ANAK KECIL PENYELAMAT

1438 Kata
Celana Louis berlumuran dengan darah. Beberapa kali ia mengatur nafasnya, dadanya mulai terasa sesak. Dia sungguh kehilangan banyak darah. Tak ada seorangpun yang menolongnya, bahkan Irene sama sekali tak menjawab panggilannya. “ ahh sialan sakit sekali” teriaknya sambil menekan tangannya ke arah luka tusuk agar darah tak terus menerus keluar. Seorang anak kecil dengan tubuh gemuk, melewati gang sepi itu sambil menjilat Ice cream yang di genggam di tangannya. Dia tak sengaja menatap ke arah Louis yang sudah tak kuasa menahan sakit. Darah yang membasahi jalanan gang membuat anak gemuk itu menganga. Ia kemudian berlari menghampiri Louis. Dan bersimpuh di hadapan Louis. “ apa kakak sedang memainkan permainan pembunuhan?” tanyanya yang masih polos Louis kemudian bergelak, “ iya kakak sedang terluka, tugas mu sekarang harus mencari sebuah pertolongan” jawab Louis meladeni bocah itu. Si Bocah mengangguk-angguk dengan cepat, seolah dia percaya bahwa Louis memang tengah melakukan permainan. Dia berlari mencari pertolongan, satu persatu orang datang. Mereka semua terkejut karena ada seseorang yang telah tergeletak dengan darah. Mereka kemudian menelpon ambulans. Dari mereka ada yang menyuguhkan Louis dengan segelas air. Louis tidak meminumnya, dia menyuruh orang itu untuk mengambil ponsel yang di lemparnya dan menyuruhnya menelpon Irene. “ tolong telepon kakakku, dia harus tau soal kondisiku” kata Louis dengan nada rendah. Dia mengambil ponsel Louis, mencari nomor kontak Irene. Beberapa kali orang itu menelpon namun tak ada sekalipun jawaban. Berselang lama, Sirine ambulance mulai terdengar. Mereka semua menggotong Louis dengan pelan dan membawa masuk ke ambulance. Si bocah tengik yang hanya mematung dan menjilat Ice creamnya ikut masuk ke ambulance dan menemani Louis. Louis meringis kesakitan di dalamnya, Sang bocah memberikan senyuman dan melontarkan sepotong kata, “ seorang pahlawan tidak akan pernah kalah. Kakak hebat akan tetap menang” ucapnya yang masih berfantasi bahwa kejadian ini adalah sebuah permainan. *** Akhirnya kami tiba di pantai setelah beberapa lama kami melangkah menjauhi taman. Rasanya indah, mencari angin segar sembari menikmati panorama pantai. Melihat orang-orang berselancar, dan para pelancong yang berkunjung ke area sini. “ uhhh segar nya” ucap Steve menatap ke arah pantai. Mataku menjadi biru, melihat ombak pantai yang menerjang mengukir senyuman para peselancar yang mengadu adrenalin nya. Suasana sangat asri, apalagi Steve memesan dua buah kelapa muda untuk di nikmati. *** Ambulance telah sampai di rumah sakit terdekat. Kali ini bukan rumah sakit Oxford, tapi rumah sakit yang jaraknya memang dekat dengan rumah Irene. Louis segera di berikan pertolongan pertama. Beberapa perawat membawanya dengan kasur dorong untuk di bawanya ke ruang rawat. Si bocah kecil tetap tenang, sambil menjilat Ice cream yang hampir habis. Beberapa saat Louis di tangani, akhirnya ada perban yang terbalut di kakinya. Bocah kecil itu menghampiri Louis, Louis menahan luka di hadapannya. “ siapa penjahat yang menyerang pahlawan seperti mu?” katanya bertanya. “ Hanya penjahat yang berusaha ingin mengambil kekuatanku” jawab Louis. “ wah, aku ingin menjadi seperti mu kelak. Aku ingin menjadi pahlawan yang membuat orang lain iri karena kekuatanku” ujarnya menganga dengan polosnya. Louis terkekeh geli dan berusaha mengarahkan tangannya ke rambut bocah itu. Louis mengusapnya sambil berkata, “ tapi untuk menjadi pahlawan itu tidak mudah. Kau harus menjaga orang-orang yang berada di sekitarmu. Sebaiknya kau harus giat belajar” Gumam Louis. “ wah aku takjub seorang pahlawan sepertimu menyuruhku belajar” Katanya. “ ahhh aku hampir lupa, dimana ponselku?” tanya Louis dengan wajah yang kebingungan. Bocah itu menepuk jidatnya, dia kemudian kembali ke arah Luar. Karena dia meninggalkan ponsel Louis di tempat duduk rumah sakit. Selama Louis berada di ambulance, dia yang mengenggam ponselnya dengan erat. *** Aku mulai tersihir ke arah ponsel yang ku taruh di meja, tempat orang-orang biasa berteduh di pantai. Seperti halnya Cafe kecil yang tersedia di pantai. Perasaanku merasa tak tenang, entah kejadian apa yang terjadi hari ini. Tapi ku rasa ada yang menancap di hatiku. Seperti duri kecil, yang membuat diriku merasa gundah tak berkesudahan. Ku tatap layar ponselku, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Louis berkali-kali. Aku pergi menjauh dari Steve, yang masib asyik menyoroti keindahan pantai. Lalu ku telepon balik Louis. Panggilan berdering, dan spontan dia mengangkat panggilanku. Tapi bukan suara dari adikku yang ku dapatkan, melainkan suara seorang anak kecil yang mengangkat ponsel Louis. “ halo “ Ucap si anak kecil itu. Aku menatap layar ponsel lagi, memastikan apakah aku yang memang salah menekan tombol. Tapi nama kontak ini, adalah benar-benar nama kontak adikku. “ siapa ini?” “ Apa ini kakak dari pahlawanku?” katanya. Aku merasa sedikit kebingungan, “ pahlawan siapa maksudmu?” “ Pahlawan yang telah di serang oleh penjahat karena iri akan kekuatannya” jawabnya. “ hei bocah, aku tidak sedang bermain-main” ketusku. “ berikan ponsel ini pada pemilik aslinya” imbuhku tegas. *** Di lain sisi bocah itu mulai termenung mendengar bentakan dari Irene. Dia masuk ke dalam dan memberikan ponselnya pada Louis. “ ada telepon “ ucap si Bocah. “ Halo ini aku Louis” kata Louis. “ ahhh Louis, ada apa kau menelponku berkali-kali?” tanya Irene dari seberang sambil mencuri-curi pandang ke arah Steve agar tak mencurigainya. “ tidak apa-apa, aku sudah baik-baik saja” jawab Louis tersenyum. “ hemm, lalu mengapa bocah itu bilang kau di serang penjahat ? siapa yang menyerangmu?” tanya lagi Irene. “ Aku tak tau, dia tiba-tiba menancapkan pisau ke pahaku. Aku hampir saja mati” ucap Louis. “ APA? MENANCAPKAN PISAU? b******n. BERANI-BERANINYA DIA” teriak Irene dari seberang sontak membuat Louis menjauhkan ponselnya dari telinganya. Irene mendengus kesal, karena seseorang telah mencelakai adik tersayangnya. Dia kemudian bertanya, “ ada dimana kau sekarang?” “ rumah sakit healtyimport” jawabnya *** Aku menutup telepon dengan segera. Lalu aku membalikkan badanku ke arah Steve. Tak disangka Steve berdiri di belakangku, Sekujur tubuhku menjadi kaku. Tak kusangka, dia berada di belakangku sedari tadi. “ apa kau dari tadi?” tanyaku sok tenang. “ hmm baru saja, sepertinya kau sedang ada masalah” ucap Steve. “ tidak, hanya saja temanku dia mm sedang mengalami masalah” ujarku sembari menggaruk-garukkan kepalaku. “ wahh benarkah apa...” “ Steve, sepertinya kita harus berbicara lain waktu. Karena aku harus mengatasi masalah temanku. Sampai jumpa” teriakku mulai menjauh dan memotong pembicaraan Steve. “ Irene...tapi...” Teriak Steve tapi aku menghiraukannya. *** Mata-mata yang di kirim Vincent untuk memantau Irene membulatkan matanya. Dia terlihat bingung dengan Irene yang tiba-tiba berlari meninggalkan Louis. Lalu dia mulai berlari mengikuti kemana Irene pergi. Di sisi lain, Pengawal yang menancapkan pisau ke paha Louis berlari menjauh dan hendak melaporkan kejadian ini pada Vincent. Dia pergi ke kantor Vincent dan membuka pintu ruangannya. “ selamat pagi tuan” Katanya sambil membungkukkan badan. Vincent mengangguk-angguk dan menekuk kakinya layaknya seorang atasan. “ apa ada kabar soal hari ini?” tanyanya. “ Aku datang dari rumah Irene. Dia terlihat bersama Louis adiknya, dan aku mengikuti kemana Louis pulang. Tapi, dia berhasil menangkapku” ungkapnya. “ Apa? menangkapmu?” teriak Vincent. “ iya, tapi dia tak bisa mengenali identitasku. Karena aku menancapkan pisau di pahanya” Jawabnya. “ APA?” teriak lagi Vincent dengan nada yang lebih di naikkan. Dia sampai terjaga dari tempat duduknya karena terkejut terhadap apa yang di lakukan anak buahnya. Di samping itu, anak buah menunduk menahan takut. *** Teriakan itu tak bisa membuatku berpaling, Kali ini aku mengkhawatirkan kondisi Louis. Aku sangat merasa bersalah, selama ini dia menelfonku hanya untuk meminta tolong. Tapi dimana aku sebagai kakaknya? Sibuk bertamasya dengan orang yang bahkan belum mengenalku dari lama. Orang yang lebih parahnya lagi menjadi anak dari incaranku. Aku berlari kencang, pandanganku lurus ke depan tak peduli seberapa banyak orang yang akan melihatku seperti ini. Rumah sakit itu searah dengan jalan pulang di sekitar rumahku. Aku pergi kesana dan akhirnya sekarang pun tiba. Ku cari kamar rawat yang di singgahi oleh Louis kala ini. Aku membuka pintu nya dan mengontrol nafasku yang terengah-engah. Dia terlihat berbaring dan bermain bersama seorang anak kecil. Mereka berdua kemudian menatapku yang terlihat lelah. “ Lo-louis...” Ucapku menghampiri Louis dengan langkah yang mulai tertatih-tatih. “ siapa dia?” tanya anak kecil itu pada Louis. “ dia kakakku, “ jawab Louis. “ apa pahlawan mempunyai seorang kakak?” tanyanya. “ iya dia kakak pahlawan” kata Louis tersenyum. Anak kecil itu menarik tanganku, yang aku sendiri masih membuang nafasku sendiri. Aku tertegun melihatnya menarikku dan menyuruhku duduk di kursi yang di tempati nya. “ lihat, adik pahlawanmu kesakitan” jawabnya. *** Sang pengawal akhirnya turut tiba di rumah sakit. Irene tak menyadari bahwa seseorang telah mengikutinya hingga ke sini. Dia mengintip lewat pintu yang sedikit terbuka dan menguping dari sana. “ aku harus mendengarkan dan mencari tahu informasi sedetail apapun” Katanya dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN