APA YANG KALIAN LAKUKAN?

1571 Kata
Steve mengajakku turun, meminta uang padaku dan lari pergi mencari obat penghilang memar guna menyembuhkan memar di rahangku. Orang itu, menepuk pipiku dengan keras rasanya seperti tertampar. Suara sepatu Steve terdengar dari kejauhan, dia mengatur nafasnya di depanku dan menarikku untuk duduk di sebuah bangku. “ Aku minta maaf” katanya. “ Untuk apa? “ “ Karena aku tidak bisa membantumu “ ucapnya sedikit sedih sambil mengobati memarku. “ Aku tidak perlu bantuanmu” jawabku ketus “ Ya, tapi suatu saat ku harap aku bisa membantumu” ujarnya lembut. “ Tidak..aku tidak..” “ Diam, jangan bergerak” katanya memotong pembicaraanku sambil menatap mataku dari arah dekat. Aku memalingkan mataku ke bawah, berharap tak menatap balik matanya. Kemudian aku berdiri, ingin menghentikan rasa perhatian Steve yang berlebih terhadapku. Lagi-lagi dia menarik tanganku, dan mendekapku. Kami berpelukan, di sebuah taman dekat rumahku. Dia mendekap secara tulus, bahkan dadanya pun berdetak kencang. “ Sekuat apapun, kamu adalah wanita. Dan tetap menjadi wanita lemah bagiku. Aku tak peduli seberapa banyak kau menyimpan pistolmu. Tapi, percayalah suatu saat aku akan menolongmu dengan caraku” bisiknya. Entahlah, mengapa hatiku sedikit luluh padanya. Melihatnya dengan tulus, tapi mengapa orang sebaik dirinya mesti menjadi anak dari orang yang sedari dulu ku incar. Mataku sedikit berkaca-kaca rasanya air mata ini hendak jatuh, tapi berusaha ku tahan. Steve, aku tidak tau. Bagaimana hatiku kelak padamu? Tapi ku harap, aku tidak akan pernah mencintaimu. Agar aku bisa leluasa membunuh ayahmu yang telah menghabisi keluargaku tanpa aku memikirkan bagaimana sakit dan tersayatnya hatimu. Bahkan jika nanti aku akan mencintaimu, ku harap itu tak terlalu lama. Tolong jangan menjadi penghalang dendamku pada keluargamu. Dan jangan membuatku jatuh cinta sebelum aku menumpas darah ayahmu, Zacklee. “ Kita pulang sekarang” Ya, aku hanya bisa menjawabnya dengan kata-kata yang dingin seperti itu. Aku hanya berharap tuhan masih tak sudi untuk membolak-balik kan hatiku agar mencintai Steve. Dia terus mendekapku, mengusap-usap punggungku. Seolah-olah dia tengah ingin menenangkanku. Mata Steve terpejam, menikmati pelukan hangat yang terjadi di bawah pohon berdaun gugur di tengah taman ini. “ Jangan melepas pelukan ini,” bisiknya. Apa yang aku pikirkan saat ini, mengapa aku tidak bisa mengendalikan tubuhku. Dia mendekapku dengan erat, tubuhnya hangat. Bahkan suara detak jantungnya pun terasa. “ Ayo kita pulang” bisikku pelan. Steve perlahan-lahan membuka matanya yang terpejam dan menghentikan tangannya yang terus mengelus-elus punggungku, “ ayo” *** Hari pun mulai Gelap, Matahari akhirnya tenggelam. Burung-burung beterbangan kembali ke sarangnya. Bulan sedikit demi sedikit menunjukkan sinar terangnya ke bumi. Lelaki bernama Louis tengah bersiap-siap untuk pergi ke rumahnya dan menemui kakaknya. Zoe tiba-tiba datang, dan ini adalah pertemuan pertama kalinya Louis dengan Ny.Zoe. Wanita itu menatap Louis dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Memerhatikan kedatangan orang yang tidak di kenalinya. Tak lupa Louis memberikan kesan pertamanya yang baik kepada Ny. Zoe dengan membungkukkan badan. “ Siapa kau? “ Tanya Ny. Zoe. “ Halo, perkenalkan namaku Louis. Pengawal baru Tuan Zacklee” Bola Mata Zoe melirik ke kanan dan ke kiri menandakan bahwa dia tengah tak