Akhirnya dengan tubuh bergetar aku mulai menekan pelatuk pada Pistol. Dan satu peluru akhirnya keluar.
Dor
Tembakan itu mampu membangunkan Steve yang pulas. Dan bodohnya lagi, aku tidak mampu menembakkan senjata itu ke kepala Steve. Air mata ku mengucur sebulir, rasanya tak tahan.
Ini menyiksaku, mengapa perkataan Louis masih terngiang-ngiang di dalam benakku. Tapi Louis pun benar, seharusnya aku tidak gegabah dan harus tetap tenang dalam memikirkan rencana.
Steve tiba-tiba bangun dan menatap Lubang di lantai setelah ku tembaki senapan. Dan dia sepertinya tengah tertekan, melihatku berdiri sambil memegang senjata.
“ Apa yang kau lakukan? “ Tanya nya padaku.
Kemudian aku menjawab, “ ohh hanya mencoba senjata baru “
“ Kau, mempunyai senjata? “ Ucapnya sembari memegang senapan yang ku bawa.
“ Peninggalan pamanku” jawabku santai dan menaruhnya lagi ke peti sambil menghela napas panjang.
“ Paman mu seorang penembak jitu? Atau apa?”
“ Dia adalah pemburu. Jadi karena dia sudah tak ada, aku yang mengurus senjata ini”
“ Kenapa?kau kan perempuan”
“ Karena aku suka senjata” ucapku yang membuat Steve mengedipkan matanya berkali-kali.
Cecunguk itu berdiri dan memegangi kepalanya yang terasa berat setelah meneguk beberapa gelas soju yang ku sajikan. Ia pun segera menuju ke kulkas mencari air putih untuk di minumnya.
“ Apa-apaan ini? Hanya soju? Kau setiap hari minum soju? “ Kata Steve terkejut setelah melihat isi kulkasku.
“ Kau mau air, atau sup untuk menghilangkan pengar? “ Kataku.
“ Aku ingin dua-duanya” jawabnya.
Aku menaruh wajah datar dan mengatakannya secara terpaksa, “ baiklah ayo keluar, aku akan mentraktirmu”
“ Apa itu? Kau sepertinya tak ikhlas?” Ujarnya menggoda wajah ku yang datar.
“ Baiklah, besok aku akan mengganti uangmu. Aku janji” tambahnya.
“ Dua kali lipat “
***
“ Louis.....Louis....” Teriak Zacklee yang terdengar dari lantai atas.
Louis tengah asik menyikat giginya, dia dengan spontan keluar menemui Zacklee setelah membilas mulutnya.
“ Ada apa? “ Tanya Louis
Zack mengambil Undangan dari dalam sakunya. Undangan yang begitu mewah namun bukan undangan seseorang yang hendak menikah. Tapi ini adalah undangan dari Vincent yang sengaja di buat agar Zacklee datang ke acara pelantikan dan pengesahan Vincent sebagai kepala baru.
“ Undangan dari musuhku “ ujar Zacklee dengan raut wajah kesal.
Louis terkekeh, “hah kau di undang. Ini lucu “
“ Jangan tertawa, kau harus menemaniku besok “ Kata Zacklee.
“ Haruskah kau menemuinya? Ini benar-benar bukan acara penting “
“ Kau tidak tau, Vincent akan membawa reporter dari perusahaan dan meliput berita ini. Jika aku tidak hadir, itu akan merusak citraku.”
“ Ahh baiklah, aku akan menemanimu besok “
Zacklee membalikkan badannya untuk segera menyelesaikan tugasnya di kantor. Dan tiba-tiba Louis memberhentikan langkahnya.
“ Zacklee..” kata Louis.
“ Aku izin pulang hari ini, aku ingin mengambil beberapa barang di rumah” tambahnya.
Zacklee mengangguk tanda mengizinkan dan segera mempercepat langkahnya untuk pergi keluar dan beranjak menuju kantor.
***
Akhirnya aku dan Steve sampai di sebuah rumah makan. Rumah makan sederhana, tidak terlalu mewah tapi ini adalah toko langgananku. Mereka tahu persis aku, aku wanita tukang palak yang terkadang pun tak pernah membayar ketika makan. Haha itulah aku!
Dan bocah itu terus melirik ke kanan dan kiri, memerhatikan seisi ruangan rumah makan itu. Dan tentu saja, pandangan para pelanggan pun tak pernah berhenti mengedip saat menatap ketampanan seorang Steve.
Rumah makan sederhana, bahkan jauh dari kata mewah. Tapi soal cita rasanya bisa di adu dengan restoran terkenal lain. Entah apa yang membuat semua orang jarang makan di tempat ini. Mungkin karena kelihatannya jadul dan tidak modern.
“ Mengapa? Kau tak mau makan? “ Tanyaku.
“ Kata siapa? Tidak. Ayo kita makan “ jawabnya sambil menarik kursi duduk.
“ Oh, ku pikir kau risih dengan tempat seperti ini “
“ Apa? Tidak. Ini mengasyikkan” Katanya sambil tersenyum manis.
Steve, dia sangat bisa menghargai semua orang. Tak pernah memandang apapun dari hidupku, entah aku kaya atau miskin. Aku perawan atau tidak, aku perempuan baik-baik atau tidak. Dia, terlalu baik dan terkadang itu membuatku terenyuh.
Tatapanku tiba-tiba terhenti setelah si pelayan rumah makan tersebut, menaruh makanan kesukaan yang biasa ku pesan di meja. Steve hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali, seolah-olah tak pernah menyantap makanan seperti itu.
“ Ayo makan “ ketusku.
Dia dengan sedikit ragu mengambil sumpit dan mencicipi makanan yang ku pesan satu persatu. Kemudian tanpa dugaan matanya bersemi, dan bibirnya mulai mengeluarkan kecapan seperti dia sangat menikmati makanan tersebut.
“ Hmm, mengapa kau tak pernah memberi tahuku makanan enak seperti ini? “ Ucap Steve sembari terus menyantap makanannya tanpa henti.
“ Omong kosong, kau saja yang tak pernah datang ke tempat makan kecil seperti ini” sahutku.
“ Ya, kau benar. Kedua orang tuaku selalu mengajakku ke restoran mahal yang rasanya masih di bawah dari tempat ini”
“ Hmm, jadi selama ini kau tak makan makanan lezat ya” kataku mengejek.
“ Kau mengejekku? Ya tapi itu sedikit benar hehehe” jawabnya seraya terkekeh geli.
“ Ayo habiskan makananmu, lalu kita pulang “
Steve menunduk dan kembali tertegun, “ irene..” katanya dengan nada rendah.
“ Apa? “
“ Bolehkah, aku menginap di rumahmu? Hanya satu hari saja” katanya semakin rendah.
Mataku membulat, tak percaya soal ucapan Steve. “ Apa-apaan kau ini”
Steve memandangi wajahku yang tampak nya sedang memikirkan hal jorok,” tidak. Aku tidak akan berbuat apa-apa padamu tenanglah”
Aku tetap termenung, “ ya baiklah, hanya semalam saja”
Dia tersenyum menatapku, “ terimakasih, kau mau menerimaku”
“ Iya, tenangkan pikiranmu dahulu “
Dan pada saat itu, entah mengapa aku merasa iba terhadap Steve. Aku memberikan izin padanya untuk tinggal di rumahku. Kenapa tiba-tiba aku tersentuh?
Steve mengusap-ngusap bibirnya dengan tisu, karena makanan pun akhirnya telah habis. Steve mengajak ku pulang setelah aku pun akhirnya membayar makanan di kasir.
“ Apa kau benar-benar ingin membayar?” Ucap sang kasir yang kebingungan.
“ Kau pikir aku memberi uang padamu untuk apa?” Sentakku.
“ O oh baiklah, maafkan aku” jawabnya sambil membungkukkan badan.
Aku dan Steve pergi keluar dari rumah makan kecil itu, sambil menunggu datangnya bus umum.
Bus pun datang setelah beberapa menit aku dan Steve menunggunya. Aku masuk mengambil posisi berdiri, karena kursi telah di penuhi oleh orang-orang. Dan seseorang dengan spontan mengalihkan perhatianku.
Pria tengil yang sedang berdiri di depanku, memegangi dan meraba-raba p****t seorang wanita yang mengenakan rok pendek. Ini pemandangan buruk bagiku, dan aku benar-benar tidak menyukainya.
“ Hei manusia m***m, tidakkah kau berhenti memainkan tanganmu ke p****t wanita ini? “ Ketusku.
Steve yang tertegun berusaha menarikku yang menghampiri sang pria, “ Irene, jangan emosi” katanya tapi aku hanya menepis tangannya.
“ Coba kau jangan menyentuhnya, tidak tau kah kau seberapa traumanya dia melihatmu? Hah? “ Teriakku seraya menarik baju pria tengil itu.
Sopir bus berkali-kali melihat ke arah belakang, dan Steve pun mulai kebingungan melihat suasana yang tak kondusif ini.
“ Kau ingin menjadi pahlawan baginya ya? Dasar wanita sialan.” Kata si pria dengan entengnya dan menepuk pipiku berkali-kali.
“ b******n, Pria tengik tak tau diri “ Kataku lagi kembali berteriak sambil melotot.
Cplak
Aku mulai menampar pipi pria itu, dan dia menendang ke arah perutku. Aku terpental, “ aakkk”
“ Bukankah aku sudah memperingatkanmu, untuk tidak menjadi pahlawan? “ Katanya.
“ Tidak tahu malu, kemari kau” sahutku mencoba berdiri dan menendang wajahnya.
Pria itu tertendang ke arah belakang, sang sopir hilang kendali untuk mengendalikan bus nya. Orang-orang berteriak, dan Steve terus saja menarikku tetapi tetap saja aku yang teguh tak mau mendengarkan Steve.
“ Sini kau pria aneh, Berani-beraninya kau memegang p****t seorang wanita. Apa kau tak pernah di beri jatah oleh istrimu? “ Ucapku yang berdiri di atasnya sambil memberikan pukulan berkali-kali ke wajahnya.
“ Sopir bus, Hentikan busnya” Ujarku.
Si sopir mendengarkanku, dia mengehentikan busnya. Dan aku membanting tubuh orang itu keluar, yang tersisa hanyalah wajah memar.
“ terimakasih telah menolongku “ ucap Korban pelecahan padaku seraya menjabat tanganku dengan sopan.
Aku terdiam dengan sikap dinginku dan hanya melewatinya, lalu ku posisikan tubuhku kembali di samping Steve yang masih tak bisa berhenti menatapku.
“ Kau melakukan tindakan yang baik, tapi ini berbahaya” bisiknya.
“ Diam, aku masih kesal “ jawabku ketus.
“ Aku tidak mau kau terluka “ kata Steve lembut sambil mendekatkan kepalanya ke arah wajahku dan aku menatapnya.
Ucapan itu kembali membuat diriku lemah, kenapa setiap dia mengkhawatirkanku aku selalu tersentuh. Tak ada hasrat dariku untuk bisa dekat dengan Steve, yang ku mau adalah tujuan awalku yaitu menghancurkan keluarganya. Tapi momen apa ini?
Apakah ini cinta? Apa yang aku rasakan adalah Cinta? Cinta yang bahkan sama sekali tak ku ketahui artinya. Cinta yang selama bertahun-tahun ini ku jauhi. Tapi terus ku taruh harap, bahwa selama hidupku ku harap aku tidak pernah mencintai siapapun itu termasuk Steve.