AKU MENEMUKANMU

2054 Kata
Pikiran Louis terus bertanya-tanya, sebenarnya mengapa Irene seserius ini untuk mendekati putra Zacklee. Hanya satu yang ia takuti, kakaknya akan benar-benar jatuh cinta dan merusak rencananya. Setelah Louis di usir dari pintu depan rumahnya sendiri, ia tetap ingin mencoba mengintip kakaknya lewat jendela. Berharap tidak ada sesuatu yang benar-benar terjadi di antara mereka. Tiba-tiba ponselnya berdering, itu adalah panggilan dari Zacklee. “ Halo, ada apa? “ Katanya. “ Istriku tadi menelponku, dia kebingungan mencari keberadaan putraku. Tolong cari anakku sekarang, cepat!” Louis menolehkan kepalanya ke arah rumahnya, “ iya, aku akan mencarinya sekarang” Zacklee menutup teleponnya, dan dari situlah Louis melangkahkan kakinya untuk mengetuk pintu itu dengan keras. Dan Steve membukanya. “ Ada apa lagi kau kemari? “ Ketusnya seperti seseorang yang sudah sangat bersiap untuk mengusir. “ Kau, kau harus pulang sekarang” sentak Louis yang di awasi oleh Irene. “ Tidak, aku tidak mau pulang. Pergilah” jawab Steve yang mencoba untuk menutup pintu kembali tapi Louis menahan gagang pintu itu. “ Sial, jangan jadi anak yang keras kepala. Kau tak sedih? Ibumu mengkhawatirkanmu?” Kata Louis menegaskan. “ Tidak, pulanglah ke rumah. Dan bilang saja, aku menginap di hotel” jawab Steve sambil menutup pintu. Louis hanya terdiam dan memasang komuk kesal dengan menendangkan kakinya ke pintu. “ Ahhh sial” *** Steve menutup pintu rumahku dengan keras, seolah menampar dan tidak mengharapkan kedatangan adikku kemari. Yang dia ketahui sekarang adalah Louis seorang mantan pacarku, padahal kenyataannya dia adalah adikku sendiri. Aku sendiri masih merasakan panik, Louis datang tak di sangka-sangka. Dan hampir saja merusak seluruh rencanaku. “ Kau benar-benar tak ingin pulang? “ Tanyaku. “ Aku ingin disini, di rumahmu” ucapnya. “ Bagaimana jika ayahmu terus menyuruh pengawal itu mengajakmu pulang? Apa ayahmu tak akan memarahimu? “ Pikirku padanya. Steve merebahkan badannya ke sofa, “ tidak, aku tidak penting baginya” Aku pun ikut duduk, mengambil rokok dan membakarnya “ Tidak ada yang lebih penting dari seorang anak” “ Apa ini? Kau merokok lagi?” Ucapnya mentkhawatirkanku. “ Ya, mau bagaimana lagi. Ini sudah rutinitasku” “ Itu bisa membahayakan jantungmu” “ Itu katamu, kau tidak pernah merasakan nikmatnya merokok. Kau tidak pernah mereleksasikan badan mu dengan rokok. Ini nikmat” “ Senikmat apa?” Ku lempar kotak rokokku pada Steve, berharap bocah lugu itu ikut menikmatinya. Dan benar saja, tangannya masih kaku untuk menjadi nakal. Ahhh anak mama itu. “ Jika tak mau menikmatinya yasudah” kataku sambil mengambil kotak rokokku kembali. “ Tidak, aku akan mencobanya” Steve terlihat penasaran dengan benda kecil ini. Entahlah, apakah dia akan benar-benar mencobanya karena diriku atau karena dia benar-benar ingin mereleksasikan pikirannya. Dan kali ini, dia benar-benar mencoba dengan sekuat tenaga dia berusaha menikmatinya. Walaupun dia sedikit tersedak, tetapi dia tetap mencoba menghisapnya berkali-kali “ Bagaimana?” Ucapku. Dia mengangguk, “ lumayan” Sebuah pesan masuk ke ponselku, rupanya Vincent morgan yang mengirim pesan teks ini. Tertulis bahwa dia menyuruhku untuk pergi ke pelantikannya besok di yayasan Oxford. “ Baiklah, aku akan kesana besok” Kataku di dalam hati, sembari ku ketik pesan itu diam-diam. *** Louis telah sampai di rumah Zacklee. Ia masuk lewat pintu depan rumah, nampak sekali bahwa Zoe terlihat risau dan mondar-mandir sembari menggigit kukunya. Wajahnya muram, ia kemudian duduk sambil berulang kali memegangi ponsel berharap putranya menelponnya. Louis kemudian berdiri di hadapannya, memberikan bungkukkan badan agar terlihat sopan dan memulai berbicara. “Nyonya..” katanya. “ Kau, sudah di perintahkan Zacklee untuk mencari putraku kan? Dimana, dimana dia?” Ujarnya sambil menggoyang-goyangkan badan Louis. “ Aku telah menemukannya, tapi dia tidak mau pulang. Dia menginap di hotel” “ Steve, menginap di Hotel sendirian? Hotel mana?” Teriaknya. “ Dia menyuruhku untuk merahasiakannya darimu. Saya mohon maaf, saya harus kembali” Zoe tertegun dan merebahkan diri ke sofa dengan syok. “ Aku telah melakukan kesalahan besar padanya” *** Keesokan harinya, suasana di rumah sakit menjadi semakin ramai. Rumah sakit tetap terbuka 24 jam untuk semua orang. Hanya beberapa perwakilan dokter dan perawat yang hadir menjadi saksi di pelantikan kali ini. Beberapa kawan Vincent pun hadir, memberi semangat dan ucapan selamat pada rekannya karena resmi menjadi kepala yayasan besar. Vincent merapikan setelan jasnya agar terlihat lebih tampan di pagi itu. Pasien-pasien yang sedang mencari udara segar pun bisa menyaksikan jalannya acara. Semua para tamu telah menduduki kursi, namun seseorang yang Vincent tunggu-tunggu saat itu tak sama sekali nampak batang hidungnya. Zacklee terutama, setelah beberapa menit acara akan segera di mulai ia masih belum duduk di kursinya. Dan sang pembawa acara akhirnya membuka acara kala itu. Zacklee akhirnya datang di susul dengan para pengawalnya yang berdiri tepat di belakangnya. Semua sorot mata mengarah padanya, ia dengan tampang sok bahagia menyapa tamu undangan demi menjaga citra baik di hadapan semua khalayak Aku sendiri, masih belum terbangun di pagi hari ini. Aku pun belum sadar, bahwa sedari tadi alarm terus berdering tak berhenti seolah menyuruhku untuk bangun. Aku pun terjaga, hal yang pertama kali ku cari adalah Steve. Namun kemana perginya bocah yang semalam meniduri sofa ruanganku? Bahkan ku cari ke sekitar lingkungan rumahku, dia masih tak nampak juga. Dan satu surat menempel di botol soju saat ku berusaha mengambilnya di lemari pendingin. Surat itu dari Steve. “ HAI, AKU PULANG KE RUMAH. AKU KHAWATIR ATAS KONDISI IBUKU. TERIMAKASIH TUMPANGAN MENGINAPNYA, AKU SENANG. JAGA KESEHATANMU, NENEK SIHIR HAHA” Bibirku sedikit tersenyum, “ sial, mengapa menaruh surat di dalam lemari pendingin?” Aku meminum soju sambil terus melirik isi surat dari Steve, tak sadar lagi bibirku mengeluarkan suara kekehan. Apa ini? Aku terbawa perasaan? Tidak! Aku mencoba menggelengkan kepala berkali-kali dan memasang wajah datar lagi. Beberapa menit kemudian, setelah Zacklee duduk di samping Vincent. Aku pun datang untuk menyaksikan acara itu. Dengan selendang hitam yang memang sengaja ku jadikan penutup agar tidak ada seseorang yang mencurigai keberadaanku termasuk Zacklee. Aku duduk sambil menunduk dan merapikan kacamata hitamku. Louis tampak mencuri-curi pandang kepadaku. Dia memberikan kode lewat tangannya, untuk mengajakku pergi dan berbicara. Aku pun beranjak keluar dari tempat dudukku dan mengikuti arah Louis pergi. “ Apa yang ingin kau bicarakan Louis?” Ucapku sambil mengintip-jntip ke arah luar toilet. “Kak, apa-apaan kau berada disini? Putra Zacklee kau biarkan begitu saja?” “ Tenanglah, dia pulang ke rumah. Kau tak melihatnya di sana?” “ Ahhh mungkin saja dia di kamarnya. Tapi kau, dan dia tidak memiliki hubungan kan?” “Hei, memangnya kau percaya kakakmu akan berkencan dengan seorang pria?” Louis terkekeh geli, “ ya, tentu saja tidak.” “Kak kesini, aku merindukan mu” ucapnya sembari merentang kan tangan meminta pelukan. Aku memeluk nya, “ jaga kesehatanmu ya adik kecil, kau harus berhati-hati. Kita telah berada di dalam rencana” “Baiklah, kau juga harus berhati-hati. Tolong jangan terlalu banyak minum” Aku mengangguk, dan mengusap-usap rambut adikku dengan manis. “Ayo cepat,kembali ke tempatmu. Jangan sampai ada yang mencurigai mu” Louis pun mengangguk pelan dan segera bergegas mengawal Zacklee. Aku memasang penutup kepalaku lagi untuk segera pergi keluar. *** Steve ternyata benar-benar pulang. Yang akhir-akhir ini memenuhi benaknya adalah kondisi sang ibu. Ia tak mau membiarkan ibunya khawatir secara berlebihan. Walau begitu, bibir kecil Steve sama sekali enggan untuk melontarkan kata-kata pada ibunya. Sedangkan Zoe, sedari tadi terus melirik wajah putranya yang nampak lesu. Di tengah perjalanan Zoe berbicara secara baik-baik pada Steve. “ Maafkan ibu” katanya. Steve memalingkan wajahnya menghadap jendela mobil. “ Ibu telah melakukan kesalahan besar padamu. Ibu terlalu mementingkan yayasan itu, hingga akhirnya ibu berengkar hebat dengan ayahmu” desis Zoe. “ Jika ibu ingin terus berselisih hanya demi kuasa, lanjutkan! Tak perlu meminta maaf “ jawab Steve. Kata-kata Steve tentu sangat menusuk hati Zoe, ia berusaha menggapai tangan putranya. “ Saat itu ibu sangat marah pada ayahmu, dia memberikan yayasan yang kakekmu bangun ke tangan orang lain tanpa seizin ibu. Apa kau pikir kakekmu tidak membangun yayasan itu dengan susah payah? Ibu yang menjadi saksi bagaimana kakekmu berpeluh kuning, bangkit dan bangun hanya untuk memperbesar yayasan Oxford. Itu hanya demi ibu” rintihnya. “ Tapi saat ibu melihatmu pergi dan meninggalkan ibu, ibu juga mengerti bagaimana pentingnya kamu” “ Aku hanya sangat kecewa, selama bertahun-tahun kalian selalu bertengkar di hadapanku” ucap Steve. “ Ibu benar-benar minta maaf” ujar Zoe. Steve menghela napas, dan memeluk ibunya. “ Aku memaafkanmu bu” *** “ Bagaimana menurutmu? Apa acaranya bagus?” Bisik Vincent pada Zacklee. Zacklee terus menahan senyumannya, agar terlihat Baik di hadapan kamera. “ Acaranya murahan” ucapnya. Vincent tertawa jahat, “ kau pintar dalam menjada citra. Dimana istrimu? Bukankah ku suruh dia untuk datang? “ “ Lebih baik kau fokus saja ke acara murahan ini.” Sentak Zacklee. “ Ahahah, aku sangat menyukai bagaimana istrimu kesal kemarin. Wajahnya menjadi lebih menyeramkan” “ Diam, b******n” Keduanya terus beradu mulut. Semua kamera menyoroti keduanya, Zacklee dan Vincent terus menyusun Citra baik seolah-olah tak ada konflik yang terjadi di antara keduanya. Selang beberapa waktu, Mobil sedan yang terlihat mewah datang. Ny.Zoe dan Steve akhirnya turun dari mobil. Tersenyum ramah, dan lebar saat kamera mulai mengarah padanya. Mereka mengambil tempat duduk tepat di belakang Zacklee. Agar publik benar-benar yakin bahwa Zacklee memiliki hubungan keluarga yang harmonis seperti berita-berita lain yang mengatakannya. “ NY.ZOE DAN PUTRA ZACKLEE, TUAN STEVE AKHIRNYA DATANG. SUATU KEHORMATAN BAGI KITA SEMUA” sapa sang pembawa acara. *** Vincent menaiki panggung di susul dengan Zacklee di belakangnya. Mereka berdua sangat gagah bak penguasa besar seperti biasa nya. Acara kali ini adalah penandatangan secara resmi surat serah terima yayasan dan pelantikan Vincent sebagai kepala baru Seorang pelayan yang mengantarkan minuman kepada para tamu tiba-tibs tersandung dan menumpahkan minuman tepat di bajuku. Aku di sorot oleh beberapa orang, termasuk Steve dan Louis. Si pelayan mencoba membungkukkan badannya padaku sebagai permintaan maaf. Aku pun membalasnya dengan bungkukkan badan. Dan sudah ku duga, Steve terus menatapku. Seperti seseorang yang telah menatap orang yang di kenalinya. Aku mencoba kabur dari Steve, dan dia berusaha mengejar ku dengan berteriak memanggil namaku. Selendangky terbawa angin dan mengenai wajah Steve, dia terus mengejar sembari membawa selendang itu. Dan tepat di belakang Steve, Louis ikut melakukan pengejaran. Sepertinya Louis tau bahwa Steve nenyadari bahwa aku hadir di acara itu. “ Irene....kau kamu kemana?” Teriak Steve sambil berlari dengan kencang. “ Tuan Steve tunggu aku” teriak pula Louis mengejar Steve. Aku terus berlari, tak pernah ingin menoleh ke belakang. Berharap Steve berhenti mengejarku, apa yang harus aku katakan padanya jika dia tau aku berada di acara itu. Dia pasti berfikir aku memiliku hubungan dengan Vincent Morgan hingga dia bisa mengundangku ke sana. Louis mempercepat lajunya, dan tangannya akhirnya mampu menggapai baju Steve. Namun sayang, Steve memukul kepala Louis dan terus mengejarku. “ Sialan bocah itu” gerutu Louis sambil memegangi kepalanya dan berdengus. “ Irene..aku yakin itu kau” teriak lagi Steve mengejarku. “ b*****h itu, Mengapa terus mengejarku? “ Aku menggerutu kesal. Mataku terus menoleh ke kanan dan ke kiri berharap ada sebuah gang atau tikungan sebagai tempatku bersembunyi. Dan tentu saja, dia area ini aku sangat tau akan ada sebuah gang di sini. Aku masuk ke sana, menstabilkan nafasku yang sudah tak teratur lagi. Aku bersembunyi di balik tempat sampah dan menahan bau busuk itu. Suara depakan sepatu Steve mulai terdengar. “ Kemana perginya wanita itu? “ Desis Steve. Matanya melirik ke arah gang, mulai merasakan sesuatu yang bersembunyi di gang itu. Ia mencoba masuk secara perlahan- lahan. Sedangkan otakku terus memikirkan cara agar bisa pergi dari hadapan Steve. “ Irene, aku tau kau akan bersembunyi di gang sempit seperti ini. Tepat seperti saat dulu kita mencuri minuman di toko dan di kejar oleh pemiliknya. Ya kan? Kau akan mencari celah untuk bersembunyi di gang ini? “ “ Ayo keluarlah, aku akan segera menemukan mu. Tak ada gunanya juga kau menghindar dariku. Aku yakin itu kau” katanya dengan langkah pelan mendekat ke arahku. Aku menutup mulutku sambil terus mencari cara, “ ku mohon pergilah dari hadapanku Steve” kataku dalam hati. Beberapa langkah lagi, Steve akan segera menemukanku. Entah apa yang akan terjadi, aku hanya berharap tuhan memberikan secercah ide padaku agar Steve tak menemukanku. Bahkan Louis sendiri, mengapa dia tidak muncul di saat seperti ini. Aku yang memang terlalu bodoh bersembunyi di gang ini. Mengapa saat itu aku mengajak Steve untuk bersembunyi di gang? “ Irene....” “ Aku menemukanmu kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN