SALAH TINGKAH

1548 Kata
Hari yang begitu indah, suasana pagi yang begitu hangat membuat tubuhku menjadi bersemangat. Apalagi, ini adalah hari perdamaian. Berdamai lagi dan menjadi dekat dengan Louis tentu merupakan suatu kebahagiaan bagiku. Apalagi dia tampak senang setelah datang mengitari rumah megahku, dan memasang wajah sumringahnya setelah melihat bahwa terdapat meja billyard yang sengaja ku tempatkan di taman. Steve datang membawakan makanan khas yang sama cita rasanya dengan makanan yang di berikan ibuku kala kecil. Rasanya aku seolah mengenang masa lalu bersama ibu. Entah mengapa, hari ini begitu indah. Aku masuk ke kamar, mencoba melucuti pakaianku untuk mandi. Sedangkan Steve, berjalan-jalan melihat souvenir rumah di ruang tamu. Kamarku berdekatan dengan ruang tamu. Ada lemari kecil berwarna putih di depannya. Di situ pula Louis memajang Foto kenangan semasa kecil dan menaruh foto ayah dan ibu di samping itu. Steve meraba foto kenangan itu, dan mulai berbicara. “ gadis kecil ini pasti kau” katanya, suara itu sontak membuatku mengintip ke arah luar dan memerhatikan Steve yang sudah berdiri di depan lemari kecil itu. Aku terkejut, setelah melihat Steve meraba benda itu. “ i-iya” jawabku “ lalu siapa anak kecil yang berada di sampingmu?” Tanyanya lagi Aku mengernyitkan kening dan menjawab dengan santai, “ dia sepupuku” jawabku mengelak yang memberitahu foto Louis sebagai sepupuku sendiri. Steve mengangguk percaya, Aku masuk ke dalam lagi dan menutup pintu dengan keras. Lalu aku menghela nafas panjang karena merasa lega. “ Louis bodoh, mengapa dia memajangnya di situ” gerutuku kesal sambil berjalan ke arah kamar mandi pribadi. *** Louis berjalan cukup jauh dari rumah Irene. Kini dia merasa seseorang telah membututinya dari belakang. Seperti apa yang di ajarkan paman Lay dan Irene, Dirinya harus tetap tenang. Meskipun kau merasa bahwa seseorang telah mengikutimu, Jangan pernah panik. Melangkahlah seperti biasanya, seolah tidak ada apa-apa. Lalu bersikaplah normal, dan layangkan layar ponselmu ke depan wajah bak seseorang yang tengah bercermin. Seperti itulah cara yang di berikan oleh Irene pada Louis. Walau pun Irene tak perlu melakukan itu semua karena dia cukup terangsang. Tapi Louis sangat lemah dalam hal ini. Matanya membulat setelah ia benar-benar mengetahui bahwa ada bayangan seseorang memantul ke arah ponselnya. Orang yang tampak mencurigakan, tapi mengapa dia mengikuti Louis. Louis tetap tenang, dia merapikan rambutnya namun pandangannya tetap tertuju pada bayangan orang itu. Lalu dia kembali berjalan, sambil mempergagah gaya berjalannya. “ sialan, siapa dia?” kata Louis dalam hatinya. Louis mempercepat langkahnya dan dia mulai terpikirkan ke langkah kedua cara untuk mengatasi penguntit dari Irene. Yaitu mencari tempat berlindung, dan segera sikat habis dia. Cari tahu, apa yang membuatnya mengikutimu. Mata Elang Louis sibuk mencari tempat bersembunyi untuk meluncurkan skakmat pada si penguntit. Dia akhirnya bersembunyi, Penguntit itu mempercepat langkahnya juga. Louis bersembunyi di balik pohon, dia mendengar suara depakan sepatu si penguntit itu. Perlahan, dia mengeluarkan benda kesayangannya yang di simpan di balik jasnya. Dan di dekaplah penguntit itu dari belakang. Louis mengunci erat lehernya, dia mencoba membuka dekapan Louis tapi tak bisa. Louis mengarahkan pistolnya ke arah kepalanya. Dia gemetar dan mengangkat tangannya pelan. “ rupanya kau mengikutiku ya” ucap Louis tertawa jahat karena telah berhasil menangkap seseorang yang mengikutinya. “ siapa kau?” tanya Louis dengan ketus. “ a-aku bukan siapa-siapa” Ucapnya. Louis terkekeh geli, “ lalu mengapa kau mengikutiku hah?” “ serius aku tidak mengikutimu” Jawab orang itu gemetar. Louis menyeretnya ke daerah yang sepi, “ jangan mencoba berbohong padaku ya, aku tidak akan mengampunimu” ucap Louis sembari menyeretnya. Orang yang mengikuti Louis adalah pengawal Vincent yang di tugaskan untuk memata-matai Irene. Dia bukan Vosko, melainkan rekannya yaitu Drag. Drag tampak lebih kekar dari Vosko, Louis bukan tandingannya karena badannya yang tak kekar. Pengawal Vincent pun memiliki penjagaan ketat, dengan pisau yang biasa di bawanya. Tangan Drag meraba-raba ke bagian kantongnya yang tersimpan senjata. Dia mencoba menancapkan pisau itu ke kaki Louis agar identitasnya tidak di ketahui. Di tancaplah Pisau itu ke paha Louis, Louis berteriak kesakitan dan melepas dekapannya. Drag berlari jauh meninggalkan Louis sendirian di daerah gang sepi itu. Tidak ada orang yang lalu lalang, dia mencoba menutupi Luka tusuk itu dengan tangannya. *** Aku berkaca di depan cermin, memerhatikan gaya busanaku. Ini adalah pertama kalinya aku bertamasya bersama Steve. Tak ada baju indah yang harus ku kenakan. Aku mengenakan busana seadanya dan keluar dari kamar dengan rambut terurai. Steve memalingkan wajahnya ke arahku, Dia tersenyum tipis. “ jika kau tak suka, lebih baik kau pergi sendiri” ucapku datar. Dia mendekatkan wajahnya ke arah wajahku yang cemberut, “ siapa yang tak suka, aku suka tipe gadis yang berpakaian seperti gangster. Itu terlihat seperti idolaku shin eun kyung yang berperan dalam Film my wife is gangster bukan?” Jawabnya tersenyum. “ tapi aku bukan artis bukan? ini tak terlihat menarik” kataku mulai memalingkan wajahku darinya. Steve mengikutiku dari belakang yang mulai melangkah pergi menjauh darinya. Dia mengenggam tanganku untuk mengurangi rasa tak percaya diri ini. “ ayo kita ke taman sekarang” ucapnya. Kita berjalan ke arah taman, Steve terus menggenggam tanganku dengan erat tak peduli seberapa banyak orang yang akan menilainya jika dia bergandengan tangan dengan gadis berandal sepertiku. Dia mengajakku menikmati dedaunan kuning yang mulai berguguran di musim gugur ini. Aku tak pernah tau, rasanya menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang dengan daunnya yang menggugur. Saat Steve mengajakku, di situlah aku tau bahwa cara menenangkan pikiran terbaik dengan melakukan hal-hal yang indah secara bersama. “ lihat ini apa kau suka?” tanyanya. Mataku takjub, tak bisa ku berhenti menatap pohon-pohon indah ini. Selama ini aku hanya sibuk bekerja paruh waktu. Hingga aku tak tau, bahwa di dunia ini masih tersimpan hal-hal yang indah. Kita berdiri di bawah pohon rindang ini. Menatap ke aras, dedaunan dengan warnanya yang menguning mampu membuat mata siapapun tersihir. Tidak akan ada orang yang bisa berhenti menatap keindahan ini. “ daun yang gugur?” kataku pelan. “ musim gugur, rasanya hangat ketika kita melihatnya” jawab Steve. “ suatu hari aku akan kesini menikmati musim gugur ini dengan tenang” kataku. “ kamu harus mengajakku” ucap nya. Aku menatap ke arah wajah Steve, “ mengapa harus aku mengajakmu?” tanyaku polos “ karena jika kau hanya melihat sendirian kau tidak akan merasakan keindahannya. Kau bisa merasakan nikmat, karena kau pergi denganku. Dan karena kau pergi dengan orang yang menyayangimu” sahutnya menggodaku Aku mengedipkan mata berkali-kali menahan rasa maluku. “ ku rasa ini nikmat karena memang indah. Bukan karena bersamamu” ucapku dingin. “ benarkah, buktikan saja. Kau akan menyesal jika melihat sendirian dan tak mengajakku” Gerutunya cemberut. “ dasar, si bodoh manja” sahutku mencoba untuk semakin membuat Steve manyun. Dia terus memoncongkan bibirnya ke depan, wajah bayi nya terlihat menggemaskan. Bahkan wanita sedingin diriku, tak mampu menahan senyuman ketika melihat betapa menggemaskannya dia. “ bukankah panggilan bodoh itu terlalu parah” kata Steve sebal. “ memangnya kau mau ku panggil apa?” “ sayang” Jawabnya singkat tapi penuh rasa bangga. Aku tertegun, wajahku memerah. “ tetap saja bodoh” Sentakku meledeknya. “ ayolah panggil aku dengan sebutan sayang sekali saja” paksanya. Aku berjalan menjauhinya karena tak kuasa menahan malu. “ tidak kau itu bodoh” sahutku dengan nyaring “ hei mau kemana kau tunggu aku” teriaknya sembari melangkahkan kakinya ke arahku. Dia kembali mengenggam tanganku yang memang sengaja ku lepas darinya. Bagaimana ini, aku tak bisa menahan rasa malu ku pada Steve. Lalu lagi dan lagi dia menggodaku. “ uuu mengapa tanganmu dingin sekali” Goda nya. Jelas saja tanganku terasa dingin, bagaimana tidak? Dia terus-terusan membuatku salah tingkah. Dadaku tak berhenti berdebar, Jantung ku terasa ingin lepas. Di tambah lagi wajahku yang terasa panas, bagaimana ini? “ Jelas karena ini cuacanya dingin” Sentakku dengan sangat menahan malu. “ tapi tadi saat ku pegang tak sedingin ini. Lagian ini musim gugur kan?” ucapnya . “ bilang saja kalau kau berdebar” imbuhnya lagi-lagi menggodaku. Aku diam membungkam tak menjawab celotehan dari Steve. Dia tertawa melihatku termanyun. Dan mulai melayangkan tangannya untuk mengusap-usap rambutku dengan manis. “ kemana tujuan kita kali ini?” tanya nya. “ apakah kita harus ke pantai untuk menikmati angin?” Pikirnya. Aku mengangguk, “ boleh” jawabku. Kemudian Steve menarik tanganku dan mulai berjalan untuk pergi ke sekitar pantai. *** Sepasang mata terus memantau Irene dari kejauhan. Dia terkekeh geli karena dia berhasil mencari informasi yang akan di berikannya pada sang bos. Mata-mata Vincent kali ini sangat bekerja keras untuk mencari tahu soal Ini. Kemudian dia melangkah, dan mulai menutupi kepalanya dengan tudung jaket. Dia mengikuti kemana tempat yang akan di singgahi oleh Irene dan Steve kali ini. Di sisi lain, Louis meringis kesakitan karena tak ada salah seorangpun yang menolongnya. Jalanan masih sepi, tidak ada orang yang lalu lalang. Dia berusaha mengambil ponselnya dan mulai mencari nama Irene. Tangannya masih gemetar, karena darah tak henti-henti mengalir dari pahanya. Celananya basah dengan darah. Dia pun juga mengatur nafasnya yang terasa sesak. “ sialan kemana nama Irene?” gerutunya sebal. Dia menekan tombol untuk menghubungi kakaknya, Namun tak ada jawaban dari Irene. Walau Louis menghubungi Irene berkali-kali dia tetap tak bisa menjawabnya. “ tuhan, tolong jangan biarkan aku mati terlebih dahulu” Louis terus menerus menghubungi Irene, berharap ia bisa merespon panggilan darinya. Lagi-lagi tak ada jawaban, Louis kemudian membanting ponselnya karena kesal. “ ahhhh sakit sial” teriak Louis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN