan lagi, dia yang menemani kesedihanku. "Jangan tertawa begitu." "Kenapa? Bukankah kamu justru benci jika aku menangis?" "Benar, tapi jauh lebih benci dengan tawa palsu kamu." Dia membukakan minuman dan memberikan padaku. Kusesap perlahan isinya. Dingin langsung terasa di tenggorokan hingga perutku. "Bagaimana perasaanmu?" "Perasaanku ya?" Bibirku menjeda tanpa diminta, memaksa isi kepala dan hatiku untuk saling berunding mencari jawaban. "Kecewa, I guess." Kusesap lagi minuman. Merasa ketagihan akan sensasi dingin yang diberikannya. Kekehan geli Sam menggerakkan leherku untuk menoleh. "Kenapa kamu tertawa?" "Lucu saja." Dia melemparkan pandangan pada hamparan rumput hijau yang telah sedikit ber

