Jalanan yang semula terasa lengang, sekarang semakin padat. Banyak pengemudi motor dan mobil yang bersalip-salipan. Seakan takut jika waktu tak keburu. Pepohonan yang hijau begitu menyegarkan mata siapa saja yang memandangnya. Kini musimnya buah salak, harganya begitu murah. Dapatnya banyak dan bisa dinikmati keluarga. Bus yang dilewati Rendi kebetulan memang selalu melewati perkebunan buah salak. Rendi jadi ingin turun dan memotetretnya, tetapi ia ingat ada tugas baru dan lagipula ia tak membawa ponsel. Bahkan ia sampai tak bisa mengabari Bu Dien jika ia menginap di rumah tetangga Ningsih. Lain kali jika ia ada waktu luang akan ke perkebunan salak itu. Menikmati langsung dari pohonnya, memetiknya dari tangannya sendiri. Ah, pasti menyenangkan sekali. Terlebih jika mampu mengolah sala