mengerti alasan suaminya mengangkat pengawal baru yang jumlah pengawalnya pun sudah lebih dari cukup. “ Kapan dia mengangkatmu? “ Tanya nya. “ Kemarin, baiklah saya harus pergi terlebih dahulu “ sahut Louis dan memberikan bungkukan badan kembali. *** Steve masuk ke kamarku tanpa seizinku terlebih dahulu. Aku merebahkan badanku ke sofa untuk menghilangkan penat. Tak ku sangka, dia mengambil senapan yang ku letakkan di kamar dan dia mengajakku untuk menggunakan itu. “ Ayo kita berlatih” katanya mengajak. “ Apa? Kau mau berlatih?” Tanyaku padanya. “ Iya, aku tertarik” jawabnya. “ Besok saja” ucapku dingin. Steve menghampiriku dan berjongkok di hadapanku. “ Ayo, aku ingin berlatih untuk menjagamu. Bisakah kau mengajariku? Sedikit saja dan tidak terlalu lama” ujarnya pelan dan lemah lembut. Dan tak lupa ia pun menyulurkan tangannya di hadapanku. Aku menyoroti tangannya itu, dan dengan luluh aku menggenggam tangannya. Kita berjalan menuju taman belakang rumah tempat biasa aku melatih diriku untuk menggunakan pistol. “ Wah kau sering berlatih disini? Hebat” katanya memuji. “ Ayo kita coba, seberapa hebat kau bisa menggunakannya” kataku. Dorr Aku menekan pelatuk pada pistol dan mengarahkannya ke pohon. Steve terkejut dan menundukkan kepalanya. Tubuhnya gemetar, dia sangat ketakutan setengah mati. Aku menghampirinya. “ Kau baik-baik saja?” Kataku. “ Iya, aku baik-baik saja jangan khawatirkan aku” ujarnya sedikit memaksakan senyumnya. “ Jangan memaksakan dirimu. Aku tidak mau ada seorangpun terluka” “ Aku tidak akan terluka. Ayo lanjutkan” Jawab Steve yang memaksakan diri. Aku melihat jelas bahwa Steve memegangi dan menyoroti pistol itu dengan mata berkaca-kaca. Tangannya pun gemetar saat ia mencoba menyentuh pelatuk pistol dengan jari telunjuknya. Dia benar-benar terlihat murung, dan tak kuduga aku pun turut prihatin melihatnya. “ Ayo duduk” ucapku sambil memposisikan diriku di kursi taman. Steve akhirnya pun ikut duduk di sampingku, “ mengapa kita tidak berlatih saja?” “ Wajahmu muram” kataku. “ Tidak, aku tidak muram” Steve mengelak. “ Jangan berbohong, aku melihat jelas dari matamu” Dia menghela napasnya dalam-dalam dan menarik tanganku untuk kembali ke posisi semula dan memulai latihan. “ Ayo ajari aku” ucapnya. Aku menatap tajam matanya, dia mencoba memposisikan arah pistol itu ke pohon dan memejamkan mata kanannya. Tapi Steve, dia sangat handal dalam memposisikan tangannya pada pistol. Tapi kenapa dia masih gemetar? Apa yang terjadi padanya? Aku terus menatapnya, dan tentu saja aku pun tak tau. Mengapa hatiku tak tega melihat Steve yang gemetar. Aku mencoba menyentuh tangannya yang memegang senapan. Dengan harapan semoga aku bisa menyalurkan rasa tenangku pada Steve. Dia tertegun, dan terus termenung. Lalu dia menatap wajahku. “ Jika kau ingin menembak dengan baik. Hal yang pertama kali harus kau lakukan adalah fokus” ucapku dengan wajah datar seolah aku tidak kasihan padanya. “ Jangan gemetar, aku di sampingmu” tambahku lagi. Dia lagi-lagi menarik nafasnya dan menghembuskan nafas. Seperti layaknya dia membuang beban yang selama ini terus menekannya. “ Pejamkan matamu, arahkan. Dan coba tekan pelatuknya” ucapku. “ Fokus, fokus, dan terus fokus” bisikku lagi. Dorr Akhirnya satu peluru dari senapan keluar. Tembakannya cukup bagus dan mengenai sasaran. “ Cukup bagus. Lumayan” kataku memberi apresiasi. Tangannya kembali gemetar setelah dia menekan pelatuk itu. Aku kembali panik dan mencoba menenagkan Steve. “ Hei kau tidak apa-apa?” “ Tidak, aku hanya sedikit gugup” katanya tapi aku tau itu adalah sebuah kebohongan. Steve meniup kedua tangannya yang terasa dingin. Wajahnya seketika menjadi pucat pasi. Entah apa yang terjadi padanya, aku tak tahu. Tapi yang jelas saat itu pula aku memeluknya. Ini adalah pelukan kedua untuknya. “ Jangan gugup dan tenangkan dirimu” kataku dengan lembut. Dadanya tiba-tiba berdebar tak karuan. Dia mengusap-usap punggungku. Sangat terasa, tangannya dingin. Tanganku pun tak segan untuk mengusap punggungnya lagi sebagai balasan. Aku memejamkan mataku, ini terasa hangat. “ Terimakasih sudah menenangkanku” bisiknya. *** Di sepanjang jalan Louis terus terbayang-bayang dengan wajah Ny.Zoe, Istri Zacklee. “ Ahh jadi dia Istrinya” gumamnya. Akhirnya Louis pun tiba di depan rumah kakaknya, dia menghela napas dan tak sabar untuk memberikan kabar kepada Irene. Dia membuka pintu, tapi tak ada satupun orang yang berada di dalam rumah. Dia sibuk celingak-celinguk mencari keberadaan Irene. Dan dia akhirnya pergi ke halaman belakang berharap kakaknya berada di sana. Dan dengan mata melotot, Louis terkejut saat ia tau bahwa kakaknya tengah berpelukan dengan seorang pria di rumahnya. “ Apa? Apa yang kalian lakukan? “ Kata Louis bertanya-tanya. Irene kebingungan dan gugup setengah mati, mengapa Louis harus pulang ke rumah di waktu yang tidak tepat seperti ini. Steve menghampiri Louis, “ kau..kenapa kau kemari? Kau tidak menjaga ayahku? “ Sentak Steve. Irene dan Louis saling menatap satu sama lain, “ Kau yang ada apa tiba-tiba kemari? “ Sentak Louis dengan nada tinggi. “ Aku memang sengaja menginap di rumah pacarku, ada apa? “ Jawab kembali Steve dengan nada yang semakin tinggi. “ Pacarmu? “ Tanya Louis. “ Iya, dia adalah kekasihku. Kami telah berkencan, kau mengapa datang? “ “ Irene...kau..” “ Hei, berani-beraninya kau mengunjungi rumah pacar orang “ Celetuk Steve mendorong badan Louis yang hendak menghampiri Irene. Irene termenung, “ hei kau, berhenti mengunjungiku. Bukankah aku sudah bilang jangan mengangguku lagi? “ Teriak Irene pada Louis. Louis mengedipkan matanya, berlanjut Irene yang turut mengedipkan matanya berkali-kali. “ Apa maksud..” “ Kau sudah menjadi mantan pacarku kan? Cepat pergi, sebelum aku mengambil pistol dan menghancurkan kepalamu” tambah Irene sembari memberikan kode. Louis mengerti kode dari Irene, ia mengalah kali ini. Walaupun ia tak menyukai Irene dekat dengan Pria dan Louis merasa takut, Irene akan di sakiti oleh seorang Pria. yaa walaupun dia percaya kakaknya tak akan mudah patah hati. Di sisi lain, Irene mendorong Louis keluar rumah dan ia pun menutup pintu dengan keras. Menenangkan Steve agar ia tak semakin curiga mengenai Louis. “ Dia pria gila? “ Tanya Steve. “ Mengapa dia tetap mengunjungimu? “ Katanya lagi. “ Ya, dia memang sering mengangguku” “ Sudahlah, ayo kita duduk lagi” ucap Irene mengajak Steve duduk. “ Lain kali jika ada pria seperti itu, telepon aku” ujar Steve “ Apa-apaan kau ini? Kau pikir aku penakut? “ “ Ya aku tau kau tangguh, tapi aku cemburu” “ Sialan” Tok tok tok Pintu rumah Irene berbunyi, Louis mengetuk pintu rumah itu dan Steve menghampiri pintu untuk membukakan pintu itu. Irene kembali bergetar, “ Sial, Louis ku mohon jangan kembali lagi” “ Ada apa lagi? “ Katanya semakin kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN